Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Kepercayaan Lee Bo Sin


__ADS_3

Jidan terburu-buru bangun, ia akan telat masuk kerja. Pria itu mengetuk pintu kamar adiknya.


"Jo...Bangun...Kita telat..." teriaknya.


"Tuan Ji... Tuan Jo sudah berangkat." teriak Farea.


"Apa? Berangkat kemana?" tanya Jidan seraya mendekati Farea.


"Aku kurang tahu tuan, tapi tuan Jo berangkat menggunakan taksi." jawab Farea.


Jidan menghela nafasnya. "Baiklah, aku berangkat sekarang."


"Anda tidak sarapan?" tanya Farea.


Jidan menggeleng. "Aku terlambat." jawabnya seraya meninggalkan rumah.


Dalam perjalanan Jidan menghubungi adiknya tapi Jordan tak menjawab panggilannya. Ia menghubungi Kalfi.


"Halo kak, apa kau sudah di perusahaan?" tanya Jidan.


"Aku sudah di perusahaan Ji, kau terlambat. Dimana kau sekarang?" tanya Kalfi.


"Aku masih di jalan, aku bangun telat karena semalaman tidak tidur. Apakah Jo sudah sampai di perusahaan?" tanya Jidan lagi.


"Aku memahami keadaanmu Ji, semalam memang kau belum tidur jadi aku menunda meeting dua jam kedepan. Jo sudah sampai sekitar 15 menit yang lalu. Tapi adikmu dalam mood yang buruk. Ada apalagi?" tanya Kalfi.


"Aku tidak tahu, tapi saat aku bangun pelayan bilang ia pergi naik taksi." jawab Jidan.


"Apa ia tahu soal Ae-Ri dan marah karena kau tak memberitahunya." ujar Kalfi.


"Dasar bocah gila, bagaimana aku bisa memberitahu orang mabuk." jawab Jidan.


"Lebih baik kau temui Jo setelah sampai di perusahaan." pinta Kalfi.


"Pasti kak." jawab Jidan seraya menutup panggilannya.


Perjalanan cukup melelahkan karena Los Angeles kota yang sangat sibuk. Kepalanya masih berdenyut karena kurang istirahat. Ditambah lagi Jordan sering sekali marah kalau menyangkut soal Ae-Ri. Jidan sampai di perusahaan disambut oleh para karyawan SinMart. Jidan hanya menyapa sekilas lalu segera menuju kantor CEO.


"Selamat pagi pak Ji." sapa Marie terkejut. "Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.


"Selamat pagi, pak Jo ada?" tanya Jidan.


Marie mengangguk.


"Aku akan masuk." ujar Jidan seraya meninggalkan Marie.


Jidan masuk ke ruangan Jordan dan mendapati adiknya sedang menatap luar jendela.


"Kau tak membangunkanku Jo." ujar Jidan.


Jordan berbalik dan menatap kakaknya tajam. "Apa aku harus membangunkan pria yang kelelahan?" tanyanya.

__ADS_1


"Setidaknya kau coba." jawab Jidan datar.


Jordan tertawa. "Kau pulang setelah fajar, apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Jordan lagi.


"Jangan memperpanjang masalah Jo, kau mabuk berat. Bagaimana aku bisa mengajakmu mengatasi masalah karyawan SinMart." kata Jidan.


"Sejak kapan kau perduli dengan karyawan SinMart, jika itu bukan Ae-Ri apakah kau masih memperdulikannya." bentak Jordan.


"Tentu saja, karyawan manapun akan aku perdulikan." jawab Jidan.


Jordan kembali tertawa. "Kau kira aku bodoh kak, akhir akhir ini kau semakin dekat dengan Ae-Ri bahkan dengan keluarganya. Kau bilang kita akan bersaing dengan adil tapi kau selalu mendahuluiku." ujarnya marah.


"Ya Tuhan Jo, dewasalah sedikit. Sekarang aku tanya padamu, jika semalam aku memintamu mengurus Ae-Ri, apakah kau bisa melakukannya dalam keadaan mabuk seperti itu." bentak Jidan.


"Setidaknya kau memberitahuku, mengapa kau diam saja." teriak Jordan.


"Jangan meneriakiku Jo, ingatlah saat kita dalam perjalanan pulang. Apa yang aku katakan padamu." ujar Jidan seraya meninggalkannya dengan membanting pintu dengan keras.


Marie bergidik mendengar perkelahian si kembar Sin lagi, kali ini Presdir nya benar benar marah besar. Terlihat saat Jidan melewati meja Marie dengan wajah yang sangat merah padam.


*****


"Jangan meneriakiku Jo, ingatlah saat kita dalam perjalanan pulang. Apa yang aku katakan padamu."


Suara keras kakaknya masih berdengung di telinganya, Jordan mencoba mengingat kembali saat malam ia mabuk. Kepingan kepingan ingatannya mulai kembali saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Jo, Ae-Ri pingsan di kantornya. Aku harus ke rumah sakit sekarang karena pak Robert tak bisa mengatasinya sendiri. Kau sangat mabuk, aku tak bisa membawamu ke rumah sakit itu akan merepotkan, jadi aku antar kau pulang terlebih dahulu. Jika urusanku selesai aku akan mengatakannya padamu." ujar Jidan.


Apa yang aku lakukan pada kak Ji. Maaf kak...gumam Jordan.


