Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Jidan, Semangat!!!


__ADS_3

Jidan Sin kembali ke perusahaan lebih cepat dari yang di duga, ia mungkin bisa menghadiri meeting bersama klien dari Jepang. Aurel melihat wajah kekecewaan pada atasannya, ia segera menghubungi Marie untuk memberitahu CEO kalau Presdir sudah kembali. Tak lama kemudian, Jordan datang ke kantor.


"Benar benar sudah kembali?" tanya Jordan.


Aurel mengangguk. "Ada di dalam pak Jo." jawabnya.


Jordan mengangguk lalu masuk ke ruangan kakaknya. "Secepat ini?" tanyanya sambil menatap kakaknya yang sibuk dengan dokumennya.


Jidan mendongak lalu menatap adiknya, ia mengangguk lalu kembali pada dokumennya.


"Melihat ekspresi wajahmu yang muram, kau gagal kan." ejek Jordan.


Jidan membanting penanya. "Keluarlah, aku dalam mood yang buruk."


Alih-alih keluar, Jordan malah tertawa terbahak-bahak. Melihat ejekan adiknya, Jidan langsung melemparkan penanya pada Jordan.


"Aku bilang keluar." bentaknya.


Jordan menghela nafasnya. "Baiklah, kita akan bicara setelah meeting kita selesai. Dan bodohnya, aku sudah mengganti pakaianku persis sepertimu. Aku pikir kau akan lama disana."


"Jangan... Sepertinya aku dalam mood yang sangat buruk untuk bertemu klien. Kau tetap menjadi aku untuk meeting. Aku ingin pulang saja." ujar Jidan.


"Oh ayolah, mana Jidan Sin yang aku kenal. Mengapa kau mudah menyerah." ujar Jordan.


"Siapa bilang aku menyerah, aku hanya kesal saja menghadapi wanita keras kepala itu. Ia persis seperti adikku yang sulit diatur." ejek Jidan.


"Hei... kenapa aku lagi. Aku lebih mudah dihadapi ketimbang wanita cantik itu. Aku pikir kau harus memberi waktu pada Ae-Ri kak. Ia masih sangat kecewa padamu, bagaimanapun kau yang melakukan kesalahan." ujar Jordan.


"Kau saja bisa menerima Aerum, kenapa wanita itu tak mau menerimaku." jawab Jidan.


Jordan terkekeh. "Berjuanglah pak Ji, wanita mana yang tidak terpesona oleh senyumanmu. Gunakan senjata itu untuk merayu Ae-Ri, aku yakin ia akan menerimamu. Jangan gunakan emosimu untuk menghadapi wanita yang sedang marah."


"Kau menceramahiku pak Jo, keluar sekarang." usir Jidan.


"Baiklah, pikirkan ucapanku. Kau pulanglah terlebih dahulu, aku yang akan mengurus perusahaan hari ini." ujar Jordan.


Jidan mengangguk. "Jo... terima kasih." ujarnya.


Jordan malah tertawa lagi saat mendengar ucapan kakaknya, Jidan kembali melempar barang pada adiknya itu. Jordan segera keluar dari ruangan kakaknya.


"Mood pak Ji sangat buruk Aurel, jadi aku yang akan tetap menemui klien. Pak Ji mungkin akan pulang lebih awal." ujar Jordan.


"Baik pak." jawab Aurel.


Wanita itu benar benar menolak pak Ji, tapi kenapa aku malah semakin marah. Pak Ji adalah pria idaman wanita manapun, tapi wanita itu terlalu memandang tinggi dirinya sendiri. pikir Aurel.


Benar saja Jidan kembali keluar dari ruangan. "Aku pulang lebih awal. Jika pekerjaanmu sudah selesai, kau boleh pulang. Taruh saja dokumen hasil rapat di mejaku." ujarnya.

__ADS_1


"Baik pak." jawab Aurel.


Jidan meninggalkan perusahaan lagi, tapi kali ini ia akan kembali ke rumahnya.


*****


Hari semakin malam, tapi Jordan belum juga kembali ke rumah. Jidan terpaksa menghubungi orang tuanya tanpa Jordan. Ia ingin berbicara dan meminta solusi pada orang tuanya.


"Hai putra mami..." ujar Sherly.


"Hai mi... Hai pi..." sapa Jidan.


"Malam waktu Amerika Ji." balas Tora. "Ada apa dengan wajah tampanmu?' tanyanya.


"Aku sedang patah hati." jawab Jidan datar.


"Apakah seorang Sin boleh patah hati pi?" goda Sherly.


"Tentu saja tidak sayang, aku tak pernah menyerah untuk mendapatkanmu." jawab Tora.


"Kau dengar kan kata papi. Apakah Ae-Ri sulit untukmu?" tanya Sherly.


Jidan mengangguk. "Aku tahu kalian sudah mengetahui semuanya dari kak Kalfi. Jo sudah berhasil meyakinkan Aerum, tapi aku sangat sulit. Wanita itu sangat kecewa pada perbuatanku sebelumnya." jawabnya.


