DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 27


__ADS_3

"Misalnya berzina?"


"Tidak!"


"Kau istriku."


"Ya."


"Sebaiknya kaucamkan itu."


Sesudah itu kekuatan Indra lenyap. Kembali ia jatuh terkulai di bantalnya, sesak napas. Laras melepaskan tangannya dari cengkeraman Indra, lalu lari ke pintu. Ia ingin melarikan diri dari tempat itu tetapi hati nuraninya menegurnya, dan ia segera memanggil perawat. "Suami saya," katanya dengan napas megap‐ megap. "Saya... saya kira ia perlu disuntik. Ia sangat kacau."


"Kami akan menanganinya, Nyonya." jawab perawat itu ramah. "Kalau boleh saya bicara, Anda kelihatan sangat letih. Sebaiknya Anda pulang saja dulu."


"Ya, ya," jawab Laras, mencoba mengum‐pulkan kekuatan. Jantungnya berdebar‐debar. Ia gemetar ketakutan. Mengapa ia merasa demikian takut pada suaminya sendiri? "Saya rasa, ya."


Danu melangkah keluar dari lift ketika Laras akan masuk.


"Laras, ada apa?" Danu terkejut melihat air muka Laras.


"Tidak, tidak ada apa‐apa. Aku mau ke pemintalan. Ada masalah di sana, tetapi jangan beritahu Indra soal kepergianku. Ia sedang


kacau." Dengan napas tak beraturan, Laras menyandarkan diri ke dinding lift, seakan itu tempat persembunyian yang aman baginya dari ancaman teror yang menakutkan.


"Ada yang bisa kubantu...."


"Tak usah," jawab Laras, sambil menggeleng saat pintu lift mulai tertutup. "Aku tak apa‐apa. Cepat temui Indra. Ia membutuhkanmu."


Pintu lift tertutup di antara mereka. Laras menutup mulut dengan tangan, menekan kesedihan yang dirasakannya mulai


menyesakkan tenggorokannya. "Tuhan, oh, Tuhan," rintihnya, tidak menyangka Indra bisa begitu menakutkan. Perutnya terasa seperti


diaduk‐aduk. Tubuhnya panas‐dingin.


Laras berusaha menguatkan diri untuk berjalan di sepanjang lobi lantai satu rumah sakit tanpa sedikit pun kelihatan dalam keadaan tertekan. Ketika sampai di mobil, gemetar tubuhnya


berkurang. Dengan jendela mobil terbuka, Laras mengemudikan mobil menyusuri tepi sungai. Angin menerpa rambutnya, membawa aroma musim panas. Lalu lintas tidak ramai dan ia


mengemudi dengan cepat, berusaha mengusir ketakutan yang mencekam dirinya beberapa saat lalu.


Ia biarkan pikirannya mengembara. Indra tak mungkin tahu apa yang terjadi antara ia dan Andre musim panas itu. Andre tidak mungkin menceritakan hal tersebut padanya. Jelas. Tak seorang pun pernah melihat mereka berdua atau menggosipkan mereka di kota.


Tidak, Indra pasti tidak tahu. Ia juga tak mungkin berpikiran Laras dan Andre saling tertarik. Indra mengira ia dan Andre baru


saling mengenal beberapa hari lalu.


Ancaman terselubung dan peringatan yang diungkapkan Indra semata‐mata hanyalah khayalan dan perasaan bersalah dalam


dirinya. Barangkali kata‐kata yang dengan cermat dipilihnya tadi bukan dimaksudkan sebagai ancaman. Ya, batin Laras sambil


menggeleng.


Kata‐kata Indra ingin dianggapnya punya makna yang sebaliknya. Namun mengapa Indra mengatakan demikian?


Apa lagi yang dipikirkan Indra? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali berpikir, menduga‐duga, merasa ketakutan dan curiga. Pria yang otaknya biasa aktif seperti otak Indra pasti merasa tersiksa ketika hanya bisa terbaring di ranjang sepanjang hari. Indra paling benci duduk berdiam diri, tidak melakukan aktivitas apa pun.


Makanya, kekuatan mental adalah satu‐satunya yang tersisa dalam dirinya, sehingga pikirannya bekerja lebih kerasuntuk kompensasi bagi tubuhnya yang kini tak berdaya lagi.


Perasaan sakit hati dan marah memperbesar segala yang melintas di benak Indra, membesar‐besarkan masalah kecil. Ia

__ADS_1


memiliki istri yang tiga puluh tahun lebih muda darinya. Ia punya putra yang tampan dan sangat jantan. Saat ini keduanya tinggal


serumah.


Indra menggabung‐gabungkan fakta tersebut, yang kemudian menimbulkan kecurigaan yang menakutkan. Indra keliru! Laras tidak melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan seorang istri.


