Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Kebahagiaan Jidan


__ADS_3

"Mengapa kau tidak sarapan pak Ji?" tanya Ae-Ri saat makanan yang dibeli Clara sudah datang.


Sebelumnya Clara juga meminta maaf pada Ae-Ri karena membantu Jidan bersandiwara, Ae-Ri memaafkannya karena ia tak ingin lagi melihat Jidan bersama wanita lain.


"Jika aku sarapan, maka rencanaku akan gagal. Kau akan datang lebih dulu dan tak melihat kami berpura pura bermesraan." jawab Jidan.


"Dasar pria gila, awas saja kalau kau menyentuh wanita lain seperti yang kau lakukan pada Clara tadi." ujar Ae-Ri.


"Tidak akan sayang, itu hanya sandiwara. Dan aku janji tidak akan minum lagi yang akan membuat kesalahan dan menyakitimu." janji Jidan.


Ae-Ri tersenyum, ia sangat senang Jidan mengatakannya. "Makanlah, aku akan melanjutkan pekerjaanku." ujarnya.


Jidan menahan tangan Ae-Ri seraya menggeleng. "Kau temani aku sarapan terlebih dahulu." pintanya.


"Kita satu ruangan, aku akan menyiapkan berkas untuk mengecek barang yang baru datang." jawab Ae-Ri.


"Ae-Ri, apa bekerja disini sangat sulit?" tanya Jidan.


Ae-Ri menggeleng. "Tidak, aku senang bekerja disini."


"Apa kau mau berhenti setelah kita menikah? Aku ingin kau menjadi istri yang baik di rumah." kata Jidan.


"Mengapa kau bahas hal semacam ini Ji, kita tak tahu akan seperti apa kedepannya. Tapi bukankah bagus, aku terus membantu perusahaan SinMart." jawab Ae-Ri.


"Baiklah kita bahas nanti saja." ujar Jidan seraya memakan sarapannya.


Ae-Ri tersenyum, ia meneruskan pekerjaannya sambil sesekali menatap kekasihnya. Jidan memang pria terhormat, cara pria itu makan sangat lembut.


"Jangan terus menatapku seperti itu sayang, aku tahu aku ini sangat tampan." goda Jidan.


"Ciiiih, percaya diri sekali. Siapa yang sedang menatapmu." kilah Ae-Ri.


Jidan tertawa. "Aku memiliki banyak mata sayang, tentu saja aku tahu kau tidak fokus bekerja." ujar Jidan.


Jidan menyelesaikan makannya, ia berdiri lalu menghampiri Ae-Ri.


"Apa kau butuh bantuan nona cantik?" tanya Jidan.


Ae-Ri menggeleng. "Tidak terima kasih pak Presdir, aku bisa mengatasinya."


"Bagaimana kalau bantuannya seperti ini." ujar Jidan seraya menundukkan kepalanya.


Jidan menyentuh bibir Ae-Ri dengan lembut. Ia mulai mencium wanita itu lagi dengan hasrat yang menggebu-gebu. Ae-Ri tak menolak ciuman itu, ia justru belajar lebih cepat. Ia membalas ciuman Jidan hingga membuat pria itu semakin menggila.


"Aku bisa melakukan lebih dari ini jika tidak berhenti." ujar Jidan setelah menarik dirinya.


Wajah Ae-Ri merona, Jidan menyentuh pipinya dengan lembut.

__ADS_1


"Mengapa kau sangat cantik Ae-Ri?" tanya Jidan.


"Itu karena ibuku juga cantik." jawab Ae-Ri datar.


Jidan kembali tertawa. "Ae-Ri, kau masih memiliki ayah. Lalu bagaimana caraku memintamu dan Aerum untuk menikah dengan kami? Apakah kita harus ke Korea Selatan?" tanya Jidan.


Ae-Ri merapikan dasi Jidan, ia menatap pria itu. "Ayahku akan datang kemari, jadi kau tak perlu ke Korea Selatan. Kau dan Jo datanglah ke rumah mami Warres bulan depan."


"Mengapa begitu lama? Aku ingin seminggu lagi." jawab Jidan.


"Itu tak mungkin Ji, aku tak bisa mempercepat perjalanan ayah karena ia juga memiliki pekerjaan disana." kata Ae-Ri.


Jidan menekuk wajahnya, baginya sangat lama untuk menikahi Ae-Ri. Jika bulan depan ayahnya baru datang, lalu bagaimana pernikahannya. Ae-Ri memperhatikan perubahan raut wajah kekasihnya. Ia menggenggam tangan Jidan.


"Kita perlu waktu mempersiapkan semuanya Ji." ujar Ae-Ri.


"Tak bisakah lebih cepat, aku tak ingin kehilanganmu. Dan aku yakin Jo dan Aerum juga tak ingin selama ini." ujar Jidan.


Ae-Ri menghela nafasnya. "Akan aku usahakan sayang. Kau kembalilah ke perusahaan, aku benar-benar banyak pekerjaan."


"Kau panggil apa aku tadi?" goda Jidan.


"Bagian yang mana, aku lupa." jawab Ae-Ri pura pura.


