Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)

Cinta Segitiga SIN (Diakah Jodohku 2)
Kekecewaan Jordan


__ADS_3

Jidan menghampiri adiknya yang menunggunya di ruang santai. Jidan menatap wajah Jordan, ia sangat ragu mengatakannya. Sedangkan Jordan masih sibuk dengan chanel televisinya, ia terus mengganti saluran tersebut.


"Jo..." panggil Ji ragu.


Jordan menatap kakaknya. "Kau sangat aneh kak." jawabnya.


"Aku bingung harus memulainya darimana Jo, tapi aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ini menyangkut kehormatan keluarga kita dan juga wanita itu." kata Jidan.


"Wanita itu? Kehormatan keluarga kita? Apa sih yang mau kau bicarakan kak?" tanya Jordan.


"Mengapa kau menyuruh Aerum mengantarkan aku ke kamar hotel saat aku mabuk, bukankah kau menyukainya." bentak Jidan.


Jordan menyipitkan matanya. "Mengapa kau malah marah padaku, saat itu aku hanya ingin menikmati pesta dan yang ada didekatku hanya Aerum, jadi aku memintanya saja mengantarkanmu. Apa yang salah?" tanyanya.


"Kau membuatku menodai wanita itu Jo." jawab Jidan menyesal.


Jordan terbelalak, ia menjatuhkan remote televisi ke lantai. "Aaapaa... maksudmu? Apa yang kau lakukan?" kata Jordan tak percaya.


"Aku benar benar menodainya saat aku mabuk, dan bodohnya... aku tak mengingat apapun dan juga Aerum tak mau mengakuinya. Tapi aku yakin melakukannya." jawab Jidan.


Jordan menarik kerah kakaknya, wajahnya memanas. "Kau lagi lagi mengambil wanita yang aku sukai, apa kau adalah kakakku." geram Jordan.


"Pukul lah aku jika kau bisa puas, tapi aku tak sengaja melakukannya Jo. Maaf..." ujar Jidan.


Jordan menarik kakaknya berdiri lalu melayangkan tinjunya dengan keras ke wajah Jidan hingga pria itu jatuh tersungkur. Jordan tertawa dengan keras tapi air matanya tiba-tiba tumpah.


"Kau...kau..." Jordan tak bisa meneruskan kata-katanya, ia justru mengambil barang-barang yang di dekatnya dan melemparkannya dengan keras ke lantai.


Jidan tak bisa menatap wajah adiknya yang penuh kemarahan itu. Ia hanya bisa menunduk merasakan sakit akibat pukulan adiknya.


Farea, Mola, dan Maria menghampiri keributan itu. Mereka terkejut melihat semuanya berantakan. Tapi tak ada satupun yang berani bertanya, Maria segera berlari menghubungi Kalfi.


Jordan kembali tertawa dengan keras. "Aku adikmu yang harus mengalah soal cinta, aku sudah merelakan Ae-Ri untukmu setelah aku bahagia bertemu Aerum. Tapi kau hancurkan kebahagiaanku itu dan kembali mengambil wanita yang aku sukai. Lalu apakah aku harus menganggapmu sebagai kakakku?" teriaknya.


Jidan bangun perlahan. "Maaf, aku benar benar minta maaf Jo. Ini semua di luar kendaliku, aku tak bisa mengatakan alasan lebih dari ini. Tapi aku harus bertanggungjawab atas Aerum." ujarnya.


Jordan kembali mendekati kakaknya dan memukulnya berkali kali. Jidan sama sekali tak melawan, hingga para pelayannya berteriak agar mereka berhenti. Ketiga pelayan itu melerai perkelahian mereka.


"Tuan Jo... Farea mohon berhentilah, ia kakak anda."


"Tuan Jo... tenanglah..." sambung Maria.

__ADS_1


Jordan melepaskan pegangan mereka. "Dasar pria brengsek..." bentaknya seraya pergi meninggalkan mereka semua.


"Jo... kembalilah..." teriak Jidan namun Jordan tak mau mendengarkan. Jordan pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya.


Pelayan mereka membangunkan Jidan dan mulai membereskan semua yang berantakan, sedangkan Mola berusaha mengobati luka di wajah Jidan.


Pintu kembali terbuka dengan keras, kali ini Kalfi datang dengan tergesa-gesa.


"Ya Tuhan..." ujarnya saat melihat semuanya berantakan dan juga wajah Jidan yang terluka. "Apa yang terjadi Ji, apa yang kalian lakukan kali ini?" tanyanya.


