Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Ketidaktenangan Jidan


__ADS_3

Ae-Ri dan Aerum ingin kembali ke rumah mereka, keduanya sangat terkejut saat si kembar ada di lobi hotel. Aerum sama sekali tak ingin menatap wajah Jidan.


"Kalian sudah siap?" tanya Jordan.


Keduanya mengangguk. "Kami sudah pesan taksi pak Jo." jawab Ae-Ri.


"Kami antarkan kalian pulang." ujar Jidan.


"Tapi..."


"Jangan menolaknya Ae-Ri, batalkan taksimu. Kami yang akan mengantarkan kalian kembali pulang." kata Jordan.


Ae-Ri akhirnya mengangguk dan menghubungi taksi untuk membatalkannya.


"Dimana Aerum yang sangat ceria itu?" goda Jordan.


Aerum menatap Jordan lalu tersenyum. "Aku masih pusing karena mabuk." jawabnya.


Jidan menatap Aerum. "Apa aku yang membuatmu takut sehingga kau lebih diam?" tanyanya.


Aerum menggeleng tapi ia sama sekali tak menatap wajah Jidan. Jidan menatapnya penuh tanya, tapi ia tak tahu apa yang terjadi pada wanita itu. Ia tak seberani semalam saat mereka baru bertemu.


Ae-Ri sudah membatalkan taksi dan mereka bersiap untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan, Jordan terus menggoda Aerum tapi wanita itu tak bergeming membuat Jordan kebingungan. Sedangkan Jidan terus menatap wanita itu dari kaca mobil.


"Kau tak asyik lagi Aerum, dimana wanita yang sangat ceria itu." ujar Jordan.


"Maaf pak Jo, adikku seperti itu jika tidak enak badan. Aku harap anda memakluminya." kata Ae-Ri.


"Baiklah, sepertinya aku yang berlebihan." ujar Jordan.


Setelah dua jam mereka sampai di kediaman Ae-Ri.


"Jika kau masih sakit lebih baik kau beristirahat saja. Kau bisa memulai pekerjaanmu lusa." ujar Jidan.


"Pak Ji benar, mungkin kau belum terbiasa di Amerika." kata Jordan.


Aerum hanya mengangguk lalu keluar dari mobil.


"Terima kasih pak, maaf atas ketidaksopanan adikku." ujar Ae-Ri.


"Tak apa apa Ae-Ri, aku mengerti. Mungkin adikmu benar benar masih pusing karena mabuk." ujar Jidan.


Saat Jidan menengok sudah tidak ada Aerum lagi disana. Wanita itu langsung menghilang dari pandangan mereka. Ae-Ri pamit kembali ke rumahnya.


*****


"Aerum tunggu..." ujar Ae-Ri. "Kau sangat tidak sopan pada atasan SinMart." sambungnya.


"Aku lelah eonni." jawab Aerum.

__ADS_1


"Kau kenapa sih? Kau sangat berbeda dari biasanya. Kau tiba tiba murung." kata Ae-Ri.


"Eonni, apa kau menyukai pak Ji?" tanya Aerum.


Ae-Ri terkejut mendengar pertanyaan itu. "Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Ae-Ri balik.


"Aku hanya ingin tahu saja." jawab Aerum.


"Ada apa kalian baru kembali sudah ribut?" tanya Warres.


"Mami, apa eonni menyukai pak Ji?" tanya Aerum.


"Kau tahu darimana?" tanya Warres.


"Aku menebaknya, eonni terlihat malu dan merona saat pak Ji mengajaknya berbicara." jawab Aerum.


"Kau gadis gila, jangan terus menggodaku Aerum. Beristirahatlah, aku tahu kau masih mabuk." kata Ae-Ri.


Aerum tertawa. "Aku sudah mendapatkan jawabannya." katanya seraya masuk ke kamarnya.


"Apa maksud gadis nakal itu mi?" tanya Ae-Ri.


Warres tertawa. "Adikmu sedang menggodamu, kau malah bertanya padaku. Bagaimana pestanya?" tanya Warres.


"Yah begitulah, hampir semua karyawan SinMart mabuk berat termasuk Aerum." jawab Ae-Ri.


"Mami kan tahu aku seperti apa. Apa Greek sudah masak, aku lapar." ujar Ae-Ri.


"Apa kau tidak sarapan sayang?" kata Warres.


"Aku sarapan bersama pak Ji, tapi pria itu membuatku tak bisa memakan apapun." jawabnya.


Warres tertawa. "Kau sangat menyukai Jidan, apa kau tak ingin memberitahu pria itu Ri."


