
Pintu lift terbuka, Jordan terus membawa Aerum menuju kantornya. Marie menatap keduanya sangat lega. Yang ia harap benar benar terjadi, atasannya bisa menemukan kekasihnya.
"Marie, jangan ganggu kami." ujarnya sambil masuk ke kantornya tanpa menunggu jawaban Marie.
Jordan menatap Aerum yang masih terdiam.
"Apa?" tanya Aerum ragu.
Jordan tersenyum lalu menarik kekasihnya ke pelukannya. "Maaf aku membuatmu menunggu." ujarnya.
"Kau tahu darimana, bisa saja aku baru datang." jawab Aerum.
"Kau pikir karyawanku cuma Marie, aku banyak mata mata disini sayang. Aku segera menyelesaikan urusanku dan mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi, aku takut kau sudah pergi. Dan hampir saja itu terjadi jika kita tak bertemu di lift." kata Jordan masih memeluk kekasihnya.
"Maaf..." ujar Aerum.
Jordan melepaskan pelukannya. "Untuk?"
"Maaf karena aku tak terbiasa. Tapi aku akan memanggilmu sayang mulai sekarang." jawabnya.
"Benarkah? Coba katakan." goda Jordan.
"Maaf sayang, maafkan aku... sayang... sayang..." ujar Aerum sambil tersenyum.
Jordan mengecupi wajahnya hingga Aerum tertawa. "Aku minta maaf karena pura pura kesal padamu dan membuatmu menunggu disini."
"Kau berpura pura?" tanya Aerum.
Jordan mengangguk. "Bagaimana aku bisa marah pada kekasih yang baru saja aku dapatkan? Aku beruntung bisa melihat perjuangan kekasihku agar aku memaafkannya."
Aerum kesal, ia melepaskan tangan Jordan dari tubuhnya. "Kalau begitu aku pulang saja." ujarnya seraya berbalik.
Jordan memeluk wanita itu dari belakang. "Jahat sekali, aku lapar. Aku ingin makan." rayunya.
Aerum tertawa. "Salah siapa kau tidak makan siang."
"Itu salahmu, aku mendengar kekasihku datang sambil membawa makanan. Aku membatalkan makan siang dengan klienku dan segera datang kemari." jawab Jordan.
"Dan aku tak suka kau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, aku bisa menunggu lebih lama jika kau menghubungiku." kata Aerum.
"Baiklah nona Aerum yang cantik, aku tak akan melakukan itu lagi." janji Jordan.
Aerum tersenyum lalu segera membuka makanannya di meja. "Ini masakan pertamaku untukmu. Jangan kau hina ya."
__ADS_1
Tanpa menjawab, Jordan langsung mencicipi makanan itu dan melahapnya dengan cepat. Aerum hanya menatap kekasihnya yang fokus pada makanannya.
"Pelan pelan, nanti kau tersedak..." ujar Aerum.
"Ya Tuhan ini sangat lezat, aku beruntung memiliki kekasih sepertimu, kau cantik dan ternyata pintar memasak." jawab Jordan dengan mulut yang penuh.
"Aku memiliki ibu tiri yang sangat menyayangiku, ia mengajarkanku bagaimana caranya memasak." jawab Aerum.
Jordan berhenti makan lalu menatap Aerum. "Maaf aku tak pernah menanyakan keluargamu di Korea Aerum, aku ingin tahu seperti apa mereka. Dan bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka?" tanya Jordan.
Aerum hanya menggelengkan kepalanya. "Habiskan makananmu, aku akan menceritakannya saat kita punya waktu santai." jawabnya.
Jordan mengangguk, ia melanjutkan makannya. Aerum senang Jordan menyukai masakannya. Ia hanya bisa menunggu Jordan sampai selesai makan. Setelah itu ia tak ingin lagi mengganggu pekerjaan kekasihnya.
*****
Hari semakin sore, Jidan tak sabar ingin menjemput dan bertemu Ae-Ri lagi. Ia tak akan menyerah untuk membuat wanita itu memberinya kesempatan.
Aurel masuk ke dalam ruangannya. "Pak Ji, anda ada meeting lagi dengan klien dari kota." ujarnya.
"Aku sudah menyerahkannya pada pak Jo, aku ada urusan." jawab Jidan.
Aurel semakin kesal, atasannya mulai tidak profesional dalam bekerja. "Pak Ji, apakah anda akan menemui Ae-Ri lagi?" tanyanya.
Jidan menatap sekertarisnya. "Sejak kapan kau ingin tahu urusan pribadiku Aurel."
"Kau terdengar kesal, tapi aku minta maaf jika memang aku berubah akhir akhir ini. Aku sedang mengejar seorang wanita Aurel, aku bukannya tidak profesional. Aku tetap akan bertanggung jawab atas perusahaanku, kau tenang saja, aku tak akan membuat SinMart bangkrut. Dan satu hal lagi, kau menjadi sekertarisku sudah sangat lama. Kau pasti tahu, aku tak pernah mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Aku hanya menyerahkan pekerjaan pada CEO, dan itu hal yang wajar jika aku memiliki urusan." ujar Jidan.
