
Sherly sangat asyik bermain dengan cucunya sampai ia lupa jika semakin siang. Sedangkan Tora juga sedang berbicara pada Jenny.
"Maaf nyonya besar, ini sudah pukul 10. Apakah anda jadi memasak untuk tuan JiJo?" tanya Farea.
"Oh ya ampun, waktu cepat sekali berlalu. Tentu saja aku akan memasak makanan kesukaan mereka." jawab Sherly.
"Aku akan membantu tante." ujar Jenny.
"Ayo..." ajak Sherly. "Pi bawa Kevin kedalam, kami akan memasak." sambungnya.
"Kalian masuklah terlebih dahulu, nanti kami akan menyusul." jawab Tora.
"Benar, aku masih ingin bermain di taman bersama kakek." jawab Kevin.
"Baiklah, ayo Jen..." ajak Sherly lagi seraya melangkah kedalam menuju dapur.
Sherly dan Jenny terus sibuk memasak makan siang untuk si kembar. Tentu saja makanan yang Sherly buat semua adalah makanan khas Indonesia.
"Apa yang ingin kau makan Jen?" tanya Sherly.
"Tidak perlu tante, kita masak buat si kembar saja, aku akan memakan yang mereka makan." jawab Jenny.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan Kevin?" tanya Sherly.
"Ia juga pasti senang dengan makanan yang oma nya masak. Ia juga sangat suka makanan pedas seperti Jo." jawab Jenny.
"Aku dengar Kevin semakin dekat dengan Jo daripada Ji." ujar Sherly.
Jenny mengangguk. "Kevin bilang oppa Jo lebih seru saat diajak bermain." ujarnya seraya tertawa.
Sherly ikut tertawa. "Itulah mengapa Jo masih kekanak-kanakan. Ji seperti aku, sulit untuk bercanda sedangkan Jo seperti ayahnya. Walau seorang komandan tapi om mu sangat lucu jika bersama sahabat sahabatnya. Aku jadi merindukan kedua sahabat Tora. Sayang sekali Tuhan lebih menyayangi keduanya." ujar Sherly.
"Tuhan memberkati keduanya." kata Jenny
"Saat itu aku masih ingat seperti apa suamiku saat kehilangan sahabatnya satu persatu. Aku hampir tak bisa membuatnya tersenyum." ujar Sherly mengingat masa itu.
"Sangat berat kehilangan orang yang paling dekat dengan kita tante. Apalagi sahabat seperjuangan seperti om Tora dan keduanya." ujar Jenny.
"Kau benar, aku juga sangat merindukan sahabatku Mega. Sayang sekali ia berada di Kalimantan sekarang, sangat jauh dari Lampung." kata Sherly.
Jenny tertawa. "Jauh mana dengan Amerika tante." godanya.
Sherly ikut tertawa. "Kau benar tentu saja jauh kemari." jawabnya.
Keduanya terus memasak sambil tertawa dan berbincang bincang.
*****
Jidan sudah menyelesaikan meetingnya. Ia harus segera ke rumah sakit menjemput Ae-Ri dan ibunya.
"Aurel, aku ada perlu keluar sampai waktu makan siang." ujar Jidan.
"Baik pak." jawab Aurel.
"Oh iya jika pak Kalfi bertanya, katakan padanya aku ke rumah sakit Santa Claus." sambung Jidan.
Aurel mengangguk. Jidan meninggalkan kantornya menuju kantor Jordan.
"Marie, apakah pak Jo sibuk?" tanya Jidan.
Marie terbelalak. "Maaf pak, aku tak melihat anda datang. Pak Jo sedang mengurus dokumen yang tertunda kemarin. Silahkan anda masuk." jawabnya.
__ADS_1
Jidan mengangguk lalu meninggalkan Marie menuju ruangan Jordan. Jidan mengetuk pintunya.
"Masuk." ujar Jordan.
Jidan masuk kedalam. "Apakah kau sangat sibuk?" tanyanya.
Jordan menatap kakaknya. "Ada apa kau kemari?" tanya Jordan balik.
"Jo, hari ini Ae-Ri keluar dari rumah sakit. Ia menghubungiku untuk menjemputnya pulang. Apakah kau ingin ikut sekalian kita kembali ke rumah?" tanya Jidan.
"Wah sejak kapan seorang Presdir menjemput general manager." jawab Jordan.
"Jangan banyak tanya dan berdebat denganku Jo, aku juga tak tahu mengapa Ae-Ri menghubungiku." jawab Jidan.
"Tentu saja karena ia mulai dekat denganmu." kata Jordan datar.
"Jangan mengulur waktu Jo, kita akan makan siang di rumah. Kita akan mengantar Ae-Ri lalu segera kembali ke rumah. Aku tak mungkin kembali ke perusahaan untuk menjemputmu. Kita bisa terlambat pulang dan mengecewakan mami." ujar Jidan mulai kesal.
"Baiklah, kau pergi saja. Aku masih banyak pekerjaan. Kau tak perlu menjemputku, aku bisa pulang naik taksi atau mobil kantor bersama supir." jawab Jordan.
"Jangan salahkan aku, aku sudah mengajakmu." ujar Jidan seraya meninggalkan adiknya dengan marah.
Jordan hanya melihat kakaknya yang keluar dengan kemarahan. Ia tak mau ikut menjemput Ae-Ri, karena wanita itu hanya menginginkan Jidan.
