
Dengan susah payah akhirnya pelayan berhasil membuat Jidan maupun Jordan makan. Keduanya terlihat sangat kusut, bagaimana tidak, kedua orang tuanya masih tak bisa dihubungi dan adiknya pun tak membantu mereka. Sedangkan Mey Sin ibu Kalfi juga masih belum memberi kabar kepada mereka.
Hari semakin sore, Kalfi menuju bandara Los Angeles untuk menjemput Tora dan Sherly. Kalfi menunggu pesawat mereka landing. Dan disanalah kedua orang itu berjalan ke arah Kalfi, tentu saja Kalfi langsung memeluk keduanya.
"Ya Tuhan aku sangat merindukan kalian. Jika mama Mey tak memberitahuku mungkin aku akan panik seperti si kembar. Kalian benar-benar membuat kami ketakutan setengah mati." ujar Kalfi.
Tora dan Sherly tertawa. "Tapi kejutan ini masih aman kan?" tanya Sherly.
"Tentu tante, walaupun aku tak tega melihat keduanya terutama Jo. Anak itu tak berhenti menangis. Tapi mengapa Zean juga tak bisa dihubungi?" tanya Kalfi.
"Kebetulan Zean ada pelatihan selama 3 hari, tentu saja ia tak membawa ponselnya. Lalu bagaimana keadaan Ji dan Jo?" tanya Tora.
"Aku dengar pelayan berhasil membuat mereka makan. Jadi mereka baik baik saja." jawab Kalfi.
"Sepertinya kau semakin kurus Kal, apa kau kelelahan mengurus si kembar?" tanya Sherly.
Kalfi menggeleng. "Pekerjaan semakin sibuk, bukan karena si kembar."
"Bagaimana keadaan Jenny dan Kevin?" tanya Tora.
"Mereka semua sangat sehat, dan sangat senang saat mendengar kalian akan datang. Tapi mereka tak bisa ikut menjemput karena aku dari perusahaan langsung datang ke bandara." jawab Kalfi.
Kalfi membawa keduanya masuk ke dalam mobil dan membawanya langsung menuju rumah kakek Sin. Perjalanan cukup lama dari bandara hingga 2 jam menuju rumah si kembar.
"Apa kalian ingin makan malam terlebih dahulu?" tanya Kalfi.
"Tidak perlu Kal, aku ingin segera bertemu JiJo. Aku tak ingin membuat mereka semakin gila." jawab Sherly.
"Kalian memang sudah membuat mereka gila." kata Kalfi.
Ketiganya tertawa bersama.
"Aku saja benar benar terkejut, apalagi si kembar. Mengapa kalian memutuskan datang kemari?" tanya Kalfi.
"Setelah mendapat kabar darimu, tantemu ini langsung ketakutan putra putranya saling membunuh karena seorang wanita." jawab Tora.
"Dan itu benar benar bisa terjadi jika aku tak ada di samping mereka." kata Sherly.
"Tante Sherly benar, Ji dan Jo harus ditangani kalian berdua. Mereka sering sekali berdebat karena masalah sepele. Aku takut tak bisa menangani keduanya." ujar Kalfi.
"Itulah mengapa aku memaksa datang kemari Kal." ujar Sherly.
"Ya mi aku tahu kau selalu benar mengambil keputusan." ujar Tora.
"Aku pikir om Tora sudah menggunakan tongkat saat datang kemari, tapi ternyata anda semakin gagah dan tampan." goda Kalfi.
Sherly tertawa mendengar godaan Kalfi. "Jika om Tora sudah menggunakan tongkat, mungkin akan aku tinggal di Indonesia." ejeknya.
__ADS_1
"Kau tega sekali sayang." jawab Tora.
Ketiganya kembali tertawa bersama. Dan disanalah rumah yang hampir 2 tahun tidak dikunjungi Tora dan Sherly. Keduanya turun dari mobilnya menuju pintu. Mola membukakan pintu dan terbelalak saat melihat nyonya dan tuan besar ada dihadapannya karena memang Kalfi tak memberitahu pelayan si kembar tentang kedatangan orang tuanya.
*****
"Selamat malam Mola, aku pikir kau sudah tidak bekerja untuk si kembar." ujar Sherly.
"Ya Tuhan nyonya besar mengapa kalian tak memberi kabar pada kami, kami menyiapkan makan malam tapi tidak istimewa." ujar Mola.
Sherly tertawa. "Panggil si kembar untuk menemui kami, katakan pada mereka jika ada tamu penting tapi tetap rahasiakan kedatangan kami." ujarnya.
