
Aerum terbangun dan mendapati gaunnya tergeletak di lantai. Ia teringat kembali apa yang terjadi, keduanya benar benar telanjang sekarang. Aerum seketika menangis. Ia melakukan kesalahan dengan atasannya. Mereka bahkan tak mengenakan pengaman saat berhubungan ****. Aerum memang bukan perawan lagi, karena ia sudah melakukannya dengan Tae Hyun beberapa kali. Tapi kali ini ia melakukan dengan pria yang menganggapnya Ae-Ri, ia bahkan baru mengenal Jidan Sin.
Perlahan lahan, Aerum turun dari ranjangnya dan mengenakan gaunnya. Ia yakin kakaknya panik mencarinya, ia keluar dari kamar itu dan melihat keadaan sekitar hotel. Beruntung hotel itu terlihat sangat sepi. Aerum segera ke toilet hotel untuk merapikan dandanannya lalu kembali ke ruang pesta yang masih ramai.
Ae-Ri seketika melihat adiknya dan menghampirinya. "Ya Tuhan, kau darimana saja Aerum?" tanyanya.
Aerum terkejut lalu menatap kakaknya. "Maaf eonni, aku sepertinya mabuk berat, jadi aku muntah muntah di toilet." jawabnya berbohong.
"Pantas saja kau terlihat kusut, pergilah ke kamar terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu setelah aku mengurus pak Jo, sepertinya pria itu mabuk berat." perintah Ae-Ri.
Aerum mengangguk lalu meninggalkan ruang pesta menuju kamar hotelnya. Di dalam kamar hotel, Aerum kembali menangis.
"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan. Aku membuat kesalahan. Jika aku sampai mempermalukan eonni, aku lebih baik mati saja." gumamnya sambil terisak.
"Mengapa aku tak menolak pak Ji, mengapa aku membiarkan pria itu bercinta denganku. Mengapa aku begitu bodoh." gumamnya lagi.
Aerum terus menangis sampai ia tertidur tanpa mengganti gaunnya.
*****
Ae-Ri mengantarkan Jordan Sin ke kamarnya, ia merebahkan Jordan dan menyelimutinya.
"Kau sangat cantik dan seksi Aerum, akhirnya aku bisa menyukai wanita lain." gumam Jordan.
Ae-Ri hanya tersenyum lalu meninggalkan pria mabuk itu. Ia bertemu pak Kalfi di lorong hotel.
"Apa Jo baik baik saja?" tanya Kalfi.
Ae-Ri mengangguk.
"Aku pikir si kembar sudah aman di kamarnya masing-masing, aku tak menginap di hotel karena putraku sendirian. Jadi aku titipkan si kembar padamu Ae-Ri." ujar Kalfi.
"Baik pak." jawab Ae-Ri.
Kalfi mengangguk seraya pamit padanya.
"Aku seperti seorang pengasuh saja." gumam Ae-Ri seraya menuju kamarnya.
Ae-Ri terkejut karena melihat adiknya tertidur tanpa mengganti gaun pestanya. Ia tak ingin membangunkan adiknya jadi Ae-Ri hanya menyelimuti Aerum lalu masuk ke kamar mandi. Setengah jam kemudian, Ae-Ri keluar dan ikut tidur di samping adiknya.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, Jidan sin terbangun dan mendapati dirinya tak mengenakan pakaiannya. Ia mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan. Ia mengingat jika Ae-Ri lah yang membawanya ke kamar.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya sendiri.
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Ia mencoba mengingat kejadian semalam tapi ia sama sekali tak mengingat apapun.
"Sial..." gumamnya frustasi. "Aku harus menemui Ae-Ri." sambungnya.
Jidan segera memakai pakaiannya, kepalanya masih pusing akibat ia mabuk semalam. Ia mengetuk pintu kamar Jordan.
"Jo...apa kau belum bangun." ujar Jidan.
Jordan sama sekali tak menjawabnya, ia segera ke meja resepsionis karena ia tidak tahu kamar nomor berapa Ae-Ri tinggal. Resepsionis hotel mengatakannya kalau Ae-Ri dan adiknya tinggal di kamar 605. Jidan segera menuju kamar tersebut.
Jika ia benar benar melakukannya, maka ia harus bertanggungjawab. Karena Jidan bukanlah pria yang tak bertanggungjawab. Ia mengetuk kamar itu. Hampir 15 menit Jidan menunggu dan akhirnya pintu terbuka.
Jidan tersenyum saat melihat Ae-Ri di depannya. "Selamat pagi, apa aku mengganggumu?" sapanya.
