Continuous Love

Continuous Love
16


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir kami berlibur di villa Nela, aku memaksa Nela untuk membawaku menyusuri hutan. Awalnya dia menolak tapi karena aku terus memaksanya,akhirnya dia setuju.


Aku bersiap – siap, aku hanya memakai kaos lengan panjang dan celana pendek, Aku turun menemui Alan dan Nela yang telah menunggu ku.


“ kau lama sekali” kata Alan padaku,


“ Biarin” sambil menjulurkan lidah ku


“ Sudah – sudah ayo berangkat” kata Nela


Kami pun berangkat, di dalam hutan begitu indah pemandangannya, aku merasa senang sekali.


“ hei, kalian jalannya jangan cepat-cepat , aku capek tau” celotehku,


“ayo sini, aku gendong,” kata Alan padaku


“ tidak usah, aku bisa jalan sendiri tapi kalian jangan meninggalkanku” kata ku kesal.


“Iya iya kami akan pelan” jawab Nela.


“ Dasar kalian, mentang – mentang punya kemampuan “ batinku dalam hati.


Tiba-tiba saja dada ku menjadi sesak, dan aku merasa ada yang sedang menungguku , aku berjalan tak tau kemana , tiba-tiba saja aku berada di depan sebuah kastil.


“Ini, bagaimana aku bisa kesini, di mana Alan dan Nela" kataku bingung.


aku berusaha mencari mereka tapi tetap tidak ketemu dan aku kembali lagi ke kastil itu, hujan mulai turun, aku pun masuk ke dalam kastil itu.


Kastil itu saat gelap dan banyak sekali sarang laba-laba , aku sangat takut dan tiba- tiba aku menekan sesuatu, aku kaget di depan ku muncul ruangan lain, dan ada tangga menuju ke bawah dan anehnya lagi tempat itu sangat dingin seperti es, aku takut tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa takut dalam diriku.


Aku berjalan menyusuri tangga itu, sampai di ujung tangga aku melihat ada ruang yang luas di depanku, dan di tengah – tengah ruangan itu terdapat peti yang berkilau, peti itu berwarna perak dengan ukiran emas dan kristal.


Aku penasaran aku mendekati peti itu, di sana ada sebuah gembok aku meraba-raba ke sebuah laci yang terletak di pojokan, saat itu cahaya bulan sangat terang dan cahaya bulan itu menembus ke ruang bawah ini melalui sebuah lubang di dinding, aku menemukan sebuah kunci yang terbuat dari emas.


Segera setelah itu aku pun membuka gembok dari peti tersebut, ketika aku akan membuka peti itu jantungku berdebar -debar entah karena penasaran atau karena hal lain.


Perlahan - lahan aku membuka peti itu, tiba – tiba udara ruangan terasa begitu dingin sampai menusuk tulang dan ada aura yang begitu menakutkan. Belum sempat aku melihat isi peti tersebut terdengar suara dari luar.


“ Vely,,,,,dimana kau !” teriak teman ku dari arah di luar. Aku berlari menuju ke arah suara tersebut.


“ aku disini .... Nela “ jawabku sambil berlari keluar kastil.


“ Vel, apa kau baik – baik saja ?” tanya Alan sambil memelukku,


“ tenanglah aku baik – baik saja Alan , kau saja yang terlalu mencemaskan aku “ jawabku padanya


“ yayaya ... Memang aku yang terlalu mencemaskan dirimu tapi kau juga salah, kenapa kau sangat ceroboh dan pergi, kau pikir ini kota “imbuh Alan,


“ iya iya aku salah tapi bisa kah kau lepaskan aku” kata ku padanya “Ma ...maaf kan aku , “ kata nya sambil melepaskan pelukan dengan ekspresi malu.


Di saat bersamaan, di dalam kastil itu ada seseorang yang mengawasi mereka lebih tepatnya mengawasi gadis yang telah membangunkan tidurnya.Ada rasa familiar dari dalam saat ia melihat Evelyn.


"siapa kah gadis itu ? beraninya dia memasuki tempatku dan membangunkan diriku"kata pria itu geram. Seketika udara di sekitar kastil menjadi dingin sedingin es.

__ADS_1


"aneh .. kenapa tiba - tiba udara sangat dingin" kata Nela.


" iya Nel, aku tadi juga merasa kan nya di dalam kastil dan yang lebih menarik di sana aku menemukan sebuah peti " sambung Evelyn.


"apa? sebuah peti ,,, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini! " kata Nela kaget.


"iya aku setuju dengan dirimu lebih baik kita pergi dari sini" imbuh Alan.


