Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Kecemburuan Ae-Ri


__ADS_3

Clara menghampiri Ae-Ri dan mengatakan semuanya. Wajah Ae-Ri seketika memerah, ia menatap tajam asistennya.


"Bagaimana kau bisa pulang sedangkan aku bilang banyak pekerjaan Clara? Jika tahu pak Ji akan menjemputmu, aku tak akan beralasan. Aku seperti orang bodoh saja." ujar Ae-Ri.


"Maafkan aku bu, aku juga tak tahu jika pak Ji ingin mengantarkanku pulang. Aku tak bisa menolak, sudah lama aku mengagumi pak Ji. Ini kesempatanku untuk dekat dengannya." jawab Clara.


Ae-Ri menggertakkan giginya. "Apa maksudnya memberiku bunga dan mengatakan ingin menjemputku, mengapa pria itu berubah pikiran setelah bertemu dengan Clara." gumamnya.


"Apa bu?" tanya Clara.


"Tidak, pulanglah." jawab Ae-Ri.


Clara mengangguk lalu pamit pulang, dalam hatinya ia tersenyum. Ae-Ri terlihat sangat kesal.


"Tunggu Clara..." panggil Ae-Ri.


"Iya bu..." jawab Clara.


"Bawalah bunga itu, aku tak suka." perintah Ae-Ri.


Clara merasa tak enak hati, tapi ia harus mendukung rencana Jidan. Ia mengambil bunga itu lalu keluar dari kantornya.


Ae-Ri menghempaskan tubuhnya dengan kesal di kursinya. Ia terus menatap pintu kantornya. Ia berharap tadi hanya mimpi, ia berharap Jidan menemuinya. Tapi pintu itu tak kunjung di ketuk. Ae-Ri penasaran, ia mengintip ke jendela. Dan ia semakin kesal, karena Jidan benar benar membukakan pintu mobil untuk Clara dan mereka pulang bersama.


"Apa maksud semua ini sih, bukankah tadi pagi ia meminta kesempatan kedua padaku. Lalu mengapa sekarang berubah pikiran? Aku tahu Clara memang cantik, tapi secepat itu ia berubah pikiran. Dasar pria playboy." ujar Ae-Ri kesal.


Wanita itu semakin emosi, ia tak bisa bekerja sekarang. Ia terus memikirkan sikap Jidan yang mudah berpaling darinya.


"Ayolah Ae-Ri, bukankah kau senang jika Jidan tak mengganggumu. Lalu mengapa kau sangat kesal sekarang? Pria itu tak baik, setelah bersama Aerum kini ia mendekati Clara." gumam Ae-Ri..


Ae-Ri membereskan pekerjaan lalu segera keluar dari kantornya, saatnya ia pulang dan menenangkan dirinya. Ae-Ri memesan taksi, tapi saat menunggu taksi ia justru semakin dibuat kesal oleh sekuriti.


"Bu Ae-Ri, aku kira anda yang akan dijemput pak Ji. Ternyata Clara, beruntung sekali Clara bisa dekat dengan pak Ji padahal ia hanya seorang asisten manager. Aku kira setelah mengantarkan anda tadi pagi, pak Ji menjemput anda kembali." ujar pak Miller.


"Bukan urusanmu." bentak Ae-Ri seraya masuk ke dalam taksi yang sudah datang.


Ae-Ri menahan emosinya lagi, ia terus menggigit bibirnya. Tangannya tanpa sadar terus mengepal menahan kemarahannya. Setelah sampai di rumahnya, ia justru mendapati Aerum sedang bermesraan di telepon.


"Tentu saja sayang, aku pasti akan makan malam. Kau jangan bekerja terus, kau juga perlu makan." ujar Aerum.


"Tak bisakah kau menerima telepon di kamarmu." bentak Ae-Ri.

__ADS_1


Aerum terkejut. "Eonni kau sudah pulang. Sayang sudah dulu ya." ujar Aerum seraya menutup ponselnya.


Aerum menatap Ae-Ri. "Eonni kenapa? Mengapa wajahmu seperti tersiram air panas?" tanyanya.


"Bukan urusanmu, lain kali terima telepon di kamar. Aku geli mendengar kau panggil pak Jo sayang, sayang..." ejek Ae-Ri.


"Kenapa eonni kesal, aku hanya menerima telepon." ujar Aerum kesal.


"Tapi aku risih, kau seperti tak pernah melakukan kesalahan dengan kakaknya. Kau begitu mudah melupakan kejadian malam itu." bentak Ae-Ri.


Aerum berdecak kesal. "Aku memang melupakan malam itu karena itu tak penting, aku ingin melangkah kedepan dengan pria yang aku cintai. Apa aku salah mencintai Jordan? Aku tak munafik sepertimu." teriak Aerum.


