Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Bertemu Pemilik VilMart


__ADS_3

Setelah makan siang, para petinggi SinMart berkumpul di ruang meeting untuk membicarakan pengalihan VilMart kembali. Kalfi yang memimpin pertemuan itu.


"Sebelumnya terima kasih kalian meluangkan waktu untuk bertemu. Awalnya kita sangat bahagia bisa memenangkan kasus dan mengambil alih VilMart, tapi setelah mendengar keadaan yang sebenarnya ini justru menjadi dilema bagi SinMart. Seperti yang pak Presdir katakan, kita bukanlah orang yang tak punya hati. VilMart memiliki sejarah turun temurun juga, tapi pemegangnya lah yang bermasalah dan sekarang sudah berada di kepolisian. Yang ingin aku bahas disini adalah pemilik VilMart sebelumnya yang dikhianati oleh pamannya sendiri." ujar Kalfi.


"Saat pak Marcell mengambil alih saham, wanita itu nyaris pingsan karena tak tahu apapun tentang VilMart yang ia serahkan pada pamannya. Wanita itu syok karena harus merelakan perusahaan mendiang ayahnya kepada kita. Tapi wanita itu juga langsung bersedia menyerahkan sahamnya karena ia tak ingin menghancurkan VilMart yang berada dalam kehancuran. Kini yang menjadi masalah kita adalah apakah kita akan mengganti perusahaan itu dengan nama SinMart keempat?" tanya Kalfi.


"Bisnis adalah bisnis tanpa harus melihat sisi lainnya, tapi dari segi kemanusiaan kita harus mempertimbangkannya kembali." jawab Jidan.


"Aku pikir pak Ji benar, kita sedang berbisnis bukan bersosialisasi. Tapi kita juga harus mempertimbangkan kembali masalah ini." ujar Kalfi.


Jordan mengetukkan penanya di meja. "SinMart bukan perusahaan yang kecil yang kekurangan pemasukan. Kita bisa mengambil alih VilMart itu memang bagus, tapi kita tak bisa salah mengambil langkah. Penyelidikan secara menyeluruh sudah kita dapatkan, dan pemilik VilMart sebenarnya memang benar benar tak tahu masalah ini. Kita hanya bisa memiliki 2 cara. Yang pertama, biarkan VilMart berjalan seperti biasanya sampai mereka mampu mengembalikan kerugian dan saham yang sudah kita beli. Yang kedua, kita tetap mengambil alih VilMart namun menjadi SinMart terselubung dibalik nama VilMart. Maksudku adalah mall itu tetap VilMart, tapi didalamnya SinMart yang mengambil alih." ujar Jordan.


"Pilihan yang pertama artinya kita mengorbankan diri untuk meminjamkan modal pada VilMart, dan pilihan kedua tidak menguntungkan pak Jo. Penjualan atas nama VilMart, sangat jauh jika kita menggantinya dengan nama SinMart keempat." ujar pak Marcell.


"Tidak jika kita mengubah management kerja VilMart dan mengumumkan bahwa mall VilMart dibawah naungan SinMart." ujar Jidan.


Mereka berpikir sejenak dan saling berdiskusi.


"Bagaimana pak Kalfi?" tanya Jidan.


"Aku pikir kita melakukan cara yang kedua. Kita bukan perusahaan pinjaman modal. Itu tak menguntungkan jika pendapatan VilMart semakin menurun. Kita bisa menunggu sampai beruban jika ingin VilMart mengembalikan saham kita. Tapi jika kita melakukan pilihan kedua, itu sangat menguntungkan bagi SinMart karena pendapatan akan terus masuk setiap tahun walaupun masih menggunakan nama VilMart." jawab Kalfi.


"Sebenarnya ini adalah rasa kemanusiaan karena mall itu milik keluarga yang tak bersalah. Dan aku setuju dengan pendapat pak Kalfi dan memilih pilihan kedua yang disarankan oleh pak Jo." ujar Jidan. "Tapi kami juga meminta pendapat pemegang saham yang ada disini selain kita bertiga." sambungnya.


"Aku ikut saja pada pendapat pak Presdir dan pak CEO." ujar pak Marcell.


Sedangkan yang lain masih berdiskusi.


"Aku memberikan waktu kalian selama satu hari, kita akan memutuskannya besok pagi karena sebentar lagi aku akan melakukan pertemuan dengan nona pemilik VilMart, aku rasa cukup sekian hari ini." ujar Jidan.


Semuanya mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, kami tunggu kedatangan kalian kembali besok pagi." sambung Kalfi.


