
Lagi lagi Jidan tersenyum pada Ae-Ri. "Bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tak bertemu?" tanya Jidan.
"Aku baik baik saja pak." jawab Ae-Ri.
"Syukurlah, apa kau ingin kembali ke negaramu?" tanya Jidan.
Ae-Ri mengangguk. "3 bulan lagi aku mengambil cuti selama satu minggu, aku akan menjemput adik perempuanku." jawabnya.
Jidan mengangguk. "Walaupun aku ada keturunan Korea Selatan, tapi sejujurnya aku tak pernah mengunjungi negara itu. Bahkan saat meeting keluar negeri pun aku tak pernah kesana. Seperti apa negaramu itu?" tanyanya.
"Negara yang sangat indah 10 tahun yang lalu, tapi aku juga tak tahu seperti apa negaraku sekarang." jawab Ae-Ri.
"Ya ampun aku lupa, kau sudah lama meninggalkan negaramu. Kau dengan apa datang kemari?" tanya Jidan.
"Aku naik taksi pak." kata Ae-Ri.
"Kebetulan aku belum sempat makan siang, ayo aku antar kau kembali ke SinMart ketiga." ajak Jidan.
"Terima kasih pak, anda tak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi." ujar Ae-Ri.
Jidan menghela nafasnya. "Lagi lagi aku ditolak." katanya datar.
"Lagi lagi aku berdebar setiap melihatmu pak Ji. Aku tak tahu bagaimana caraku menghilangkan perasaan ini. Aku tak mungkin bisa menggapaimu. Kau begitu jauh di depanku, aku hanya dari kalangan biasa." pikir Ae-Ri.
"Ae-Ri...hei...apa yang kau pikirkan?" tanya Jidan membuyarkan lamunan Ae-Ri.
"Ah... tidak apa-apa pak." jawabnya.
"Baiklah sepertinya kau tidak nyaman dekat denganku. Terima kasih dokumennya, aku akan membacanya nanti." ujar Jidan.
Ae-Ri mengangguk lalu berdiri. "Pak Ji, apakah anda marah sekarang?" tanyanya.
Jidan menyipitkan matanya lalu tersenyum. "Tentu tidak, aku tak memiliki hak untuk marah padamu." jawabnya.
Ya Tuhan, mengapa kau tersenyum padaku pak Ji. Aku tak sanggup melihatnya. gumam Ae-Ri.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Jidan.
"Aku... aku bersedia diantar anda." jawab Ae-Ri, lalu terbelalak sendiri karena ia mengatakan itu dengan mulut besarnya.
Kali ini Jidan tertawa, lalu berdiri memakai jasnya dan mengambil kuncinya. Jidan membukakan pintu untuk Ae-Ri.
"Ayo..." ajaknya.
__ADS_1
Dengan wajah yang memerah karena malu Ae-Ri melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
"Aurel meeting hari ini tunda selama satu jam, aku akan makan di luar." ujar Jidan.
Aurel mengangguk tapi menatap Ae-Ri dengan sinis. Bahkan anggukan Ae-Ri pun tak dibalas oleh Aurel.
Sepertinya Aurel tak menyukaiku. pikir Ae-Ri.
"Abaikan sekertarisku Ae-Ri, terkadang ia memang menyebalkan." ujar Jidan seolah-olah tahu apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa pak, sekertaris anda baik." jawab Ae-Ri.
Jidan hanya tersenyum, mereka memasuki lift bersama. Pintu lift terbuka tepat di lantai kantor Jordan. Ternyata Jordan yang ada di depan lift itu.
"Maaf pak Jo, anda lebih baik naik lift berikutnya." ujar Jidan.
Jordan terbelalak namun mengangguk, ia tak mau berdebat di depan wanita itu. Pintu lift kembali tertutup.
Jidan menatap Ae-Ri. "Aku hanya tak suka berhimpitan di dalam lift."
Ae-Ri tak mengatakan apapun, tapi ia berpikir bagaimana bisa berhimpitan, lift yang ia naiki begitu lebar. Mereka sampai di lantai paling dasar, Jidan membawa Ae-Ri menuju parkiran mobil pribadi perusahaan dan membukakan pintu mobilnya. Dengan ragu Ae-Ri masuk kedalam mobilnya.
"Tunggu sebentar." pinta Jidan seraya menutup pintu mobilnya.
"Tidak, lakukanlah." jawab Jordan.
