Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Keikhlasan Jordan


__ADS_3

Keesokan harinya, kepala Jordan terasa ingin pecah. Ia memegang kepalanya yang sangat pusing. Setelah ia duduk di ranjangnya, ia kembali mengingat kejadian kemarin sore dan malam


Bagaimana aku bisa sampai ke rumah? tanyanya sendiri.


Jordan turun dari ranjangnya lalu masuk ke kamar mandi sambil terhuyung. Ia membersihkan dirinya sangat lama sambil menjernihkan pikirannya.


Aku sangat marah sampai memukul kakakku sendiri, tapi sebenarnya kak Ji tidak sepenuhnya bersalah. Aku saja tak bisa mengingat perbuatanku saat mabuk. Dan aku juga yang menyuruh Aerum mengantarnya ke kamar. Aku juga ikut andil dalam masalah ini. Tapi kenapa aku lagi yang harus mengalah dan mengorbankan perasaanku. Kenapa Tuhan menghukumku seperti ini? gumam Jordan.


Ia mengingat kembali keceriaan Aerum, rasa sakit hati itu menyerang kembali. Ia mulai bahagia bertemu wanita seperti Aerum, ia bahkan mulai menyukai wanita itu walaupun sebelumnya ia menyukai kakaknya.


Sial,,, sebenarnya aku menyukai siapa sih. Mengapa aku cepat sekali berpindah perasaan? bentaknya sendiri.


Jordan menyelesaikan mandinya lalu segera turun menuju ruang makan. Tidak ada tanda tanda kehadiran kakaknya.


"Pagi tuan Jo." sapa Farea.


"Pagi juga, dimana kak Ji?" tanya Jordan.


"Tuan Ji ada di halaman, ia dari semalam tidak mau makan. Bagaimana keadaan anda?" tanya Farea.


"Aku lebih baik, panggillah kak Ji. Katakan padanya untuk menemani aku sarapan." perintah Jordan.


Farea mengangguk lalu memanggil Jidan. Beberapa menit kemudian Jidan masuk ke ruang makan.


"Kau sudah bangun." sapa Jidan tapi Jordan tak menjawabnya.


Jordan hanya menatap wajah kakaknya yang penuh dengan luka akibat pukulannya. "Mengapa kau tak balik memukulku?" tanya Jordan tiba-tiba.


Jidan tersenyum. "Apa perlu kita baku hantam karena masalah ini Jo, apa semua itu akan menyelesaikan masalah." jawabnya.


"Maaf..." ujar Jordan.


Jidan terkejut mendengar ucapan adiknya. "Apa aku tak salah dengar?" tanya Jidan.


"Makanlah yang benar, kita harus segera ke perusahaan." jawab Jordan.


"Tak perlu Jo, beristirahatlah di rumah. Kak Kalfi yang akan menangani perusahaan hari ini. Apa kau tak marah lagi padaku?" tanya Jidan.


"Siapa bilang? Aku masih sangat marah padamu, aku akan semakin marah jika kau tak segera menikahi wanita itu." jawab Jordan.

__ADS_1


"Aku minta maaf Jo, aku salah padamu. Tapi demi Tuhan, aku tak sadar melakukannya. Aku tentu akan bertanggungjawab jika Aerum mau. Wanita itu sangat keras kepala, ia tetap bilang tidak." kata Jidan.


"Aku akan membantumu, apa kau ingin bertanggungjawab karena ia takut hamil?" tanya Jordan.


Jidan menggeleng. "Aku akan menikahinya walaupun ia tak hamil."


"Lalu bagaimana perasaanmu pada Ae-Ri kak?" tanya Jordan lagi.


"Entahlah,,, aku masih bingung tentang perasaanku Jo. Sepertinya aku dan kau terlalu cepat mengambil keputusan tentang perasaan kita." jawab Jidan.


Jordan tertawa. "Kau benar, kita sebenarnya masih ragu dengan perasaan kita. Tapi dengarkan aku kak, Aerum adalah wanita yang sangat ceria. Ia sebenarnya tak pantas untukmu yang selalu serius. Jika kau menyakitinya, aku tak segan-segan untuk memukulmu lagi." ancamnya.


Jidan ikut tertawa. "Bukankah bagus jika aku bersamanya, aku akan menjadi pria yang lebih ceria tak seperti sekarang. Dan kau tahu Jo, kita memiliki ibu dan adik perempuan. Jadi menyakiti Aerum itu tak mungkin terjadi." jawabnya.


