DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 41


__ADS_3

Ketika Andre menurunkan tubuh Laras, wajar bila timbul keinginan Andds untuk menci um wanita itu. Bi bir Andre menci um bi bir Laras. Bukan ci uman kekasih, tetapi ci uman antar teman, merayakan kesuksesan pekerjaan mereka.


Namun begitu bi bir mereka bersentuhan, nuansa ci uman pun berubah. Mustahil mereka bersentuhan tanpa merasakan sentuhan itu sebagai sentuhan sepasang kekasih. Sewaktu merasakan bi bir Laras yang lembut, basah, dan pasrah menyentuh bi birnya, seketika gelora hasrat langsung menguasai Andre.


Andre mengangkat kepalanya melihat reaksi Laras. Matanya memandang wajah Laras lekat‐lekat, mengamati garis‐garisnya. Pipinya yang kemerahan, rambutnya yang panjang,


sorot matanya yang bening bak tetesan air hujan yang berkilau, bibirnya, semua menarik hatinya.


Larqs menanti penuh harap, merasakan napas Andre yang makin memburu, melihat sorot matanya yang makin berbinar.


Ia menginginkannya. Oh, Tuhan, ia masih menginginkan Laras. Betapa ingin ia ******* Laras, menjadikannya pelabuhan terakhirnya, selama‐lamanya.


Namun Laras sudah bersumpahakan setia sampai mati pada ayahnya. Dan Andre yakin, kendati telah meninggal dunia, pengaruh orang seperti ayahnya yang sudah di liang kubur akan tetap ada. Laras masih menjadi milik Indra dan karena alasan itulah Andre tak berani mewujudkan apa yang sangat didambakannya.


Gejolak hasrat dalam tubuhnya seperti mencekik dirinya, ia harus melepaskan cengkeraman itu dan melepaskan Laras.


Ia tidak ingin melakukannya. Pertama, ia menarik tangannya dari belakang pinggang Laras ke samping. Dibiarkannya kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya.


Seperti ada magnet tak kasatmata yang melekatkan keduanya, perlahan‐lahan mereka


saling menarik diri sebelum akhirnya Andre melangkah mundur. Yang terakhir di lepaskannya dari Laras adalah matanya, yang tetap memandangi Laras dan harus dipaksanya agar berpaling.


Laras kecewa dan terguncang, tetapi berusaha tidak memperlihatkannya ketika Andrs membalikkan badan untuk melihatnya sebelum membuka pintu.


"Kurasa aku akan mengundang seluruh karyawan minum-minum untuk merayakan peristiwa ini. Ini bisa mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menghasilkan kapas berkualitas untuk perusahaan Delta Textile."


"Kurasa itu hal yang baik sekali, Ndre. Kutunggu kau di rumah?"


Andre mengangguk. "Aku takkan terlambat."


Di supermarketlah pertama kali Laras mendengar hal yang ramai digosipkan orang‐orang.


Bi Ani menelepon pemintalan, meminta Laras singgah ke toko sebelum pulang. Laras mencatat barang‐barang yang diminta Bi Ani. "Terima kasih atas bantuanmu."


"Terima kasih kembali," jawab Laras. "Aku akan pulang secepatnya. Andre akan keluar setelah selesai kerja, berarti kau bisa menyiapkan makan malam setengah jam lebih lambat daripada biasanya."


Laras tengah mendorong kereta belanja di lorong toserba sambil memeriksa daftar barang yang harus dibeli waktu ia melihat dua ibu yang memandanginya terang‐terangan. Laras kenal

__ADS_1


mereka. Salah seorang di antaranya penggosip nomor satu di kota itu.


Ia punya putri yang usianya sama dengan Laras, yang kini menikah dengan buruh pabrik. Kabarnya, karena suka mabuk, menantunya itu sering dipecat dari pekerjaannya. Sementara


putrinya dulu sangat populer, salah satu anggota "geng", kelompok yang tidak mau bergaul dengan Laras.


Namun yang menyakitkan, kini justru putri keluarga Anwar yang pemabuk itu menikah baik‐baik! Ibu yang satunya lagi menuju ke bagian laundry, bertukar gosip sambil memeriksa pakaian kotor yang akan dicuci.


Tidak perlu menghindari mereka, batin Laras, meyakinkan diri agar bisa melakukan hal itu. la mengangkat dagu dan sengaja mendorong kereta belanja melewati mereka. "Halo, bu Sumi, bu Mita"


"Nyonya Indra" jawab mereka serentak. Sikap pura‐pura mereka jelas terlihat. "Kasihan sekali Anda," kata salah seorang ibu.


"Bagaimana keadaan Anda sekarang, setelah tuan Indra meninggal?"


"Saya rasa pemakamannya berjalan sangat baik. 'Sangat baik," sahut ibu yang lain.


"Terima kasih, saya baik‐baik." Seharusnya Laras langsung mendorong kereta belanjanya, karena ia berhasil memaksa ibu‐ibu itu untuk bersikap santun, tetapi salah seorang di antara mereka mengajak Laras bicara.