*****


Kini mood Jidan lah yang sangat buruk, Kalfi sudah mendengar dari Marie tentang perkelahian keduanya. Kalfi benar benar bingung harus bagaimana menasehati mereka lagi. Cinta segitiga Sin ini akan merusak keduanya. Ia teringat ucapan Sherly Lee, bahwa ini akan menjadi bumerang dalam keluarga Sin jika mereka mencintai wanita yang sama.


Sejak kehadiran Ae-Ri di SinMart, Kalfi sama sekali tak pernah mendengar mereka damai. Keduanya sering kali berdebat dengan masalah yang tidak perlu. Jika pesaing mereka tahu, bahwa pemilik SinMart mulai goyah, maka mereka akan mudah menghancurkan SinMart yang telah dibangun kakeknya dari nol.


Kalfi sudah kehabisan cara agar mereka kembali seperti dulu lagi, ia akhirnya menghubungi Tora dan Sherly.


"Halo om, maaf mengganggu malam malam begini." ujar Kalfi.


"Ada apa Kalfi, terjadi hal buruk pada si kembar atau...? tanya Tora.


"Aku tak tahu ini hal buruk atau bukan, tapi aku tak bisa mengatasinya. Ini soal si kembar, sepertinya mereka semakin buruk. Setiap hari hampir berdebat masalah wanita yang sama. Aku harus bagaimana om?" tanya Kalfi.


"Ya Tuhan, inilah yang ditakutkan kami. Tante Sherly sudah tidur sekarang, aku akan mengatakan soal mereka besok pagi. Untuk sementara tolong terus awasi si kembar. Om sangat percaya padamu." ujar Tora.


"Baiklah om, selamat malam waktu Indonesia dan selamat beristirahat." ujar Kalfi seraya menutup ponselnya.


Kalfi menarik nafasnya dalam-dalam, ia semakin lama semakin kesulitan menjaga si kembar. Keduanya semakin dewasa, ia tak bisa selamanya mengatur mereka. Waktu meeting sudah tiba, saatnya mereka berkumpul bersama para pemegang saham tentang SinMart kedua.


*****

__ADS_1


Seperti biasa, disaat semuanya sudah berkumpul di ruang meeting. Hanya Jordan saja yang belum datang, pria itu memang selalu datang tepat waktu. Bahkan Jidan sebagai seorang Presdir pun tak bisa mengubah prinsip CEO nya, walaupun ia adalah adik kandungnya sendiri.


Lima menit kemudian, Jordan masuk dan duduk diantara mereka. Jidan mempersilahkan mereka memulai meetingnya. Jordan mulai menjelaskan di depan para pemegang saham.


"Walaupun bukti itu sangat kuat, tapi aku tak bisa mengambil keputusan. VilMart adalah mall terbesar kedua di Amerika. Kita butuh bukti lebih banyak lagi, kita tak mungkin menggugat mereka hanya karena pengakuan seorang kepala gudang SinMart." ujar Jordan.


"Kepala gudang sudah ditahan pihak kepolisian, tapi pihak polisi butuh bukti lebih kuat." sambung Kalfi.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jidan.


Semuanya sedang berdiskusi.


"Bagaimana jika kita lepaskan dulu untuk masalah ini, kita akan menangkap VilMart jika mereka mengganggu SinMart lagi." ujar salah satu mereka.


"Aku sempat berpikir hal yang sama." jawab Kalfi.


"Dan aku tidak setuju." ujar Jordan.


"Aku sependapat dengan pak Jo, jika kita biarkan maka mereka akan semakin meremehkan perusahaan SinMart." ujar Jidan.


"Kalian benar, tapi kita harus mencari bukti yang lebih kuat. Jika kita menuduh dan menangkap mereka tanpa bukti, justru nama baik SinMart yang akan menjadi taruhannya."


"Jika kalian setuju, kita harus membayar seseorang masuk ke perusahaan VilMart." ujar Jordan.


"Maksud anda kita membayar mata mata untuk SinMart."


Jordan mengangguk. "Kita harus memasukkan karyawan terbaik SinMart untuk bekerja di VilMart. Kita menyuruh karyawan ini berpura-pura keluar dari perusahaan kita dan bekerja disana sebagai mata mata." jawab Jordan.


"Tapi siapa yang cocok?" tanya Kalfi.


"Aku merekomendasikan pak Robert." jawab Jordan.


"Tidak... Pak Robert adalah wakil direktur SinMart. Kita sangat membutuhkannya, kita tak mungkin mengirimnya keluar SinMart dan masuk ke VilMart." jawab Jidan.


"Pak Robert satu satunya orang yang dengan mudah masuk ke VilMart, selain ia cerdas, pria itu juga sangat lama bersama SinMart. Kemungkinan VilMart akan senang menerimanya dan mencari tahu soal SinMart." ujar Jordan.


Suara riuh mulai terdengar, semuanya bingung dengan pendapat CEO mereka.


"Jika saja wajahku bukan wajah si kembar Sin, mungkin aku yang akan ke VilMart." ujar Jordan lagi.


"Tunggu pak Jo, jika aku boleh memberi saran. Ada satu pria yang menjadi kepercayaan mendiang Lee Bo Sin. Sepertinya ia lebih cocok dengan tugas ini." ujar Kalfi.


Semuanya menatap Kalfi, mereka mengangguk-anggukan kepalanya. Suara riuh kembali terdengar.


*****


Siapakah orang yang dimaksud Kalfi?


Nantikan episode selanjutnya...


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2