Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Pengakuan Ae-Ri


__ADS_3

Keesokan harinya, suasana hati Jidan sangat ceria. Semalam adiknya mengatakan kalau Ae-Ri benar benar merasa terganggu dengan sikapnya, bahkan wanita itu tak memiliki selera makan. Walaupun Jidan merasa bersalah, tapi inilah harus ia lakukan untuk membuat Ae-Ri sadar dengan perasaannya.


Jidan bersiap siap untuk ke SinMart ketiga, ia memang tak menjemput Clara. Tapi ia ingin lebih dulu datang ke SinMart ketiga dan berpura pura bermesraan dengan Clara sebelum wanita itu datang.


"Kau bahagia sekali." sapa Jordan.


"Tentu saja, ini semua ide cerdasmu." jawab Jidan.


Jordan tertawa. "Kau seperti sedang meluluhkan sebuah batu. Kasian sekali..." ejeknya.


Jidan menendang kaki adiknya. "Bisakah kau tak mengejekku Jo, ini juga masalah buatmu. Jika aku tak berhasil dengan Ae-Ri, maka kau tak bisa menikahi Aerum." ejek Jidan balik.


Jordan mengumpat. "Cepatlah buat Ae-Ri mau menikahimu. Mana jiwa papi yang tertanam pada tubuhmu itu."


"Kau tenang saja, aku yakin bisa menyelesaikannya hari ini. Aku tak perlu terus menyakiti Clara dengan berpura pura dekat dengannya. Dan aku bisa menjadi Tora Sin yang pantang menyerah soal cinta." jawab Jidan.


Jordan tertawa. "Kau berkata hari ini seperti itu, tapi kemarin kemarin kau hampir menyerah." ejeknya.


"Siapa bilang, kemarin kemarin aku mencari solusi." kilah Jidan. "Sudahlah, aku harus sampai lebih dulu ke SinMart ketiga. Pak CEO, izinkan Presdir menyelesaikan masalah pribadinya hari ini." sambungnya.


"Tentu saja pak Presdir, serahkan SinMart padaku. Aku harap setelah berhasil, kau bisa kembali menjadi Jidan Sin sebelumnya. Apa kau tak sarapan?" tanya Jordan.


Jidan menggeleng. "Aku akan terlambat, dan membuat kacau rencanaku hari ini." ujarnya seraya keluar rumah.


Jidan masuk ke mobilnya menuju SinMart ketiga, ia berharap rencananya bisa selesai hari ini juga.


*****


Ae-Ri terus menatap keluar rumah, ia berharap Jidan datang menjemputnya. Tapi ternyata harapannya sirna sudah, sampai saatnya ia berangkat. Pria itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya.


Ae-Ri pamit pada ibu angkatnya. "Ae-Ri pergi ya mi."


"Hati hati sayang." jawab Warres.


"Carilah pekerjaan lain, bukankah tidak enak di rumah saja." ujar Ae-Ri pada adiknya.


"Sayangnya kekasihku melarangku bekerja kecuali di SinMart, jadi mungkin aku akan menjadi pengangguran atau ibu rumah tangga yang baik untuk suamiku nanti." jawab Aerum sambil tertawa.

__ADS_1


"Ciiih...menjijikan..." ejek Ae-Ri seraya keluar meninggalkan mereka menuju SinMart ketiga.


Sepanjang perjalanan, Ae-Ri menatap jalanan. Ia masih berharap ada mobil Jidan yang berlawanan arah dengannya. Tapi sampai ia di SinMart ketiga pun, pria itu tak terlihat. Matanya akhirnya terbelalak saat melewati parkiran karyawan dan melihat mobil Jidan ternyata ada di parkiran SinMart ketiga.


"Ternyata pria itu ada disini, apakah ia mengantar Clara. Masa bodoh..." gumamnya sendiri.


Ae-Ri terus berjalan menuju kantornya, ia kembali terkejut saat melihat Jidan sedang tersenyum dan sekali sekali menyentuh rambut Clara. Clara juga terlihat sangat bahagia di depan Jidan.


"Pagi bu Ae-Ri." sapa Clara.


"Selamat pagi Clara, selamat pagi pak Ji." jawab Ae-Ri dengan nada kesal.


"Pagi nona Ae-Ri, maaf aku mengganggu asisten cantikmu ini. Aku merindukannya padahal baru semalam bertemu." kata Jidan.


"Apakah seorang Presdir begitu banyak memiliki waktu luang untuk berpacaran. Dan maaf pak Ji, ini jam kerja." ujar Ae-Ri semakin kesal.


"Salahku dimana, aku pemilik SinMart. Jadi aku bebas melakukan apapun. Dan aku tak akan lama disini, setelah aku puas melihat wajahnya, aku pasti kembali ke perusahaan." jawab Jidan.