"Pasti Anda terhibur Andre ada di rumah pada saat seperti ini."


Hati‐hati, laras, batin Laras mengingatkan dirinya. Mereka ganas seperti ikan piranha, dan mereka bisa mencabik‐cabik dirimu.


Ibu‐ibu itu benar‐benar menyimak setiap kata yang meluncur keluar dari mulut Laras. "Berapa lama ia akan tinggal di sini? Bukankah bisnisnya sukses di luar negeru? Di mata dia, pastilah kita hanya orang‐orang kampung."


"Andre sangat mencintai kota kelahirannya ini. Nama kota ini kan diambil dari nama keluarga ibunya, Anda tahu. Kota ini akan senantiasa


menjadi rumahnya." Jawaban Laras makin membangkitkan rasa ingin tahu mereka.


Mereka makin rapat, seperti binatang buas yang mengerumuni mangsa dan siap melahapnya. "Tetapi bagaimana dengan Anda?


Setelah Anda menikah dengan Tuan Indra tidakkah rumah itu akan menjadi milik Andai Atau Anda merencanakan tinggal di sana bersama‐sama? Seperti satu keluarga besar?"


"Kami memang satu keluarga besar," sabut Laras sambil tersenyum dingin. "Satu keluarga besar yang sangat bahagia."


"Oh, pasti," jawab mereka, mengiakan penuh semangat.


"Salam saya untuk Sarah," kata Laras kepada ibu teman sekelasnya sambil menjauh. "Saya dengar ia punya anak lagi."

__ADS_1


"Yang keempat." Mata yang tak berwarna itu memandangi Laras yang memakai gaun dari katun dengan iri. "Sayang sekali Tuan Indra tidak memberikan seorang anak pun. Anak bisa


menjadi hiburan yang menyenangkan di saat duka." pernyataan keprihatinan yang paling palsu yang pernah didengar Laras dalam


hidupnya.


Andai Laras tidak sedang bergulat menahan marah, ia pasti sudah menertawai sikap yang sangat berpura‐pura itu.


"Untuk apa anak baginya, Mit?" Sepasang mata yang lain, yang sama dengkinya, penuh prasangka, menatap tubuh Laras. "Kan ada Andre yang bisa menemaninya tinggal di rumah itu dan memberikan hiburan yang dibutuhkannya."


"Oh, ya, Andre. Kita tidak boleh lupa, ada Andre tinggal bersama dia."


"Selamat sore, ibu-ibu" sahut Laras, bergegas. Ia memaksakan diri mengambil barang‐barang dalam daftar yang harus dibeli sebelum langsung pergi ke kasir dan meninggalkan supermarket tersebut.


Penghinaan itu membuat matanya terasa


panas. Selama Indra hidup, tak seorang pun berani berkata seperti itu padanya, yang mungkin karena takut pembalasan yang akan dilakukan Indra. Mereka harus menghormati istri Indra Gunawan, seberapa dalam pun iri hati mereka. Ternyata, menjadi jandanya tidak demikian situasinya.


Ia kembali menjadi Larasati Anwar dan tampaknya stigma latar belakang kehidupan itu akan tetap melekat padanya seumur hidup. Tak peduli betapa pun bersihnya hidup seseorang, bila ia dibesarkan dari golongan terbuang, moralnya akan tetap diragukan.


Mengapa ia tidak meninggalkan kota ini, yang penuh orang‐orang picik dan penuh prasangka?


Untuk alasan yang sama, Andre juga tidak bisa meninggalkan kota ini. Akar mereka sudah tertanam terlalu dalam. Andre berada pada


status sosial paling tinggi dalam masyarakat, sementara dirinya paling bawah, tetapi cintanya terhadap kota ini sama dalamnya dengan Andre. Menjengkelkan memang, menjadikan kota ini sebagai kota kelahiran, tanpa ada harapan untuk bisa mengubahnya.


Tidak kah orang‐orang itu melihat bahwa ia mampu mengelola salah satu pabrik pemintalan kapas yang terbaik, terbesar, di daerah sini?


Tidakkah mereka memperhitungkan bahwa ia punya gelar sarjana? Atau justru prestasi‐prestasi yang dicapainya menyulut


kecemburuan mereka? Mengapa ia harus menghukum dirinya seperti ini? Mengapa ia


tidak tinggal di kota lain saja, di tempat yang tidak tahu latar belakang hidupnya?


Rumah mewah itu. Sepanjang ingatannya, ia selalu mengkhayalkan dirinya tinggal di


rumah itu. Dan kini, ketika Andre menuntut rumah itu adalah rumah warisannya, apa yang akan ia lakukan? Meninggalkan kota

__ADS_1


kelahirannya? Takkan pernah kembali lagi ke kota ini? Tidak. Ia akan mencari rumah tinggal lain di kota ini dan kembali berkhayal tinggal di rumah itu. Namun ia takkan pernah bisa meninggalkannya secara utuh. Takkan pernah.


__ADS_2