
Kedatangan Aerum yang sangat cantik membuat seisi perusahaan SinMart menatapnya penuh kekaguman. Aerum memang sangat cantik, ia mengenakan pakaian dari Korea miliknya.
"Selamat pagi pak, apa aku bisa ke kantor personalia?" tanya Aerum.
"Selamat pagi nona, anda nona Aerum kan?" tanya sekuriti.
Aerum tersenyum menambah kecantikan wajahnya. "Anda mengenalku, benar aku Aerum." jawabnya.
"Anda bisa ke lantai dua, dari lift belok kanan. Disanalah kantor bagian personalia." ujar sekuriti.
"Terima kasih banyak pak." kata Aerum seraya menuju lift ke lantai dua.
Aerum menuju kantor personalia, ia mengetuk pintu kantor itu namun tak ada jawaban sama sekali. Ia menatap jam tangannya.
Apakah terlalu pagi, mengapa belum ada orang...? gumamnya.
Suara langkah kaki mengejutkannya, ternyata sekuriti yang tadi menghampirinya.
"Mohon maaf nona Aerum, aku lupa memberitahu. Bagian personalia sedang melakukan briefing di ruang CEO. Anda silahkan menunggu atau kembali lagi satu jam kemudian." ujarnya.
Mendengar kata CEO membuat jantung Aerum hampir melompat, ia teringat ciuman pertamanya dengan Jordan Sin.
"Nona,,, wajah anda memucat. Apakah anda baik baik saja?" tanya sekuriti.
"Ah, tidak pak. Aku akan menunggu disini." jawab Aerum.
"Bukankah anda harus kembali ke SinMart kedua." ujarnya.
"Harusnya seperti itu, aku datang kemari karena ingin memberikan surat pengunduran diri." kata Aerum. "Apakah aku bisa menitipkan kepada anda?" tanyanya.
"Mengapa anda mengundurkan diri? Bukankah SinMart kedua ada kemajuan karena prosedur yang anda terapkan disana. Semua karyawan perusahaan ini sudah mengetahui kinerja anda nona. Apakah karena kemarin..."
"Pak... apakah aku bisa menitipkan surat ini pada anda?" potong Aerum.
"Maaf nona, tidak bisa. Peraturan perusahaan bukankah anda sudah tahu." jawab sekuriti itu.
"Baiklah aku akan menunggu." kata Aerum.
Sekuriti itu meninggalkan Aerum, ia justru segera menghubungi kantor CEO untuk memberitahukan keberadaan Aerum pada Jordan.
Sudah satu jam Aerum menunggu, ia sudah sangat jenuh duduk disana. Suara langkah kaki membuatnya lega, ia akhirnya bisa bertemu bagian personalia. Aerum berdiri sambil menunggu siapa yang datang. Wanita terbelalak saat melihat Jordan Sin lah yang datang menghampirinya.
Jordan menatapnya tajam sambil terus menghampirinya.
"Pa...pagi pak..." sapa Aerum tergagap.
Alih-alih menjawab, Jordan justru menarik tangan Aerum. Ia tak melepaskan tangan wanita itu sampai menuju pintu lift.
"Lepaskan tanganku pak." ujar Aerum.
Jordan tak menjawab apapun, ia terus membawa wanita itu menuju ruang kantornya. Genggaman tangan Jordan semakin erat membuat Aerum meringis.
__ADS_1
"Marie... jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku dan alihkan semua panggilan untukku." ujar Jordan setelah ia sampai di kantornya sambil terus menarik tangan Aerum.
Jordan melepaskan tangan Aerum setelah berada di ruangannya. Aerum memegang pergelangan tangannya yang sakit.
"Apa yang mau kau lakukan sepagi ini di ruang personalia?" tanya Jordan langsung menghardiknya.
Aerum menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Jordan. "Aku hanya melakukan prosedur peraturan perusahaan." jawabnya.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari SinMart?" tanya Jordan lagi sambil merobek surat pengunduran diri Aerum.
Aerum terkejut melihat apa yang dilakukan Jordan pada surat itu, amarahnya mulai memuncak. "Apapun yang anda lakukan pada surat itu tak akan mengubah apa yang aku inginkan. Permisi..." ujarnya.
Jordan menarik tangan Aerum dan memeluknya. Aerum mulai memberontak ingin melepaskan pelukannya tapi tenaga Jordan lebih kuat darinya.
"Aku mencintaimu Aerum, jangan tinggalkan aku." ujar Jordan.
Aerum terkejut mendengar pengakuan CEO nya, ia seketika berhenti memberontak.
"Aku sama sekali tak perduli apa yang terjadi antara kau dan kakakku. Menikahlah denganku Aerum, aku tak ingin berpacaran lagi. Tetaplah bersamaku dan mendukungku di SinMart." sambung Jordan.
Sebuah lamaran tak terduga yang di dengar oleh Aerum tapi membuatnya sangat bahagia. Berbeda pada saat Jidan yang mengajaknya menikah. Jordan melepaskan pelukannya lalu menatap Aerum dengan lekat.
