Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Perbedaan Sifat Ae-Ri dan Aerum


__ADS_3

Mereka sampai ke SinMart ketiga, Ae-Ri turun sebelum Jidan membukakan pintunya.


"Terima kasih pak Ji." ujar Ae-Ri.


Jidan harus sabar menghadapinya, ia kembali tersenyum. "Sama sama Ae-Ri, aku akan menjemputmu nanti sore." jawabnya.


"Tidak per..."


Ucapan Ae-Ri terpotong karena Jidan sudah pergi meninggalkannya. Lagi lagi Ae-Ri menghela nafasnya.


"Bodohnya aku tak bisa melihatnya tersenyum, ya Tuhan... Aku bisa gila kalau ia terus seperti ini. Aku tak ingin memaafkan pria yang sudah tidur dengan adikku." gumamnya.


Ae-Ri menatap karangan bunga yang ada ditangannya, ia masuk ke kantornya dan memberikan bunga itu pada asistennya.


"Untukmu..." ujar Ae-Ri.


"Bu Ae-Ri, ada acara apa anda memberiku bunga cantik seperti ini?" tanya Clara.


"Aku menemukannya." jawab Ae-Ri datar.


Clara tertawa. "Apa anda menemukannya di dalam mobil pak Presdir?" godanya sambil menyerahkan kembali bunga itu.


Ae-Ri menatapnya tajam. "Sulit sekali merahasiakan sesuatu disini." ujarnya.


"Siapa yang tak mengenali mobil pak Presdir, semua karyawan tahu. Jadi aku tak berhak menerima bunga cantik ini." ujar Clara.


"Buang saja kalau begitu." perintah Ae-Ri.


Clara terkekeh. "Baiklah aku akan membuangnya."


Clara mengambil bunga itu, ia segera keluar dari kantor Ae-Ri.


"Tunggu..." ujar Ae-Ri.


"Ada apalagi bu?" tanya Clara.


"Eh... bunganya biarkan saja di meja." jawab Ae-Ri ragu.


Clara tersenyum, lalu menaruh bunga itu di meja lagi. "Bu Ae-Ri, hari ini ada produk baru masuk. Apakah anda ingin melihatnya?" tanyanya.


"Tentu saja aku akan melihatnya, dan tolong siapkan dokumen laporan penjualan minggu lalu." jawab Ae-Ri.

__ADS_1


"Baik bu." jawab Clara seraya keluar dari ruangan.


Di luar ruangan, Clara terus tersenyum. Ia ikut senang jika Ae-Ri bisa bersama pak Presdir. Keduanya pasangan yang sangat serasi.


"Sepertinya pak Ji sangat berusaha meluluhkan hati Bu Ae-Ri, dan aku yakin bu Ae-Ri sangat menyukai pak Ji juga. Hanya saja, bu Ae-Ri memiliki harga diri yang tinggi. Apa bu Ae-Ri tak takut pak Ji berubah pikiran." gumam Clara.


Tapi ia hanya mengangkat bahunya, ia hanya ingin melihat seperti apa hubungan keduanya nanti.


*****


Aerum terus berusaha menghubungi Jordan, tapi kekasihnya itu terlalu kekanak-kanakan, hanya karena kata "sayang" Jordan marah seperti ini.


Warres terus menatap wajah Aerum, wanita itu merasa ada yang tidak beres pada putrinya.


"Ada apa nak?" tanya Warres.


"Ah...tak ada apa apa mi." jawab Aerum.


"Kau yakin tidak ingin bekerja lagi." ujar Warres.


Aerum mengangguk. "Mi, aku dan pak Jo sudah memutuskan bersama."


"Apa mami setuju? Apa keputusanku sudah benar?" tanya Aerum.


"Tentu saja sayang, jika itu bisa membuatmu bahagia. Aku selalu mendukung apapun keputusan kalian." jawab Warres.


"Aku mencintai pak Jo, aku tak mau mengambil pak Ji dari eonni. Tapi eonni sepertinya terluka karena perbuatan kami." kata Aerum menyesal.


Warres menarik tangannya. "Ae-Ri memang keras kepala sayang, tapi mami yakin Jidan bisa meluluhkan hatinya. Kau tak perlu terus merasa bersalah. Kalian menikah untuk seumur hidup kalian, jadi pilihan ada pada hati kalian bukan karena ego."