" ahh kenapa kalian penakut sekali sih? aku belum membawa kalian ke dalam" kata Evelyn sebal.


" sudahlah lain kali saja kita kemari sebaiknya kita pergi dulu , cuaca nya tak terlihat bagus " kata Alan. Akhirnya mereka pun pergi dari kastil.


“ hei, kalian lihat di sana ada air terjun, ayo kita pergi ke sana “ ajak ku


“ sudahlah, ayo kita pulang ?” imbuh Alan


Evelyn menarik tangan Alan dan mengajaknya berfoto di dekat air terjun, pertama Alan menolak tapi karena Evelyn terus memaksanya dia pun berfoto, Nela pun juga ikut.


Hari semakin gelap, mereka menyudahi perjalanan mereka di hutan.


Saat mereka kembali ke villa ada seorang pria tampan sedang duduk di sofa di ruang tamu.


“Siapa kau?” tanya Nela,


dia merasa takut menatap wajah pria itu,


Seorang pria lain muncul dan berkata” Nela sayang, kau tak boleh berkata kasar kepada pamanmu ini”


“Ayah, kenapa ayah di sini” tanya Nela terkejut.


“Paman ???” tanya Nela ,


“Iya sayang, dia adalah anak dari kakek Jackson maka dia adalah pamanmu” jelas Ayah Nela.


“apa!!! Jadi dia adalah,,,” kata Nela kaget.


“Ya sayang, kau ajak lah teman-temanmu ke atas “ perintah ayah Nela.


“baik ayah” jawab Nela .


Nela mengajak kami ke atas, saat kami menaiki tangga aku merasa ada yang memperhatikan ku aku menoleh ternyata pria itu memandangi ku dan dia tersenyum,


“Ada apa” tanya Alan.


“ Tidak ada apa-apa” jawabku.


“ Istirahat lah” kata Alan padaku,


“ baiklah” aku pun masuk ke kamar, aku membersihkan tubuhku, dan berganti pakaian,


Tok tok tok suara ketukan di cendela kamarku,


“Siapa sih yang iseng mengetuk cendela kamar”

__ADS_1


aku membuka tirai namun aku tak melihat siapapun,


“ Vel, ayo ikut denganku” ajak Nela ,aku pun menutup kembali tirai itu. Kami pun turun.


“Kemana ayah dan pamanmu itu Nel” tanya ku kepada Nela


“Entahlah, “ jawabnya


Setelah selesai makan, aku pergi ke halaman samping . Aku melihat banyak kunang -kunang di sana.


“ kenapa kau di sini sendiri, dimana kekasihmu itu” tanya seorang pria padaku.


“ Aku,, “ mendadak aku seperti tak dapat mengeluarkan suara.


“ tidak baik jika seorang gadis keluar sendiri malam-malam” katanya di dekat telinga ku,


Aku merasa takut berada di dekatnya, dia memiliki aura yang mencekam.


Aku bergegas pergi namun tangan ku di tariknya, tangannya sangat dingin seperti es.


“ aku belum selesai bicara kenapa kau ingin pergi” kata nya lagi.


“ aku, aku sudah mengantuk, bisa kah paman melepaskan tanganku”


“ paman ? Apa aku terlihat seperti orang tua” tanya nya padaku.


Aku menggeleng, dia tersenyum padaku , senyumnya sangat menawan tapi senyuman itu hanya sebentar.


“namaku Calvin" katanya, lalu melepaskan tanganku dari genggamannya.


Aku pun pergi ke dalam, sesampainya di kamar ku aku melihat Alan sudah di depan pintu kamar.


“dari mana saja kau” tanya Alan padaku.


Aku tak menghiraukannya, aku berjalan masuk ke kamar, Alan mengikuti ku. Dia memegang tanganku yang gemetar.


“ Vely, kau kenapa? Apa kau sakit “ dia terlihat khawatir.


“ Alan, tolong temani aku yah, aku takut” pinta ku padanya.


“ada apa? Coba ceritakan padaku”


“ aku bertemu paman Nela di bawah, dia memegang tanganku tanganya begitu dingin dan aku sangat takut, aku ingin pulang Alan aku takut di sini “ kata ku memberi penjelasan.


“ sudahlah jangan takut, ada aku di sini” kata Alan menenangkan.


“ Sekarang tidurlah” suruh Alan padaku.


“ Temani aku” sambil memeluknya


“ iya iya aku akan menemanimu, tapi apa imbalan yang aku dapat” goda nya


Aku mencium pipinya, dia tersenyum.

__ADS_1


Aku pun tidur di pelukannya.


__ADS_2