Aurel terdiam, ia melakukan ini memang karena cemburu pada Ae-Ri. Tapi jika ia katakan yang sebenarnya pada Jidan, ia takut kehilangan pekerjaannya.
"Sudah waktunya aku keluar, tolong berikan berkas meetingnya pada pak Jo." ujar Jidan lagi sambil meninggalkan ruangan kerjanya.
Jidan terus berpikir saat keluar dari perusahaannya. Aurel akhir akhir ini, selalu kesal saat ia ingin menemui Ae-Ri. Bahkan Aurel juga pernah bertemu Ae-Ri tapi wanita itu berlaku tidak senang.
Apa Aurel tidak suka aku dekat dengan Ae-Ri, tapi apa hubungannya dengan urusan pribadiku. Aurel sekertarisku, hanya itu kan. Jadi untuk apa ia mencampuri urusan pribadiku. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja, cepat atau lambat wanita itu harus menerima Ae-Ri sebagai pasanganku. gumam Jidan.
Jidan masuk ke mobilnya, lalu segera menuju SinMart ketiga. Jidan langsung menunggu Ae-Ri di pintu keluar karyawan, ia tak ingin masuk ke SinMart karena itu akan membuat kehebohan disana. Tapi tentu saja mereka mengenali mobilnya. Bahkan sekuriti sudah tiga kali menyuruhnya masuk ke kantor.
Asisten Ae-Ri keluar, wanita itu langsung menghampiri Jidan Sin. "Pak Presdir, bu Ae-Ri masih banyak pekerjaan. Ia tak bisa pulang sekarang." ujar Clara.
"Bagaimana kau tahu aku menunggunya?" tanya Jidan.
"Sejak mobil anda masuk, semua karyawan bergosip. Dan tentu saja anda akan menjemput bu Ae-Ri seperti anda mengantarkannya tadi pagi." jawab Clara.
__ADS_1
Jidan tersenyum. "Sepertinya aku tetap membuat kehebohan disini. Katakan pada Ae-Ri aku akan menunggunya."
"Tapi pak..."
Tatapan tajam Jidan membuat Clara terdiam. Jidan teringat saran adiknya untuk membuat Ae-Ri cemburu dengan mendekati wanita yang dekat dengan Ae-Ri.
"Clara, apakah kau sudah memiliki pacar atau suami?" tanyanya.
Clara terkejut tapi ia langsung menggeleng.
"Apa kau bisa membantuku?" tanya Jidan.
"Apa yang bisa aku lakukan pak Ji?" tanya Clara.
"Tapi aku takut akan menyakitimu, aku berniat ingin membuat Ae-Ri cemburu." kata Jidan.
Clara tersenyum, ia memahami apa yang ingin dilakukan Jidan Sin. "Aku bisa membantu anda pak Ji, aku tak akan tersakiti. Kapan anda akan memulainya?" tanya Clara.
"Kau mengerti maksudku?" tanya Jidan.
Clara mengangguk. "Tentu saja pak, aku senang bu Ae-Ri disukai anda. Kalian pasangan yang sangat serasi. Jadi aku akan membantu anda membuat bu Ae-Ri cemburu." jawabnya.
Jidan sangat lega, ia akan menggunakan cara yang kedua saja. Ia berharap Ae-Ri benar benar cemburu dan mengatakan jika ia tak suka Jidan bersama wanita lain.
"Apakah kalian benar benar lembur, atau hanya alasan Ae-Ri untuk menghindariku?" tanya Jidan.
Clara merasa bersalah karena berbohong. "Sebenarnya... maaf pak Ji."
Jidan tertawa. "Kita mulai sekarang, katakan pada Ae-Ri kau akan pulang denganku. Katakan padanya, aku bukan menjemputnya tapi menjemputmu."
Clara terbelalak. "Tapi pak, ini terlalu mendadak. Bagaimana bu Ae-Ri bisa percaya?"
"Ikuti saja ucapanku, dan kau lihat seperti apa ekspresi wajahnya." perintah Jidan.
"Baik pak Ji, tapi apa anda akan mengantarkan aku pulang?" tanya Clara.
Jidan tertawa. "Tentu saja, rencana ini harus nyata Clara. Terima kasih sebelumnya." jawabnya.
Clara mengangguk dan kembali masuk ke kantornya. Ia senang bisa dekat dengan Jidan walaupun untuk membuat Ae-Ri cemburu.
*****
Akankah rencana Jidan berhasil, dan membuat Ae-Ri mengakui perasaannya?
__ADS_1
Hanya tinggal beberapa episode lagi ya guys...
Happy Reading All...😘