
Jidan terus mengumpat di ruangan kerjanya, ia tak menyangka akan menyaksikan Aerum dan adiknya di perusahaan. Keduanya sangat bahagia, dan itu membuat Jidan semakin merasa bersalah pada Ae-Ri.
Aku tak bisa seperti ini terus, jika adikku bisa. Aku pun harus bisa. gumamnya.
Jidan mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari kantornya.
"Aurel, batalkan meeting hari ini." perintahnya.
"Tapi pak, ini sangat penting. Klien kita dari Jepang. Kita tak bisa..."
"Aku bilang batalkan, apa kurang jelas." bentak Jidan.
Aurel kebingungan, ia tak mungkin membatalkan jadwal meeting penting ini. Klien dari Jepang itu sudah datang jauh-jauh untuk bertemu Jidan Sin. Jidan menyadari akan kesulitan sekertarisnya. Ia mulai kembali pada kesadarannya.
"Maafkan aku Aurel, lanjutkan jadwalnya." ujar Jidan seraya kembali ke ruang kerjanya.
Aurel akhirnya bisa lega karena atasannya kembali profesional.
Aku yakin ini soal Ae-Ri lagi, sebenarnya apa bagusnya wanita itu sih. Kenapa pak Ji lebih memilih wanita itu dibandingkan aku, aku yang sudah bertahun tahun berada di samping pak Ji, tapi pak Ji tak pernah melirikku. pikir Aurel.
Aurel memang sudah menyukai Jidan sejak lama, makanya ia sangat membenci kehadiran Ae-Ri. Tapi ia tak bisa berbuat apapun untuk mendapatkan Jidan, ia hanya berharap Ae-Ri akan menolak atasannya itu.
Jidan duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi, ia menatap langit langit kantor.
Ya Tuhan, aku hampir saja mengacaukan perusahaan. Sejak kehadiran Ae-Ri, aku semakin tidak profesional dalam bekerja. Aku seharusnya bisa membedakan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Aku seorang Presdir memiliki tanggung jawab ratusan karyawan SinMart. Aku harus sabar, setelah urusan hari ini selesai, aku akan segera menemui Ae-Ri. pikir Jidan.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Masuk..." ujar Jidan.
"Pak Ji, maaf soal tadi." ujar Jordan masuk ke kantornya.
"Soal apa pak Jo, anda lebih baik dariku." jawab Jidan.
Jordan tertawa melihat raut wajah kakaknya yang serius. "Ada apa kau menghubungiku terus menerus?" tanya Jordan.
"Klien Jepang akan datang jam 2 siang, aku pikir kau dan aku harus menemuinya bersama." jawab Jidan.
"Lalu mengapa kau berniat membatalkannya jika penting." ejek Jordan.
"Aurel memang tak bisa menjaga mulutnya." jawab Jidan kesal.
"Kenapa jadi Aurel, aku mendengarnya sendiri pak Ji. Aku datang ke kantormu sejak tadi. Aku mendengar dan melihat kau hampir memakan sekertarismu sendiri." ejek Jordan lagi.
__ADS_1
"Sialan..." umpat Jidan.
Jordan kembali tertawa. "Pergilah menemui Ae-Ri jika itu yang membuatmu risau. Serahkan meetingnya padaku, aku bisa menjadi Jidan sementara." ujarnya.
Jidan seketika menatap adiknya. "Kenapa tak kau katakan dari tadi, aku ingin menyelesaikannya." ujar Jidan seraya mengambil kunci mobilnya dan keluar tergesa gesa.
Gelak tawa Jordan terdengar, ia tak menyangka kakaknya akan menjadi seperti itu karena cinta. Ia berharap kakaknya bisa meyakinkan Ae-Ri untuk menikah dengannya, jika tidak ia tak akan bisa menikahi Aerum. Ia mengingat ucapan kekasihnya itu sebelum meninggalkan perusahaan.
Flash Back On.
"Aku sudah memenuhi syaratmu Jo, aku juga ingin mengajukan syarat padamu." ujar Aerum.
"Syarat? Kau juga punya syarat untukku? Baiklah apapun itu asal kau tak lari lagi dariku." jawab Jordan.
"Aku akan menikah denganmu jika eonni mau menikahi pak Jidan. Jika eonni menolaknya, maka tak mungkin kita akan menikah." ujar Aerum.
Awalnya Jordan terkejut dengan persyaratan Aerum, tapi semua itu masuk akal untuknya. Bagaimanapun ia dan Aerum tak mungkin melangkahi kakak mereka, dan akhirnya Jordan pun setuju dengan persyaratan itu.
Flash Back Off.
Dan disinilah Jordan berharap banyak agar kakaknya bisa meyakinkan Ae-Ri, dan mendapatkan cintanya kembali. Jordan keluar dari ruangan itu.
"Maafkan aku Aurel, aku tak bisa melihat wajah cemas pak Presdir seperti itu. Jadi aku yang akan menghadiri meetingnya, selama kau tutup mulut tak akan ada yang tahu jika aku bukan pak Presdir." ujar Jordan saat melihat Aurel yang masih kebingungan.