Farea dan Mola memperhatikan keduanya saling tertawa, mereka ikut lega karena si kembar tak lagi berdebat dan berkelahi.


"Karena kita tak bekerja hari ini, apa tak sebaiknya kita ke rumah Aerum?" tanya Jordan.


Jidan menggeleng. "Aku sedang memberi waktu pada wanita itu, jika kita kesana sekarang, maka emosinya akan kembali meledak lagi. Apa kau ingin melanjutkan untuk mengejar Ae-Ri?" tanya Jidan.


Jordan mengangkat bahunya. "Aku harus meyakinkan hatiku terlebih dahulu kak, aku tak ingin menyakiti Ae-Ri. Setidaknya aku ingin tahu perasaanku ini sebenarnya untuk siapa setelah tak bertemu mereka beberapa hari kedepan. Dan kau jangan merubah pikiran kembali, lepaskan Ae-Ri dan fokuslah pada adiknya." katanya.


Jidan menganggukkan kepalanya. "Apa rencanamu hari ini?"


"Mana mungkin, aku tak sepintar dirimu dalam berenang." jawab Jidan.


"Kalau begitu aku tak akan membantumu mendapatkan Aerum." ancam Jordan seraya meninggalkan kakaknya sambil tertawa.


Jidan mendengus kesal, ia terpaksa mengikuti keinginan adiknya untuk berenang.


*****


"Apa kau yakin baik baik saja untuk bekerja?" tanya Warres pada Ae-Ri.


Ae-Ri mengangguk. "Apa Aerum sudah bangun?" tanyanya.


"Aku sudah bangun dan siap berangkat." jawab Aerum.


Ae-Ri terbelalak. "Kau akan bekerja, apa kau baik baik saja?"

__ADS_1


"Aku baik baik saja eonni, maaf telah membuatmu khawatir. Jangan bahas lagi masalah itu, aku bukan gadis kecil lagi." jawab Aerum.


"Tapi..."


"Aku tak menyukai pak Ji." potong Aerum.


"Ini bukan masalah suka atau tidak. Tapi pikirkanlah masa depanmu." kata Ae-Ri.


"Aku berangkat duluan, mami juga tak perlu khawatir." pamit Aerum.


"Sarapan dulu nak." ujar Warres.


Aerum menggeleng lalu segera bergegas meninggalkan mereka.


"Tunggu Aerum..." ujar Ae-Ri tapi dihentikan oleh Warres.


Ae-Ri menghela nafasnya. "Apa yang harus aku lakukan pada anak nakal itu?" tanyanya.


"Bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Warres.


"Aku berhenti menyukai Jidan setelah tahu adikku tidur dengannya mi. Walaupun Aerum terus menolak dan tak mau menikah dengannya, aku akan tetap berhenti." jawab Ae-Ri.


Warres menepuk pundaknya. "Kau memang putri kesayanganku. Kau sangat dewasa sayang, mami semakin menyayangimu."


Ae-Ri memeluk ibu angkatnya. "Aku juga sangat menyayangimu." jawabnya. "Aku berangkat sekarang, jika aku tak pulang makan malam berarti aku lembur hari ini. Karena pekerjaan pasti sangat banyak setelah pesta itu." pamitnya.


Warres mengangguk dan membiarkan putrinya berangkat kerja. Warres sangat tahu perasaan Ae-Ri saat ini, hanya saja putrinya itu sangat pandai menyimpan perasaannya agar ia tak khawatir.


Greek menghampiri Warres. "Nyonya lebih baik istirahat, biarkan putri putri nyonya menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kesehatan anda lebih penting."


"Kau tahu betapa aku menyayangi Ae-Ri, aku menginginkan Aerum berada disini juga. Tapi aku tak tahu akan seperti ini setelah membawanya kemari." ujar Warres.


"Apakah anda menyesal membawa nona Aerum kemari?" tanya Greek.


Warres menggeleng. "Aku tak menyesal Greek, tapi aku sangat kecewa pada takdir keduanya. Terutama Ae-Ri, putriku itu sangat baik. Ia tak mampu menyakiti seekor semut apalagi adiknya. Ia akan berkorban lebih banyak walaupun ia terkadang keras kepala."


Greek tersenyum. "Nyonya percayalah, Tuhan telah mengatur jodoh yang sangat baik untuk nona Ae-Ri. Biarkan semua ini berlalu apa adanya, sekarang anda kembalilah ke kamar. Anda tak boleh kelelahan."


Warres mengangguk dan mengikuti Greek menuju kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2