
Jidan menekan tombol bel pintu gerbang rumah Warres. Seorang wanita tua membukakan pintunya.
"Anda mencari siapa?" tanya Greek.
"Aku tidak salah kan, jika ini rumah nyonya Warres?" tanya Jidan.
Greek mengangguk. "Iya benar, ini rumah nyonya Warres." jawabnya.
"Lalu siapa anda?" tanya Jidan lagi.
Greek tertawa. "Ada tamu yang bertanya balik siapa aku, anda lucu tuan tampan. Aku Greek pelayan rumah ini. Anda siapa?" tanya Greek kembali.
"Oh maaf, aku Jidan Sin atasan Ae-Ri dan Aerum." jawab Jidan.
Greek mempersilahkan Jidan masuk. "Tunggulah sebentar aku akan memanggil nona Ae-Ri kemari, ia sepertinya sedang makan." katanya.
"Tunggu bu, aku datang kemari ingin menemui nona Aerum. Bisakah kau panggilkan wanita itu saja." pinta Jidan.
Greek mengangguk lalu masuk meninggalkan Jidan di ruang tamu. Jidan menatap rumah itu, ini pertama kalinya ia masuk ke rumah nyonya Warres. Dan yang lucu ia malah mencari Aerum bukan wanita yang ia sukai. Hampir setengah jam ia menunggu, ternyata Ae-Ri dan Warres lah yang menemuinya.
"Nak Ji, kenapa anda tiba tiba datang kemari." sapa Warres.
"Maaf nyonya, aku mengganggu waktu kalian. Aku ingin bertemu Aerum jika diizinkan." jawab Jidan.
"Ji, sepertinya Aerum masih sakit kepala. Ia tak mau bangun dari tidurnya. Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau ingin menemui adikku?" tanya Ae-Ri.
Jidan menunjukkan senyuman yang mematikan hati Ae-Ri. "Aku ingin mengatakan sesuatu soal pekerjaan di SinMart kedua. Sedikit mendesak, makanya aku datang kemari. Tapi aku tak ingin mengganggu Aerum beristirahat." jawabnya.
Ae-Ri merasa ada yang aneh.
"Yang membawa Aerum bekerja adalah pak Jo, tapi kenapa pak Ji tiba tiba perduli soal pekerjaan Aerum. Apakah hanya sekedar itu? Tunggu, apakah Aerum yang membawa pak Ji ke kamarnya semalam. Jangan...jangan..." pikir Ae-Ri.
Wanita itu mengumpulkan kepingan kepingan keanehan adiknya hari ini. Ae-Ri memang sangat cerdas, ia tak mudah untuk dibohongi siapapun.
"Ji, aku akan membangunkan adikku. Kau bisa menunggu." ujar Ae-Ri seraya naik menuju kamar adalah adiknya.
__ADS_1
*****
Aerum menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, Ae-Ri menghampirinya dan menarik selimut itu perlahan.
"Bangunlah Aerum, aku tahu kau tidak tidur. Tapi kenapa kau tak mau menemui pak Ji?" tanya Ae-Ri.
"Aku pusing eonni, jangan ganggu aku." jawab Aerum sambil menahan selimutnya.
"Aerum, katakan sesuatu padaku. Apakah ada yang terjadi antara kau dan pak Ji?" tanya Ae-Ri sangat penasaran.
Aerum diam saja, ia sama sekali bingung harus mengatakan apa pada kakaknya.
"Aerum, katakan padaku. Aku yakin ada yang tidak beres denganmu. Kau bersikap aneh sejak semalam kau menghilang." ujar Ae-Ri mulai emosi.
Aerum membuka selimutnya dan menatap kakaknya. "Aku mabuk dan aku pusing, bagian mana yang aneh eonni." bentak Aerum.
Ae-Ri menarik wajah Aerum. "Kau habis menangis, kau kenapa?"
"Ya Tuhan, eonni... Aku kurang tidur bukan habis menangis. Sudah sana katakan pada pak Ji, aku tak bisa menemuinya." pinta Aerum.
Aerum tertawa. "Kau gila, aku bukan wanita sepertimu yang tak pernah melakukan hubungan dengan pria diatas ranjang. Aku sering melakukannya dengan Tae Hyun, apakah aku harus menikah dengan Tae Hyun?" ejeknya.
