
Setelah kedua orang tua si kembar membersihkan diri, keduanya keluar kamar menuju ruang makan dimana si kembar sudah menunggu mereka. Sherly menatap kedua putranya yang semakin besar, air matanya kembali mengalir. Seketika Jidan dan Jordan kembali memeluknya.
"Ya Tuhan, hentikan suasana ini. Kalian membuat acara makan malam kita berubah menjadi kesedihan." ujar Tora.
"Kau tak mengerti perasaan seorang ibu pak komandan. Aku sangat merindukan keduanya." jawab Sherly.
"Baiklah, aku menyerah. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan, tapi jangan biarkan aku menunggu lagi. Aku benar benar lapar." ujar Tora lagi.
Si kembar tertawa. "Mami ayo kita makan." ajak Jidan.
Sherly mengangguk lalu duduk, ia masih menyeka air matanya yang entah mengapa masih tak mau berhenti. Tora menyentuh pipi istrinya lalu menggelengkan kepalanya.
"Hentikan sayang, kau bisa membuat si kembar menangis sepanjang malam." ujar Tora.
Sherly menatap kedua putranya. "Maafkan mami."
Si kembar menggeleng, Jidan mulai mengambil nasi untuk ibu dan ayahnya, sedangkan Jordan memberikan lauknya. Mereka akhirnya menikmati makan malam dengan perasaan yang bahagia.
"Apa selama 2 tahun ini kalian makan dengan baik?" tanya Sherly.
Keduanya mengangguk.
"Tapi mengapa kalian semakin kurus?" tanya Tora.
"Tapi kami semakin tinggi." jawab Jidan.
"Kakak benar, kami semakin tinggi." ujar Jordan.
"Kalian bisa saja menjawab, makanlah dengan baik selama kami disini." ujar Sherly.
"Pasti mi." jawab keduanya.
"Pantas saja ponsel kalian tak bisa dihubungi, ternyata kalian berada dalam pesawat. Jangan pernah lakukan hal ini lagi, kami hampir gila." ujar Jidan.
"Apa kalian sangat menyayangi kami?" tanya Sherly.
"Tentu saja." jawab keduanya.
Tora dan Sherly tertawa. "Kalian masih saja manja, padahal kalian berdua sudah mandiri sejak umur kalian baru 10 tahun. Dan kami dengar kalian sudah menyukai wanita." ujar Tora.
"Apa hubungannya kami mandiri dengan kerinduan pada kami pada kalian, dan siapa bilang kami sudah menyukai wanita." jawab Jordan.
"Kalian tak bisa berbohong, kalian tak boleh mencintai wanita yang sama. Mami akan mengawasi kalian berdua." ujar Sherly.
"Sekarang aku tahu, jadi kalian kemari karena takut kami mencintai wanita yang sama kan." kata Jidan.
Tora dan Sherly saling berpandangan lalu keduanya mengangguk.
"Aku pikir kalian merindukan kami." kata Jordan.
__ADS_1
Tora dan Sherly tertawa. "Tentu saja sayang, kami merindukan kalian." ujar Sherly. "Jangan berpikir macam-macam." sambungnya.
Keempatnya menyelesaikan makan malam mereka lalu menuju ruang santai. Seperti biasa Jordan terus menempel pada ibunya.
"Sungguh memalukan seorang CEO sepertimu." ejek Jidan.
"Diamlah, kau hanya iri padaku." jawab Jordan.
"Ya ampun, bagaimana dengan papi jika kau terus menempel seperti itu." goda Tora.
"Papi sudah puas bersama mami tanpa ada yang mengganggu, jadi biarkan giliran aku sekarang." kata Jordan.
"Papi tidak pernah puas, jadi jangan mengambil alih posisi papi." jawab Tora.
"Oh ayolah, biarkan putraku melepaskan rindunya." ujar Sherly.
Jordan menjulurkan lidahnya seperti anak-anak membuat semuanya tertawa. Sherly menyuruh Jidan duduk disisi sebelahnya. Jidan mengikutinya dan ikut merebahkan kepalanya di pundak ibunya.
Tora menghela nafasnya merasa tersingkir. "Lalu aku dimana?" tanyanya.
"Pak komandan anda lebih baik masuk kamar dan tidur." jawab Sherly.
Jidan dan Jordan tertawa mendengarnya. Tora pura pura menekuk wajahnya. Mereka melepaskan kerinduan sepanjang malam di ruang santai.
*****
Pria itu mulai mengawasi pekerjaan di dalam gudang, walaupun satu hari ini tak ada yang mencurigakan. Tapi Marcell yakin tak perlu menunggu waktu lama untuk membongkar kejahatan mereka.
"Apa yang kau lamunkan nak?" tanya Roger.
