
Kesepakatan antara SinMart ketiga dengan pak William serta distributor barang dengan perusahaan SinMart sudah selesai. Jidan menunggu Ae-Ri didepan hotel, ia sudah memesankan taksi untuk sekertarisnya karena ia ingin mengantar Ae-Ri.
Pak Robert dan Ae-Ri terkejut saat bertemu dengannya di depan hotel.
"Pak Ji, anda belum kembali?" tanya pak Robert.
Jidan mengangguk. "Apa kalian sudah selesai?" tanyanya.
"Kami sudah selesai, ini laporan kesepakatan itu." ujar pak Robert seraya menyodorkan dokumen padanya.
"Serahkan saja pada pak Direktur atau CEO, aku hanya ada urusan dengan general manager SinMart ketiga. Apa aku boleh meminjamnya?" tanya Jidan.
Pak Robert terbelalak tapi ia mengangguk. "Tentu saja pak Ji." jawabnya.
"Kau kembalilah, aku yang akan mengantarkan Ae-Ri ke SinMart ketiga." ujar Jidan. "Ayo Ae-Ri." ajak Jidan.
Ae-Ri hanya bisa mengangguk, ia tak tahu ada urusan apa dengan seorang Presdir. Sepanjang perjalanan Jidan hanya terdiam membuat Ae-Ri sangat canggung.
"Ehm...pak Ji..." ujar Ae-Ri sambil berdeham.
"Tunggu sampai ke tempat yang lebih nyaman, aku akan bicara." jawab Jidan.
"Tapi pak, ini masih jam kerja." jawab Ae-Ri.
Jidan menatapnya tajam. "Kau lupa siapa aku."
Ae-Ri hanya bisa menunduk.
"Apa jalan denganku sangat membuatmu tak nyaman, apa kau lebih suka dengan pak Robert?" tanya Jidan.
Ae-Ri menggeleng. "Bukan seperti itu pak." jawabnya.
Aku sangat canggung berdekatan denganmu pak Ji, kau sangat kaku tapi saat kau tersenyum membuat jantungku berdetak lebih cepat, itulah yang membuatku tak nyaman berada di dekatmu. pikir Ae-Ri.
"Jangan bergumam dalam hati Ae-Ri, katakan yang ingin kau katakan." ujar Jidan.
Ae-Ri terbelalak, tepat sekali ucapan Jidan jika ia sedang bergumam dalam hati. Tapi ia tak menjawab ucapan atasannya itu. Jidan membawanya ke tepi pantai dengan pemandangan yang sangat indah. Pria itu turun lalu membukakan pintu mobil Ae-Ri.
"Aku sangat jenuh dengan pekerjaan yang sangat banyak, temani aku menikmati pemandangan ini Ae-Ri." kata Jidan.
Ae-Ri mengangguk dan turun dari mobilnya. Wanita itu sangat takjub melihat pemandangan pantai itu.
"Ya Tuhan sangat indah sekali." ujar Ae-Ri mengagumi pemandangan itu.
Sedangkan Jidan justru terus menatap wajah Ae-Ri, pemandangan yang ada di depannya lebih indah dari pantai.
__ADS_1
"Ae-Ri, apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya Jidan.
Ae-Ri menatapnya lalu menggeleng.
"Bagaimana menurutmu tentang pak Robert?" tanyanya lagi.
"Aku tak menyukai pria tua, walaupun pak Robert masih lajang." jawab Ae-Ri. "Pak Ji jangan salah paham, aku dan pak Robert benar benar sedang bekerja." sambungnya.
Mengapa aku harus menjelaskan padanya. pikir Ae-Ri.
"Seandainya aku dan adikku menyukaimu, siapa yang akan kau pilih?" tanya Jidan.
"Aku tak pernah bermimpi disukai dua pria tampan dan kaya seperti kalian berdua. Pak Ji sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Ae-Ri.
Jidan menggeleng. "Aku hanya ingin mengajakmu menikmati pemandangan pantai ini, kau tak perlu khawatir, kau tak akan aku pecat. Anggap saja ini salah satu pekerjaanmu." ujarnya.
"Terima kasih pak Ji." jawab Ae-Ri.
Jidan tersenyum, jantung Ae-Ri kembali berdetak dengan cepat.
Ya Tuhan, mengapa ada pria setampan ini. pikir Ae-Ri.
Jidan mendekati Ae-Ri, tangan Jidan menyentuh wajahnya. "Aku sangat terkejut ada wanita seimut dirimu tapi belum memiliki kekasih. Aku harap kau bisa mendapatkan pria yang baik." ujarnya.
Ae-Ri mundur karena ia tahu wajahnya kini semakin panas.
Ae-Ri mengangguk, keduanya menikmati pemandangan pantai itu tanpa berbicara lagi. Ae-Ri berkali-kali menatap wajah tampan Jidan dengan diam diam. Jidan memejamkan matanya menikmati terpaan angin pantai. Saat ia membuka matanya, ia menangkap Ae-Ri sedang menatapnya, Jidan kembali tersenyum.
