
Yan Xing dengan kedua tangannya menggenggam gagang pedang bayangan ungunya. Kemudian dia mengangkat pedangnya keatas kepalanya.
Setelah itu cahaya bergemuruh berwarna merah pekat menyelimuti pedangnya hingga memanjang sepanjang 50 meter keatas langit.
Teknik pedang kesunyian teknik kelima, pedang pembantai.
Yan Xing menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya dan mengayunkannya. Pedang yang diselimuti cahaya yang membuat pedang tersebut menjadi sepanjang 50 meter.
Kemudian menukik tajam kearah Rakshea dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian dalam seketika. Dan tentu saja Rakshea tanpa menunjukkan perlawanan telah mati pada saat itu juga.
[Ding! Berhasil membunuh Rakshea ranah Saint tahap akhir, mendapatkan hadiah 1.270.000 PP dan 770 CP]
setelah teknik pedang menakjubkan Yan Xing, terdapat sebuah jejak pedang yang membelah dua di danau abadi.
Namun, karena danau abadi merupakan perairan jadi seketika itu juga jejak tersebut menghilang hanya memunculkan ombak besar yang menyapu dua sisi berlawanan arah.
[Ding..]
[Ding..]
[Ding..]
[Ding..]
...
Selain berhasil membunuh Rakshea Yan Xing juga berkat pasukan boneka bayangannya berhasil menghabisi setengah jumlah dari seluruh pasukan aula kebangkitan serta aliansinya yang banyaknya digadang-gadang mencapai angka 1 jutaan.
Mungkin terdengar mustahil untuk mempercayainya 500 pasukan boneka bayangan dapat mengalahkan hingga mengurangi setengah pasukan aula kebangkitan dan aliansinya yang kian banyak.
Namun, mengingat bagaimana komposisi kekuatan pasukan boneka bayangan Yan Xing. Dan satu lagi keistimewaan boneka bayangan yang memiliki kemampuan untuk abadi, sehingga bukan hal yang mustahil untuk mengurangi setengah jumlah pasukan aula kebangkitan dan aliansinya.
saat selesai menghabisi Rakshea, beberapa meter dari arah barat Yan Xing. Feng Xiaoyin serta orang-orang dari kekuatan utama benua naga dan sebagainya tiba.
Ketika mereka semua melihat Yan Xing yang berhasil membelah tubuh Rakshea menjadi dua bagian. Tidak dapat dipungkiri mereka tentunya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Bahkan jika Rakshea sekarang telah menjadi mayat yang menyeramkan sekalipun. Namun aura penindasan yang dikeluarkannya dapat membuat orang-orang yang ada dibawah level kekuatannya dapat merasa terintimidasi.
" Kita bergegas kemari karena ingin membantunya. Tapi setelah tiba, kita hanya melihat dia yang hampir menghabisi aula kebangkitan seorang diri "
Ucap Feng Jian dengan sorot mata keterkejutan yang terlihat dari wajahnya.
" Kau benar putraku, melihat dari situasi yang terjadi sekarang ini. Sepertinya kita benar-benar tidak diperlukan disini "
" Maksudku kau dapat melihat, dia bahkan memiliki kemampuan untuk memanggil pasukan aneh dan kuat seperti makhluk-makhluk berwarna hitam ini "
Feng Jiajin menyiratkan sorot mata yang tidak kalah terkejut dengan Feng Jian saat melihat Yan Xing dan beralih melihat pasukan boneka bayangan Yan Xing.
...
Beberapa waktu lalu.
Di dalam aula utama basis/pangkalan aula abadi di medan perang kuno.
Seorang pria dewasa berusia sekitaran usia 40-an tahun. Tengah duduk dengan posisi bersila sembari memejamkan kedua matanya rapat.
Dia adalah Feng Jian ayah dari Feng Xiaoyin yang masih terjebak dalam formasi penyempurnaan manusia yang keji. Dia perlahan-lahan merasakan kesakitan akibat qi didalam tubuhnya terus-menerus tertarik keluar secara paksa.
Didepannya putrinya Feng Xiaoyin tengah menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Feng Jian.
" Ayah, apa ayah baik-baik saja ? "
Tanya Feng Xiaoyin dengan wajahnya yang penuh kekhwatiran.
Feng Jian sendiri mendapat pertanyaan seperti itu dari putrinya. Hanya memberikan senyuman tipis sebagai jawaban kepada sang putri.