Namun kecurigaan Indra ada benarnya. Membayangkan bercinta dengan Andre sudah termasuk dosa. Dan Laras merasa tidak mampu menghilangkan bayangan itu.


Ia harus menghapus pikiran tersebut dari benaknya. Barangkali bila ia memperlakukan Andre sebagai teman, meskipun kelihatan


ganjil, bersikap sebagai ibu tiri yang menjaga kedamaian dalam keluarga, kenangan akan masa lalunya akan lenyap. Ia harus melihat


kesalahannya dengan sudut pandang baru, menempatkannya kemasa sekarang, dan melupakan segala yang pernah terjadi di masa


lalu.


Ketika tiba kembali di pabrik pemintalan kapas, sinar matahari sore yang sudah condong ke Barat masuk menyinari lantai melalui jendela yang terletak jauh tinggi di tembok. Laras memandang ke sekelilingnya dengan jengkel. Pabrik sudah ditinggalkan para pekerja, hanya ada Andre, yang telentang di lantai, satu kaki ditekuk, mengamati kerja mesin pemintal. Andre sedang memukul besi mesin.


Suaranya yang nyaring menggema, menenggelamkan suara langkah kaki Laras. "Ke mana orang‐orang?" Suara besi beradu berhenti.


Kepala Andre muncul dari balik salah satu peralatan dan ia duduk. Disekanya keringat di dahinya dengan sapu‐tangan. "Hai, aku tidak


mendengar kau datang. Aku menyuruh orang‐orang pulang satu jam lebih cepat. Tak ada yang bisa mereka kerjakan selama aku membetulkan mesin ini." Andre mengarahkan ibu jarinya ke balik bahu, ke mesin yang tengah diperbaikinya. "Debu di mana‐mana. Kalau ada kabel yang tidak beres di ruangan ini, bisa berbahaya."


Seharusnya Laras memarahi Andre yang menyuruh para karyawan pulang lebih cepat, karena Andre tidak berhak melakukan


hal itu, tetapi itu tidak dilakukannya. Sewaktu mengemudi mobil tadi, Laras yakin keputusan yang dibuat Indra diambil karena ia harus tinggal di rumah sakit. Tindakan yang dilakukan tanpa izin darinya adalah hal yang sangat dibenci Indra.


Tetapi Laras membela diri, bila Indra tidak tahu, itu tidak akan menyakiti hatinya. Pada akhirnya, apa yang baik untuk pabrik pemintalan adalah apa yang Indra ingin Laras lakukan.


Laras berjongkok di dekat Andre. "Bagaimana? Sudah ketemu masalahnya?"


"Bisa diperbaiki?"


"Sementara." Andre menarik napas dan menyeka keringat di alis dengan lengan baju. "Bagaimana kondisi ayah hari ini?"


Mengingat apa yang terjadi di dalam ruangan rumah sakit membuat Laras menggigil. "Tidak terlalu baik. Hampir sama saja." Andre mengamati Laras, tetapi Laras tidak ingin memperlihatkan perasaannya. Cepat‐cepat ia mengubah topik pembicaraan dengan bertanya, "Kau sudah makan?"


"Belum. Aku kepanasan dan badanku kotor untuk makan." Memang benar, badan Rink kotor. Wajahnya berminyak dan berkeringat. Membuat giginya jadi kelihatan lebih putih ketika ia tersenyum. "Lagi pula, aku tak mau membuang waktu."


Laras tersenyum lalu merogoh kantong kertas putih.


"Kubawakan makan siang untukmu. Kau tidak perlu berhenti bekerja kau bisa memakan makan siang ini." Laras memasukkan sedotan ke gelas plastik.


"Apa ini?" Laras menyerahkan gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Andre, lalu berdiri. "Milk shake cokelat."


Apa maksudnya? Brengsek, mana aku tahu, Andre menjawab pertanyaannya sendiri ketika berada di kamar mandi dan hendak menyalakan keran air. Ia melepas pakaiannya yang berkeringat, penuh minyak dan debu. Ia menyeruput minumannya dan meletakkannya di meja.


Pertama, milk shake cokelat. Jelas, itu tawaran persahabatan sebagai tanda berdamai. Sepanjang sore Laras tinggal di pemintalan. Ia bilang akan menyelesaikan urusan administrasi, tetapi ternyata ia lebih banyak berlutut di samping Andre dan menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya, atau apakah ada yang bisa diambilkannya.


Seperti perawat yang membantu dokter bedah, Laras segera memberikan perkakas kepada Andre tiap kali Andre menjulurkan tangan.


Mereka mengobrol tentang hal‐hal yang tidak penting. Kebanyakan tentang topik yang mereka ketahui. Mereka bicara soal keluarga.


