Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Kemarahan Sherly


__ADS_3

Sudah waktunya makan siang, si kembar masih juga belum kembali. Sherly mulai kesal menunggu keduanya. Ia terus menerus menatap ke luar rumah menunggu kehadiran putra kembarnya.


"Tenanglah mi, mereka pasti pulang." ujar Tora.


"Om Tora benar tante, Kalfi juga sering datang terlambat jika ingin makan siang di rumah." ujar Jenny meyakinkan.


"Kasian Kevin ia pasti sudah lapar." ujar Sherly.


Kevin menggeleng. "Aku tidak lapar, aku akan menunggu oppa Jo." jawabnya.


"Aku pulang." ujar Jordan.


Kevin segera berlari kepelukan Jordan. Jordan mengangkat tubuhnya yang tinggi.


"Sejak kapan kau datang?" tanya Jordan.


"Setelah pulang sekolah." jawab Kevin.


Sherly menatap ke belakang Jordan mencari tahu dimana Jidan.


"Aku naik taksi kemari, kak Ji sibuk dengan kekasihnya." ujar Jordan menjawab pertanyaan ibunya yang belum keluar dari mulutnya.


"Kekasihnya? Apa maksudmu?" tanya Sherly.


"Siapa lagi kalau buka Ae-Ri." jawab Jordan datar.


Tora dan Sherly saling berpandangan. "Kau sangat kesal Jo, ada apa sebenarnya?" tanya Tora.


"Tidak apa-apa, mungkin kak Ji tidak bisa makan bersama kita. Ayo kita makan, aku sudah lapar dan masih banyak pekerjaan di kantor." ajak Jordan seraya membawa Kevin ke ruang makan tanpa menunggu jawaban yang lain.


Mereka semua mengikuti Jordan ke ruang makan, lalu segera memulai makan siangnya. Sherly ingin banyak tanya tapi saat makan bukan waktu yang tepat. Jadi ia hanya bisa menunggu semuanya selesai makan siang.


Wajah Jordan terus murung, bahkan berkali-kali Kevin mengajaknya berbicara, Jordan hanya menjawab seadanya saja.


"Oppa tidak asyik." ujar Kevin kesal.


"Kev, kita sedang makan." tegur Jenny.


"Maaf sayang, kita bercanda setelah makan oke." kata Jordan.


Kevin akhirnya mengangguk. Saat mereka hampir selesai makan, Jidan kembali dengan nafasnya yang memburu.


"Maaf aku terlambat." ujar Jidan.


Mereka semua menatap Jidan.


"Duduklah nak, kami hampir selesai." ujar Sherly.


Jidan duduk dan mulai mengambil makanannya. Tatapan Jordan sangat tajam saat Jidan duduk tepat didepannya.


"Aku hanya mengantarnya pulang, itu saja tidak lebih." ujar Jidan.


"Aku tidak bertanya." jawab Jordan.

__ADS_1


"Tapi tatapanmu itu ingin tahu." bentak Jidan.


"Kapan aku ingin tahu semua tentangmu." bentak Jordan balik.


Sherly membanting sendoknya. "Kalian benar-benar lupa keberadaan kami." ujarnya seraya meninggalkan ruang makan dengan marah.


"Tunggu mi." ujar Tora lalu mengejarnya.


Jenny hanya bisa menatap mereka pergi lalu menatap si kembar.


"Apa yang kalian lakukan di depan orang tua kalian, dan ini meja makan?" tanya Jenny.


"Ini semua salah kak Ji." ujar Jordan.


"Kau yang memulainya." jawab Jidan.


"Hentikan." bentak Jenny. "Kalian benar-benar keras kepala, aku saja sakit kepala. Ayo tinggalkan mereka Kev." ajaknya pada Kevin.


Kevin mengangguk dan mengikuti ibunya pergi.


"Nikmatilah makan siangmu sendiri tuan Ji." ejek Jordan.


Tinggallah Jidan seorang diri, ia sama sekali tak bisa memakan hidangan kesukaannya jika suasana rumahnya seperti ini. Jidan pun mengurungkan niatnya untuk makan siang. Ia mencari keberadaan ibunya. Ternyata ibunya sedang dirayu oleh ayahnya di taman.


Saat ini Jordan berada disana dan mulai merayu ibunya, Jidan harus melakukan hal yang sama. Ia menuju taman.


"Mi..." panggil Jidan. "Maaf." sambungnya.


Sherly tak mau menjawab.


Sherly masih tak bergeming, Tora beranjak dari duduknya. "Selesaikan masalah kalian." ujarnya seraya meninggalkan ketiganya.


Jidan dan Jordan mengapit Sherly di tengah mereka.


"Mami maaf aku salah, aku yang memulainya." ujar Jidan.


"Dan aku juga salah karena menanggapi kak Ji." sambung Jordan.