Jidan menundukkan kepalanya, air matanya mengalir saat mengingat kemarahan adiknya.


"Tenanglah Ji..." ujar Kalfi lagi.


"Tolong kak, bawa kembali Jordan pulang. Ia mengendarai mobilnya dalam keadaan marah." pinta Jidan.


"Kemana ia pergi?" tanya Kalfi.


Jidan dan yang lainnya menggeleng.


"Baiklah, aku akan mencari Jordan terlebih dahulu. Tolong kalian urus Jidan, aku akan segera kembali setelah menemukan Jordan." ujar Kalfi seraya meninggalkan mereka.


*****


Suara ponselnya terus berdering, ia sama sekali tak menghiraukan panggilan itu, setelah ia puas berteriak. Ia mengendarai mobilnya lagi menuju bar langganannya. Hari masih sore tapi ia minum begitu banyak sampai mabuk.


"Pak Jo, anda harus berhenti minum." ujar pelayan bar.


Jordan menggeleng. "Aku belum mabuk George." jawabnya.


"Aku mohon berhentilah, anda sudah sangat banyak minum." pinta George lagi.


"Aku bilang tidak, jangan melarangku." bentak Jordan.


George menggelengkan kepalanya, ia harus menghubungi saudara kembarnya. Tapi Jordan tahu apa yang akan pria itu lakukan.


"Jangan coba coba hubungi Jidan, aku akan membunuhmu." ancam Jordan. "Pria itu bukan kakakku lagi." sambungnya.


George terkejut mendengar kata-kata Jordan. "Bodoh, masih kekanak-kanakan... Berkelahi dan minum, selalu seperti ini." pikir George.


Suara ponsel Jordan kembali berdering, George melihat ponsel pria itu dan terlihat nama kak Kalfi disana. Perlahan George mengambil ponsel Jordan, syukurlah Jordan tak menyadarinya.

__ADS_1


"Halo Jo, kau dimana? Katakan padaku." ujar Kalfi.


"Halo pak, aku tak tahu anda siapa. Tapi pak Jo sangat mabuk berat disini. Ia tak mau berhenti minum, aku pelayan bar." ujar George.


"Terima kasih, aku akan segera kesana." jawab Kalfi seraya menutup ponselnya.


George akhirnya bisa bernafas lega, ia yakin pria yang menghubunginya adalah keluarga Jordan juga. Ia meletakkan kembali ponsel Jordan disamping pria itu.


Setengah jam kemudian, seorang pria masuk mencari Jordan.


"Maaf, aku Kalfi yang menghubungi tadi. Aku kakak sepupunya. Aku akan membawa Jordan pulang sekarang." ujar Kalfi.


George mengangguk. "Terima kasih anda mau datang pak, aku bingung harus bagaimana menghadapinya."


"Terima kasih." ujar Kalfi seraya membawa Jordan keluar dari bar.


Kalfi mendudukkan Jordan ke mobilnya. Suara ponsel Kalfi berdering.


"Kak...Apa sudah ketemu?" tanya Jidan.


"Sudah Ji, aku akan membawanya pulang. Kau hubungi supir untuk mengambil mobil Jordan." pinta Kalfi.


"Baik kak dan hati hati..." jawab Jidan.


Kalfi menutup ponselnya dan segera membawa Jordan kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Kalfi terus menatap Jordan dari kaca.


"Aku belum tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi kau terlihat sangat kacau Jo." gumam Kalfi.


"Dasar brengsek, tak punya hati...Aku benci padamu kak Ji... Lagi lagi aku harus mengalah, mengapa aku yang harus menjadi kedua..." teriak Jordan meracau.


"Tenanglah Jo, kita akan menyelesaikan masalah ini bersama." ujar Kalfi.


Kalfi menatap air mata Jordan yang terus mengalir.


"Apa yang dilakukan Jidan kali ini, sampai menyakitimu Jo. Kau menangis disaat kau mabuk, aku baru melihatmu terpukul seperti ini." gumam Kalfi lagi.


Mereka akhirnya sampai, Jidan langsung menghampiri mereka untuk membantu adiknya.


Kalfi menggeleng. "Biarkan aku yang membawanya ke kamar, kau tunggulah di ruang santai. Kita perlu bicara." ujarnya.


Jidan mengangguk, ia memanggil pelayan untuk membantu Kalfi membawa Jordan ke kamarnya. Sedangkan Jidan menunggu di ruang santai, lagi lagi ia harus menjelaskan semuanya. Dan ia semakin takut menghadapi kenyataan ini.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...😘


__ADS_2