
Malam semakin larut, Jidan Sin kembali mengingat kejadian malam itu. Kesalahannya tak bisa dimaafkan, tapi ia juga tak bisa memaksa Aerum untuk menikah dengannya. Terlebih lagi, adiknya menyukai wanita itu dan mau menerima apa yang telah terjadi.
Jidan menatap nomor ponsel Ae-Ri, sudah sangat lama mereka tak saling berhubungan. Ia merindukan wanita itu, tapi ia sangat takut ditolak karena apa yang telah ia perbuat pada adiknya. Jidan menatap atap kamarnya sambil berpikir, ia harus berani menghubungi Ae-Ri dan meminta maaf.
Jidan menekan nomor itu, ia menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap wanita itu mau mengangkat ponselnya. Tak terduga, Ae-Ri benar benar mengangkatnya.
"Halo...ada apa pak Ji?" tanya Ae-Ri.
Suara wanita itu hampir membuat jantungnya copot. "Eh...apa aku mengganggumu?" tanya Jidan.
"Tidak,,, aku baru saja ingin tidur." jawab Ae-Ri.
"Apa kau mau memaafkan aku?" tanya Jidan ragu.
"Jika soal adikku, aku tak punya hak untuk marah. Selesaikanlah masalah kalian." jawab Ae-Ri.
"Ae-Ri... aku... aku..."
"Sudah malam pak Ji, sebaiknya anda istirahat." potong Ae-Ri.
"Tunggu... Maaf... seharusnya kita bertemu langsung. Tapi aku pasti tak bisa berbicara jika melihat wajahmu. Aku mohon dengarkan aku kali ini. Ae-Ri... aku minta maaf soal adikmu, tapi demi Tuhan malam itu aku tak mengingat apapun, aku hanya melihat wajahmu pada adikmu. Aku..." ujar Jidan berhenti.
"Jadi, jika aku pun yang bersamamu malam itu, kau akan melakukan hal yang sama. Aku bukan wanita seperti itu." kata Ae-Ri.
"Ya Tuhan, bukan itu maksudku. Aku... bukannya aku tak mau bertanggungjawab pada adikmu, tapi ia terus menolaknya. Dan adikku sangat mencintai adikmu, aku akan menyerah soal ini. Jadi, Ae-Ri..." kata Jidan ragu lagi.
"Sebenarnya apapun yang ingin anda sampaikan pak Ji, aku sudah tidak perduli lagi." ujar Ae-Ri.
"Tunggu Ae-Ri, apa kau tidak perduli jika aku bilang aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." ujar Jidan memberanikan diri, ia menatap ponselnya ternyata ponsel itu sudah mati.
Jidan mengumpat lalu melempar ponselnya ke dinding membuat keributan di kamarnya sendiri.
"Kau berisik sekali..." teriak Jordan.
"Tutup telingamu jika tidak ingin mendengar." jawab Jidan kesal.
"Dasar pria gila..." kata Jordan.
__ADS_1
Jidan kembali mengumpat, ia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semua itu pada Ae-Ri tapi ternyata ponselnya sudah mati. Dan ia harus berusaha lagi mengatakannya pada wanita itu. Jidan tak ingin menyerah begitu saja, ia akan berusaha meyakinkan wanita itu. Jidan menarik selimutnya dan berusaha memejamkan matanya.
*****
Di lain sisi, Ae-Ri tak bisa tidur setelah mendengar dari Jidan kalau adiknya Mencintai Aerum. Artinya mereka saling mencintai, tapi semudah itu bagi Jidan Sin melupakan malam mereka, bahkan Jidan mengatakan menyerah atas Aerum.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan pada pria yang meniduri adikku. Mengapa baginya malam itu tak ada artinya, bukankah awalnya ia terus ingin menikahi Aerum. Tapi mengapa sekarang semudah itu ia menyerah. Apakah tinggal lama di Amerika membuat mereka bebas melakukan apapun pada wanita. Aku membenci Jidan Sin, aku yakin membencinya. gumam Ae-Ri.
Tapi setelah mengatakan hal itu, ada kesedihan dalam hatinya.
Sadarlah Ae-Ri, pria itu meniduri adikmu. Berhentilah menyukainya. Berhentilah mencintai pria itu. gumam Ae-Ri lagi.
