
Mata Andrr melirik Larasnsesaat, lalu kembali pada piring makanannya. "Tidak ada gunanya lagi aku tinggal di sini," ujar Andre marah sebelum menyuapkan makanan ke mulut.
"Siapa bilang? Masih ada Diana," Laras mengingatkan Andrr dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat
pintu, Laras memaksakan diri melangkah masuk ke dapur.
Laras tidak ingin Andre tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam
di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi
janda Indra. Sebagai istri, Larasnmerasa punya hak tetap tinggal di rumah ini. Laras berjalan ke
lemari es, mengambil segelas teh es yang
sebetulnya tak diinginkannya.
"Tiap hari ia menyuruhku memeriksa kotak
pos, kalau‐kalau ada surat darimu. Demi dia, kau tidak boleh meninggalkan rumah ini, kendati kau bertengkar hebat dengan ayahmu."
"Aku benci tidak bisa tinggal di sini untuk dia. Apakah ia baik‐baik saja?"
"Tentu, tentu. Sangat cantik."
"Bukan itu maksudku." Bi Ani meletakan gelas
di meja. "Aku tahu yang kau maksud," ujar
Bi Ani datar.
"Ya, Diana baik‐baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-pertanyaanmu tentang dia di
dalam surat‐suratmu bahwa kai tidak dapat
membayangkan bagai‐mana keadaan Diana,
Andre. Diana memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang do pelajarinya
dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di
sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu seperti sama anaknya. Diana tumbuh menjadi perempuan cantik. Ingat Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakikan seperti benda rapuh yang mudah pecah, Ia perempuam muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."
"Tetapi ia berbeda." tukas Andre.
__ADS_1
"Tidak terlalu," sela Laras. "Ia tahu perkembangan dunia, tetapi emosinya tidak
stabil. Aku lebih mencemaskan kelabilan
jiwanya ketimbang perkembangan mentalnya. Andai orang yang di cintainya mengecewakannya, sakit hatinya pasti sulit disembuhkan."
Mata Andrr tak beralih sedikit pun dari wajah Laras ketika ia mengelap mulutnya dengan serbet dari bahan katun.Dilemparkannya serbet itu, lalu menarik kursinya dari meja. "Terima
kasih untuk ceramahnya, Kakak Laras. Akan selalu aku akan selalu mengingatnya."
"Aku bukannya bermaksud...."
"Begitulah yang kau maksud," potong Andre sambil mengambil teko kopi, menuang isinya ke dalam cangkir.
"Andre Gunawan, tidak pantas kau bersikap begitu pada Laras." bi Ani terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya.
Belum lima menit mereka berkenalan, tetapi sudah bermusuhan. Jelas Andrebtidak setuju ayahnya mengambil wanita muda seperti Laras sebagai istri.
Namun Andre sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh
pernikahan Indra bagi dirinya? Kecuali kalau menyangkut rumah ini.
"Mana tata krama yang ibumu dan aku ajarkan? Ingat, Laras istri ayahmu. Ia harus kau hormati sebagaimana mestinya."
"Itu Diana datang," seru Bi Ani sambil memandang kedua orang yang ada di dapur tersebut.
"Jangan kacaukan hatinya, Andre. Cukup satu
kejutan yang harus ia terima hari ini dan ia berhasil mengatasinya dengan baik."
Suara Diana yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Diana berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki‐lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak
berseri‐seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibir‐nya. "Andre," panggilnya lirih.
Ia langsung menghambur mendekati Andre, melingkarkan tangannya yang kurus di leher kakak laki‐lakinya itu dan membenamkan wajah di leher kemeja Andre. Andre balas memeluk
Diana, mengangkatnya, lalu mengayun‐ayunnya ke depan dan kebelakang sambil tetap mendekapnya. Dipejamkan matanya rapat-rapat untuk menekan emosi yang menguasai perasaannya.
Diana‐lah yang pertama melepaskan pelukan. Dengan jemarinya yang kelihatan rapuh seperti tanpa "semangat hidup, dielusnya wajah kakak laki‐lakinya, rambutnya, bahunya, seakan
hendak meyakinkan diri bahwa kakaknya benar‐benar ada di hadapannya.
"Kau tinggi sekali," komentar Diana. "Dan tegap." Diana tertawa, memegang otot lengan Andre.
__ADS_1
"Kau cantik dan begitu dewasa." Andre mengamati tubuh Diana, gadis muda yang
cantik dan halus. Kemudian keduanya tertawa
bahagia karena bisa berjumpa. Kembali mereka berpelukan.
"Daddy akan meninggal, Andre" ujar Diana serius ketika akhirnya mereka saling melepaskan pelukan. "Laras sudah
memberitahumu...”
"Ya," jawab Adre pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telunjuknya.
"Tetapi sekarang kau sudah ada di rumah. Bi Ani, Laras, dan Beni...oh ya ampun! Aku lupa
memperkenalkannya padamu."
Diana berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa.
Diananmeraih tangannya dan menariknya maju. "Beni Setiawan, ini kakakku, Andre."
Beni melepaskan jarinya dari genggaman tangan Diana untuk menyalami Andre, yang memandangnya dengan sorot mata penuh selidik. "apa kabar Tuan Andre Gunawan?"
"Panggil Andre saja," jawab Andre, menjabat tangan Beni kuat‐kuat. "Sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Setahun lebih sedikit."
Andre melirik adik perempuannya lalu kembali memandang si manajer kandang kuda. "Diana pernah menyebut namamu dalam suratnya."
"Salah satu kuda betina melahirkan kemarin, Andre" Diana memberitahu Andre dengan suara riang. "Beni yang menolongnya melahirkan."
"Saya harus kembali untuk melihat keadaan mereka," kata Beni.
"Tinggallah di sini sebentar, minum teh dan menikmati kue‐kue kecil bersama kami," ajak Bi Ani.
Sejenak Beni menatap Andre, lalu memalingkan wajah. "Terima kasih. Saya harus segera melihat anak kuda yang baru lahir itu."
"Besok pagi aku akan menjenguknya, Beni, Boleh?" Diana bertanya sambil menggenggam tangan Beni lagi.
"Tentu saja," jawab Beni lembut sambil tersenyum melihat kepolosan sikap Diana. "Ia pasti rindu sekali padamu bila kau tidak
menjenguknya. Beni melepaskan genggaman tangan Diana dan keluar lewat pintu belakang. "Selamat malam, Beni," ucap Diana.
"Selamat malam, Diana" jawab Beni. Kemudian Beni menyentuh pinggir topi koboinya sebagai salam hormat kepada yang lain, menghilang di kegelapan malam dengan langkah terpincang‐pincang.
__ADS_1
Rink menatap kepergiannya lalu menutup pintu. Bi Ani sibuk memotong kue dan menyendokkan es krim vanila keatasnya.