
"Aku benar benar seperti pria bodoh. Adikku malah yang mengajariku soal wanita." ujar Jidan saat adiknya menemuinya di kamar.
"Aku bukan bermaksud untuk merendahkanmu kak. Tapi sifat Ae-Ri hampir sama denganku. Kami tak suka ditekan, kami suka diperhatikan." jawab Jordan.
"Tapi aku juga memiliki kesabaran yang terbatas Jo. Jika Ae-Ri seperti itu terus, lalu aku kehilangan kesabaranku, lebih baik aku..."
"Menyerah..." potong Jordan. "Sejak kapan Jidan Sin mudah menyerah?" tanyanya.
"Aku cukup lelah akhir akhir ini." jawab Jidan.
"Kau menyerah karena pernah ditolak Aerum kan, harga dirimu terluka karena terus ditolak wanita kan. Oh ayolah kak Ji, bukan Sin namanya kalau mudah menyerah pada sesuatu." ujar Jordan.
"Lalu apa kau yakin perhatianku akan membuat Ae-Ri luluh?" tanya Jidan.
"May be yes, jika itu tak berhasil maka buat ia cemburu. Kau dekati wanita di sekitar Ae-Ri." kata Jordan.
"Maksudmu aku harus mendekati karyawan SinMart ketiga agar Ae-Ri cemburu, artinya aku harus mempermainkan perasaan wanita lain. Kau gila Jo..." ujar Jidan.
"Aku bilang jika tidak berhasil kak, berusahalah lebih keras. Mulai besok antar jemput Ae-Ri, dan sering seringlah memberinya hadiah. Jangan hadiah mahal tapi hadiah yang berkesan untuknya seperti bunga, bawakan makanan kesukaannya atau bawa ia ke tempat yang disukainya." jawab Jordan.
"Ae-Ri sulit didekati, bagaimana aku bisa tahu apa kesukaannya." gumam Jidan.
Jordan tertawa. "Kau lupa adikmu calon suami adiknya, serahkan padaku. Aku akan mencari tahu lewat Aerum. Kau fokus saja padanya, dan berhentilah tidak profesional kak. Aku hampir kehilangan pak Ji yang gila kerja." ejeknya.
"Sudah sana keluar, aku sudah mengantuk." usir Jidan.
"Dasar pria tak tahu terima kasih." jawab Jordan kesal.
Jordan meninggalkan kamar kakaknya, ia yakin kakaknya bisa melakukan apa yang disarankannya. Jika tidak, itu akan menjadi ancaman terbesar untuk hubungannya dengan Aerum.
*****
Keesokan harinya, Jordan sudah bersiap-siap menuju perusahaan. Ia turun dari kamarnya menuju meja makan. Ruang makan masih kosong, kakaknya belum juga menyentuh sarapannya.
"Tumben sekali kak Ji belum bangun." gumam Jordan. "Farea, apa kau sudah membangunkan kakakku?" tanyanya.
"Maaf tuan Jo, tuan Ji sudah berangkat lebih pagi. Ia tak sarapan sama sekali." jawab Farea.
"Apa, sudah berangkat? Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Setengah jam yang lalu, tuan Ji bilang ingin menjemput kekasihnya." ujar Farea.
Jordan terkejut lalu tersenyum. "Baiklah." ujarnya seraya menikmati sarapan paginya.
Jordan segera menuju perusahaan setelah ia selesai sarapan.
Akhirnya kakakku mengerti juga apa yang harus ia lakukan. gumam Jordan seraya mengendarai mobilnya.
Jordan menekan tombol calling.
__ADS_1
"Pagi sayang..." sapa Jordan.
"Selamat pagi..." jawab Aerum.
"Apa kau belum bangun?" tanya Jordan.
"Sudah, baru saja aku selesai mandi." kata Aerum.
"Kau yakin tidak ingin bekerja? pak James kecewa karena kau tak lagi membantunya." ujar Jordan.
"Aku tak memiliki keberanian lagi untuk muncul disana Jo, terakhir kali mereka tahu kau dan aku berkelahi." jawab Aerum.
"Kapan kita berkelahi sayang? Waktu itu kita saling membuktikan perasaan kita." goda Jordan.
"Dan akibatnya, aku malu setengah mati untuk menghadapi karyawan SinMart kedua." ujar Aerum.
"Mereka tak tahu apa yang kita lakukan sayang. Jadi kau malu karena apa?" ejek Jordan.
"Sudahlah jangan terus mengejekku, walaupun mereka tak tahu. Tapi aku tetap malu, dan keputusanku sudah bulat untuk keluar dari SinMart." kata Aerum.
"Jika kau memenuhi syaratku, maka aku akan menyetujui surat pengunduran dirimu." kata Jordan.
"Aku sudah setuju, tapi kalau dipikir bagaimana aku bisa mendapatkan uang disini jika aku menganggur." jawab Aerum.