Rasa cemburunya semakin membuncah di hati Ae-Ri. Ia menahan air matanya yang hampir tumpah.


Ae-Ri membanting pintunya dengan sangat keras membuat mereka terkejut. Jidan menghela nafasnya, ia tersenyum pada Clara.


"Sepertinya aku berhasil." ujar Jidan. "Terima kasih Clara, aku akan menyelesaikannya sekarang." sambungnya.


"Sama sama pak Ji, semangat..." jawab Clara.


Jidan membuka pintu kantor itu sangat pelan, ternyata Ae-Ri sedang menatap luar jendela sambil terisak. Sepertinya wanita itu sangat terluka pada perilaku Jidan. Jidan terus melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati Ae-Ri. Wanita itu masih belum menyadari kedatangan Jidan.


Dengan sigap Jidan memeluknya dari belakang. Tubuh Ae-Ri berubah menjadi kaku, ia segera menghapus air matanya.


"Apa yang kau lakukan?" ujarnya berusaha melepaskan pelukan Jidan.


Jidan tak melepaskannya, ia memeluk Ae-Ri semakin erat. "Maafkan aku." ujarnya. "Aku hanya ingin melihat apakah kau cemburu jika aku mendekati wanita lain. Dan aku sudah menemukan jawabannya." sambungnya.


Ae-Ri melemah, ia akhirnya diam menerima pelukan Jidan. Jidan membalikkan tubuhnya, ia menatap wajah Ae-Ri.


"Apa kesempatan kedua itu masih berlaku?" tanya Jidan.

__ADS_1


Ae-Ri melepaskan tangan Jidan pada tubuhnya. "Kau sudah berpacaran dengan Clara." jawabnya kesal.


Jidan terkekeh. "Itu hanya sandiwara saja, bagaimana aku semudah itu bisa berpaling pada wanita lain."


"Apa maksudmu? Kau dan Clara..."


"Kami bekerja sama." potong Jidan. "Untunglah tak perlu waktu lama melakukan ini." sambungnya.


Ae-Ri mundur dan menatapnya tajam. "Apa menyenangkan untukmu menyakitiku?"


Jidan menarik tubuh Ae-Ri kedalam pelukannya. "Aku ikut sakit melihatmu menangis Ae-Ri, maafkan aku. Aku tak tahu bagaimana caraku mengetahui perasaanmu sebenarnya, kau terus saja menolakku dengan keras kepala. Aku terpaksa melakukan ini dengan Clara."


Ae-Ri mengangkat tangannya, ia perlahan mulai membalas pelukan Jidan. "Aku mencintaimu Ji, sangat mencintaimu." ujarnya membuat Jidan terkejut.


"Jadi kau memberiku kesempatan itu?" tanya Jidan bodoh.


Ae-Ri menekuk wajahnya. "Dasar pria bodoh, tentu saja." jawabnya kesal.


Jidan menarik wajah Ae-Ri, lalu mencium bibirnya. Ini ciuman pertama mereka, Jidan merasakan manis luar biasa dari bibir Ae-Ri. Ia tak ingin berhenti, ia terus mencium Ae-Ri. Mereka berciuman sangat lama sampai melupakan dimana mereka berada saat ini.


Jidan menghentikan ciumannya, ia menempelkan keningnya pada kening Ae-Ri. "Sayang, menikahlah denganku." ajak Jidan.


Ae-Ri merasa bahagia walaupun lamarannya dengan cara seperti ini. Tapi Jidan tiba tiba berlutut di depan Ae-Ri, pria itu mengeluarkan cincin berlian besar dari sakunya.


"Kim Ae-Ri... Maukah kau menikah dengan Jidan Sin? Maukah kau hidup berdua selamanya dan mendampingiku seumur hidupmu?" tanya Jidan.


Air mata Ae-Ri kembali tumpah, air mata kebahagiaan yang tak pernah ia duga. Ae-Ri menganggukkan kepalanya pada Jidan.


"Aku mau..." jawab Ae-Ri.


Air mata Jidan tiba tiba keluar, perjuangan cintanya cukup sulit dan sekarang ia akhirnya bisa meyakinkan Ae-Ri untuk menikah dengannya. Jidan menyematkan cincin itu ke jari Ae-Ri. Keduanya kembali berciuman dan berpelukan melepaskan perasaan cinta mereka.


Perut Jidan tiba tiba berbunyi dengan kerasnya, Ae-Ri terkejut lalu tertawa membuat Jidan menggila melihat wajahnya yang semakin cantik. Jidan menarik Ae-Ri kembali dan mencium Ae-Ri tanpa henti.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2