Aerum mengangguk. "Mi, aku bisa berhenti bekerja dari SinMart tapi pak Jo memberikan syarat padaku. Ia tak ingin aku bekerja dimanapun kalau sudah berhenti dari SinMart. Ia ingin aku menerima uang darinya. Tapi aku tak mau seperti itu."


Warres tertawa. "Pria itu sangat mencintaimu nak, kalau menurut mami ada benarnya juga maksud Jordan. Ia tak ingin kau bekerja di luar pengawasannya."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Aerum.


"Ikuti kata hatimu sayang, apapun itu akan menjadi pilihan terbaik untukmu." jawab Warres.


Aerum menghela nafasnya. "Pak Jo sedang marah padaku."


Warres terkejut. "Apa kau salah bicara? Bukankah kalian baru memperbaiki hubungan kalian?"

__ADS_1


Aerum menggeleng. "Pak Jo marah karena aku tak memanggilnya sayang." bisiknya pelan karena malu.


Warres kembali tertawa, ia sangat bahagia atas hubungan Aerum dan Jordan. "Katakanlah sayang, itu sangat mudah." godanya


"Mami..." ujar Aerum, wajahnya merona merah karena sangat malu.


"Kunjungilah ia saat makan siang, buat ia bahagia. Mami sangat mendukung hubungan kalian. Dan mami juga yakin sebentar lagi kakakmu akan mengatakan padaku bahwa ia ingin menikah dengan Jidan." ujar Warres.


Aerum memeluk ibu angkatnya. "Terima kasih mi, kau ibu terbaik untuk kami."


Warres hanya mengelus bahu putrinya, sebentar lagi ia akan kehilangan keduanya. Mereka sudah waktunya menikah dan hidup bahagia bersama pria yang sangat tepat. Pria dari keluarga Sin adalah pria yang baik untuk keduanya.


*****


Aerum sudah berada di perusahaan SinMart, ia sangat malu menunjukkan wajahnya disana apalagi semuanya sudah tahu jika ia adalah calon istri Jordan Sin. Aerum membawa makanan yang ia masak sendiri untuk Jordan. Ia segera menuju kantor Jordan, tak ada satupun yang melarangnya masuk. Mungkin Jordan sudah memberitahu mereka semua.


Di kantor CEO, ternyata tak ada satupun orang. Ia terpaksa menunggu mereka kembali di ruang tunggu. Hampir melewati jam makan siang, ia masih juga tak tahu keberadaan Jordan dan sekertarisnya. Aerum sudah lama menunggu, ia akhirnya ingin kembali ke rumah saja. Tapi suara langkah kaki wanita mengejutkannya.


"Siang Marie..." sapa Aerum.


"Nona Aerum, sejak kapan anda disini?" tanya Marie.


"Satu jam yang lalu." jawab Aerum. "Apa kalian sangat sibuk?" tanyanya.


"Anda tak memberitahu kami akan datang, kami melakukan meeting diluar. Dan sekarang pak Jo masih di luar. Apakah anda ada keperluan penting, aku akan menghubunginya." tanya Marie.


"Tidak perlu, tidak penting juga. Aku akan pulang saja. Terima kasih Marie." jawab Aerum.


Ia pamit pada sekertaris itu, Marie hanya menatap wanita cantik itu yang sangat kecewa. Ia harap pak Jordan segera kembali dan bertemu dengannya di bawah.


Aerum menatap makanan yang ia bawa, seharusnya ia menghubungi pria sibuk itu. Ia tak mungkin bisa bertemu dengan Jordan tanpa janji. Ia harus menyadari posisi kekasihnya yang memiliki perusahaan besar.


Pintu lift terbuka, dan disanalah pria tampan yang ingin ia temui sedang berdiri bersama beberapa karyawan. Mereka saling bertatapan, seketika Aerum menundukkan kepalanya, lalu ingin melangkah keluar dari lift. Dengan sigap Jordan menahan tangannya. Ia masuk kedalam lift dengan terus menggenggam tangan Aerum.


"Kalian bisa naik lift berikutnya." perintah Jordan tanpa menghiraukan tatapan mereka.


Lift tertutup, Jordan kembali membawa Aerum ke kantornya tanpa mengatakan apapun pada wanita itu. Aerum tak ingin berbicara juga, ia hanya terus mengikuti perlakuan kekasihnya.


*****


Happy Reading All...😘

__ADS_1


__ADS_2