
Mereka terdiam saat Aerum berlari meninggalkan ruangan. Keheningan terasa mencekam, Ae-Ri selalu tertunduk malu karena ucapan adiknya. Sedangkan Jidan Sin masih tak mempercayai ucapan Aerum. Warres yang menyaksikan keheningan itu akhirnya berbicara.
"Nak Ji, lebih baik anda kembali sekarang. Biar kami yang menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu. Aerum sangat kekanak-kanakan, ia hanya mengatakan sesuatu yang menurutnya benar tanpa memikirkan perasaan orang lain." ujar Warres.
Jidan mengangguk. "Nyonya Warres, aku masih ingin mengetahui kebenarannya. Tolong bujuk Aerum untuk mengatakannya, aku tahu ini semua kesalahanku. Tapi aku bukan pria yang suka meninggalkan wanita yang telah aku... maksudku aku tak akan lepas tanggung jawab." jawab Jidan.
Warres tersenyum. "Aku tahu itu, kau pria yang sangat baik. Kami akan mengabarimu lagi."
Jidan beranjak dari duduknya. "Ae-Ri, maaf..." ujarnya seraya meninggalkan rumah mereka.
Ae-Ri mengeluarkan air matanya saat Jidan sudah tak ada di rumahnya. Warres memeluknya, karena ibu angkatnya itu sangat tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini.
"Bicaralah pada Aerum baik baik Ri, tanyakan yang sebenarnya. Mami tahu seperti apa perasaanmu saat ini, tapi kau juga harus memikirkan perasaan adikmu. Bisa saja Aerum menolak Jidan karena ia tahu kau menyukainya." ujar Warres.
Ae-Ri menatap ibu angkatnya. "Apa mami pikir aku sekejam itu, aku bisa mengorbankan perasaanku asal adikku bahagia mi. Aku menangis karena Aerum tak mau mengakui kebenarannya. Dan tentu saja aku tahu alasannya ia melakukan itu." ujar Ae-Ri kembali menangis.
Warres menarik Ae-Ri dan memeluknya lagi. "Aku tahu seperti apa putriku ini. Kau wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi keluargamu. Sekarang bujuklah adikmu untuk mengatakannya, kita harus menyelesaikan ini secepatnya." pinta Warres.
Ae-Ri mengangguk, ia beranjak dari duduknya dan menemui adiknya di kamar.
*****
Sepanjang perjalanan Jidan terus mengumpat, ia memang menyukai Ae-Ri tapi ia juga bisa belajar menyukai Aerum jika memang wanita itu telah ia nodai. Ia bukan pria yang mudah melupakan kesalahannya walaupun itu cuma satu malam. Ia tahu seperti apa Amerika, hubungan di ranjang memang sudah biasa dilakukan. Tapi ia adalah putra Sin dari negara Indonesia, ia tak akan melakukan hubungan bebas semacam itu.
Ponsel Jidan berdering...
"Halo..." bentak Jidan tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
"Kau kenapa? main bentak saja." kata Jordan.
"Tidak apa-apa Jo, mengapa kau meneleponku?" tanya Jidan.
"Kau kemana saja, sudah waktunya makan siang. Farea bilang kau keluar dari pagi, ada urusan apa sih sampai selama ini." jawab Jordan.
"Itu urusanku Jo, kau kepo sekali. Sebentar lagi aku sampai di rumah." kata Jidan seraya menutup teleponnya.
Jidan menghela nafasnya, ia bingung bagaimana cara mengatakan semuanya pada adiknya. Tentu saja ia dan Jordan akan berkelahi dan membuat ibunya khawatir lagi. Jidan menepikan mobilnya, ia menatap jam tangannya lalu mengambil ponselnya.
Jidan kembali melihat nomor ponsel Aerum, tapi ia justru menekan nomor ibunya.
"Malam mi..." ujar Jidan saat Sherly mengangkatnya.
"Sayang, kau tidak biasanya menghubungi mami di jam seperti ini. Apakah pestanya sudah usai?" tanya Sherly.
"Maaf Ji mengganggu tengah malam begini. Ji merindukan mami." jawab Jidan.
