
Tepat pukul 8 malam waktu Amerika, Ae-Ri dan Aerum sampai di Los Angeles. Ternyata ibu angkatnya menjemput mereka di Bandara.
"Mami..." ujar Ae-Ri seraya memeluk ibu angkatnya.
"Ya Tuhan, aku pikir setelah kau berbaikan dengan ayahmu, kau tak ingin kembali. Aku sangat merindukanmu." jawab Warres.
Ae-Ri tertawa. "Itu tak mungkin, kehidupanku sekarang disini. Aku juga sangat merindukanmu." jawabnya.
"Ya Tuhan, inikah putri kecil yang nakal itu." goda Warres seraya merentangkan tangannya untuk memeluk Aerum.
"Mami..." panggil Aerum.
"Aku sangat bahagia sekali. Aku kini memiliki 2 putri yang begitu cantik." ujar Warres. "Selamat datang nak." sambungnya.
"Terima kasih mi." jawab Aerum. Kepalanya sangat pusing sekarang.
"Sepertinya Aerum jetlag mi, kita segera pulang sekarang." pinta Ae-Ri.
Warres mengangguk dan membawa keduanya menuju mobil sewaan. Mereka kembali menuju rumah. Sesampainya disana, Warres langsung membawa Aerum menuju kamar yang sudah disiapkan samping kamar Ae-Ri.
"Ini kamarmu nak, apa kau suka?" tanya Warres.
"Ini sangat indah, terima kasih mi." jawab Aerum.
"Kapan mami membereskan kamar ini?" tanya Ae-Ri.
"Sejak kau berangkat sayang. Bersihkan dirimu, itu kamar mandi. Lalu segera turun untuk makan malam." ujar Warres.
Aerum mengangguk, Warres dan Ae-Ri meninggalkannya. Warres membawa Ae-Ri ke kamarnya.
"Bagaimana kabar mami selama aku tak ada?" tanya Ae-Ri.
"Tentu saja baik baik saja, ada Greek yang menemani mami." jawab Warres.
"Aku tak mungkin akan tenang jika tidak ada pelayan itu." ujar Ae-Ri.
"Mami sangat penasaran bagaimana kau bisa berbaikan dengan ayahmu. Tapi kau pasti sangat lelah, jadi bersihkan dirimu lalu kita makan malam walaupun ini sudah sangat terlambat." ujar Warres.
"Mami juga harus menjelaskan, karena mami menyembunyikan semua ini dariku." kata Ae-Ri.
"Itu permintaan ayahmu, dan kau lupa dengan sikapmu saat aku membahas sedikit saja tentang Kim Soo Han. Kita akan berbicara lagi sayang." ujar Warres, ia mengecup kening Ae-Ri dan meninggalkannya.
*****
Satu jam sudah mereka berada di kamar mereka masing-masing. Pelayan Warres sudah menyiapkan menu makan malam spesial untuk keduanya. Ae-Ri dan Aerum turun bersamaan. Ibu angkat mereka sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1
"Kemarilah." ujar Warres.
Keduanya duduk. "Wow, ini pesta. Bagaimana kami bisa menghabiskan semuanya?" tanya Ae-Ri.
"Jangan banyak berbicara, mami menyiapkan semua ini untuk Aerum." jawab Warres.
"Jadi aku sekarang nomor 2." kata Ae-Ri pura pura kesal.
Warres tertawa. "Tidak ada nomor satu dan dua, kalian spesial di hati mami." jawabnya.
"Terima kasih mi, tapi sepertinya aku masih jetlag. Aku tak mungkin memakan semua ini." ujat Aerum.
"Makanlah sebisamu Aerum, buat dirimu nyaman disini." jawab Warres.
Aerum mengangguk, mereka menikmati makan malam mereka yang terlambat.
*****
Jordan Sin sudah mendengar kepulangan Ae-Ri bersama adiknya. 2 hari lagi Ae-Ri baru masuk kerja tapi ia ingin secepatnya menemui wanita itu dan adiknya. Ia ingin segera mewawancarai adik Ae-Ri yang akan bekerja di SinMart.
Dan hari itu juga mereka akan mengadakan pesta, jika memang adik Ae-Ri sesuai dengan pemikirannya. Maka wanita itu juga bisa langsung mendapatkan undangan ke pesta, ia akan mengenalkannya langsung pada seluruh karyawan SinMart.
"Jo..." teriak Jidan.
Jordan terkejut. "Ada apa kak?" tanyanya.
Jordan keluar dari kamarnya dan menemui kakaknya. "Ada apa sih malam malam begini kau berteriak?" tanyanya.
"Aku pikir kau tak mendengar jika aku memanggilmu dengan cara berbisik." ejek Jidan. "Kita berhasil mendapatkan saham VilMart Jo, baru saja pak Marcell menghubungiku." sambungnya.