" Ayah, bertahanlah sebentar lagi. Xing'ge pasti akan dapat menghancurkan formasi ini "
Ucap Feng Xiaoyin yang masih lekat dengan ekspresi wajah khawatirnya.
" Keponakanku sepertinya kau sangat mempercayai pemuda itu ? "
Bukan Feng Jian yang bertanya melainkan Yun Huajing yang juga tengah duduk bersila di sebelahnya.
" Benar apa kata paman Yun mu, apakah sebegitu percayanya kepada pemuda itu ? "
Tanya Liu Buji yang juga mulai ikut menimpali.
" Ya aku mempercayainya "
Ucap Feng Xiaoyin sederhana namun dengan tampilan wajahnya yang dipenuhi dengan senyuman yang cerah dan sebuah ketegasan.
Hanya dengan jawaban sederhana yang diutarakan olehnya. Membuat Feng Jian serta ketiga ketua aula abadi lainnya, setidaknya mengerti dan tidak mempertahankan lagi seberapa hebat Xing'ge-nya.
Setelah selesai sedikit bercengkrama dengan ayah dan ketiga pamannya. Hanya untuk sekedar memberikan mereka semangat, agar dapat tetap bertahan dalam formasi keji tersebut.
Feng Xiaoyin kini beralih menuju ketempat sang kakek, Feng Jiajin.
Feng Jiajin sendiri juga kini tengah duduk bersila ditempatnya. Mencoba menstabilkan qi didalam tubuhnya untuk memperlambat penarikan qi keluar secara paksa dari tubuhnya.
" Bagaimana dengan keadaanmu, kakek ? "
Feng Xiaoyin segera melontarkan pertanyaan dengan kekhwatiran ketika memandang sang kakek.
" Haha, tenanglah hal remeh seperti ini. Belum cukup untuk mencelakai kekekmu ini "
Jawab Feng Jiajin dengan suara tawanya yang menggelegar.
__ADS_1
Jawaban dari Feng Jiajin tidak langsung membuat kekhwatiran Feng Xiaoyin menjadi surut.
Melihat cucu perempuannya yang masih mengkhawatirkan dirinya. Membuat Feng Jiajin menghela nafasnya, dan berkata dengan lembut kepadanya.
" Yin'er jangan khawatir, kakek sungguh-sungguh baik-baik saja "
...
" Bukankah kau mempercayai lelakimu itu ? Jadi sama sepertimu kakek juga percaya padanya, karena itu kakek yakin kakek akan baik-baik saja "
Setelah berhenti sejenak Feng Jiajin kembali melontarkan kata-kata dengan nada lembut kepada Feng Xiaoyin.
" Kakek benar, Xing'ge pasti tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian semua. Orang-orang yang sangat berarti untukku "
Kini Feng Xiaoyin dapat sedikit merasa rileks karena kekhwatiran dalam hatinya sudah mulai sedikit mereda.
Di sela-sela perbincangan mereka berdua, apa yang sudah mereka tunggu-tunggu akhirnya terjadi.
Ya benar, akhirnya formasi yang membuat semua orang cukup menderita dalam satu tarikan nafas hancur seketika menjadi kepingin-kepingan.
Setelah formasi tersebut hancur, tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Sesuai permintaan Yan Xing, Huang Yanshi dan orang-orangnya mulai membagikan pil pemulihan kepada setiap orang.
Setelah menerima pil pemulihan semuanya pun mulai mengambil posisi duduk bersila dan mulai memulihkan qi yang keluar dari tubuh mereka secara paksa.
Tidak lupa juga, Huang Yanshi segera mengurus beberapa anak buahnya untuk pergi menuju tempat fraksi/kekuatan utama benua naga lainnya.
Namun, sebelum mengirim orang-orangnya pergi. Huang Yanshi mendapatkan sebuah permintaan dari Feng Jiajin, yang memintanya untuk menyampaikan pesan kepada setiap kepala fraksi/kekuatan utama benua naga untuk segera pergi menuju danau abadi dengan kekuatan penuh.
....
Waktu Sekarang.
" Aku dan yang lainnya segera kesini, karena intruksi dari senior Feng. Dan sekarang aku tidak menyangka, kita harus melihat seorang pemuda yang tampaknya baru berusia awal 20-an mengobrak-abrik aula kebangkitan seorang diri "
Ucap Zhu Wuqing yang merupakan kaisar dari kekaisaran Qingzhu.
