
Kalfi menemui Jidan setelah menenangkan Jordan di kamarnya. Ia menatap wajah murung Jidan. Kalfi menepuk pundaknya dengan lembut.
"Apa yang terjadi Ji? Aku baru melihat Jo sekacau ini setelah belasan tahun. Biasanya ia tak sampai memukulmu." tanya Kalfi.
"Ini semua salahku kak, seandainya aku tak mabuk malam itu, mungkin Jo tak akan kecewa seperti ini." jawab Jidan.
"Malam itu, maksudmu malam saat kita pesta?" tanya Kalfi lagi.
Jidan mengangguk. "Kakak tahu Aerum, adiknya Ae-Ri kan?" tanyanya.
Kalfi mengangguk. "Wanita yang dibawa Jo ke SinMart kedua, wanita mungil yang sangat cantik. Lalu..."
"Malam saat pesta aku mabuk, Jo menyuruh Aerum mengantarkanku ke kamar. Tapi aku tak sadar malah tidur dengannya." sambung Jidan menyesal.
"Apa??? Kau tidur dengan wanita itu, lalu bagaimana ia sekarang. Apa hubungannya dengan Jo?" Kalfi penasaran.
Jidan menundukkan kepalanya. "Jo marah dan kecewa karena menyukai wanita itu. Ia mengalah soal Ae-Ri dan beralih ke Aerum, tapi aku kembali menghancurkan perasaannya."
"Ya Tuhan, pantas saja ia sangat kacau. Lalu apa yang ingin kau lakukan Ji, kita keluarga Sin. Kita harus bertanggungjawab atas apapun yang telah kita perbuat. Apa kau sudah mengatakannya pada om Tora dan tante Sherly?" ujar Kalfi.
Jidan mengangguk. "Aku menghubungi mereka sebelum berbicara pada Jo, dan mami papi ingin aku bertanggungjawab atas semua yang telah aku lakukan. Mereka ingin menantu dan calon cucu mereka."
Kalfi terkejut. "Maksudmu, Aerum hamil."
Jidan akhirnya tertawa. "Apa wanita akan ketahuan hamil setelah satu malam bercinta?"
"Tentu saja tidak." ujar Kalfi.
"Tapi mami dan papi yakin kalau ada cucu yang sedang tumbuh di rahim Aerum karena aku melakukannya tanpa pengaman." kata Jidan.
Kalfi terkejut. "Kalau begitu kita harus segera menyiapkan pernikahan ini."
"Kau sama saja seperti mami dan papi kak. Lalu bagaimana dengan Jo dan juga Aerum?" tanya Jidan.
"Apa maksudmu bagaimana? Jo akan mengerti, ia hanya sedang kecewa saat ini. Adikmu itu akan lebih memahami situasi ini Ji, kau juga tak sengaja melakukannya. Lalu Aerum kenapa?" tanya Kalfi.
"Semoga yang kakak katakan benar jika Jo akan memaafkanku. Masalah Aerum lebih pelik, ia tak mau mengakui jika kami melakukannya malam itu. Bahkan ia justru menyuruhku melamar kakaknya. Sepertinya wanita itu mendengarku selalu menyebut nama Ae-Ri malam itu, ia kecewa padaku hingga menghindariku. Tapi aku sudah memastikan di hotel jika memang aku bersamanya malam itu sampai lebih dari setengah jam. Apa yang harus aku lakukan kak?" tanya Jidan.
__ADS_1
"Apa kau bisa melupakan Ae-Ri dan menikahi adiknya?" tanya Kalfi.
"Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini, aku hanya ingin bertanggung jawab, itu saja kak. Aku bukan pria yang akan lari saat aku melakukan itu, aku memang suka mabuk tapi aku tak suka main wanita." jawab Jidan.
Kalfi kembali menepuk pundak Jidan. "Aku akan membantumu melamar Aerum."
Suara ponsel Jidan berbunyi, orangtuanya melakukan video call. Jidan menatap Kalfi bingung, ia tak mau menunjukkan wajah memarnya pada ibu dan ayahnya.
"Angkatlah, kau harus menghadapinya. Orang tuamu pasti sangat khawatir." perintah Kalfi.
Jidan menelan ludahnya, ia harus membuat orang tuanya kembali khawatir. Tapi ia harus menyelesaikan semuanya. Jidan mengangkatnya dengan terpaksa.
"Ya Tuhan, wajahmu..." teriak Sherly.
"Apa kau bertengkar dengan adikmu Ji? Dimana Jo?" tanya Tora.
"Hai om Tora, tante Sherly..." sapa Kalfi.