Sherly menatap keduanya bergantian dan fokus pada Jidan.


"Sejak kapan mami mengajarkanmu terlambat datang untuk makan?" tanya Sherly.


"Maaf aku ada urusan." jawab Jidan.


"Ae-Ri lagi, stop berhubungan dengan wanita itu." ujar Sherly. "Kau juga..." sambungnya sambil menatap Jordan.


"Mami tak mau dengar kalian berhubungan dengan wanita itu. Mami tidak akan setuju." kata Sherly kesal.


"Tapi mi..." ujar Jordan.


"Tapi apa? Apa wanita itu lebih penting dari mami? Jika benar, mami akan kembali ke Indonesia hari ini juga." ujar Sherly.


"Tidak..." jawab keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Maksud Jo bukan seperti itu, Ae-Ri adalah karyawan SinMart. Kami tak mungkin tidak berhubungan." kata Jordan.


"Jo benar mi, Ae-Ri itu general manager SinMart ketiga. Bagaimana kami tidak berhubungan dengannya." kata Jidan.


"Kau Presdir dan kau CEO, kalian tak perlu berhubungan langsung dengan bawahan. Tidak jika kalian masih memperebutkan wanita itu. Atau mami akan menyuruh papi untuk menggunakan wewenangnya di SinMart untuk memecat Ae-Ri." ancam Sherly.


"Jangan mi, kami tidak akan berdebat soal Ae-Ri lagi. Kami janji, tapi jangan memecat karyawan yang sangat dibutuhkan SinMart. Wanita itu sangat cerdas, kami akan kesulitan mencari penggantinya." jawab Jidan.


"Benar mi, Ae-Ri sangat dibutuhkan SinMart ketiga. Marcell sedang memasuki perusahaan VilMart. Mami pasti tahu siapa Marcell, kami sedang mengahadapi masalah pelik di perusahaan. Jika Ae-Ri tak ada, maka SinMart akan lebih kesulitan." kata Jordan.


"Kalian masih juga membela wanita itu, kalian saling mendukung disaat seperti ini. Lalu apa yang kalian lakukan saat di meja makan tadi, kapan mami mengajarkan kalian berdebat saat makan." ujar Sherly marah.


"Maaf..." jawab keduanya menyesal.


"Kalian janji pada mami, tidak akan membawa nama ataupun perdebatan kalian di depan mami tentang wanita itu." ujar Sherly.


Keduanya mengangguk lalu mengangkat kedua jarinya ke atas. Sherly akhirnya tersenyum lalu memeluk keduanya.


"Mami hanya mengkhawatirkan hubungan kalian. Jangan pernah merusak keluarga Sin hanya karena satu wanita. Mami pikir wanita di Amerika ini sangat banyak, bahkan di Indonesia lebih cantik cantik." ujar Sherly.


Keduanya memeluk ibunya, tapi suara perut Jidan yang kelaparan membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.


"Sial perutku berbunyi disaat yang tidak tepat." ujar Jidan.


"Itulah akibat kau terlambat." ejek Jordan.


"Jangan mulai lagi, ayo Ji mami temani kau makan. Makanan kesukaanmu sudah menunggu. Jo temani papi, Jenny dan Kevin. Mereka pasti khawatir." ujar Sherly.


"Siap bu komandan." jawab Jordan.


Ketiganya masuk kedalam rumah, Sherly mengajak Jidan ke ruang makan dan menemaninya makan siang. Sherly terus menerus menatap putra tampannya yang sangat lahap memakan makanan kesukaannya.


"Sudah 2 tahun aku tak memakan masakan mami. Ini sangat lezat." ujar Jidan.


"Makan pelan pelan sayang, nanti kau tersedak." kata Sherly.


Jidan mengangguk. "Sebelum mami dan papi datang, aku hampir tidak bisa tidur karena memikirkan SinMart. Tapi semalam saat kalian baru datang, entah kenapa tidurku benar benar nyenyak."


"Itu karena kau merindukan kami, apa kau keberatan jika mami dan papi tinggal lama disini?" tanya Sherly.


"Tentu saja tidak, bagaimana aku keberatan. Aku malah ingin mami dan papi terus disini." jawab Jidan.


Sherly tertawa. "Tentu tidak sayang, tulang bawang adalah..."


"Kehidupan kami berdua, banyak kenangan disana. Kami memperjuangkan kalian dan tak mungkin kami akan meninggalkan daerah itu." jawab Jidan.


Sherly kembali tertawa lalu menarik telinga Jidan. "Kau nakal sekali menirukan ucapan mami."


"Ampun bu komandan." ujar Jidan seraya tertawa.


Sherly melepaskannya dan terus menatap putranya yang masih makan dengan lahap tanpa berhenti berbicara.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2