Satu per satu mereka meninggalkan ruang meeting.


"Pak Jo, kita menemui nona Vero bersama." pinta Jidan.


Jordan mengangguk. "Aku akan kembali jam 3 tepat, aku masih ada urusan di kantor sekarang." jawabnya.


Jidan mengangguk, semuanya akhirnya kembali ke pekerjaan masing masing.


*****


Tepat pukul 3 sore, wanita cantik bertubuh tinggi dan kemungkinan usianya 30 an menunggu di ruang meeting. Si kembar masuk bersamaan. Ketiganya saling bertatapan.


"Selamat datang di SinMart, nona Vero." sapa Jidan seraya mengulurkan tangannya.


Vero menyambut uluran tangan Jidan dan mengulurkan tangannya juga pada Jordan.


"Aku Presdir SinMart Jidan Sin, dan ini adikku CEO SinMart Jordan Sin." jawab Jidan.


Vero akhirnya mengangguk, ketiganya duduk. "Aku hanya mendengar gosip tentang si kembar Sin yang masih muda, tampan dan pembisnis yang hebat. Aku tak menyangka akan bertemu dengan kalian langsung." ujar Vero.


"Anda berlebihan nona Vero, kami tak seperti yang dibicarakan." ujar Jordan.


Vero menggeleng. "Tidak, aku bisa melihatnya langsung. Kalian memang masih muda dan tampan. Dan tentu saja sangat pintar berbisnis sehingga mampu mengambil alih VilMart." ujarnya tiba-tiba sedih.


"Kami minta maaf karena kami tak tahu sebelumnya jika pemilik VilMart tidak terlibat. Tapi kami juga merasa dirugikan dengan adanya perilaku dari pihak VilMart." ujar Jidan.


"Aku sudah menerima dengan lapang dada pak Ji, setidaknya VilMart tidak dihancurkan. Aku ingin bangunan itu tetap berdiri sebagai mall, walaupun bukan milikku lagi." ujar Vero.


"Anda masih memiliki saham disana, hanya berganti alih kepada kami nona Vero. Dan kami masih mendiskusikannya. Kami akan memberi keputusan besok pada anda." ujar Jidan lagi.

__ADS_1


"Maksud anda seperti apa?" tanya Vero.


"Kami masih merahasiakannya nona. Tunggulah sampai besok siang." jawab Jordan.


"Baiklah, aku harap kalian tak menghancurkan gedung itu. Itu akan lebih menyakitkan buatku." pinta Vero.


Jidan tersenyum. "Kami tidak mungkin menghancurkan gedung sebesar itu nona. Apakah anda datang kesini sendirian?" tanya Jidan.


Vero mengangguk. "Aku selalu sendiri pak Ji, aku hanya memiliki seorang ibu yang sudah tua di Indonesia. Aku hanya kembali kemari satu tahun sekali, itulah mengapa aku menyerahkan VilMart pada pamanku yang ternyata menghancurkannya." jawabnya.


"Maaf nona jika aku bertanya dan tidak sopan, apakah anda masih lajang?" tanya Jordan.


Vero mengangguk. "Benar." jawabnya lagi.


"Aku juga berkewarganegaraan Indonesia walaupun bertahun tahun tinggal disini. Orang tua kami ada di Lampung, dimanakah anda tinggal?" tanya Jidan.


"Aku tahu jika kalian berasal dari negara yang sama denganku. Tapi aku tinggal di Surabaya, aku berasal dari sana jika anda bisa melihat nama belakangku." jawab Vero.


"Tentu saja nona, lalu anda tinggal bersama siapa disini?" tanya Jidan.


"Aku memiliki apartemen disini, dan tentu saja sendiri." kata Vero.


"Entah kenapa kami merasa dekat dengan anda, mungkin karena kita berasal dari negara yang sama. Aku seperti memiliki seorang kakak perempuan." ujar Jordan.


Vero tersenyum. "Aku juga merasa lebih santai berbicara dengan kalian. Tapi maaf jika aku kurang sopan pak JiJo."


"Tidak nona santai saja, kami memang ingin bertemu dengan anda bukan hanya untuk membicarakan VilMart." jawab Jidan.


Ketiganya akhirnya saling berbicara tanpa ada rasa kecanggungan. Si kembar kembali merindukan orang tuanya dan juga Zean, saat berkali kali ketiganya berbicara dengan bahasa Indonesia dan saling tertawa saat menceritakan tentang Indonesia.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...😘


__ADS_2