"Mami akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ae-Ri Ji, wajar wanita itu sangat kecewa padamu. Kau bisa berjanji pada wanita itu untuk berhenti minum agar kau tak salah mengenali orang." goda Sherly.


"Sangat mudah membuat wanita luluh Ji, katakan cinta padanya." ujar Tora.


"Sayangnya Ae-Ri tak tergoda pada kata cinta itu." jawab Jidan.


"Berapa kali kau mengatakannya?" tanya Tora.


"Setidaknya 2 kali, walaupun yang sekali ia tak mendengarnya." jawab Jidan lagi.


Tora dan Sherly tertawa bersama.


"Kau pikir itu cukup sayang." ujar Sherly.


"Apa maksud mami?" tanya Jidan.


"Kau masih sangat muda nak, yang kami maksud adalah kata cinta setiap hari. Bukan hanya ucapan tapi juga perbuatan. Kau bisa menyatakan cintamu berkali kali lewat telepon, dan kau bisa melakukan perbuatan cintamu sehingga akan meluluhkan hatinya. Ae-Ri memiliki sikap seperti itu, ia akan segera melemah jika kau terus membuktikan cintamu padanya. Jangan menghadapi wanita itu dengan emosi Ji." jawab Tora.


"Itulah yang aku katakan pada kak Ji pi, aku lebih tahu soal wanita. Pria kaku ini memang bodoh." ejek Jordan seraya bergabung dengan mereka.


Kedua orang tuanya tertawa, Jidan langsung menendang kakinya.


"Darimana saja kau?" tanya Sherly.

__ADS_1


"Sibuk mengurus pekerjaan Presdir yang patah hati." jawab Jordan.


Jidan kembali ingin memukul adiknya, tapi ia menatap orang tuanya di ponsel. Ia mengurungkan niatnya seraya menarik tangannya kembali.


"Jangan terus menggoda kakakmu sayang. Dukung ia..." ujar Sherly.


"Pasti mi, apa kalian benar benar setuju keputusan kami berdua?" tanya Jordan.


"Tentu saja, kami akan mendapatkan 2 menantu sekaligus. Dan adik kalian bahkan ingin segera bertemu keduanya, ia ingin tahu seperti apa wanita yang bisa meluluhkan hati si kembar Sin itu." jawab Sherly.


"Apa Zean bisa cuti?" tanya Jidan.


"Mana mungkin Ji, adikmu sedang serius karena ingin segera naik jabatan. Ia tak bisa cuti sekarang, kecuali kalian sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian." jawab Tora.


"Baiklah pak komandan, anak kesayanganmu itu harus memiliki jabatan sepertimu kan." goda Jidan.


"Tentu saja." jawab Tora bersemangat.


Mereka tertawa bersama.


"Kembali ke masalah kak Ji, sepertinya Ae-Ri memiliki sifat hampir sama denganku. Aku pikir kak Ji hanya butuh berusaha lebih keras lagi, ada saatnya orang seperti kami akan melemah." ujar Jordan.


"Adikmu benar Ji, Kalfi pernah mengatakannya pada kami. Ae-Ri hanya cocok denganmu. Ia memiliki sifat keras kepala seperti Jo, jadi hanya kau yang bisa mengatasi wanita seperti itu." ujar Sherly.


"Oh pantas saja, kak Kalfi lebih suka kak Ji sering bertemu Ae-Ri dibandingkan aku, ternyata ia sudah menilai wanita itu. Dan aku kecewa..." kata Jordan pura pura kesal.


"Tidak seperti itu nak, kakak sepupu kalian sangat menyayangi kalian berdua. Ia ingin yang terbaik buat kalian. Awalnya Kalfi sedikit ragu mendukung Ji untuk menikahi Aerum karena kesalahan itu. Tapi setelah kalian mengubah keputusan kalian, ia sangat lega termasuk kami." jawab Sherly.


"Aku hanya bercanda mi, aku tak menyesal memilih Aerum sebagai calon istriku. Aku benar benar mencintainya. Aku beruntung tidak lebih dekat dengan kakaknya." kata Jordan.


"Lalu bagaimana aku? Aku masih bingung harus bagaimana selanjutnya." tanya Jidan.


Alih-alih menjawab, mereka justru tertawa terbahak-bahak. Jidan sangat kesal lalu meninggalkan ruangan.


"Ji maafkan kami nak..." ujar Sherly.


Tapi Jidan tak mendengarkan ibunya.


"Mami tenang saja, aku yang akan membuatnya ceria lagi. Serahkan semuanya padaku, setelah kami berhasil meyakinkan Ae-Ri. Giliran kalian yang harus datang." ujar Jordan.


"Baiklah sayang itu sudah pasti. Kalian beristirahatlah, kami tunggu kabar selanjutnya. Bye..." kata Sherly seraya menutup ponselnya.


Jordan menghela nafasnya, kakaknya memang sangat dangkal. Ia sebagai adiknya justru lebih tahu soal wanita. Jordan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu ia akan menemui kakaknya untuk berbicara.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2