Ae-Ri hampir tak bisa bernafas, senyuman Jidan sangat lebar membuat pria itu terlihat benar benar sangat tampan.
"Sudah waktunya kita kembali." ujar Jidan. Ae-Ri tak bergeming. "Ae-Ri, sudah waktunya kembali." kata Jidan lagi.
"Ah...iya pak." jawab Ae-Ri canggung.
Jidan tertawa lalu menuju mobilnya, keduanya kembali bekerja. Ae-Ri diantarkan Jidan ke SinMart ketiga, lalu ia segera kembali ke perusahaan. Kali ini ia harus menyelesaikan masalah Jordan.
*****
Jordan berkali-kali menghubungi Marie, ia ingin tahu kapan Jidan kembali. Ada yang ingin ia sampaikan tentang SinMart kedua. Jordan semakin tidak sabaran membuat Marie kesal menghadapinya.
"Sekretaris pak Ji sudah kembali, tapi pak Ji masih ada urusan lain jadi Aurel kembali dengan taksi." ujar Marie.
"Hubungkan aku dengan Aurel." pinta Jordan.
Marie menyambungkan teleponnya pada Aurel, setelah beberapa menit Aurel menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Dimana pak Ji?" tanya Jordan tanpa basa-basi.
"Sebentar lagi ia kembali pak Jo." jawab Aurel.
"Sebenarnya kalian kemana?" tanya Jordan lagi.
"Kami bertemu distributor barang, bukankah anda yang mengatakan jika pak Darwis hanya ingin bertemu pak Presdir." ujar Aurel.
"Oh ya ampun aku lupa, ternyata pertemuan itu hari ini. Baiklah sampaikan pada pak Ji jika aku ingin segera bertemu dengannya." pesan Jordan.
"Tak perlu pak Jo, aku sudah ada disini." ujar Jidan masuk ke ruang kerja Jordan.
Jordan terkejut dan mematikan teleponnya. "Sulit sekali menemuimu kak." ujar Jordan.
"Aku baru selesai meeting dengan pak Darwis. Kau terlihat sangat gelisah Jo, ada apa?" tanya Jidan seraya duduk di sofa.
Jordan menghampiri kakaknya dan duduk di depan Jidan. "Ini masalah SinMart kedua kak, aku sudah mendapatkan cukup bukti tentang keterlibatan kepala gudang dengan masalah kita akhir akhir ini. Sepertinya ia benar benar bekerja sama dengan VilMart untuk menghancurkan kita. Tapi aku harus meminta persetujuan para pemegang saham SinMart untuk mengatasi masalah ini." ujarnya.
"Bagaimana dengan pendapat kak Kalfi?" tanya Jidan.
"Kak Kalfi juga mengatakan hal yang sama denganku, makanya aku ingin bertemu denganmu. Kita tidak bisa bertindak sembarangan karena ini menyangkut reputasi SinMart." jawab Jordan.
"Baiklah besok kita akan mengadakan meeting dengan pemegang saham yang lain. Kita harus ekstra hati-hati menangani masalah ini." ujar Jidan.
Jordan mengangguk. "Baiklah kalau begitu, kita akan bertemu besok." ujarnya.
"Tinggalkan masalah pekerjaan, aku ingin berbicara masalah pribadi denganmu Jo." kata Jidan.
"Aku sedang malas berdebat denganmu tentang Ae-Ri kak." jawab Jordan.
Jidan tertawa. "Apa yang kau pikirkan Jo, kau pikir kita akan terus berdebat soal Ae-Ri. Aku tak sedangkal itu. Kita akan membahasnya setelah perusahaan kita stabil lagi." ujar Jidan. "Aku ingin bertanya tentangmu Jo, jawab dengan jujur. Apa benar kau memiliki perasaan mudah panik saat berkendara? Katakan padaku apa yang terjadi padamu Jo." tanyanya.
Jordan terbelalak. "Kau tahu darimana gosip murahan itu, aku hanya lebih nyaman duduk di belakang mobil. Aku bisa memejamkan mata sejenak saat dalam perjalanan." jawabnya.
"Jo aku kakakmu, kau tak bisa berbohong padaku. Jika orang tua kita tahu soal ini, aku bisa bisa di tembak mati oleh papi karena tak bisa menjagamu. Katakanlah sebenarnya ada apa Jo, kak Kalfi bilang kau sangat mahir mengemudi." ujar Jidan.
Jordan memejamkan matanya sejenak lalu menatap kakaknya lagi. "Kak Ji masih ingat saat aku menjemputmu di bar?" tanyanya.
Jidan mengangguk dan mengingat kembali kejadian itu.
*****
Kejadian apakah itu?
Ditunggu episode selanjutnya...
__ADS_1
Happy Reading All...😘