" Tampaknya kedatangan kita sebenarnya tidak diperlukan "
Ucap Hua Lingyi, wanita dewasa yang tampaknya usianya seusia dengan Feng Jian. Dan lagi wanita tersebut merupakan patriak dari sekte istana salju.
" Hehe, tampaknya kita sudah tertinggal dengan generasi muda "
Ucap seorang pria yang juga seumuran dengan Feng Jian sembari tertawa kecil, dan pria tersebut adalah Meng Tianjin dan merupakan patriak dari sekte pedang kuno.
Disaat mereka sedang sibuk berbicara, pasukan boneka bayangan Yan Xing sudah berhasil menumpas habis aula kebangkitan dan aliansinya.
" Lihatlah ! Sepertinya pertempurannya telah berakhir "
Lanjut Meng Tianjin setelah melirik kbali sekilas kearah pertempuran dan dia mendapati bahwa pertempuran memang telah berakhir.
Ucap Shen Jinkong terkekeh.
Feng Jian dan semua kepala dari kekuatan-kekuatan utama benua naga lainnya saat mendengar perkataan Shen Jinkong serentak menganggukkan kepala menyetujui perkataan tersebut.
Mereka tentunya bukan orang bodoh, setelah medan perang kuno berakhir. Nama Yan Xing akan mulai melebar hingga keseluruh penjuru benua di alam fana.
Jadi, adalah suatu pilihan bijak untuk menjaga agar dapat berhubungan baik dengan Yan Xing dan sebaik mungkin mereka tidak ingin menyinggungnya.
Bahkan ada beberapa dari mereka yang memiliki pemikiran extrem di benaknya, namun tentunya itu semua tidak akan pernah terwujud karena Yan Xing telah memiliki Feng Xiaoyin didalam hatinya.
Sementara Yan Xing yang tengah berdiri didepan mayat Rakshea yang sudah terbelah menjadi dua bagian.
Dia menatap lekat mayat Rakshea sebelum akhirnya menarik kembali tatapannya dan sambil menghela nafas dia berbalik pergi.
Yan Xing terus berjalan pergi melangkahkan kakinya. Dan saat dia berada tepat disamping, tempat dimana Rakshea sebelumnya mengaktifkan formasinya.
Dia mendapati sebuah benda kecil yang sebelumnya adalah milik Rakshea. Karena penasaran dengan benda kecil tersebut Yan Xing berjalan menghampiri dan memungutnya.
Benda kecil itu berbentuk lingkaran dengan pola gambar berbentuk bunga plum dipermukaan benda kecil tersebut dan disempurnakan dengan sebuah huruf-huruf di pinggirannya.
" Sistem benda apa ini ? "
Tanya Yan Xing kepada sistemnya, mempertanyakan benda yang saat ini ada ditangannya.
...----------------...
#Nama : Artefak Dewi Bulan
#Tingkat : ???
# Keterangan : Artefak yang ditinggalkan oleh Dewi bulan untuk pewarisnya sebelum kematiannya.
(Syarat : Merangkai huruf-huruf acak menjadi puisi yang diinginkan oleh Dewi bulan)
...----------------...
" Sistem, maksudmu untuk menerima warisan Dewi bulan. Aku harus merangkai huruf acak ini menjadi sebuah puisi ? "
Tanyanya kepada sistem.
[Benar sekali host]
" Hmm, baiklah aku akan mencobanya "
Yan Xing kemudian membacakan berbagai puisi yang diketahuinya saat dibumi menggunakan huruf-huruf acak yang terdapat di artefak tersebut.
Namun sebanyak apapun dia membacakannya, tetap saja artefak tersebut tidak menunjukkan reaksi apapun.
__ADS_1
" Sialan ! Sistem aku menyerah "
Maki Yan Xing yang kesal karena sudah membacakan banyak puisi tapi tetap tidak berhasil.
[Apa host ingin sistem yang merangkainya ?]
" Sepertinya tidak perlu, lagipula dengan dirimu ditanganku. Tanpa warisan sekalipun aku tetap bisa mencapai puncak kultivasi "
Ucap Yan Xing dengan bangga.
" Sepertinya aku akan memberikannya kepada salah satu muridku, siapa pun yang akan beruntung dapat menyelesaikan syarat dari Dewi bulan maka dia akan mendapatkan warisan Dewi bulan "
Ucap Yan Xing.