Jordan meninggalkan sekertaris kakaknya untuk mengganti pakaian yang sering digunakan kakaknya, mereka memang memiliki selera warna yang berbeda. Aurel semakin terlihat kesal saat ini, lagi lagi ia tak bisa berbuat banyak. Ia harus menyerah akan cinta terpendamnya selama ini.
*****
Jidan Sin datang ke SinMart ketiga tanpa pemberitahuan, hampir semua karyawan SinMart sangat terkejut akan kedatangannya. Tapi Jidan tak memperdulikan mereka, ia terus menuju ke kantor Ae-Ri. Jika adiknya saja bisa meyakinkan Aerum, ia juga harus bisa meyakinkan Ae-Ri.
"Pak Ji..." sapa Clara. "Anda..."
Clara belum selesai berbicara, Jidan tak memperdulikan asisten manager itu. Ia justru langsung masuk ke ruangan Ae-Ri.
"Ada apa Clara, bukankah kau baru saja keluar dari ruanganku?" tanya Ae-Ri tanpa melihat kedatangan Jidan. Wanita itu terus sibuk dengan dokumennya.
Tidak mendapat jawaban dari Clara, akhirnya Ae-Ri mendongakkan kepalanya. Matanya hampir keluar karena terkejut, ia menatap pria yang terus menatapnya tajam.
"Pak Ji, anda..."
"Ya aku datang." potong Jidan. "Jika aku memberitahumu, mungkin kau akan beralasan bekerja di luar." sambungnya.
__ADS_1
"Mana mungkin pak, jika anda ada keperluan tentu saja aku akan menemui anda." jawab Ae-Ri.
Jidan tersenyum sinis. "Aku sedang berbicara di ponsel saja, kau berani menutupnya." ejek Jidan.
"Maaf pak Ji, itu bukan jam kerja." jawab Ae-Ri berkilah.
"Jadi kau mau bicara denganku saat jam kerja, oke aku datang disaat yang tepat." ujar Jidan.
"Jika anda akan membicarakan soal pekerjaan, maka memang sangat tepat tapi jika masalah lain... Maaf pak Ji..."
"Tak bisakah kau mendengarkan aku sebentar Ae-Ri, mengapa kau terus lari dariku?" tanya Jidan kesal.
"Aku tidak lari, tapi aku tak perduli. Dan aku mohon jangan terus mendesakku, seperti apapun alasannya aku tak akan melupakan kejadian itu." ujar Ae-Ri.
Jidan mendekati Ae-Ri, ia memegang kedua bahu wanita itu. "Tatap mataku Ae-Ri, jawab aku dengan jujur." pinta Jidan.
Ae-Ri menatap mata tajam Jidan, pria itu seperti ingin melahapnya. Matanya berapi-api tapi banyak harapan disana.
"Ae-Ri, apa kau masih tak perduli tentang perasaanku sebenarnya. Aku tahu aku salah pada adikmu, tapi demi Tuhan sampai saat ini pun aku tak mengingatnya, bahkan aku hampir lupa sepenuhnya. Aerum dan Jordan sudah bahagia bersama, tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk memperjuangkan perasaanku ini." ujar Jidan.
Ae-Ri melepaskan tangan Jidan. "Jika anda sudah selesai, anda bisa keluar pak Ji. Maaf aku masih banyak pekerjaan."
Jidan mulai emosi, wajahnya memerah karena marah. "Persetan dengan pekerjaanmu itu." bentak Jidan.
Ae-Ri terkejut mendengar teriakan Jidan, untuk pertama kalinya ia merasa takut melihat Jidan seperti itu.
"Aku bukan pria yang romantis, aku bahkan belum pernah mengatakannya pada wanita manapun. Ini cukup sulit bagiku Ae-Ri, tapi jika kata kataku akan membuatmu lebih baik, maka aku akan mengatakannya padamu." ujar Jidan sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ae-Ri... Aku menyukaimu... Tidak, mungkin sekarang lebih dari kata suka, aku mencintaimu. Itulah perasaanku yang sebenarnya." sambung Jidan.
Ae-Ri terkejut dengan pernyataan cinta Jidan, jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaannya terbalaskan tapi egonya masih tetap tinggi saat ini.
"Kata kataku adalah yang kedua, semalam aku sudah mengatakannya padamu tapi kau menutup ponselnya. Aku memberanikan diriku karena aku takut kehilanganmu. Bisakah kau menerima perasaanku?" tanya Jidan.
Ae-Ri menghela nafasnya, ia masih belum yakin dengan perasaan Jidan padanya. Pria itu bisa saja mabuk lagi dan bertemu wanita yang dianggap dirinya.
"Pak Ji, jika anda tak mau meninggalkan ruangan ini. Maka aku yang akan pergi." ujar Ae-Ri.
Bak anak panah yang menusuk tepat di jantung Jidan, harga dirinya kini terluka. Alih-alih mendapat penerimaan, ia justru di usir dari perusahaannya sendiri. Sangat sulit meyakinkan wanita itu, kekeraskepalaannya dan juga harga diri wanita itu sangat tinggi. Emosi Jidan memuncak, ia keluar meninggalkan Ae-Ri sambil membanting pintu dengan keras, suara pintu itu bisa saja merobohkan gedung SinMart Ketiga.
*****
__ADS_1
Terus berjuang pak Ji...
Happy Reading All...😘