
Jordan masuk ke perusahaan dengan terburu buru, ia segera menuju kantor kakaknya. Suara langkah Jordan yang keras membuat Aurel terkejut.
"Pak Jo..." sapa Aurel.
"Dimana pak Ji?" tanya Jordan.
"Bukankah pak Ji mencari anda, ia keluar satu jam yang lalu." jawab Aurel.
Jordan mengambil ponselnya didalam saku jasnya. "Sialan..." umpatnya.
Ternyata kakaknya menghubunginya berkali-kali, ia lupa jika ponselnya dalam mode diam. Jordan segera menghubungi kakaknya.
"Dimana kau?" tanya Jordan setelah ponselnya dijawab.
"Seharusnya aku yang bertanya, dimana kau Jo?" jawab Jidan.
"Aku di perusahaan sekarang, aku harus berbicara denganmu." kata Jordan.
"Aku berada di SinMart utama menemui kak Kalfi, apa yang terjadi antara kau dan Aerum Jo. Gosip ini sudah menyebar di seluruh perusahaan." kata Jidan.
"Aku akan kesana." jawab Jordan seraya menutup ponselnya. Ia pergi meninggalkan perusahaan tanpa pamit pada Aurel.
Jordan mempercepat perjalanannya, ia ingin segera mengatakan pada kakaknya. Satu jam perjalanan, akhirnya ia sampai di SinMart utama. Tanpa mengindahkan sapaan para karyawan SinMart, ia segera menuju kantor Kalfi. Pintu kantor ia dorong dengan keras membuat Kalfi dan Jidan terkejut.
"Tak bisakah kau mengetuk pintu, ini kantor Direktur." bentak Jidan.
"Jangan kejar Aerum lagi, tolong hentikan kak Ji. Jangan memaksanya." jawab Jordan tanpa memperdulikan ucapan Jidan tadi.
"Apa maksudmu?" teriak Jidan.
"Hentikan, ini SinMart." ujar Kalfi.
"Sudah jelas aku mengatakannya padamu, hentikan mengejar Aerum. Ia sangat ketakutan, ia tak menyukaimu dan ia juga tidak hamil. Aku tak perduli kau sudah tidur dengannya atau tidak, toh ia juga bukan perawan desa. Jadi lepaskan wanita itu, jangan halangi perasaanku padanya. Aku sudah membuktikan perasaanku padanya saat aku menciumnya tadi. Aku benar-benar mencintai wanita itu." ujar Jordan.
Semuanya terkejut mendengar ucapan Jordan, Jidan menggertakkan giginya menahan emosi.
"Bukankah kita sudah sepakat, kenapa kau malah berubah Jo." kata Jidan menahan amarahnya.
"Karena ia tidak hamil dan aku sangat mencintainya. Hentikan semua ini, serahkan Aerum padaku." jawab Jordan kesal.
__ADS_1
Kalfi menghela nafasnya. "Kalian pulanglah, aku akan menyusul kalian ke rumah. Ini SinMart, tak pantas kalian saling berteriak tentang masalah pribadi." pintanya.
Tanpa ragu, Jidan melangkahkan kakinya dengan kesal keluar dari kantor Kalfi. Begitu juga dengan Jordan yang ikut keluar dari kantor itu. Kalfi menghubungi Marcell untuk pamit pulang lebih cepat, setelah itu ia ikut keluar dari SinMart menuju rumah si kembar.
*****
Jordan ternyata sampai terlebih dahulu, ia menunggu Jidan dan Kalfi di ruang santai. Tak lama Jidan masuk langsung menghardik adiknya.
"Aku menyuruhmu membantuku, bukan menciumnya. Bukankah kita sudah berbicara soal ini, hamil atau tidak aku akan tetap menikahi Aerum." bentak Jidan.
"Tidak..." teriak Jordan. "Aku tak mengizinkanmu menikahi Aerum, ia tak menyukaimu." sambungnya.
"Apakah wanita itu menyukaimu?" tanya Jidan.
Jordan tak yakin akan hal itu, ia terdiam beberapa saat. "Tapi ia membalas ciumanku, aku pikir..."
"Aku pernah tidur dengannya Jo, jika kau menikahinya maka seperti apa wajahku ini didepannya. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku tentang kalian." potong Jidan.
"Apa kau akan menyerah soal Ae-Ri? Apa kau yakin tidak mencintainya karena telah menyakiti adiknya? Jawab aku kak." kata Jordan.
Jidan menundukkan kepalanya. Ia sangat menyukai Ae-Ri tapi ia tak bisa lari dari tanggungjawabnya pada Aerum.
"Jika Aerum tak hamil dan tak mau menikah dengan Jidan, maka kalian berdua berhenti berhubungan dengan keduanya." ujar Kalfi seraya ikut bergabung.
"Kalian tak bisa bersama Ae-Ri maupun Aerum, itu lebih baik. Mungkin orang tua kalian akan setuju denganku." jawab Kalfi.
"Tidak..." teriaknya keduanya lagi.