Yang tak satu pun ada kesamaan di antara mereka. "Kaulihat Diana hari ini?" tanya Laras.


"Tidak. Kaulihat?"


"Tidak. Kemarin ia kelihatan depresi sekali. Aku takut itu gara‐gara ia kini tahu keadaan Indra yang memburuk."

__ADS_1


"Mungkin. Tetapi bisa saja karena sesuatu yang berkaitan dengan Beni." "Mengapa kau bilang begitu?" "Tolong berikan obeng itu lagi." "Yang gagang merah atau kuning?"


"Merah. Karena pagi tadi, ketika ia mengeluarkan kuda untukku, Beni kelihatan pendiam sekali."


"Mungkin kau mengintimidasinya."


"Oh, Tuhan, aku ingin melakukan hal itu." Andre mengharapkan argumentasi. Meskipun


kelihatan tidak suka dengan apa yang dikatakannya, Laras tidakmemberi komentar. Karena lantai pabrik sangat berdebu, Laras


duduk di bangku dekat Andre, terlalu dekat.


Meskipun kepala Andre ada di kolong mesin, meskipun tidak langsung melihat wajah


Laras, ia tetap menyadari keberadaan Laras. Aroma tubuhnya seperti memenuhi seluruh ruangan, seperti hawa panas petang itu.


Di balik pakaiannya, butir‐butir keringat mengucur deras. Tetapi ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Laras, rasanya


sejuk dan kering. Ingin Andre menempelkan tangan itu ke wajah, leher, dan dadanya.


Sambil mengumpat karena teringat peristiwa petang itu, Andre menyeruput minumannya lagi. Itu baru sebagian dari tubuhnya yang


ia ingin disentuh tangan Laras.


Dalam perjalanan pulang, Laras banyak bicara. Ketika hampir tiba di pintu gerbang, Laras menoleh ke arahnya dan berkata.


"Kau mandinya jangan lama‐lama. Aku akan minta Bi Ani menunda makan malam supaya kau sempat mendinginkan badan dan beristirahat. Kusiapkan minuman untukmu. Apa yang kau suka?"


Yang diinginkannya dari Laras saat itu adalah penjelasan mengapa mendadak ia bersikap ramah padanya. Apakah Indra memintanya melakukan hal itu? Atau ini memang gagasannya?


Mengapa tiba‐tiba Laras bersikap seperti ibu tiri yang berusaha mengambil hati anak tirinya? Hmmm, apa pun siasatnya, ia takkan berhasil, batin Andre sambil melangkah ke bawah pancuran air. Ia takkan pernah menganggap Laars sebagai ibu tirinya, dan andai Laras menganggap ia bisa berperilaku seperti itu, berarti ia tidak ingat sama sekali pengalaman di musim panas itu.


Musim panas. Mengingat peristiwa itu saja sudah membuat jantung Andre berdebar‐debar.


Andre memaki dirinya. Dua belas tahun kemudian, ia masih saja bertingkah seperti orang bo doh.


Hei, Andre Ginawan, laki‐laki yang patah hati. Hah! Ia tidak pernah mendapat kesulitan dengan perempuan kecuali saat harus melepaskan diri dari perempuan yang membosankannya. Apakah aneh bila perasaannya terhadap Laras muncul seperti ombak besar?


Musim panas itu penuh konflik. Ia merasa sangat bahagia sekaligus sangat sedih, seingatnya. Saat tidak bersama Laras, ia


ingin waktu cepat berputar agar ia bisa sege'ra bersamanya. Saat bersama Laras, saat yang sangat dinikmatinya setiap detiknya, ia berharap waktu tidak cepat berlalu agar ia tidak berpisah darinya.


Ia frustrasi karena tidak bisa mengajak Laras pergi ke tempat kencan biasanya, dan takut ada yang melihat mereka bersama. Ia selalu kelaparan tetapi tidak ada yang ingin dimakannya. Ia dililit gairah sepanjang waktu


tetapi tidak tahu bagaimana menyalurkannya. Ia tidak bisa melakukan hal itu dengan Laras,


tetapi juga tidak ingin melakukannya dengan perempuan lain.


Ia hanya menginginkan Laras. Ia tidak bisa memilikiperempuan itu.


Siang malam ia berdebat dengan dirinya sendiri. Laras masih di bawah umur, ya Tuhan. Lima belas tahun! Kau hanya cari masalah, Andre. Masalah besar.


Namun setiap menunggu Laras di pinggir hutan, ia cemas kalau‐kalau Laras tidak muncul. Kecemasannya tidak hilang, sampai ia melihat Laras berdiri di antara pepohonan yang


bermandikan cahaya matahari.


Namun suatu hari, di hari terakhir itu, matahari tidak bersinar.


Hari itu turun hujan....

__ADS_1


__ADS_2