Plaaaakkk...
Suara tamparan keras melayang pada Aerum, seketika Ae-Ri sangat marah dengan perkataan adiknya.
"Mengapa kau menamparku?" teriak Aerum.
"Wanita seperti apa dirimu yang sangat mudah menganggap tidur dengan pria adalah kebiasaan. Aku tak pernah mengajarimu seperti itu. Aku ingin adikku menjadi wanita yang terhormat." balas Ae-Ri.
Mendengar keributan di atas, membuat Warres menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Di bawah masih ada tamu, dan kalian berdua saling berteriak." ujar Warres.
Ae-Ri menangis. "Aku tak punya adik sepertimu." teriaknya seraya berlari keluar kamar.
__ADS_1
Warres bingung, ia tak mengerti apa yang terjadi pada keduanya. "Aerum, ada apa nak?" tanya Warres lagi.
Aerum membuang wajahnya, pipi nya masih merah bekas tamparan kakaknya. Warres menghela nafasnya lalu keluar kamar. Ia turun menemui Jidan Sin lagi.
"Maaf nak Ji, sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka berkelahi. Bisakah kau kembali dulu." pinta Warres.
Jidan mengangguk, ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Aerum. Ia pamit pada Warres. Baru sampai pintu, Ae-Ri melarangnya pulang.
"Anda harus bertanggungjawab pak Ji, aku tak ingin adikku hamil diluar nikah. Aku bertanggungjawab atas dirinya. Aku sudah janji pada ayahku." ujar Ae-Ri membuat semuanya terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Warres penasaran.
"Kau datang kemari karena ingin bertanya pada adikku kan, apa ia yang telah tidur denganmu semalam." kata Ae-Ri sambil menangis.
Jidan terbelalak. "Apa benar aku menodai Aerum?" tanyanya tak percaya.
"Tidak... Itu tidak benar..." teriak Aerum. "Kau gila eonni, kau menuduhku tanpa alasan. Aku tak melakukan apapun dengan pak Ji. Aku hanya mengantarnya ke kamar, aku keluar dari kamarnya tanpa melakukan apapun." sambungnya berbohong.
"Kau jangan membohongiku Aerum." teriak Ae-Ri.
Warres semakin pusing mendengar perdebatan keduanya. Ia mengelus dadanya. "Bisakah kalian duduk dengan tenang, kita bicarakan ini dengan kepala dingin." ujarnya.
Ae-Ri mengangguk, semuanya duduk kecuali Aerum yang menolak untuk tenang.
Jidan berdeham, ia memberanikan diri untuk berbicara. "Aku minta maaf karena membawa masalah di keluarga kalian, semalam aku sangat mabuk. Aku benar benar tak mengingat apapun, tapi saat aku bangun aku mendapati diriku..." ujar Jidan berhenti mengatakannya. "Kalian pasti mengerti apa maksudku, aku tak pernah melakukan semua ini pada wanita manapun, tapi aku sangat tahu apa yang telah aku lakukan. Aku hanya mengingat bahwa wanita yang bersamaku adalah Ae-Ri. Tapi Jordan bilang Aerum lah yang mengantarkan aku ke kamarku." sambungnya seraya menatap wajah Aerum.
Jidan menarik nafasnya dalam-dalam. "Aerum, jika aku melakukan kesalahan padamu aku tak akan lari. Aku pria yang bertanggung jawab, aku akan menikahimu." ujarnya.
Aerum menatap wajah kakaknya yang sangat terpukul. Ia tahu jika Ae-Ri sangat menyukai Jidan Sin, ia tak mungkin mengambil pria itu hanya karena kesalahan satu malam. Aerum menatap wajah Warres dan kembali pada Jidan Sin.
Aerum menggeleng. "Kita tak melakukan apapun pak Ji, aku harap anda tak bertanya lebih lanjut. Jika kau ingin menikah, maka kau nikahi kakakku. Ia sangat menyukaimu dan aku yakin kau juga menyukainya karena semalam kau hanya menyebut namanya." jawab Aerum.
Semuanya kembali terkejut, Aerum tak perduli dengan tatapan mereka. Ia meninggalkan semuanya berlari ke kamarnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