"Kau lupa siapa calon suamimu Aerum, aku akan memberimu apapun."
"Tapi aku tak suka meminta Jo, aku dari dulu sudah mandiri."
"Aku belum turun, sebentar." jawab Aerum.
Beberapa menit kemudian.
"Pak Ji menunggu eonni di luar rumah, sepertinya eonni belum tahu. Apa aku harus menyuruhnya masuk?" tanya Aerum.
"Tidak... biarkan saja, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Aku hanya butuh informasi tentang kakakmu dari hal yang disukainya sampai yang tidak disukainya." jawab Jordan.
"Mungkin ini akan sulit, eonni sebenarnya paling benci pengkhianatan. Dan kami pernah mengkhianatinya." ujar Aerum.
"Lupakan itu sayang, aku tak ingin kau terus membahasnya. Itu juga melukai hatiku." ujar Jordan.
"Maafkan aku Jo." ujar Aerum.
"Panggil aku sayang agar aku melupakan semuanya." pinta Jordan.
"Ah... aku tak terbiasa..."
"Ya sudah aku tutup teleponnya." ancam Jordan.
"Jo, kau jangan kekanak-kanakan."
__ADS_1
"Terserahlah..." jawab Jordan seraya menutup teleponnya.
Jordan menutup teleponnya bukan karena marah tapi ia sudah sampai di perusahaannya. Ia memarkirkan mobilnya dan segera menuju kantornya. Ponselnya kembali berdering, kekasihnya menghubunginya kembali. Jordan tersenyum tapi ia tak mengangkat ponselnya. Ia ingin tahu apa yang akan Aerum lakukan saat ia pura pura marah.
*****
Jidan cukup lama menunggu di luar rumah Ae-Ri, akhirnya suara pintu terbuka. Sosok yang ia tunggu keluar, wanita itu terkejut saat melihatnya. Ae-Ri ingin masuk ke dalam rumah lagi.
"Tunggu Ae-Ri..." ujar Jidan. "Aku ingin mengantarmu bekerja." sambungnya.
Ae-Ri berhenti dan berbalik menatap Jidan. "Tak perlu pak Ji, aku biasa naik taksi." jawabnya.
"Aku mohon." pinta Jidan.
"Nak Ji mengapa tak masuk?" ujar Warres tiba tiba keluar rumah.
Warres sebenarnya diberitahu oleh Aerum tentang kedatangan Jidan Sin ke rumah mereka.
"Maafkan aku karena tidak sopan nyonya, bisakah aku mengantarkan Ae-Ri?" tanya Jidan.
Ae-Ri menggeleng pada ibu angkatnya. Warres tersenyum. "Tentu saja nak, aku lebih tenang ia diantarkanmu daripada naik taksi." jawab Warres seraya mendorong tubuh Ae-Ri perlahan. "Pergilah nak." ujarnya pada Ae-Ri.
Ae-Ri menghela nafasnya, terpaksa ia harus ikut Jidan Sin. "Mami aku berangkat."
"Hati hati sayang, hati hati nak Ji." ujar Warres.
"Terima kasih nyonya." jawab Jidan.
Ae-Ri berjalan bersama Jidan menuju mobilnya. Cukup jauh dari gang sempit itu, berkali kali Jidan menyelamatkan Ae-Ri dari anak anak yang berlarian disana.
"Kau jalanlah duluan, ini karena gang ini sempit. Kita tak bisa jalan beriringan." ujar Ae-Ri kesal.
Jidan mundur. "Aku akan jalan dibelakangmu." jawabnya.
"Terserah..." ujar Ae-Ri seraya berjalan lebih cepat.
Jidan menggelengkan kepalanya. Ia sangat sulit membuat Ae-Ri memaafkannya. Sesampainya di mobil, Jidan membuka pintu belakang. Ia mengambil karangan bunga cantik.
"Ini untukmu." ujar Jidan.
Ae-Ri menatap bunga itu, ia terpaksa menerimanya. "Terima kasih." jawabnya datar.
Jidan tersenyum, ia mengikuti saran adiknya untuk sering tersenyum di depan Ae-Ri. Hanya itu pesona yang ia miliki. Sepertinya itu berhasil karena wajah Ae-Ri berubah merona. Jidan membukakan pintu depan untuk Ae-Ri, tapi wanita itu masih terpaku disana.
"Ae-Ri, kita akan terlambat." ujar Jidan.
Ae-Ri terkejut lalu segera masuk ke dalam mobilnya. "Ya Tuhan, jantungku..." pikir Ae-Ri.
Jidan masuk ke mobilnya, ia kembali tersenyum pada Ae-Ri tapi wanita itu memalingkan wajahnya. Sepertinya Ae-Ri memang tak bisa melihatnya tersenyum. Jidan sedikit bahagia karena menemukan kelemahan wanita itu. Ia menghidupkan mobilnya lalu membawa Ae-Ri ke SinMart ketiga.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