"Benarkah, itu luar biasa. Kita benar-benar bagus mengadakan pesta lusa." jawab Jordan senang.
"Aku juga terkejut saat mendengarnya, bagaimana pilihan karyawan itu?" tanya Jidan.
"Aku sudah mendapatkannya, kau akan tahu saat di pesta." jawab Jordan.
"Oh ayolah Jo, jangan main tebak tebakan denganku. Aku paling tak suka kau merahasiakan sesuatu dariku." kata Jidan.
"Kau tak sabaran sama sekali kak." ujar Jordan. "Aku sudah mengaturnya, ini akan menjadi kejutan." sambungnya.
"Dasar...kau ingat apa kata mami tadi. Jangan terlibat dengan Ae-Ri lagi, aku tahu wanita itu sudah kembali ke Los Angeles." ujar Jidan.
Jordan tertawa. "Ternyata kau menyelidikinya." ejek Jordan.
"Mana mungkin, aku bukan aparat kepolisian. Ini." jawab Jidan seraya menunjukkan pesan Ae-Ri padanya.
__ADS_1
Jordan terbelalak saat melihat pesan itu.
Ji, aku sudah sampai di Los Angeles. Terima kasih.
"Ji? Sejak kapan kalian menjadi dekat dan saling berkirim pesan?" tanya Jordan.
"Jangan berlebihan Jo, aku tak sedekat itu. Aku hanya ingin ia segera masuk kerja karena banyak sekali pekerjaan yang harus ia urus." jawab Jidan.
"Aku tak sebodoh itu, sejak kapan seorang presdir dekat dengan general manager." kata Jordan kesal.
"Terserah padamu, aku lebih baik istirahat. Ingat aku tunggu orang yang menjadi pilihanmu." ujar Jidan seraya meninggalkan adiknya sebelum urusan semakin panjang.
Dengan kesal Jordan kembali ke kamarnya dan membanting pintunya dengan keras. Ia tak menyangka Ae-Ri bisa memanggil nama kakaknya dan saling memberi kabar. Jordan ingin sekali mencekik kakaknya yang tak mau menjelaskan apapun padanya.
Wanita itu juga seharusnya memberikan kabar padanya karena ia ingin mewawancarai adiknya, tapi kenapa justru kakaknya lah yang ia hubungi. Ia mengambil ponselnya ingin menghubungi Ae-Ri, namun ia mengurungkan niatnya segera setelah melihat jam yang ada di ponselnya, sudah hampir tengah malam. Tak mungkin Ae-Ri masih terjaga, wanita itu juga baru sampai pasti ia sangat lelah.
Jordan melempar ponselnya hingga berantakan.
"Diamlah Jo, kau seperti anak kecil. Kau akan membangunkan seisi rumah." teriak Jidan, karena kamar mereka memang tak jauh.
"Kau yang diam, bukan urusanmu." bentak Jordan.
"Tentu saja urusanku, karena kau mengganggu tidurku." jawab Jidan.
"Kau menyuruhku melepaskan Ae-Ri, tapi kau malah dekat dengannya." teriak Jordan tapi Jidan tak membalasnya lagi. "Teruslah menghindari pertanyaanku kak, aku akan bertanya langsung pada Ae-Ri besok." sambungnya.
"Lakukan sesukamu, aku mau tidur." jawab Jidan datar.
"Benar benar keterlaluan." kata Jordan. Ia pun akhirnya merebahkan dirinya.
Dengan susah payah akhirnya Jordan pun bisa tertidur juga.
Di lain sisi, Jidan terus menatap layar ponselnya. Ia sangat senang Ae-Ri benar benar memberi kabar padanya, padahal saat itu Jidan hanya bercanda. Ia kembali mengingatnya saat mereka bertemu di SinMart ketiga, saat itu Jidan memang ingin berbicara pada Ae-Ri soal kemenangan SinMart dan pengadaan pesta. Ia ingin Ae-Ri menyampaikan langsung pada karyawan SinMart ketiga.
Pak Ji, aku ingin mengambil cuti lusa untuk kembali ke Korea Selatan menjemput adikku. ujar Ae-Ri.
Aku mengizinkanmu, tapi syaratnya kau selalu memberiku kabar saat kau sampai disana dan kembali kemari. ujar Jidan hanya bercanda.
Tentu saja pak Ji. jawab Ae-Ri.
Aku sudah berapa kali bilang padamu, panggil namaku jika kita sedang berdua. pinta Jidan.
Baiklah Ji, terima kasih. jawab Ae-Ri.
Jidan melenyapkan ingatannya seraya terus tersenyum, ia akhirnya ikut memejamkan matanya.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...😘