"Apa yang terjadi pada adik adikmu Kal?" tanya Sherly terisak.
"Sedikit memukulmu bagaimana Ji, wajahmu sangat bengkak dan penuh luka." ujar Sherly terisak.
Tora menenangkan istrinya sambil mengelus pundaknya.
"Ji, apa sudah selesai semuanya? Kami akan berangkat ke Amerika jika kau ingin menikah, mami mu tak tidur semalaman. Aku takut ia sakit." ujar Tora.
Jidan menggeleng. "Aku belum menyelesaikan semuanya, Jo masih marah. Aku akan menunggunya lalu kembali meyakinkan Aerum. Kak Kalfi yang akan membantuku, kalian tenanglah. Aku akan memberi kabar pada kalian saat semua sudah siap."
"Ji benar om, tante... Kita tak bisa menyelesaikan semua ini secepatnya. Jo dan Aerum sama sama keras kepala. Aku akan membantu mereka. Tante Sherly jaga kesehatan, aku tak ingin anda sakit. Serahkan semuanya padaku." sambung Kalfi.
"*Kau dengarkan mi, ada Kalfi disana. Kau tenanglah, mereka pasti bisa mengatasinya. Mereka bersama belasan tahun disana, tak mungkin putra putra kita saling membunuh." ujar Tora meyakinkan istrinya.
"Kau lihatlah wajah Ji, bagaimana mereka tak akan saling membunuh." jawab* Sherly.
"Mami, aku yang salah. Tentu saja aku tak akan membalas perlakuan Jo. Aku menyayangi adikku itu." ujar Jidan.
"Baiklah... mami percaya padamu kali ini Ji, tapi mami mohon jangan buat Jo kembali kecewa sayang. Adikmu itu selalu mengalah padamu." pinta Sherly.
__ADS_1
"Aku janji mi, mami dan papi jaga kesehatan disana. Aku akan mengabari kalian lagi." jawab Jidan seraya menutup ponselnya.
Jidan menghela nafasnya. "Bagaimana aku menghadapi Jo saat ia sadar?"
"Biarkan ia yang berbicara terlebih dahulu, besok lebih baik kalian tak usah ke perusahaan. Biarkan aku yang menanganinya. Aku pamit, kakakmu Jenny pasti sangat khawatir." jawab Kalfi.
Jidan mengangguk. "Terima kasih kak."
Kalfi juga mengangguk lalu meninggalkan kediaman si kembar. Jidan juga kembali ke kamarnya, ia tak ingin makan malam ini.
*****
Aerum mengaktifkan ponselnya dan nada pesan masuk berbunyi. Ia membaca pesan dari Jidan Sin dan terkejut.
Jangan terus menghindar Aerum, aku tahu kita melakukannya malam itu. Suka ataupun tidak kau harus menikah denganku. Aku akan membawa keluargaku sebelum anakku tumbuh di rahimmu.
Tanpa sadar ia mengusap perutnya lalu menangis.
"Apakah ada anak yang tumbuh disini Tuhan, aku mohon jangan biarkan itu terjadi. Aku tak ingin menyakiti eonni." gumamnya.
Aerum membalas pesan dari Jidan.
Pak Ji, aku mohon lupakan semuanya. Kakakku dan anda saling menyukai. Tolong korbankan aku diantara kalian, semua yang terjadi antara kita malam itu adalah sebuah kesalahan. Kau mabuk dan aku pun mabuk. Kita sama sama tak sengaja melakukannya.
Itulah yang di balas Aerum untuk Jidan. Tak lama ia menerima pesan kembali.
Akhirnya kau mengakuinya, aku akan tetap menikahimu Aerum. Maaf telah membuatmu berada diantara masalah ini, tapi aku tak akan mengorbankanmu. Aku akan berusaha menyukaimu, aku belum pernah mengatakan pada kakakmu jika aku menyukainya. Jadi jangan berpikir seperti yang kau pikirkan. Aku mohon jangan menghindar lagi. ujar Jidan.
Aerum memejamkan matanya sejenak.
Jika kau takut reputasi keluarga Sin tercemar, itu tak akan pernah terjadi pak Ji. Aku akan menghilang dari kalian. Dan kau jangan terlalu percaya diri jika anakmu telah tumbuh di rahimku, aku belum tentu hamil setelah melakukannya denganmu. jawab Aerum.
Aerum kembali mematikan ponselnya, ia tak ingin melihat jawaban apapun lagi dari Jidan Sin. Ia tetap akan mempertahankan jawaban "TIDAK" untuk merusak dan menyakiti kakaknya. Aerum memejamkan matanya, ia sama sekali tak ingin makan malam.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1