Jidan menarik nafasnya dalam-dalam. "Mi, apa Ji putra yang bertanggung jawab?" tanyanya.
"Tentu saja, putra mami sangat bertanggung jawab." jawab Sherly.
"Mami bisa kan tenang dulu, mami jangan marah atau emosi sebelum Ji selesai berbicara. Bisakan mi..." pinta Jidan.
"Ya Tuhan sayang, kau jangan menakuti mami. Ada apa nak?" tanya Sherly penasaran.
"Katakan Ji, jangan buat kami takut disini." sambung Tora.
__ADS_1
"Saat pesta, Ji mabuk berat. Ji sama sekali tak mengingat apapun, tapi Ji sepertinya melakukan kesalahan pada seorang wanita. Ia adik Ae-Ri, Ji yakin telah berbuat sesuatu malam itu padanya. Pagi setelah Ji terbangun, Ji sudah tidak memakai pakaian sehelai pun. Ji tahu telah melakukannya, Ji bukan pria yang jahat dan lepas tanggung jawab. Ji menghampiri wanita itu untuk menanyakan kebenarannya, tapi ia menolak dengan keras kalau kami tak melakukan apapun. Ji harus bagaimana?" tanya Jidan tak terasa air matanya jatuh saat menceritakan semua itu.
"Adik Ae-Ri? Bagaimana adiknya bisa ikut ke pesta SinMart?" tanya Sherly.
"Ia bekerja di SinMart kedua, Jo lah yang membawa wanita itu." jawab Jidan datar.
"Jangan katakan pada mami jika Jo menyukai adik Ae-Ri." kata Sherly takut.
Jidan memejamkan matanya sejenak. "Maaf Ji menghancurkan segalanya."
"Ya Tuhan, baru saja kami kembali. Ji kau yakin melakukan itu pada adik Ae-Ri, jika benar kau harus bertanggungjawab. Papi tak pernah mengajarkan kalian melakukan hubungan bebas. Kau harus menikahi wanita itu, jelaskan semuanya pada adikmu. Minta bantuan Kalfi untuk masalah kalian, kami tak mungkin kembali kesana lagi." ujar Tora.
"Kita harus kesana pi..." pinta Sherly.
"Sayang, kesehatanmu...Kita tak bisa berangkat ke Amerika lagi. Zean bisa murka jika kita memaksa." ujat Tora.
"Maafkan Ji... Ji akan melakukan yang terbaik. Mami... Papi... Ji akan menikahi Aerum jika benar telah menodainya. Tapi jika wanita itu tetap tak mau mengatakan kebenarannya, apa yang harus Ji lakukan?" tanya Jidan bingung.
"Jadi namanya Aerum... Dengarkan mami Ji, jika wanita itu tetap bilang tak melakukannya. Artinya mungkin itu benar kalian tak melakukan apapun. Tunggulah sampai 3 bulan kedepan, jika kalian melakukannya pasti ada cucu mami di perut Aerum. Dan jika saat itu tiba, mami tak ingin kehilangan cucu dan menantu mami. Jika tidak, jangan harap mami mengakuimu sebagai putra mami." ancam Sherly.
Jidan mengumpat, ia tak memikirkan semua itu. Ia melakukannya tanpa pengaman, jadi kemungkinan besar Aerum bisa mengandung anaknya.
"Tenanglah mi, putra kita tak mungkin lari dari tanggung jawab." ujar Tora. "Ji, selesaikan masalahmu secepatnya. Jo bukan anak anak lagi, ia pasti akan mengerti masalah ini. Kami tutup dulu teleponnya." sambung Tora seraya menutup teleponnya.
Jidan kembali menghela nafasnya, ia memutar balik mobilnya menuju hotel San Marino. Ia ingin melihat kebenaran semua ini dari cctv hotel. Ia tak mau menunggu sampai Aerum hamil sebelum menikah. Ia tak ingin menghancurkan keluarga Ae-Ri dengan merusak nama baik wanita itu.
Dua jam perjalanan, akhirnya Jidan sampai di hotel San Marino. Tentu saja karyawan hotel terkejut saat mengetahui Jidan Sin kembali, Jidan tak ingin menunggu lagi. Ia langsung ingin bertemu manager hotel San Marino.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