
Laras menatap Andre, seakan Andre sudah linglung. "Aku tak mengerti arah pembicaraanmu, Andre. Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar bisa dapat beasiswa terus, aku harus mempertahankan nilai kuliahku rata‐rata B. Aku menghabiskan
waktu dengan terus‐menerus belajar.
Bagaimana kau bisa mengira aku sudah menikah?" Andre juga terkejut. Mungkinkah Diana mengarang‐ngarang cerita itu? Tidak. Diana tidak mengenal Laras, setelah bekerja di perusahaan Imdra baru ia mengenalnya.
Indra. Sepintas kecurigaan menyelinap di benak Andre. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengerikan, bahkan untuk dipikirkan
sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Indra...
"Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah...."
"Dengan ayahku."
Setelah terdiam lama, Laras menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun‐tahun. "Apa yang terjadi antara kau dan Ery?"
"Perang Dunia Ketiga,” jawab Andre sambil tertawa. Laras tidak memberi tanggapan sepatah kata pun. Ia duduk dengan sikap
tegang, jari‐jarinya bertaut. "Sejak awal sudah salah. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia manfaatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Alyssa lahir, kami mengurus perceraian."
"Kau pernah melihat anak itu? Alyssa?"
"Tidak. Tidak pernah," jawab Andre. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya
jelas ia menutup topik pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Laras, mengetahui Andre tidak mencintai anaknya, anak satu‐satunya.
Bisa‐bisanya ia punya perasaan seperti itu? Bertahun‐tahun setelah kenangan musim panas yang indah tersebut, Laras bermimpi punya anak dari Andre. Bayi itu akan jadi bukti istimewa yang ditinggalkan Andre buat dirinya, bagian diri Andre untuk dicintai karena Andre tak tinggal di kota itu lagi.
"Akhirnya kami bercerai..., perceraian yang memakan waktu bertahun‐tahun... dan aku lebih memusatkan perhatian pada bisnis
penerbangan yang baru kurintis."
"Aku bangga padamu, Ndre" komentar Laras dengan lembut dan tulus, membuat Andre menoleh.
Senyumnya getir. "Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah satu‐satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan... hal‐hal lain."
"Hal lain? Rumah?"
Lama mata Andre tertuju pada Laras. Sorot matanya tajam menusuk.
"Ya," jawabnya pendek lalu berdiri. Dengan
__ADS_1
membelakangi Laras, Andre menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah. "Rumah ini, Diana, Ayah, Pabrik kapas, kampung halamanku. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkannya."
"Kau mempunyai kehidupan baru di Luar Negeri...."
"Ya." Hanya itu yang dijawab Andre. Tepat sekali, ingin ia menambahkan. Dulu rumahnya terlalu baru, terlalu mewah. Tidak punya karakter atau kelembutan. Pesta‐pestanya terlalu kasar.
Para perempuannya... Para perempuannya terlalu glamor, terlalu bergaya kosmopolitan, penuh kepura‐puraan. Ia bisa masuk ke
balik topeng mereka dan begitu jugasebaliknya.
Hidup yang dijalaninya kini penuh kepalsuan. Bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis penerbangan Air Star‐nya. Ia bangga.
Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan prestasi yang patut di banggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang dibutuhkan kerja keras bertahun‐tahun.
Tetapi bukti kesuksesan tersebut tak punya arti apa‐apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di kota ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya hanyalah
kepalsuaran. Ia tidak pernah memaafkan ayahnya yang membuatnya kabur dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik menghadap ke Laras. "Mengapa kau menikahinya?"
Laras hampir takut melihat kemarahan yang terpancar di mata Andre. "Aku tak mau membicarakan kehidupan pribadiku bersama ayahmu denganmu, Ndre"
"Aku tidak ingin tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikahinya. Ia kan pantas menjadi kakekmu, ya ampun!" Andre maju, mencondongkan badan ke dekat Laras, kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi goyang, mengurung Laras yang
"Mengapa? Mengapa kau kembali ke kota
ini setelah lulus jadi sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini."
Laras merasa lehernya kaku karena mendongak agar bisa menatap Adre. "Ibuku masih hidup. Aku kembali, dapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah di kota. Aku berjumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan pekerjaan dipabrik pemintalan kapasnya, aku terima. Ia melipat gandakan gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa memakamkan ibuku dengan terhormat."
Napas Andre memburu, wajahnya memerah. Rambutnya yang hitam bergelombang tergerai di dahinya. Sejak dulu kemejanya tidak pernah ia kancing semuanya. Begitu juga kali ini. Mata
Laras sejajar dengan dadanya yang bidang. Andre sungguh priasejati, ia tampak sangat jantan, sangat menarik sekaligus berbahaya.
Laras ingin memejamkan mata supaya tidak melihat semua daya tarik yang ada pada diri Andre.
"Setelah beberapa lama aku mulai datang ke rumaj ini untuk bekerja di sini, bukan di pemintalan kapas."
"Aku yakin kau pasti senang sekali, diundang ke rumah ini."
"Ya!" seru Laras pelan. "Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembum hutan, rumah ini seperti istana dalam dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Ndre."
"Lanjutkan. Aku terpesona. Apakah ayahku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng khayalanmu?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak. Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di sini. Ayahmu menyerahkan
hampir semua urusan bisnis padaku. Diana dan aku menjadi sahabat. Indra yang mendukung persahabatan kami, karena Diana tidak punya teman sebaya."
Laras membasahi bibirnya. Andre menatap gerakan lidah Laras dengan penuh gairah.
"Segalanya berlangsung perlahan‐lahan. Rasanya hubungan kami sudah sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika ayahmu melamarku untuk menjadi istrinya, aku mengiakan. Ia bisa
mewujudkan semua mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat dengan cara lain."
"Nama baru."
"Ya."
"Pakaian."
"Ya."
“Uang."
Ya."
"Rumah bagus."
"Rumah yang selalu kudambakan."
"Untuk semua itukah kau jual dirimu pada ayahku?" bentak Andre.
"Dalam beberapa hal, kurasa demikian." Reaksi yang ditunjukkan Andre membuat Laras merasa dirinya seperti manusia tidak
berharga. Namun ia berusaha membela diri. "Aku ingin menjadi sahabat karib Diana. Aku ingin menolong ayahmu."
"Jadi motivasinya pengorbanan."
"Tidak," kilah Laras sambil menunduk. "Aku ingin tinggal di rumah ini. Aku ingin orang menghormatiku karena aku istri Indra. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah gubuk, hidup susah setiap hari, mengenakan pakaian rombeng sementara gadis‐gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik, aku harus bekerja sepulang sekolah setiap hari, juga di hari Minggu, sementara para gadis lain bisa pergi ke Dairy Mart, nonton
pertandingan sepak bola, sedangkan aku hanyalah anak pemabuk, kau takkan bisa memahami semua itu, Ndre!"
Sambil menyebut nama Andre, Laras bergerak hendak bangkit, tetapi Andre bergeming dari tempatnya.
Tubuh Laras berhadapan dengan Andre. Andre mencengkeram lengan Caroline. Napas keduanya memburu, keduanya seperti habis berlari cepat. Laras tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Andre.
Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya sampai ke
__ADS_1
bagian lekukan tenggorokan Andre yang berbentuk V, mengamati denyut nadinya yang cepat. Laras merasakan tubuh bagian bawahnya bergetar, lemas karena gairah. Bibiriya gemetar ketika mengucapkan kata‐kata, "Tolonglah, biarkan aku lewat, Ndre, kumohon."