
Selama satu minggu mereka menjalani aktivitas seperti biasanya, Aerum akhirnya bisa lega karena ia tak hamil. Ia justru kedatangan tamu bulanannya hari ini. Wajahnya sangat ceria saat berada di SinMart kedua. Ia juga sudah memberikan cara terbaik untuk meningkatkan penjualan mall itu. Beruntung pak James sangat mendukung semua prosedur baru yang ia berikan.
"Anda sangat ceria hari ini nona Aerum." ujar pak James.
"Tentu saja, kita bisa meningkatkan penjualan selama seminggu terakhir. Kalian tak akan kehilangan gaji kalian tahun depan." jawab Aerum.
"Aku ikut senang, aku tak tahu jika wanita semudamu bisa membantuku dalam menangani pekerjaan ini. Terima kasih untuk semua prosedur yang kau terapkan. Jujur awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku benar benar bangga padamu." ujar pak James.
"Anda berlebihan pak, aku belajar dari kakakku Ae-Ri. Tapi aku juga kuliah di bidang bisnis, jadi sedikit banyak aku mengerti masalah penjualan." kata Aerum.
"Apa anda bersedia makan siang denganku?" tanya pak James.
Aerum terkejut mendengar ajakan pria itu.
"Maaf pak James, aku yang akan mengajaknya makan siang." ujar Jordan tiba-tiba.
Mereka terbelalak melihat kehadiran CEO tanpa pemberitahuan. Tentu saja keduanya langsung menunduk untuk menyapa Jordan.
"Jangan terlalu formal, maaf aku datang mendadak. Aerum, aku ingin berbicara padamu. Aku pikir satu minggu sudah cukup untuk kau berpikir." kata Jordan.
"Apa maksud anda pak?" tanya Aerum.
"Pak James, bisakah anda tinggalkan kami?" pinta Jordan. Pak James mengangguk dan meninggalkan mereka. "Jangan berpura pura tak tahu nona cantik, masalah keluarga Sin dan kau harus segera diselesaikan." sambung Jordan.
"Maafkan aku pak Jo, sepertinya masalah itu sudah berakhir. Aku tetap tidak ingin menikahi kakak anda. Aku tak menyukainya." jawab Aerum.
"Ini bukan masalah suka atau tidak, tapi tanggung jawab seorang Sin." kata Jordan.
"Anda tak perlu khawatir, reputasi keluarga Sin tak akan tercemar karena aku tidak hamil." ujar Aerum.
Jordan menautkan alisnya. "Tapi...kau sudah bersama Sin dalam satu malam."
"Dan itu bukan pertama kalinya aku melakukannya. Aku pernah seperti itu dengan mantan kekasihku." jawab Aerum.
Jordan tertawa dengan keras. "Ya Tuhan, aku baru tahu ada wanita yang tak tahu malu mengatakannya."
"Aku melakukan itu agar kalian tidak terus mendesakku menikah. Dan mengapa anda berbicara denganku tentang kakak anda. Seharusnya kakak anda yang langsung bertanya padaku." kata Aerum kesal.
"Pria itu bukan seperti aku yang blak blakan. Ia kehabisan akal karena semua pesannya tak kau balas selama satu minggu terakhir." jawab Jordan.
"Jika tak ada lagi yang anda katakan, aku permisi karena masih banyak pekerjaan." ujar Aerum seraya beranjak menuju pintu.
Jordan menahannya. "Aku belum selesai, jangan keras kepala."
__ADS_1
"Aku mohon lupakan masalah ini, jika anda takut aku akan menghancurkan reputasi keluarga Sin, aku akan segera mengundurkan diri." jawab Aerum.
Jordan kehabisan kesabarannya, ia mendorong Aerum ke dinding lalu mencium wanita itu. Aerum memberontak, tapi Jordan tak melepaskannya begitu saja. Ia ingin menyakinkan hatinya, apakah ia menyukai Ae-Ri atau Aerum.
Wanita itu menyerah pada sentuhan bibir Jordan, jantungnya berdetak lebih cepat. Jordan menghentikan ciumannya lalu menatap wajah Aerum yang memerah. Aerum membuka matanya, seketika tamparan keras mendarat di pipi Jordan lalu berlari keluar dari ruangan kantornya.
Jordan hanya bisa menatap pintu yang kembali tertutup, ia menyenderkan tubuhnya pada dinding.
Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? gumamnya.
Jordan segera keluar mencari keberadaan Aerum, tapi ia tak menemukannya. Ia berlari keluar pintu mall, dan melihat wanita itu memasuki taksi. Jordan segera masuk ke mobilnya untuk mengejar taksi Aerum. Tapi ia gagal menemukan wanita itu.
*****
Jidan tak bisa bersabar menunggu kedatangan adiknya yang berbicara dengan Aerum. Ia berharap wanita itu mau menikah dengannya. Masalah itu sudah cukup lama ia biarkan.
