
"Bi Ani, sebaiknya segera siapkan kamar Andre. Dia akan datang
malam ini."
Mendengar berita itu, pengurus rumah tangga tersebut tampak seperti ingin menangis.
"Oh Tuhan, Oh Tuhan Aku sudah lama
berdoa agar anakku yang satu itu mau pulang. Ibunya yang di surga pasti menari‐nari hari ini. Pasti ia senang sekali.
Yang dibutuhkan kamar itu hanya perlu
seprai baru. Aku selalu membersihkannya, kalau‐kalau suatu hari ia kembali menempatinya. Tuhan, Tuhan, aku ingin
sekarang."
Laras berusaha untuk tidak memikirkan saat ketika ia harus berjumpa anak kesayangan itu,
berbicara dengannya. Ia menyibukkan diri
dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikannya.
Ia juga tidak memikirkan kematian Indra yang semakin dekat, itu akan dipikirkannya nanti,
saat ia sendirian. Tidak juga waktu ia
berkunjung ke rumah sakit petang hari itu dan duduk di samping ranjang suaminya, ia tidak
membiarkan benaknya dipenuhi pikiran Indra
yang takkan pernah meninggalkan tempat itu.
Suaminya masih dibawah pengaruh obat bius, tetapi Laras merasa tangannya ditekan pelan
waktu ia menggenggam tangan Indra dan
meremasnya sebelum pamit.
Saat makan malam, ia memberitahu Diana tentang kabar kepulangan Andre. Gadis itu
melompat dari kursi, menyambar tangan
Bi Ani, dan menari‐nari mengelilingi ruangan. "Ia memang berjanji suatu hari akan pulang, bukan, Bi Ani. Sekarang Andre pulang. Aku
ingin memberitahu Beni." Diana langsung lari keluar lewat pintu belakang menuju kandang kuda, ke tempat tinggal Beni.
"Gadis itu akan mempermalukan dirinya sendiri bila ia tidak membiarkan pemuda itu sendirian."
Laras tersenyum penuh arti. "Aku tidak berpendapat begitu."
Bi Ani menengadah dan menaikkan alis karena penasaran, tetapi Laras tidak meneruskan kata‐katanya. Ia mengambil gelas es teh
lalu berjalan ke teras depan. Waktu duduk di kursi goyang bercat putih, ia menyandarkan
kepala pada bantalan kursi bersarung kain
kembang‐kembang dan memejamkan mata.
Inilah saat yang paling disukainya ketika menghuni rumah ini, waktu hari menjelang malam, ketika sinar lampu di dalam rumah
menyelinap ke luar dari celah‐celah jendela, yang kelihatan seperti kemilau permata. Bayang‐bayang memanjang dan berwarna‐warni, saling menyatu sehingga tak
ada sudut atau bentuk yang jelas.
Warna langitnya sangat khas, gradasi ungu yang cantik. Pepohonan menjulang di latar
depannya. Suara kodok di sungai, suara jangkerik menggema di udara tak berangin dan
__ADS_1
lembap dengan nada tinggi melengking. Tanah di delta itu menyebarkan bau yang subur.
Setiap kuntum bunga menyebarkan harum yang unik dan memabukkan. Setelah la beristirahat, Laras membuka mata. Ketika itulah
ia melihat pria tersebut.
Ia berdiri tak bergerak di bawah dahan pohon cemara yang menjulur. Jantung Laras seperti berhenti berdetak dan pandangannya kabur.
Ia tidak tahu apakah sosok pria itu sungguhan atau hanya ilusi.
Kepalanya pusing, dicengkeramnya gelas es teh erat‐erat supaya tidak lepas dari cengkeraman jemarinya yang kaku dan dingin.
Pria tersebut bergerak menjauh dari dahan pohon dengan gerakan seperti harimau, dan
dalam diam, makin lama makin dekat sampai akhirnya ia tiba di anak tangga batu yang menuju teras. Ia hanya slah satu dari banyak
bayangan yang ada, tetapi siluet maskulinnya jelas terlihat ketika ia berdiri dengan kaki terbuka lebar. Secara fisik, waktu tampaknya bermurah hati padanya. Sekarang ia lebih bersisi dari saat pertama kali Laras berjumpa
dengannya.
Kegelapan malam menyembunyikan wajah pria itu dari pandangan Laras, tetapi Laras dapat melihat kilatan giginya yang putih ketika ia mulai tersenyum.
Senyumnya ramah, sebagaimana juga nada bicaranya. "Hem, kalau tak salah, kau Larasati Putri." Ia meletakkan sebelah kakinya yang
mengenakan sepatu bot di anak tangga dan
membungkukkan badan, satu tangan bertopang di lutut. Ia menatap Laras, sinar lampu dari pintu utama menerpa wajahnya.
Dada Laras terasa sesak oleh perasaan sakit... dan cinta. "Ya, tapi sekarang sudah menjadi
Nyonya Indra Gunawan, bukan?"
Wajah itu! Wajah yang selalu muncul dalam mimpi‐mimpi dan khayalannya. Wajah tetap paling memesona yang pernah dilihatnya.