"Apa kau bisa menikahi bekas kakakmu, dan tinggal seumur hidup sebagai keluarga Jo? Dan kau, apa kau bisa menikahi Ae-Ri saat kau pernah berhubungan dengan adiknya? Jawab aku." ujar Kalfi.
"Tentu saja bisa." jawab keduanya lagi.
Kali ini Kalfi tertawa dengan keras, ia memancing pertanyaan jebakan itu. Dan tanpa sadar, si kembar memberikan jawabannya. Jidan maupun Jordan terus memperhatikan Kalfi yang tertawa dengan bingung.
Kalfi menghentikan tawanya, lalu menatap keduanya. "Kalian berdua memang bodoh, kalian tak bisa menikahi wanita yang tidak kalian cintai. Jadi jawabannya sudah jelas sekarang, Jo mencintai Aerum dan Ji mencintai Ae-Ri. Mereka memang kakak beradik, tapi kalian bisa menikahinya bersamaan tanpa harus menukar perasaan kalian. Aku akan menghubungi orang tua kalian agar segera datang untuk melamar keduanya." kata Kalfi.
Jidan menjatuhkan dirinya di sofa begitu juga dengan Jordan. Mereka terdiam sangat lama, Kalfi membiarkan keduanya berpikir dengan jelas apa yang mereka inginkan.
Setelah hampir satu jam mereka terdiam, Kalfi sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Kalfi.
Jidan dan Jordan saling bertatapan, lalu menjawab bersamaan. "Kami setuju." ujar mereka.
Kalfi kembali tertawa, kali ini ia sampai terbahak-bahak menahan perutnya. Si kembar kesal dengan ejekan Kalfi, keduanya menatap Kalfi dengan tajam.
"Oh baiklah aku akan berhenti. Maafkan aku JiJo, masalah kalian ini akan segera selesai jika saja kalian seperti ini sejak awal. Memang sangat mudah berkata, tetapi hati kalianlah yang harus menentukannya. Jika saja kalian menukar perasaan kalian, maka tidak akan ada kebahagiaan selama sisa hidup kalian. Menikah itu adalah menyatukan perasaaan cinta satu sama lain. Dan keluarga Sin hanya mengizinkan menikah sekali dalam seumur hidup. Ingatlah itu JiJo, ini bukan permainan anak anak." ujar Kalfi.
Si kembar hanya bisa terdiam mendengar ucapan Kalfi.
"Mungkin ucapanku sedikit kasar, tapi hubungan satu malam yang tidak kalian sadari, bukan berarti kalian harus menikahi wanita itu kecuali wanita itu hamil dan bersedia menikah. Zaman sekarang hubungan ranjang itu sudah biasa JiJo, walaupun aku tak menyarankan kalian melakukan perbuatan kotor itu." sambung Kalfi. "Jawab jujur padaku Ji, apakah kau mengingat malam itu seperti apa? Maksudku secara rinci tubuhnya atau apapun itu." tanyanya.
"Kak..." teriak Jordan.
"Aku sedang bertanya pada kakakmu Jo, tenanglah." ujar Kalfi.
Jidan terdiam lalu menggeleng. "Aku sama sekali tak mengingat apapun, yang aku ingat hanya bangun tanpa pakaian. Itu saja, demi Tuhan aku tak mengingat apapun." jawabnya.
"Apa kau puas Jo?" tanya Kalfi. "Setidaknya tubuh calon istrimu tak pernah diingat kakakmu." sambungnya.
"Kau sangat kasar kak." jawab Jordan.
Kalfi tertawa. "Aku hanya ingin membuat kalian sadar dengan perasaan kalian. Walaupun aku tak mengerti mengapa kalian harus menyukai wanita wanita itu, wanita Amerika tak kalah cantik dari mereka."
"Kami menyukai wanita Asia daripada wanita Eropa." ujar Jidan.
"Kami?" tanya Kalfi.
"Ya aku juga." jawab Jordan.
"Baiklah, sudah deal. Umur kalian sudah cukup untuk menikah. Aku dan orang tua kalian akan melamar keduanya. Mungkin seminggu atau sebulan kedepan, tergantung orang tua kalian kapan bisa datang." ujar Kalfi.
"Tapi kak, apa kau bisa menyakinkan kedua wanita itu?" tanya Jidan.
"Serahkan pada kami." jawab Kalfi. "Aku akan kembali ke rumah sekarang, aku yakin Jenny ingin segera mendengar kabar ini. Jangan coba coba saling memukul saat aku pergi. Dan ikuti hati kecil kalian, belajarlah memakai ini daripada ini." sambung Kalfi sambil menunjukkan letak hati dan pikirannya.
Kalfi meninggalkan keduanya yang masih terdiam. Si kembar mungkin masih memikirkan keputusan akhir mereka itu dan saling menyakinkan hati mereka.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘
Maaf atas keterlambatan up, karena masalah pandemi Covid19. Pekerjaan author di perusahaan malah lebih banyak, mohon untuk para reader bersabar menunggu episode selanjutnya...🙏🙏🙏