Ae-Ri menggeleng. "Aku bukan wanita seperti itu, dan pak Ji bukan pria yang mudah aku gapai. Kita berbeda status mi."


"Kau jangan merendahkan diri sendiri Ae-Ri, kau sangat cocok dengan pria itu." ujar Warres.


Di sisi lain, Aerum kembali menangis saat mendengarkan pembicaraan kakak dan ibunya.


"Maaf eonni, aku merusak segalanya. Pak Ji sangat menyukaimu dan kau juga menyukainya. Seharusnya aku tak merusak hubungan kalian. Aku janji akan merahasiakan semua ini. Aku harap Tuhan tidak menghukumku." gumam Aerum sambil terisak.


*****


Jidan dan Jordan kembali ke rumah mereka. Akhir pekan seharusnya mereka bermain basket atau berada di tempat gym. Tapi hari ini keduanya sangat lelah.


"Kak, kau kenapa murung?" tanya Jordan.


"Ah tidak apa-apa, aku melupakan sesuatu semalam." jawab Jidan.

__ADS_1


"Kau terlalu mabuk kak, untung saja aku menyuruh Aerum mengantarmu ke kamar." ujar Jordan.


"Apa? Aerum?" ujar Jidan terkejut.


"Kau menakutiku kak, memang kenapa? Kau tidak melakukan sesuatu padanya kan. Aku melepaskan Ae-Ri untukmu, aku mulai tertarik pada Aerum. Jadi jangan coba coba kau menyukai wanita itu juga." kata Jordan.


Jidan berusaha mengingat kejadian semalam tapi ia hanya mengingat wajah Ae-Ri saja. "Kau yakin wanita itu Aerum? Aku hanya mengingat Ae-Ri di depanku Jo."


"Aku yang menyuruh Aerum mengantarmu, aku belum terlalu mabuk malam itu." jawab Jordan.


"Apa kau punya nomor ponsel Aerum?" tanya Jidan.


"Tentu saja, tapi aku tak ingin kau tahu. Aku mulai menyukai wanita lain kak Ji. Kau kejarlah Ae-Ri." jawab Jordan lagi.


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya, aku janji tidak Akan mendekatinya Jo." ujar Jidan.


Jordan menghela nafasnya lalu mengambil ponselnya. Ia memberikan nomor ponsel Aerum pada kakaknya.


"Terima kasih." ujar Jidan seraya masuk ke kamarnya.


Jidan menatap nomor ponsel itu, ia yakin terjadi sesuatu padanya dan Aerum. Wanita cantik itu sama sekali tak mau menatap wajahnya. Ia harus bertanggungjawab apapun yang terjadi. Konsekuensinya akan ia tanggung walaupun ia harus berkelahi dengan adiknya.


Jidan menghubungi Aerum, sudah lebih dari tiga kali tapi wanita itu mengalihkan panggilannya. Jidan mengirimkan pesan pada wanita itu.


Aerum, aku Jidan Sin. Aku mohon angkat teleponnya. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu.


Itulah isi pesan dari Jidan Sin untuk Aerum. Beberapa jam kemudian, pesan itu dibaca oleh Aerum tapi wanita itu masih juga tak membalas pesan Jidan.


Jidan kembali menghubungi Aerum tapi kali ini ponselnya tidak aktif. Jidan menghela nafasnya dengan kasar. Ia sama sekali tak bisa tenang. Jidan mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia harus menemui Aerum di rumahnya.


"Tuan ingin kemana?" tanya Farea.


"Aku ada urusan diluar sebentar." jawab Jidan.


"Anda makan siang dulu tuan." ujar Farea.


Jidan menggeleng. "Aku akan makan setelah urusanku selesai. Katakan pada Jo, kalau aku keluar sebentar." ujarnya.


Farea akhirnya mengangguk dan membiarkan tuannya pergi.


Sepanjang perjalanan Jidan semakin tidak tenang, ia berkali-kali mencoba mengingat kejadian malam itu. Lagi lagi hanya wajah Ae-Ri yang terlintas dipikirannya.


Ya Tuhan, aku bisa gila. Apa yang telah aku lakukan? Aku yakin aku membuat kesalahan semalam. Untuk pertama kalinya aku merasa ada yang tidak beres denganku. gumam Jidan.


Ia akhirnya sampai di gang kecil itu, Jidan keluar dari mobilnya menuju rumah nyonya Warres. Apapun yang terjadi, ia harus bertemu dengan Aerum.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2