"Aku tahu ini lamaran yang sangat biasa." kata Jordan, tiba tiba pria itu berjongkok di depan Aerum. Ia mengeluarkan kotak cincin dan membukanya. "Aerum... will you marry me?"
Aerum menutup mulutnya karena sangat terkejut, air matanya seketika tumpah.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Aerum.
Tak ada lagi yang diinginkan Aerum selain Jordan, ia mengingat kata kata Warres dan Ae-Ri bahwa ia harus melakukan apa yang ia sukai sekarang. Aerum mengangguk pada Jordan membuat pria itu sangat bahagia sambil menyematkan cincin di jari manis Aerum. Jordan berdiri lalu keduanya saling berpelukan.
"Aku mencintaimu..." ujar Jordan.
"Aku...aku..."
"Tak perlu terburu-buru sayang, aku akan menunggumu sampai hatimu benar benar yakin kalau kau juga mencintaiku." potong Jordan.
"Tapi... pak Jo... Aku juga mencintaimu." jawab Aerum.
Jordan tertawa. "Ya Tuhan aku sangat bahagia, tapi bisakah kau panggil namaku. Apa kau akan menikahi ayahmu." ejeknya.
Aerum ikut tertawa. "Maaf..." ujarnya.
"Tidak apa-apa sayang, terima kasih untuk semuanya." kata Jordan.
"Tapi... Aku tak mau bekerja lagi di SinMart. Aku mohon izinkan aku keluar dari perusahaan." pinta Aerum.
Jordan menatap Aerum, wanita itu sepertinya tersiksa jika harus melanjutkan pekerjaannya di SinMart kedua. "Baiklah, tapi ada syaratnya." ujar Jordan.
Aerum menyipitkan matanya. "Mengapa harus ada syarat?"
"Jika tidak mau, maka aku tak mengizinkannya." ancam Jordan.
__ADS_1
"Oh baiklah tuan Jordan Sin, apa syaratnya?" jawab Aerum.
"Setelah kau keluar dari SinMart, kau tak boleh bekerja dimanapun. Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku dan mengurusku sebagai istri yang baik di rumah." ujar Jordan.
"Kau ingin istri pengangguran?" tanya Aerum.
Jordan mengangguk. "Kau tidak akan menganggur sayang, ada beberapa pekerjaan yang akan membuatmu lelah nanti." godanya.
Wajah Aerum memerah membuatnya terlihat semakin cantik.
"Aku akan membuatmu lelah sampai akhirnya harus mengurus anak anak kita nanti." sambung Jordan.
"Kau terlalu terburu-buru tuan." jawab Aerum.
Suara pintu kantor terbuka dengan kasar. "Mengapa kau menolak panggilanku Jo, aku ada per..." ujar Jidan marah dan akhirnya menyadari ada wanita yang sedang di peluk adiknya.
Ketiganya terkejut, Aerum segera melepaskan pelukannya dan bersembunyi di balik tubuh Jordan.
"Maaf pak Jo..." ujar Marie.
Jordan mengangguk. "Kau selalu tak sabaran pak Ji, kau selalu saja mengganggu kesenangan orang."
"Maaf, aku akan menghubungimu nanti." ujar Jidan seraya ingin keluar.
"Tunggu... setidaknya sapalah calon istriku ini." kata Jordan.
Jidan menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik. Ia menatap Aerum yang masih bersembunyi di balik tubuh Jordan.
"Apakah aku begitu menakutkan Aerum? Aku minta maaf atas apa yang terjadi diantara kita. Tapi kau yang memintaku untuk melupakannya, jadi anggap saja tak pernah terjadi apapun. Selamat datang di keluarga Sin, kau akan menjadi adikku. Selamat Jo..." ucap Jidan.
Jordan menarik Aerum untuk menghadapi kakaknya. "Ucapkan terima kasih Aerum." pintanya.
Aerum menundukkan kepalanya. "Maaf soal itu juga dan terima kasih." ujarnya.
Jidan tersenyum lega, satu masalah telah selesai. Tinggal masalah terbesarnya bersama Ae-Ri. "Jo... Aku senang sebagai kakakmu tapi sebagai atasanmu aku tak suka kau melakukan ini di ruang kerja." ejeknya seraya meninggalkan ruangan Jordan.
Jordan hanya tertawa menanggapinya, ia kembali menatap Aerum yang berubah saat bertemu kakaknya. "Apa kau begitu takut?" tanya Jordan.
Aerum menggeleng. "Lebih tepatnya adalah rasa malu, itu yang aku rasakan." jawabnya.
"Maaf, harusnya aku mengerti perasaanmu. Jadi kembali ke pembicaraan kita tadi. Apakah kau setuju syaratku?" tanya Jordan.
Aerum mengangguk, Jordan kembali menarik wanita itu ke pelukannya. Ia bahkan mulai menciumi wajah Aerum membuat wanita itu terkekeh karena geli.
*****
Nah masalah satu per satu akan author selesaikan, artinya tinggal beberapa episode lagi menjelang akhir.
Author tidak suka membuat novel terlalu panjang yang akan membuat kalian bosan.
Happy Reading All...😘
__ADS_1