Ae-Ri membalikkan tubuhnya lagi, ia terus membuat selimut dan seprainya berantakan. Sampai akhirnya pagi pun menjelang tapi ia sama sekali tidak bisa tidur, ia bangun dan masuk ke kamar mandinya lalu segera turun.
*****
Warres terkejut saat melihat wajah putrinya. "Ya Tuhan, kau seperti mumi sayang. Apa kau tidak tidur?" tanyanya.
Ae-Ri menggeleng lalu merebahkan kepalanya di pundak ibu angkatnya. Warres mengelus kepala Ae-Ri.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Warres.
"Itu bagus, lalu..."
"Ia mengatakan kalau pak Jo menyukai Aerum, jadi ia menyerah untuk menikahinya." sambung Ae-Ri.
Warres tersenyum senang, tinggal satu langkah lagi untuk meyakinkan putrinya.
"Apa yang kau katakan pada pak Ji?" tanya Warres lagi.
"Aku bilang tidak perduli." jawab Ae-Ri.
"Dan jawaban keras kepala itu membuatmu tak bisa tidur kan?" goda Warres.
"Mami... bukan itu." ujar Ae-Ri.
Warres tertawa. "Baiklah, mami harap seorang Ae-Ri akan terus tidak perduli pada cintanya itu." ejeknya.
__ADS_1
Ae-Ri menekuk wajahnya. "Aku lapar..."
"Ayo sarapan dan tunggu adikmu turun." ajak Warres.
Ae-Ri mengangguk dan mengikuti ibu angkatnya ke ruang makan. Tapi ternyata sejak tadi, Aerum sudah mendengar pembicaraan mereka. Aerum semakin merasa bersalah atas perbuatannya, walaupun akhirnya Jidan menyerah tentangnya. Tapi ia juga senang bahwa Jordan ternyata menyukainya, ciuman mereka awal mula perasaan itu.
Aerum ikut bergabung ke ruang makan. "Selamat pagi..." sapanya.
"Selamat pagi sayang." jawab Warres.
"Pagi..." ujar Ae-Ri datar.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Warres.
"Lebih baik mi, terima kasih. Aku hari ini akan ke perusahaan SinMart untuk mengajukan surat pengunduran diri." ujar Aerum.
Mereka terkejut apalagi Ae-Ri. "Apa maksudmu?" tanya Ae-Ri.
"Aku ingin berhenti dan kembali ke Korea, aku lebih nyaman disana." jawab Aerum.
"Tidak..." bentak Ae-Ri. "Jika kau ingin keluar dari SinMart aku tak bisa melarangmu, tapi aku tak akan mengizinkanmu kembali ke Korea." ujarnya.
"Tetaplah disini nak, kami senang kau berada bersama kami." pinta Warres.
"Maafkan aku mami, eonni... Aku sudah memikirkannya semalam. Lebih baik aku tak mengganggu kalian disini. Sejak kedatanganku, kebahagiaan eonni terusik karena ulahku." jawab Aerum.
Ae-Ri membanting sendoknya, ia berdiri dan berkacak pinggang. "Aku bilang tidak ya tidak, jika ini masalah perasaanku kau tak perlu khawatir, aku baik baik saja. Tetaplah disini, dan lakukan yang ingin kau lakukan bersama Jordan Sin. Urusan perasaanku bukan urusanmu. Jika kau masih keras kepala untuk kembali ke Korea, maka jangan pernah menganggapku eonni mu lagi." bentak Ae-Ri seraya meninggalkan mereka.
Warres menghela nafasnya. "Mengapa kau buat kakakmu kembali marah Aerum? Mengapa kau memutuskan semuanya sendiri?" tanyanya.
Aerum menundukkan kepalanya. "Maaf..." ujarnya.
"Lanjutkan sarapanmu, kakakmu marah karena takut kehilanganmu. Jangan pernah berpikir untuk kembali. Dan kejarlah yang akan membuatmu bahagia sayang, mami yakin kakakmu sedang meyakinkan hatinya untuk kembali pada Jidan." ujar Warres.
Aerum mengangguk, ia pikir keputusannya akan membuat semua orang bahagia tapi justru membuat kakaknya kembali marah padanya. Ia segera menyelesaikan sarapannya, dan akan ke perusahaan SinMart. Keluar dari perusahaan itu adalah hal pertama yang harus ia lakukan. Ia sudah tidak memiliki wajah lagi untuk kembali ke SinMart kedua.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...😘