Jidan menggelitiknya hingga Ae-Ri tertawa. "Cepat katakan..."


"Aku tidak akan berhenti jika kau tak mengatakannya." kata Jidan masih menggelitiknya.


"Oke, hentikan... sayang..." ujar Ae-Ri.


Seketika Jidan berhenti, ia menarik Ae-Ri hingga berdiri lalu memeluknya. "Aku mencintaimu Ae-Ri."


"Aku juga mencintaimu Ji." jawab Ae-Ri.


Dengan enggan Jidan meninggalkan SinMart ketiga. Setelah ia berhasil, justru ia semakin tak ingin jauh dari wanita itu. Tapi ia tak ingin meninggalkan SinMart terlalu lama karena masalah pribadi. Setelah puas memeluk dan mencium Ae-Ri, ia pun akhirnya pamit pergi menuju perusahaan SinMart.


*****


Sepanjang perjalanan, Jidan tak henti hentinya menghubungi orang terdekatnya dan memberi kabar baik itu. Bahkan ia melakukan panggilan ke Indonesia, walaupun ia tahu saat ini sudah sangat malam disana. Tapi ia tak tahan ingin memberitahukan pada orang tuanya.


"Kami akan segera kesana." ujar Sherly.


"Tak perlu terburu-buru mi, Ae-Ri bilang ayahnya akan datang bulan depan." ujar Jidan.


"Itu terlalu lama sayang, mami tak sabar ingin menikahkan kalian berdua." kata Sherly.


Jidan terkekeh. "Mami kan belum pernah bertemu mereka, bagaimana mami ingin segera menikahkan kami."

__ADS_1


"Ji benar mi, kau terlalu terburu buru." ujar Tora.


"Kita sudah pernah melihat fotonya pi, dan aku tak ingin kehilangan menantu yang cantik cantik seperti itu." kata Sherly.


"Kapan kalian mendapatkan foto mereka?" tanya Jidan.


"Kau tak perlu tahu Ji, yang jelas mereka sangat imut. Apakah kalian tak ingin menikah di Indonesia saja?" tanya Sherly.


"Apa tak sulit, aku harus membawa Ae-Ri dan keluarganya ke Indonesia. Dan karyawan SinMart akan kecewa jika kami menikah di Indonesia. Aku ingin ratusan karyawan SinMart menyaksikan pernikahan kami mi. Apa mami ingin aku membawa ratusan karyawan SinMart ke Indonesia." ujar Jidan.


Sherly dan Tora tertawa. "Maaf sayang, mami terlalu bersemangat sampai tak memikirkan itu semua." jawab Sherly.


"Aku sudah sampai di perusahaan. Kalian datanglah 2 minggu lagi kemari, kita akan merencanakan pernikahan ini dengan matang dan buat Zean bisa menyaksikan pernikahan kakak kakaknya." ujar Jidan.


"Pasti Ji, papi akan menyelaraskan jadwal Zean dengan pernikahan kalian nanti. Bekerjalah dengan baik, jaga kesehatan kalian." ujar Tora.


"Terima kasih pi, maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Selamat malam..." ujar Jidan seraya menutup ponselnya.


Jidan sampai di perusahaan, ia segera menuju kantor Jordan. Ia ingin mengatakan kabar bahagia ini secepatnya. Jidan bertemu Marie di lobi.


"Siang pak Ji..." sapa Marie.


"Siang Marie, dimana pak jo?" tanya Jidan.


"Pak Jo sedang mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di kantornya." jawab Marie. "Tapi pak Jo..."


"Aku akan kesana." potong Jidan seraya meninggalkan Marie.


Marie menghela nafasnya, ia belum selesai memberitahu jika CEO nya sedang bersama kekasihnya.


Jidan segera menuju kantor Jordan, ia segera membuka pintu kantor adiknya tanpa mengetuk. Jidan seketika terbelalak saat melihat adiknya sedang memerangkap tubuh Aerum di sofa. Keduanya segera bangun dan merapikan diri.


Jidan mengumpat karena Marie tak memberitahunya. "Tak bisakah kalian lakukan itu di rumah saja." bentak Jidan.


"Maafkan kami kak, mengapa kau masuk tanpa mengetuk?" tanya Jordan sambil menyembunyikan Aerum yang sangat malu sekarang.


"Bukankah sekertarismu sedang menunggumu, kau malah seperti pria hidung belang." jawab Jidan kesal.


"Aku memang ingin mengambil kunci mobilku yang tertinggal." jawan Jordan datar.


"Terserahlah, aku hanya ingin kalian tahu Ae-Ri menerima lamaranku. Kita akan segera menikah." ujar Jidan seraya meninggalkan mereka tanpa menunggu jawaban Jordan.


Jidan terus mengumpat sambil menuju kantornya. Sedangkan Jordan berbalik menatap Aerum. Jordan tak bisa menahannya lagi, ia kembali mendorong Aerum ke sofa dan menciumi wanita itu sampai ia puas. Keduanya sangat bahagia mendengar kabar dari Jidan jika Ae-Ri akhirnya mau menikahinya.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2