"Papa mengapa belum tidur?" tanya Marcell.
"Aku melihat lampu ruang kerjamu masih menyala, apa yang kau pikirkan nak?" tanya Roger lagi.
"Aku hanya takut mengecewakan om Sin untuk menjaga SinMart dan si kembar." jawab Marcell.
Roger menepuk pundak Marcell. "Papa yakin kau bisa mengatasinya, kau sudah berada di SinMart selama 9 tahun. Dan menyelidiki kejahatan VilMart walaupun tidak mudah tapi papa yakin kau mampu." ujarnya.
Marcell mengangguk. "Papa beristirahatlah, aku akan mempercepat mencari buktinya agar papa tak perlu lagi datang ke SinMart utama."
"Kau juga beristirahat Marcell, masih ada hari esok untuk menyelidikinya. Dan jangan mengkhawatirkan papa, papa tidak bekerja hanya berkeliling. Pak Kalfi selalu standby disana." jawab Roger.
Marcell mengangguk, Roger meninggalkannya di ruang kerjanya. Marcell menatap atap rumahnya. Ayahnya memang benar, tak ada yang tak bisa diselesaikannya selama 9 tahun ini. Ia yakin kali ini pun bisa mengatasinya. Marcell beranjak dari duduknya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
******
"Bangunlah, kalian harus kembali ke kamar." ujar Tora membangunkan si kembar yang tertidur di pundak ibunya.
Keduanya mengerjapkan matanya. "Ya ampun maaf mi, kami ketiduran." ujar Jidan dan Jordan.
__ADS_1
Sherly meregangkan tangannya yang hampir mati rasa karena kepala si kembar lalu tersenyum. "Ayo kembali ke kamar, bukankah kalian harus bekerja besok." ujar Sherly.
Jidan mengangguk sedangkan Jordan justru menggeleng. Tora dan Sherly menatap Jordan.
"Aku ambil cuti 3 hari, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mami dan papi." ujar Jordan.
Jidan terbelalak. "Tidak aku izinkan." ujarnya.
"Aku tak butuh persetujuan anda pak Ji." kata Jordan.
"Aku atasanmu, tentu saja harus persetujuanku." jawab Jidan.
"Aku memiliki saham yang sama denganmu." jawab Jordan.
Keduanya tanpa sadar berdebat di depan orang tuanya. Sherly bangun dan berkacak pinggang. "Jadi seperti ini yang kalian lakukan." ujarnya.
Menyadari kesalahannya, keduanya seketika terdiam. Tora hanya menatap kedua putranya dengan heran.
"Mengapa kalian semakin dewasa semakin seperti anak-anak?" tanya Tora. "Sudah jangan berdebat lagi, malam semakin larut kalian kembalilah tidur." perintah Tora.
"Dan kau Jo, besok masuklah bekerja. Mami akan menunggu kalian saat makan siang, kalian bisa kembali ke rumah." perintah Sherly.
Jidan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Jordan menekuk wajahnya kesal.
"Mami tak membela siapapun disini, tapi mami mungkin akan lama disini. Kita masih punya banyak waktu untuk bertemu." ujar Sherly lagi.
Jidan maupun Jordan tersenyum. "Itu janji mami akan lama disini. Aku akan menyembunyikan paspor kalian berdua." ujar Jordan seraya mengecup pipi ibunya. "Selamat beristirahat mi." sambungnya.
Begitu juga dengan Jidan yang melakukan hal yang sama. Keduanya masuk ke kamar masing-masing. Sedangkan Tora mengajak Sherly beristirahat juga dikamarnya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Tora karena melihat istrinya yang belum juga tertidur.
Sherly menatap suaminya. "Apakah putra kita akan baik baik saja?" tanyanya.
"Tentu saja sayang, apa yang kau pikirkan. Mereka belum dewasa, itu saja." jawab Tora.
Sherly menghela nafasnya lalu memeluk suaminya. "Aku sedikit khawatir dengan sikap mereka."
Tora mengelus puncak kepala Sherly. "Tidak ada orang tua yang tidak khawatir pada anak mereka, hanya saja si kembar berbeda dari anak kebanyakan. Sejak kecil mereka memang selalu berdebat, kau pun tahu itu. Dan kau sebagai ibu mampu menghadapinya."
"Kali ini aku benar benar takut pi, tidak boleh terjadi cinta segitiga diantara mereka. Aku sangat penasaran seperti apa Ae-Ri." ujar Sherly.
"Tidurlah, masih banyak waktu memikirkannya." jawab Tora.
Sherly mengangguk dan akhirnya ia mulai memejamkan matanya di pelukan suaminya.
*****
Happy Reading All...😘
__ADS_1