Jidan menghubungi sekertarisnya. "Aurel, coba kau hubungi pak Jo. Sudahkah ia kembali ke kantor."
"Baik pak." jawab Aurel.
Jidan menunggu Aurel, tak lama sekertarisnya mengetuk pintu.
"Masuk..." ujar Jidan.
"Pak Jo belum kembali pak. Tapi ada masalah, sepertinya terjadi sesuatu di SinMart kedua. Nona Aerum kabur dari mall, dan pak Jo berusaha mengejarnya." ujar Aurel.
Jidan segera menghubungi adiknya, tapi Jordan tak mengangkat ponselnya.
Apa yang terjadi Jo, apa yang kau lakukan pada wanita itu? pikir Jidan.
Jidan mengambil kunci mobilnya, ia segera keluar kantor.
"Aurel, aku keluar. Cancel semua jadwalku hari ini." ujar Jidan seraya pergi tanpa menunggu jawaban dari sekertarisnya.
Jidan menuju SinMart utama untuk menemui Kalfi, ia tak bisa menunggu lagi. Kalfi harus membantunya, masalah mereka malah semakin rumit. Dan entah apa yang dilakukan adiknya, justru membuat ia lebih khawatir.
*****
Aerum sampai di rumah, ia segera masuk tanpa mengindahkan sapaan Greek. Aerum masuk ke kamarnya dan segera mengemasi pakaiannya.
"Siapa yang datang Greek?" tanya Warres di dapur.
"Nona Aerum nyonya, tapi sepertinya ada masalah. Ia pulang sambil menangis." jawab Greek.
__ADS_1
Warres meletakkan pisau dapurnya. "Apa maksudmu?"
Greek menggeleng. "Nona langsung ke kamarnya."
Warres segera menuju kamar Aerum dengan kakinya yang semakin renta. Belum sampai ke kamar wanita itu, Aerum keluar kamar dengan 2 tas besarnya. Tentu saja membuat Warres sangat terkejut.
"Kau mau kemana Aerum, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Warres.
"Aku minta maaf mi, aku akan kembali ke Korea saja. Aku tak ingin disini lagi." jawab Aerum sambil menangis.
"Tunggu sayang, tenanglah. Katakan padaku, apa yang terjadi." ujar Warres lagi.
Aerum memeluknya sambil menangis. "Wanita seperti apa aku ini mi, aku tak pantas disini. Aku akan merusak segalanya."
Warres teringat kejadian seminggu yang lalu. "Sayang, apakah kau hamil?" tanyanya ragu.
Aerum melepaskan pelukannya lalu menggeleng. "Aku tak hamil, aku baik baik saja."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Warres.
"Aku tidur dengan kakaknya, tapi aku menyukai adiknya. Apa aku sudah gila." jawab Aerum seraya isakannya semakin keras.
Warres terbelalak dengan pengakuan Aerum. "Maksudmu kau menyukai Jordan."
Aerum menundukkan kepalanya dan mengangguk. Warres bernafas lega, masalah ini tidak menakutkan seperti yang ia pikirkan.
"Tenanglah sayang, aku dan siapapun tak akan memaksamu menikah dengan pria yang tidak kau cintai. Lupakan masalah ini, jika kau tidak nyaman bekerja untuk mereka, kau keluarlah dari pekerjaan itu. Tapi jangan pernah berpikir untuk kembali ke negaramu, itu akan membuat kakakmu sedih. Masuklah ke kamarmu, aku yang akan membantumu menghadapi si kembar itu." ujar Warres.
Aerum menatap ibu angkatnya, ia ragu untuk tetap berada di Amerika. Walaupun ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, tapi ia akan terus mengingat Jidan maupun Jordan Sin. Ia telah merusak perasaan kakaknya, dan ia justru menyukai orang lain.
"Aerum,,, mami mohon nak tenangkan dirimu." pinta Warres.
Aerum akhirnya mengangguk dan membawa kembali tas besarnya masuk ke kamar.
Warres menghela nafasnya lalu segera turun kembali. "Greek,,, jika si kembar Sin datang kemari. Katakan pada mereka, tidak ada orang di rumah. Jangan biarkan Aerum kembali tertekan." perintahnya.
Greek mengangguk. "Baik nyonya." jawabnya.
"Kunci pintu depan, aku tak mau Aerum kabur dari rumah ini." perintahnya lagi.
Greek kembali mengangguk, ia melakukan apa yang diperintahkan Warres lalu kembali untuk membantunya memasak di dapur.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘
Sampai disini, aku butuh pendapat kalian. Apakah Ae-Ri dan Aerum tetap akan bersama si kembar Sin. Dan pasangkan mereka, sesuai dengan keinginan kalian... Terima kasih...