*****
Jidan sampai di rumah sakit, tapi ternyata Ae-Ri dan ibunya sudah menunggunya di lobi.
"Halo selamat siang, kenapa kalian sudah ada disini?" sapa Jidan.
"Selamat siang nak Ji, maaf kami merepotkan anda." jawab Warres.
"Selamat siang pak Ji." jawab Ae-Ri.
Ketiganya menuju mobil dan kembali ke rumah Ae-Ri. Tak ada satu pun yang berbicara di dalam mobil sampai mereka sampai di dekat rumahnya.
"Maaf aku tak bisa mengantar kalian masuk ke rumah, aku terburu buru kembali ke rumah karena orang tuaku baru datang dari Indonesia." ujar Jidan.
"Maaf telah merepotkan anda pak, jika anda banyak urusan seharusnya anda mengatakannya. Kami bisa naik taksi." ujar Ae-Ri.
"Tak apa apa Ae-Ri, kau masih tanggungjawab SinMart. Kau beristirahat yang cukup agar bisa segera kembali bekerja. Nyonya Warres, aku pamit sekarang ya." kata Jidan.
"Sebenarnya aku ingin sekali mengajak anda makan siang." jawab Warres.
"Mungkin lain kali." jawab Jidan.
"Baiklah anda hati hati nak Ji." ujar Warres.
Jidan tersenyum lalu memutar mobilnya dan kembali ke rumahnya yang lumayan jauh dari rumah Ae-Ri.
*****
"Kau kenapa Ri?" tanya Warres setelah mereka sampai di dalam rumah.
"Aku seperti mengerjai atasanku sendiri, tapi pak Kalfi bilang aku harus menghubungi pak Ji jika aku akan keluar dari rumah sakit, ia akan marah jika tidak diberi kabar. Tapi saat ia mengantar kita pulang tadi sepertinya ia hanya terpaksa meluangkan waktunya untukku karena merasa tak enak aku hubungi." jawab Ae-Ri.
"Kau berlebihan nak, atasanmu itu bertanggungjawab dengan karyawannya. Ia hanya tak ingin terlambat makan siang bersama orang tuanya yang baru datang." ujar Warres.
"Mungkin saja, tapi siapalah aku sampai sampai menyuruh seorang presdir menjemputku." kata Ae-Ri.
Warres tersenyum. "Beristirahatlah nak, mami yakin nak Ji tidak keberatan."
__ADS_1
Ae-Ri mengangguk lalu kembali ke kamarnya.
"Mami akan membawakan makanan ke dalam kamar, kau tak perlu ke ruang makan." teriak Warres.
"Terima kasih mi." jawab Ae-Ri ikut berteriak.
Warres mulai memasak, pelayannya masih juga belum kembali ke rumahnya. Walaupun Warres terlihat semakin renta, tapi soal masak memasak itu memang sudah menjadi kebiasaannya walaupun pelayannya ada. Ia lebih suka memasak makanan sendiri untuk putri angkatnya.
"Kau gila..." teriak Ae-Ri dikamarnya dengan tiba-tiba.
Warres segera menghambur ke kamarnya setelah mendengarnya berteriak.
"Ada apa Ri? tanya Warres.
"Maaf mengejutkan mami, ini Aerum." jawab Ae-Ri sambil menunjukkan ponselnya.
"Ada apa dengan Aerum?" tanya Warres lagi.
"Anak nakal ini putus kuliah." jawab Ae-Ri.
"Ada apa Aerum, mengapa kau tak melanjutkan kuliahmu?" tanya Warres.
"Aku ingin ke Amerika sekarang juga." jawab Aerum seraya menangis.
"Apa yang terjadi? Apa ayah dan ibumu menyakitimu?" tanya Warres lagi.
Aerum menggeleng.
"Si bodoh itu hanya putus cinta." kata Ae-Ri kesal. "Aku sudah bilang padamu jangan berpacaran sampai kau lulus kuliah." sambungnya.
"Aku tak mau sepertimu eonni." jawab Aerum mengejeknya.
Warres akhirnya tertawa. "Ya Tuhan aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu, lalu bagaimana dengan ayah dan ibumu nak?"
"Aku ingin pergi sekarang, aku tak perduli apa kata mereka." jawab Aerum.
"Tidak, kau harus memiliki sertifikat kelulusan jika ingin ke Amerika. Kau butuh pekerjaan disini." kata Ae-Ri.
"Aku bisa bekerja apa saja, asal aku segera pergi dari sini. Pria itu terus membuatku kesal, ia selalu memamerkan wanita barunya di depanku." kata Aerum kembali menangis.
"Kau itu cantik Aerum, kau bisa mendapatkan pengganti pria itu. Selesaikan pendidikanmu, hanya tinggal 6 bulan. Jangan mengecewakan ayahmu." ujar Warres.
"Mami tak mau membantuku?" tanya Aerum.
"Tidak untuk perbuatan seperti ini." jawab Warres datar.
"Aku tidak akan menjemputmu sebelum kau lulus kuliah." ancam Ae-Ri.
"Aku bisa ke Amerika sendiri." jawab Aerum.
"Aku akan menendang bokongmu jika kau berani melakukan itu." ancam Ae-Ri.
"Kau jahat eonni." jawab Aerum seraya mematikan ponselnya.
Ae-Ri hanya menghela nafasnya.
"Ya Tuhan, masakanku gosong." ujar Warres seraya keluar dari kamar Ae-Ri.
Ae-Ri hanya tertawa melihat ibu angkatnya.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