
Jidan membawa nampan makanannya ke kamar, ia tak mau istrinya turun dari ranjangnya. Ia tahu Ae-Ri masih merasakan nyeri akibat malam pertama mereka. Jidan membuka pintu kamar dan mendapati istrinya tak ada diatas ranjang.
"Kau dimana sayang..." ujar Jidan.
Jidan menaruh nampannya di meja, ia mencari keberadaan istrinya. Suara percikan air di kamar mandi membuatnya lega, Jidan membuka pintu kamar mandi ternyata pintunya terkunci.
"Ae-Ri, mengapa kau mengunci pintu kamar mandi sayang. Aku sudah suamimu. Dan mengapa kau memaksakan diri turun dari ranjang." ujar Jidan lagi.
Tapi Ae-Ri sepertinya tak mendengar suaminya, wanita itu tak menjawab ucapan Jidan. Jidan menghela nafasnya seraya duduk di pinggir ranjang menunggu istrinya selesai. Cukup lama Jidan menunggu, akhirnya Ae-Ri keluar dari kamar mandi. Wanita itu menyunggingkan senyumnya.
"Apa kau menungguku?" tanya Ae-Ri.
"Tentu saja, sudah hampir setengah jam. Dan apa yang kau lakukan." ujar Jidan.
"Aku mandi sayang, aku merendam tubuhku di bathtub, itu membuatku nyaman dan lebih baik." jawab Ae-Ri sambil duduk di depan meja rias.
Jidan berdiri dan menghampiri istrinya, ia mulai membantu Ae-Ri mengeringkan rambutnya.
"Kau yakin lebih baik." kata Jidan.
Ae-Ri mengangguk. Jidan mencium pipi istrinya.
"Maafkan aku." ujar Jidan.
"Maaf untuk apa Ji." kata Ae-Ri.
"Untuk semua yang aku lakukan sampai membuatmu kesakitan." jawab Jidan.
Ae-Ri tertawa. "Ya Tuhan, suamiku polos sekali. Aku tak apa apa, dan semua sudah tugasku sebagai seorang istri melayani suaminya. Rasa nyeri itu semakin mereda sayang, percayalah."
Jidan mencium telinga dan leher Ae-Ri membuat wanita itu bergidik. "Mengapa kau sangat cantik sayang, aku ingin lagi tapi aku tak mau membuatmu sakit." ujarnya.
Ae-Ri membalikkan tubuhnya dan menatap wajah suaminya. "Aku baru selesai mandi sayang, jangan membuatku mandi lagi."
Jidan memegang kedua pipinya lalu mencium bibir Ae-Ri. "Kau membuatku bergairah istriku, tapi aku bisa menahannya. Kita sarapan terlebih dahulu." ajaknya.
Ae-Ri kembali menganggukkan kepalanya. "Apa kita ke pesta?" tanya Ae-Ri sambil menuju meja di kamar itu.
Jidan menggeleng. "Hari ini biarkan Jo dan Aerum yang datang, kita bisa beristirahat di rumah." jawabnya.
"Tapi tamu undangan akan kecewa, mereka ingin melihat si kembar bersama." kata Ae-Ri.
"Aku tak ingin membuatmu berdiri sepanjang hari dan menahan nyeri itu. Besok saja kita hadir di acara ketiga. Aku juga ingin bersamamu sepanjang hari di atas ranjang." goda Jidan.
"Kau bilang bisa menahannya." ujar Ae-Ri.
"Jangan berpikiran kotor sayang, kita bisa melakukan apapun di atas ranjang." jawab Jidan.
Ae-Ri tertawa membuat wanita itu semakin cantik. "Aku tak percaya tuan Ji."
__ADS_1
Jidan akhirnya ikut tertawa. Keduanya menikmati sarapannya sambil terus saling menggoda.
*****
Jordan terus merayu istrinya yang merajuk akibat ulahnya bercanda di depan orang tua mereka. Aerum sangat kesal karena Jordan terlalu terbuka pada orang tua mereka dan membuatnya sangat malu.
"Ayolah sayang, sampai kapan kau menekuk wajahmu sambil merias wajah." ujar Jordan.
"Kau membuatku malu Jo." bentak Aerum.
Jordan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. "Maaf sayang."
"Jangan sentuh aku, aku kan tadi bilang seperti itu." ujar Aerum.
"Bagaimana kalau seperti ini." tanya Jordan seraya mengecup belakang lehernya.
"Aku tak mau." jawab Aerum seraya menjauhkan dirinya.