"Jika kau marah, kau bisa ikut denganku Jo. Aku tak mau kita mulai berdebat lagi. Aku tak ingin melanggar janji kita pada mami." kata Jidan.
"Aku tidak apa-apa, aku sangat sibuk. Lebih baik kau antarkan Ae-Ri, itu lebih baik daripada ia naik taksi. Aku tidak akan berdebat." jawab Jordan seraya menutup teleponnya.
Jidan menghela nafasnya, semoga yang dikatakan adiknya benar benar dari hati. Ia tak ingin kembali jauh dari Jordan. Ia naik ke mobilnya lalu keluar dari perusahaan menuju sebuah restoran dekat SinMart Ketiga.
"Pak Ji, aku sudah makan siang dengan pak Jo di kantor tadi." ujar Ae-Ri.
Jidan menatap Ae-Ri. "Setidaknya temani aku makan, kau bisa meminum kopi." jawabnya.
Ae-Ri tak ingin berdebat dan menolaknya lagi, jadi ia hanya mengangguk.
Restoran yang dipilih Jidan benar benar sangat berkelas, membuat Ae-Ri sangat ragu memasukinya. Tiba tiba Jidan memegang lengannya dan menautkan ke tangannya.
"Jadilah pasanganku hari ini dan panggil aku Ji. Disini banyak teman teman kuliahku yang sedang makan." pinta Jidan.
Ae-Ri terkejut atas permintaan atasannya. Melihat Ae-Ri terkejut, Jidan kembali memohon. "Bantulah aku Ae-Ri." pintanya.
__ADS_1
Akhirnya Ae-Ri mengangguk dan mengikuti Jidan masuk ke restoran. Benar saja hampir semua yang sedang makan disana menyapanya. Jidan membawanya ke meja yang ternyata sudah ia pesan sebelumnya. Karena sebenarnya ia sudah diberitahu Kalfi bahwa Ae-Ri lah yang akan mengirimkan dokumen itu. Ia hanya berpura-pura tidak tahu.
"Jadi ini yang membuat seorang Ji sulit menemui kami di bar." ujar seorang pria menghampiri mereka.
Jidan tersenyum. "Perkenalkan ini Harry teman kuliahku. Ini Ae-Ri general manager SinMart ketiga." ujarnya.
Ae-Ri menyambut uluran tangan Harry. "Sangat cantik dan imut Ji, kenapa tidak kau jadikan wanita ini kekasihmu?" tanyanya.
"Ia pasanganku sekarang, sudah jangan menganggu kami." jawab Jidan.
"Baiklah, nikmati makan siang kalian. Aku tunggu kabar baiknya." ujar Harry seraya tertawa dan meninggalkan mereka.
"Maaf membuatmu tidak nyaman." kata Jidan pada Ae-Ri.
Ae-Ri mengangguk.
Mereka memesan makanan, sedangkan Ae-Ri hanya memesan segelas jus buah untuk menemani atasannya makan siang.
*****
Ae-Ri sudah sampai di SinMart ketiga, tapi Jidan tidak turun dari mobilnya. Ia tak mau membuat karyawan SinMart sibuk melihat kedatangannya.
"Terima kasih untuk hari ini Ae-Ri, maaf kau menghadapi beberapa orang teman kuliahku. Tapi aku suka kau berpura-pura menjadi pasanganku dan memanggilku Ji." ujar Jidan.
"Maaf atas kelancanganku pak Ji. Terima kasih anda telah mengantarkanku." jawab Ae-Ri.
Jidan tersenyum. "Aku harap kau bisa terus memanggil namaku saat kita berdua saja. Aku terdengar sangat tua saat kau menyebutku dengan panggilan pak." pintanya.
"Tapi pak, itu tidak sopan." kata Ae-Ri.
"Oh ayolah, aku ingin kau lebih santai denganku." pinta Jidan lagi.
Ae-Ri mengangguk. "Aku akan mencobanya, terima kasih sekali lagi." jawabnya.
Jidan melebarkan senyumnya lalu pamit meninggalkan Ae-Ri. Ae-Ri memegang dadanya yang memburu karena jantungnya yang berdetak kencang. Ia sama sekali tak bisa mengendalikan perasaannya. Bahkan ia sangat senang saat berpura pura menjadi pasangan pria itu saat makan siang tadi.
Sadarlah Ae-Ri, kau harus bangun dari mimpimu. gumamnya sendiri.
Ae-Ri menghela nafasnya dengan keras lalu kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1