"Kau meneriakiku, aku hanya tak ingin mendengarmu..."


"Ya Tuhan ada apa ini?" potong Warres. "Kalian mengapa terus bertengkar, ada apa Ae-Ri?" tanyanya.


Ae-Ri tak menjawabnya, ia justru berlari ke kamarnya. Aerum menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Aku tak tahu kenapa eonni terganggu denganku. Ia pulang dengan wajah yang marah, lalu memakiku." ujar Aerum.


Warres menghela nafasnya. "Mungkin kakakmu ada masalah pekerjaan sayang, lupakan saja. Biarkan ia menenangkan diri terlebih dahulu."


Aerum mengangguk. "Aku akan ke kamar dulu, sampai jumpa makan malam mi." ujarnya seraya meninggalkan Warres.


*****


Ae-Ri menggosok tubuhnya begitu keras saat mandi. Kata kata Aerum terus terngiang di telinganya.


Aku tak munafik sepertimu...


*Aku tak munafik sepertimu...


Aku tak munafik sepertimu*...


Kata kata itu membuatnya begitu kesal. Ia kembali teringat Jidan yang tersenyum pada Clara dan membukakan pintu mobilnya.


"Haaaaaaaahhh...." teriak Ae-Ri. "Aku harus melupakan pria itu. Aku pasti bisa..." ujarnya.


Ae-Ri menyelesaikan mandinya, sudah waktunya makan malam. Ia harus turun dan meminta maaf pada adiknya. Ia terbawa emosi dan bisa dibilang merasa cemburu mendengar kemesraan adiknya tadi.


Di ruang makan, mereka semua sudah menunggu. Aerum sedang tertawa bersama ibu angkatnya.

__ADS_1


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Ae-Ri.


"Tidak ada sayang, hanya candaan biasa. Apa kau lebih baik sekarang?" tanya Warres.


Sebenarnya tadi Aerum mengatakan pada Warres, jika Jidan sedang membuat Ae-Ri cemburu dengan mendekati asistennya. Itulah yang dikatakan pada Jordan pada Aerum.


"Aku tak apa apa, maaf soal tadi Aerum. Aku sedang lelah." jawab Ae-Ri.


"Tak apa eonni, lupakan saja." kata Aerum.


"Ayo kita makan." ajak Warres.


Mereka mengangguk, beberapa saat kemudian yang dilakukan Ae-Ri hanya mengaduk aduk makanannya. Ia masih terganggu dengan sikap Jidan Sin. Warres dan Aerum menatapnya.


"Apa makanannya tidak enak sayang?" tanya Warres.


"Ah...tidak mi..." jawab Ae-Ri.


"Apa wajah seseorang ada di dalam piring itu sehingga ingin sekali eonni mencabiknya." goda Aerum.


Ae-Ri terkejut, tepat sudah tebakan Aerum. Ia memang ingin sekali mencabik cabik Jidan Sin. "Apa maksudmu?" tanyanya pura pura.


"Tidak apa-apa, makanlah eonni. Ini sangat enak." jawab Aerum.


"Sepertinya aku tak punya selera, aku duluan." pamit Ae-Ri.


Warres dan Aerum saling bertatapan, mereka tak mencegah Ae-Ri meninggalkan meja makan.


"Sampai kapan eonni keras kepala seperti itu mi, mengapa sangat sulit baginya melupakan kesalahan dan mengakui perasaannya. Aku takut ia sakit karena memikirkan pak Ji terus." ujar Aerum.


"Mami yakin tak akan lama lagi sayang, Ae-Ri kali ini sangat tertekan. Ia pasti akan menyerah. Mami sangat mendukung rencana Jidan, ia pintar." jawab Warres.


"Sepertinya yang pintar itu kekasihku, ini semua ide Jordan." kata Aerum.


"Benarkah?" tanya Warres.


Aerum mengangguk. "Jordan dan eonni memiliki sifat yang sama. Jadi Jo lebih tahu apa yang harus pak Ji lakukan. Aku berharap eonni bisa menerima pak Ji. Ini semua karena salahku." ujarnya menyesal.


"Lagi lagi kau seperti itu Aerum, mami sudah mengatakannya padamu. Lupakan masa lalu, melangkah lah kedepan. Biarkan Ae-Ri menyelesaikan masalahnya sendiri." ujar Warres.


Aerum mengangguk, keduanya masih menikmati makan malam mereka. Keduanya berharap Ae-Ri secepatnya bersama Jidan.

__ADS_1


*****


Happy Reading All.. 😘


__ADS_2