
“Anda yakin?. Dokter itu mengganguk muram. Seragam oprasinya yang berwarna hijau masih bersih. Ia cukup lama berada di ruang operasi, tidak sampai membuatnya keringetan.
“Maafkan saya Nyonya Gunawan. Penyakitnya sudah menjalar kemana-mana.”
“Tidak ada cara untuk menyembuhkannya?”.
“Kecuali untuk mengurangi rasa sakitnya, tidak ada.” Dokter menyentuh lengan Nyonya Gunawan, dan melirik pria yang berdiri di samping wanita itu dengan penuh arti. “Ia takkan mampu bertahan lama, maksimal beberapa minggu.”
“Ya…saya paham…” Nyonya Gunawan menyeka matanya dengan tisu yang basah dan kusut.
Iba hati si Dokter melihat wanita itu. Ketika keluarga pasien menjadi histeris saat mendengar kondisi buruk si pasien, ia merasa mampu menenangkan mareka. Namun sikap berani perempuan tersebut, yang penampilannya sangat feminine dan rapuh, ketika menerima kabar tadi membuatnya merasa seperti Dokter yang belum berpengalaman dan canggung.
“Andai suami anda memeriksakannya lebih cepat, barangkali…”
Nyonya Gunawan menyunggingkan senyum getir, kehilangan harapan.
“ Tetapi ia tidak mau, sudah saya bujuk dia untuk memeriksakan perutnya yang tidak enak. Ia berkeras itu hanya masalah pencernaan.”
“kita semua tahu Indra keras kepala.” Pria yang berdiri di samping Nyonya Gunawan menyela. Dengan lembut Danu Wijaya menggenggam jari-jari Laras Gunawan di lengannya.
__ADS_1
“Apakah ia boleh menjenguknya?”
“Beberapa jam lagi,” sahut si Dokter. “Pengaruh obat biusnya baru akan hilang nanti sore. Bagaimana kalau Anda berdua pulang saja dulu dan beristirahat?”
Laras mengganguk. Dibiarkannya Danu, Pengacara yang juga sahabatnya, mengandengnya menuju lift. Mereka menunggu lift dalam diam. Laras merasa agak binggung, tapi tidak terkejut. Hidupnya tidak pernah berjalan mulus-mulus saja dan tanpa masalah. Mengapa ia begitu berpegang pada harapan bahwa operasi besar Indra hanya akan membuktikan suaminya itu Cuma mengidap penyakit usus buntu.
“Kau tak apa-apa kan?” Danu bertanya lembut ketika pintu lift menutup dan mereka aman dari tatapan menyelidik orang-orang di sekeliling mereka.
Nyonya Gunawan menarik napas Panjang “ sebaik yang mampu dirasakan perempuan yang mengetahui suaminya akan meninggal segera.”
“Maafkan aku.”
“Aku kenal siapa dirimu Danu. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku punya sahabat seperti dirimu.”
Mereka berjalan melintasi lobi rumah sakit yang baru direnovasi. Beberapa karyawan rumah sakit dan pengunjung sekilas melirik Laras, tapi kemudian cepat-cepat membuang pandang. Wajah-wajah yang di palingkan itu penuh dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap penuh rasa hormat. Semua orang sudah tahu, saat warga terpandang di kota sekecil Malay sakit berat, beritanya akan tersebar cepat keseluruh penjuru kota.
Danu menemani Laras sampai ke mobildan membukakan pintu untukny, Laras masuk ke mobil tapi tidak langsung menghidupkan mesinnya. Ia duduk, pandangan matanya jauh ke depan, tenggelam dalam pikirannya, cemas, sedih, Begitu banyak yang harus di urusnya. Dari mana ia musti mulai?.
“Andre harus di beritahu.”
__ADS_1
Nama itu menghujam tubuh Laras bak pemecah es, dingin, tajam, dan menusuk. Nama tersebut seakan menusuk organ-organ penting dalam tubuhnya. Nama lelaki itu menggemuruh di benaknya. Perasaan sakit saat mendengar nama itu membuat Laras merasa sekujur tubuhnya seperti lumpuh seketika.
“Laras, kau dengar apa yang kukatakan? Aku bilang…”
“Ya, aku dengar.”
“Sebelum masuk ke ruang operasi, Indra memintaku segera menghubungi Andre bila hasil pemeriksaan dokter tentang penyakitnya buruk.”
Mata yang berwarna gelap itu menatap si pengacara. “Indra memintaku menghubungi Andre?”
“Ya. Ia dengan tegas meminta aku menghubungi Andre.”
“Aneh. Kukira permusuhan diantara mereka takkan terdamaikan.”
“Indra sekarat, Laras. Kurasa ia tahu, begitu masuk rumah sakit ia takkan pernah meninggalkannya. Ia ingin melihat putranya sebelum meninggal.”
“Mereka tak pernah berjumpa ataupun bicara pada satu sama lain selama dua belas tahun, Danu. Aku tidak bisa memastikan apakah Andre bersedia datang.”
“Andre pasti dating kalau dia tahu situasinya seperti ini.”
__ADS_1
Akankan ia dating kesini? O, Tuhan, apakah laki-laki itu akan dating ke sini? Apakah ia akan bertemu Andre kembali? Bagaimana perasaannya bila mereka benar-benar bertemu? Bagaimana rupanya sekarang? Peristiwa itu sudah lama berlalu. Dua belas tahun yang lalu. Jari Laras mencengkram kemudi mobilnya yang empuk. Telapak tanganya basah. Laras merasa sekujur tubuhnya juga ikut basah.