Mola mengangguk dan segera memanggil Jidan dan Jordan, awalnya keduanya sangat enggan keluar kamar tapi Mola mengatakan tamunya sangat penting, dan akhirnya mereka mau mengalah. Dengan tubuh yang lelah dan langkah yang lunglai keduanya menuju pintu yang sudah terbuka lebar, tapi keduanya tak melihat ada siapapun yang berdiri disana sampai akhirnya keduanya keluar pintu rumah.
Mata mereka terbuka lebar dan mulutnya menganga saat melihat orang yang telah membuat mereka panik hampir 2 hari ini. Sherly merentangkan tangannya saat melihat si kembar masih terbengong. Keduanya berlari seperti anak kecil memeluk ibunya dan menangis membuat hati siapapun akan bersedih mendengarnya.
Sherly menyambut keduanya dengan tangisan yang sama lalu menciumi wajah mereka.
"Ya ampun, kalian melupakan papi." ujar Tora.
Keduanya melepaskan Sherly lalu memeluk ayahnya dan kembali menangis.
"Hei...umur berapa kalian masih menangis." ujar Tora tapi ia pun akhirnya mengeluarkan air matanya.
Setelah semuanya mulai tenang lagi, kali ini Jidan yang berbicara.
"Jika kami memberitahu kalian, bukan kejutan namanya." ujar Sherly sambil menyeka air matanya.
Jordan menatap tajam Kalfi. "Kau bekerja sama dengan mereka."
Kalfi tertawa. "Maafkan aku pak Jo, pak Ji... Ini semua permintaan kedua orang tua kalian."
"Jangan salahkan kakak kalian, aku yang memintanya." ujar Sherly.
"Lalu tante Mey?" tanya Jidan.
"Ia masih di Singapura, aku hanya membuat kalian lebih tenang." jawab Kalfi.
"Tunggu pembalasan kami kak." ancam Jidan.
Mereka akhirnya masuk, pelayan mulai sibuk memasak karena kedatangan mereka. Jordan terus menempel pada Sherly. Ia bahkan terus mengeluarkan air matanya.
"Jo... Kau sudah besar sayang." ujar Sherly.
"Apa kalian tak berpikir perasaan kami seperti apa saat tak bisa menghubungi kalian berdua. Pikiran kami sangat jelek karena papi memiliki banyak musuh." ujar Jordan.
"Itu dulu Jo, papi sudah pensiun." jawab Tora.
__ADS_1
"Apakah ada pensiun jika menyangkut dendam?" tanya Jidan kesal.
"Kalian justru membuat kami takut." jawab Sherly.
"Kami tidak tidur bahkan sulit untuk makan, kami takut kehilangan kalian. Bisakah kalian tinggal disini selamanya." pinta Jordan.
Sherly tertawa. "Lalu bagaimana dengan adik kalian?"
"Zean akan baik baik saja, ia ada di asrama polisi. Jika ia rindu pada kalian, ia bisa cuti dan datang kemari." jawab Jidan.
Tora ikut tertawa. "Bagaimana bisa kalian sudah menyukai wanita jika kalian masih sangat manja seperti ini."
"Itu beda lagi masalahnya." jawab Jordan.
"Sepertinya aku harus kembali sekarang, aku akan membawa Jenny dan Kevin kemari besok pagi." ujar Kalfi.
"Makan malam bersama kami Kal." pinta Sherly.
Kalfi menggeleng. "Tante Sherly kan tahu jika Jenny akan marah berhari-hari jika aku tak pulang makan malam."
"Wanita itu masih saja tak berubah, baiklah hati hati Kal." kata Sherly.
Kalfi mengangguk dan pamit pada mereka semua.
"Tunggu pembalasan kami kak." ujar Jidan dan Jordan.
Kalfi hanya tertawa mendengarnya lalu keluar dari rumah Sin.
"Mola, sudah siapkah kamar mereka." teriak Jidan.
"Sudah tuan." jawab Mola.
"Ayo kita ke kamar, kalian perlu beristirahat dan membersihkan diri. Kami tunggu saat makan malam walaupun sedikit terlambat." ujar Jidan.
Sherly dan Tora mengikuti anak anaknya menuju kamar, sedangkan Mola membawa koper mereka.
"Jo ayo..." ajak Jidan.
Jordan menggeleng, Jidan menarik adiknya yang kekanak-kanakan itu.
"Mami akan segera keluar sayang." ujar Sherly.
Jordan akhirnya mengangguk dan mengikuti kakaknya keluar dari kamar.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1