Ae-Ri menggeleng. "Selamat pagi pak Ji maksudku Ji. Maaf tadi aku masih di kamar mandi, adikku masih tertidur. Aku pikir ada pelayanan hotel." jawabnya.
"Apa kita bisa bicara sambil sarapan?" tanya Jidan.
Ae-Ri melihat adiknya. "Tunggu sebentar Ji." ujarnya.
Selama sarapan, Jidan terus menatap Ae-Ri. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan semalam bersama wanita itu.
"Ae-Ri, apa aku melakukan kesalahan semalam?" tanya Jidan.
Ae-Ri menggeleng. "Tidak ada Ji, apa maksudmu?"
"Ae-Ri jawablah dengan jujur, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku semalam melakukan hubungan **** denganmu kan, aku ingat kau mengantarku kembali ke kamarku." ujar Jidan.
Ae-Ri terkejut, wajahnya berubah merah karena malu. Ia seraya menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tak melihat anda setelah tengah malam Ji, aku hanya mengantarkan pak Jo ke kamarnya. Aku tak mengantarmu." jawabnya.
"Benarkah? Kau yakin tidak bersamaku semalam?" tanya Jidan tak percaya.
"Demi Tuhan, aku sama sekali tak melihatmu." kata Ae-Ri.
Jidan menghela nafas dengan lega. "Maaf aku tak sopan, aku pikir aku melakukan kesalahan semalam. Aku hanya mengingat wajahmu saja karena aku yakin ada wanita yang membawaku semalam ke kamarku. Jika bukan kau, lalu siapa?" tanyanya.
Ae-Ri tersenyum. "Jadi ini yang ingin anda bicarakan pagi pagi denganku. Aku tak melihat siapa yang membawa anda Ji, tapi karyawan SinMart sangat banyak semalam. Aku pikir mungkin salah satu diantara mereka." jawabnya.
__ADS_1
"Aku berharap tak melakukan kebodohan apapun karena aku sama sekali tak mengingatnya, itulah kelemahanku saat mabuk. Terima kasih kau mau menemaniku sarapan Ae-Ri." ujar Jidan.
"Sama sama Ji, aku akan kembali ke rumah nanti siang. Adikku sepertinya sangat mabuk." ujar Ae-Ri.
"Adikmu sangat cantik, aku berharap ia secerdas dirimu saat mengangani pekerjaan." kata Jidan.
"Aku akan membuat adikku membantu SinMart kedua sebisa mungkin Ji, ia juga sangat cerdas." jawab Ae-Ri.
Jidan mengangguk, keduanya menyelesaikan sarapan mereka lalu kembali ke kamar hotel masing-masing.
*****
Aerum membersihkan tubuhnya sambil menangis, ia benar benar takut membuat kakak dan keluarganya malu. Ia melakukan kesalahan di saat mabuk. Ia tak mungkin meminta pertanggungjawaban atasannya atas kesalahan itu. Mereka melakukannya karena dibawah pengaruh alkohol, dan ia juga yakin Jidan Sin pasti tak mengingatnya.
Ia berharap Tuhan tak menghukumnya dengan kehamilan, ia hanya sekali melakukan itu. Kemungkinan untuk hamil tentu saja hanya dibawah 50% pikir Aerum.
"Aerum...apa kau di kamar mandi?" tanya Ae-Ri.
"Iya eonni, siapa lagi selain aku." jawab Aerum.
"Cepatlah lalu sarapan, aku sudah memesan room service. Aku sudah sarapan bersama pak Ji tadi." ujar Ae-Ri.
Jantung Aerum berdetak lebih cepat saat mendengar nama itu. Ia keluar dari kamar mandinya.
"Apa pak Ji tadi kemari?" tanya Aerum.
Ae-Ri mengangguk.
"Apa yang ia katakan?" tanya Aerum lagi.
Ae-Ri menyipitkan matanya. "Mengapa kau ingin tahu? Apa kau menyukai pak Ji?" tanyanya.
Aerum seketika menggeleng. "Aku lapar." ujarnya mengalihkan pembicaraan.
"Aku semalam mengantarkan pak Jo ke kamarnya, dan kau tahu pria itu sangat menyukaimu. Ia bilang kau cantik dan seksi." goda Ae-Ri.
"Hentikan eonni, kau tidak boleh percaya dengan ucapan pria mabuk." jawab Aerum.
Ae-Ri hanya tertawa dan membiarkan adiknya menikmati sarapan pagi.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