Tampan ketika berusia dua puluhan, dan makin tampan dalam usia tiga puluhan.
keliaran jiwanya dengan helai‐helainya yang tak bisa dikendalikan. Sorot matanyq yang memikat Laras sejak pertama kali melihatnya
menggugah perasaannya lagi.
Terakhir kali ia berjumpa pria itu, mata tersebut penuh gairah. "Besok... Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita ini. Oh, Tuhan,
Laras, cium aku lagi. Kemudian: Besok, besok. Hanya saja ia tidak muncul keesokan harinya, dan selamanya.
"Lucu," komentarnya dengan nada yang membuat Laras berpikir sebaliknya, "kita menyandang nama keluarga yang sama."
Tak ada tanggapan untuk yang satu itu. Ingin rasanya Laras berteriak bahwa mereka bisa memakai nama keluarga yang sama
beberapa tahun yang lalu andai pria itu bukan penipu, andai ia tidak mengkhianatinya.
Ada beberapa hal yang lebih baik tidak
diungkapkan. "Aku tidak melihat mobilmu."
"Aku terbang, mendarat, dan berjalan kaki kesini. Landasan pacu kira‐kira satu setengah kilometer jauhnya. "Oh.Mengapa?"
"Mungkin karena ingin tahu bagaimana sambutan yang akan kuterima."
"Ini kan rumahmu, Andre."
Ia menyumpah "Yeah, tentu rumahku."
Laras membasahi bibir dengan lidah dan berharap punya keberanian untuk tetap
menghadapinya. Ia takut kakinya tak mampu menopang tubuhnya. "Kau tidak menanyakan kabar ayahmu?."
"Danu sudah memberitahu aku."
__ADS_1
"Kalau begitu kau tahu ia sekarat."
"Ya. Dan ia ingin bertemu aku. Rupanya keajaiban tak pernah lenyap."
Komentarnya yang menyakitkan itu membuat Laras bangkit dari duduk tanpa berpikir dua kali. "Ia sakit keras, Andre. Bukan seperti yang
kau kenal dulu."
"Andai masih tersisa satu tarikan napas dalam tubuhnya pun, ia persis seperti aku mengingatnya."
"Aku tak mau berdebat denganmu tentang hal itu."
"Aku bukan berdebat."
"Dan aku takkan membiarkan kau mengecewakannya atau Diana atau Bi Ani. Mereka ingin bertemu denganmu."
"Kau tidak akan membiarkan? Astaga, astaga. Kau betul‐betul menganggap dirimu nyonya
rumah Gunawan, ya?"
"Tolonglah, Andre. Beberapa minggu ke depan segalanya akan cukup sulit tanpa..."
"Aku tahu, aku tahu." Tarikan napas panjangnya terdengar sampai ke tempat Laras berdiri
tegang di teras, tangannya mengepal erat.
Ia meletakkan gelas es teh di pagar teras karena takut menjatuhkannya. "Aku juga tidak sabar hendak bertemu mereka," katanya dan melirik ke arah kandang kuda. "Aku lihat
Diana keluar dari rumah itu beberapa saat yang lalu, tetapi aku tidak ingin muncul tiba-tiba
dalam gelap dan mengejutkannya. Aku
mengingatnya sebagai gadis kecil. Tak kusangka ia sudah dewasa sekarang."
Ingatan akan Diana dan Beni yang berlutut di tumpukan jerami di kandang kuda, jari‐jari Beni mengelus pipi Dianq, melintas di benak Laras. Ia tidak tahu apa pendapat Andre bila tahu
hubungan asmara adik perempuannya itu. Ia jadi resah menerka‐
nerka. "Ia perempuan dewasa sekarang, Andre."
Laras merasakan tatapan mata Andre pada dirinya, menelusuri,menganalisis, menilai. Tubuhnya seperti dilumuri nafsu yang
menyentuh setiap inci. "Dan kau," katanya lembut. "Kau juga perempuan dewasa sekarang, bukan, Laras? Perempuan
dewasa."
Laras sama sekali tidak berubah. Kecantikan gadis lima belas tahun yang dikenalnya kini mendewasa. Ia berharap bertemu Laras yang
gendut, kumal, kusut, berambut kusam, dan berpaha besar. Ternyata ia masih ramping, dengan pinggang yang seolah aka patah bila ditiup angin. Dadanya berisi dan lembut, namun
tetap tegak, bulat, dan mengundang. Sialan! Seberapa sering ayah menyentuhnya
Ia menaiki anak tangga perlahan‐lahan, seperti pemangsa yang kelaparan tetapi tidak
hendak menyiksa korban sebelum melahapnya.
Matanya yang keemasan, berkilat dalam kegelapan, nanar menatap laras. Senyum lebar di bibirnya menyiratkan pemahaman yang
licik, seakan pria itu tahu apa yang ada dalam benak Laras yang ingin dilupakannya,
bagaimana bibir pria itu menyentuh bibirnya,
lehernya, dadanya.
Laras berbalik. "Aku panggilkan Bi Ani. Mungkin ia...."
Tangan Andre menyambar pinggang Laras membuat langkahnyaa terhenti. Ia memaksa Laras menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," katanya tenang. "Setelah dua belas tahun, tidakah kau merasa kita bisa saling menyapa dengan lebih akrab?"