Jordan kehilangan kesabarannya, ia mengangkat tubuh istrinya dan menjatuhkannya di atas ranjang. "Bagaimana kalau seperti ini." tanyanya lagi seraya memerangkap tubuh istrinya.
"Jo kita harus berangkat ke pesta. Kau merusak riasanku." kata Aerum berusaha melepaskan tubuh suaminya.
Jordan kehilangan kesabarannya, ia menundukkan kepalanya dan mulai menciumi istrinya. Aerum akhirnya tertawa.
"Oke stop sayang. Aku tak akan marah lagi, lepaskan aku." ujar Aerum.
*****
Brian sudah datang menjemput Zean, dokter tampan itu sangat rapi seperti biasanya.
"Pagi Brian..." sapa Tora dan Sherly.
"Pagi om, tante... Apa Zean sudah bangun?" tanya Brian.
"Tentu saja sudah, ia sedang bersiap siap. Duduklah dulu." jawab Sherly.
"Terima kasih tante." jawab Brian seraya melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu.
"Dimana papa mu?" tanya Tora.
"Papa masih di hotel, katanya ia akan langsung ke tempat pesta. Besok kami akan kembali ke Indonesia, apa Zean sudah mengatakannya?" kata Brian.
Keduanya mengangguk. "Kami titip Zean ya, kami belum bisa kembali ke Indonesia. Acara si kembar masih 2 hari lagi." ujar Tora.
"Om dan tante tenang saja, aku akan menjaganya." jawab Brian.
"Aku seorang polisi, aku bisa menjaga diriku sendiri pi." ujar Zean bergabung dengan mereka.
Ketiganya terbelalak melihat penampilan Zean, wanita itu merias wajahnya dengan sangat cantik. Padahal saat pesta ia tak mau berias. Ia tetap seperti wanita tomboi, tapi kali ini untuk pertama kalinya, Zean terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Apakah ini putri kita pi?" goda Sherly.
"Putri kebanggaanku yang sangat cantik." jawab Tora.
Sedangkan Brian masih menatap Zean tanpa berkedip.
"Pak dokter, ayo kita berangkat." ajak Zean.
"Ah iya..." jawab Brian tergagap.
Tora dan Sherly tertawa melihatnya.
"Kalian berhati hatilah, ini Amerika bukan negara kita." pesan Tora.
"Pasti pi." jawab Zean.
"Om, tante... Aku pamit." ujar Brian.
Tora dan Sherly mengangguk, keduanya berpamitan dan pergi meninggalkan rumah besar Sin dengan mobil sewaan mereka.
Sepanjang perjalanan, Brian selalu menatap Zean. Ia tak pernah melihat teman kecilnya berdandan feminim.
"Kau kenapa sih dari tadi menatapku." tanya Zean.
"Kau cantik." jawab Brian.
"Tentu saja, aku wanita. Akan lebih aneh jika kau mengatakan aku tampan." kata Zean.
Brian melepaskan tawanya. "Sayang sekali cara bicaramu tetap sama Zean."
"Apa kau ingin aku berpura pura lembut pak dokter, sepertinya itu bukan Zean Sin." kata Brian.
"Kau benar, Zean Sin yang aku kenal memang seperti ini. Kita akan kemana terlebih dahulu, banyak sekali daftar yang kau sebutkan semalam padaku?" tanya Brian.
Zean berpikir sejenak. "Hollywood Sign, lalu kita ke pantai Santa Monica, setelah itu kita ke Walt Disneyland. Itu saja tidak banyak pak dokter." jawabnya.
"Baik bu pol..." jawab Brian seraya tertawa.
Keduanya mengunjungi tempat tempat wisata terkenal di Los Angeles, dan anehnya Brian selalu menggandeng tangan Zean. Dengan alasan pria itu takut Zean terpisah darinya dan akan sulit mencari wanita itu di kerumunan para wisatawan. Zean akhirnya menyerah, ia membiarkan Brian terus menggenggam tangannya.
Brian juga terkadang memeluk Zean dari samping saat ada pria yang menatap wanita itu. Sikapnya semakin protektif saat ada beberapa pria yang ingin berfoto dengannya. Dengan tegas Brian mengusir mereka semua membuat Zean sepanjang hari tertawa melihatnya.
*****
Happy Reading All...😘
Satu episode lagi ya guys...
Nantikan cerita "Chef Cantik Pilihanku Season 2" dan "Cerita Brian & Zean Sin di Diakah Jodohku Season 3."
__ADS_1