Tidak lama kemudian sosok keindahan, dengan langkah girang datang dan memeluk Yan Xing.
Yan Xing yang diperlakukan seperti itu tentu saja terkejut. Namun, saat melihat keindahan tersebut dia menyunggingkan senyum yang sangat lebar.
Keindahan tersebut tidak lain adalah wanita yang sudah menempati posisi dihatinya yaitu Feng Xiaoyin.
Saat melihat Feng Xiaoyin yang berhambur memeluknya. Seketika sebuah ide terlintas dibenak Yan Xing.
" Oh iya ! Kenapa aku tidak memberikan artefak ini kepada Yin'er saja. Lagipula aku sudah memberikan banyak kepada murid-muridku "
Yan Xing berpikir dalam benaknya.
" Yin'er apa kau dapat merangkai sebuah puisi dari huruf acak yang terdapat dalam artefak ini "
Ucap Yan Xing sembari memberikan artefak Dewi bulan tersebut kepada Feng Xiaoyin.
Mendapatkan permintaan dari Yan Xing, tentu saja dengan senang hati Feng Xiaoyin menyanggupinya.
Dengan telaten dia melihat huruf-huruf yang terdapat didalam artefak Dewi bulan tersebut.
Setelah berpikir lumayan memakan banyak waktu. Akhirnya Feng Xiaoyin mencoba membacakan puisi yang sudah dia rangkai.
' Dari benih tumbuh menjadi tunas,
Membuahi hingga mekar bunga,
Kelopak bunga terbuka,
Menebar wangi menenangkan.
^^^Segala hal memiliki takdirnya sendiri,^^^
^^^Sungai mengalir, Api membakar,^^^
^^^Petir menyambar, Surga melihat,^^^
^^^Neraka menghukum.^^^
Dunia tidak akan berhenti,
Dunia tidak akan menunggumu,
Jangan berbalik arah, jangan berhenti,
Dunia bukan untuk diikuti,
Teruslah maju dan tetap bergerak. '
Setelah dia membacakan puisi tersebut, artefak Dewi bulan akhirnya mulai menunjukkan reaksi.
Artefak tersebut mulai bersinar terang hingga cahayanya naik keatas menembus langit.
Fenomena tersebut tentu saja menarik perhatian semua orang yang ada di danau abadi. Dan mulai mendekat kearah Yan Xing dan Feng Xiaoyin.
Artefak yang sebelumnya berbentuk lingkaran, kini perlahan mulai berubah menjadi bunga plum yang mekar sempurna.
Dan secara mengejutkan Feng Xiaoyin juga ikut bersinar dengan warna yang sama dengan artefak tersebut.
Tidak lama kemudian artefak yang kini sudah berubah menjadi bunga plum yang mekar dengan indah mulai menyebarkan bunga-bunga plum yang menutupi sekeliling Feng Xiaoyin hingga tertutup sempurna.
Bunga-bunga itu juga mulai meluas dan memukul mundur yang lainnya. Yan Xing yang juga mulai dipukul mundur oleh bunga-bunga tersebut, ingin melawan namun dia takut jika perlawanannya hanya akan melukai Feng Xiaoyin.
Setelah itu lingkaran bunga-bunga tersebut mulai mengecil dan perlahan-lahan bunga-bunga tersebut juga ikut menghilang dan menyisakan bunga plum yang mekar sempurna tengah melayang dihadapan mereka.
" Yin'er "
" Yin'er "
" Yin'er "
" Nona muda "
Feng Jian, Yun Yinying, dan Feng Jiajin segera berteriak kaget saat melihat Feng Xiaoyin sudah tidak terlihat dihadapan mereka.
Feng Xiaoyin masih mencoba bersikap tenang, namun jauh dilubuk hatinya dia sangat khawatir. Bahkan dia merasa dia tidak pernah merasa sekhwatir ini.
" Sistem apa yang terjadi kenapa Yin'er justru menghilang ? "
Tidak mau berpikir impulsif Yan Xing memutuskan segera bertanya kepada sistemnya.
[Nona Xiaoyin saat ini tengah menerima warisan dari dewa bulan host]
Setelah melihat jawaban dari sistem, Yan Xing akhirnya bisa sedikit lega hatinya.
__ADS_1