
Ia banyak berdiam diri sepanjang makan malam. Mereka makan ayam goreng di ruang makan utama, Andre mengumumkan acara
makan itu sebagai acara perayaan keberhasilan mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Delta Textile. Bi Ani dan Diana ikut gembira, Laras sulit menikmati kegembiraan itu setelah menerima penghinaan halus di toserba tadi pagi.
Ia melihat Andre menatapnya dengan sorot mata bertanya‐tanya karena sikapnya yang lebih banyak diam, yang terasa amat mengganggu. Selama makan malam, Laras dengan susah payah berusaha menyembunyikan stresnya.
Setelah makan malam, Laras berjalan‐jalan di halaman. Cuaca malam itu sejuk lagi bersih. Angin sepoi‐sepoi di musim panas meniup dedaunan yang melayang‐layang di atas kepalanya. Laras duduk di ayunan di bawah pohon besar di pojok rumah. Itulah bagian rumah ini yang paling disukainya. Ada suara riak airsungai yang mengalir di dekatnya.
Lumut menutupi hampir seluruh permukaan tanah di sekeliling pepohonan. Tanaman kecil tumbuh lebat. Dengan ujung sepatunya yang hampir tidak menekan rumput yang lembut, ia seperti orang tolol membiarkan dirinya
terayun‐ayun.
"Ada apa, Laras?"
"Kau pasti berdarah penjahat. Kau selalu berhasil menguntitku."
"Aku ke sini bukan hendak bicara soal keturunan. Jawab pertanyaanku. Ada apa?"
"Bagaimana kau tahu aku di sini?"
"Aku tahu saja." Andre memegang tali ayunan, menghentikan gerakannya, dan mencondongkan tubuh ke arah Laras
"Katakan, breng sek, untuk terakhir kali aku bertanya, ada apa?" Laras memalingkan muka dengan resah.
"Tak ada apa‐apa."
"Ada. Apa?"
"Tidak ada."
"Aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum kau menjawab pertanyaanku. Gigitan nyamuk di sini sangat menyakitkan, apalagi setelah gelap. Jadi kau lebih suka diserang gerombolan pengisap darah itu, atau kau ceritakan padaku apa yang mengganggu
pikiranmu? Apa yang terjadi di pemintalan? Aku? Atau apa?"
"Kota ini!" teriak Laras, meledak sambil bangkit. Andre terpaksa melepaskan pegangannya pada tali ayunan. Ledakan kemarahan Laras yang mendadak itu mendorong Andre menepi dan memberi jalan pada Laras. Ayunan yang ditinggalkan Laras terayun‐ayun. Laras berjalan ke arah pohon besar, tangannya diletakkan
pada pohon, dan dahinya bersandar di sana.
"Ada apa dengan kota ini?" "Kota ini penuh orang‐orang picik!"
Andre tertawa kecil. "Kau baru tahu?" "Tidak. Aku tahu hal itu sejak bisa berjalan di belakang
ibuku yang mendorong kereta pakaian bersih yang harus diantarnya. Aku tahu penduduk kota ini penuh prasangka dan suka menghakimi."
Laras berbalik dan menyandarkan bahunya pada batang pohon yang kokoh. "Hanya, kukira dengan memiliki gelar sarjana, pekerjaan bagus, nama keluarga baru, akan meningkatkan
status diriku di mata mereka, sehingga mereka tidak merendahkan aku lagi."
"Kau harusnya lebih tahu. Kalau kau dilahirkan di sini dengan anggapan tertentu, anggapan itu akan melekat pada dirimu selamanya."
"Aku tahu itu. Aku hanya agak melupakannya, dan hari ini aku diingatkan kembali."
"Ada apa?" Laras mengibaskan rambut dan sambil mengerjapkan matanya yang berkaca‐kaca, ia menatap Andre, kemudian kembali membuang pandangannya. "Terlalu bo doh dan dangkal bila aku kecewa karenanya."
Kalau begitu, ceritakan padaku supaya kita sama‐sama tidak kecewa."
Sambil menarik napas, Laras menyebut dua nama wanita yang bicara dengannya di toserba. Andre mendengus kasar. "Baru mendengarnya saja aku sudah tidak suka. Teruskan."
"Mereka... mereka mengatakan betapa beruntungnya aku, yang masih punya kau setelah kematian Indra, bisa tinggal satu atap
denganmu. Mereka memberi tekanan pada bagian kalimat itu. Mereka bilang... yah, kau bisa menebak apa yang mereka katakan...."
"Mereka bilang kita tinggal sebagai keluarga bukan sekadar saling menyapa. Begitu?"
Laras mengangkat kepala, menatap Andre.
"Ya."
__ADS_1
Andre mengumpat. "Mereka mencurigai bisa terjadi sesuatu yang tidak pada tempatnya."
"Ya."
"Berarti, ada yang tidak benar yang dilakukan?"
"Ya."
"Bahwa hubungan kita bukan seperti hubungan anak tiri dengan ibu tirinya?"
Laras tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk. Keheningan menguasai keduanya. Keduanya merasa tidak bisa untuk
tidak saling pandang. Dada Laras turun naik karena jantung yang berdebar cepat. Laras yakin sekali, dengan melihat denyut di dahi
Andre, bahwa jantung Andre pun berdenyut cepat seperti jantungnya.
"Lupakan saja ocehan para perempuan tua itu, Laras. Bergosip itu hiburan buar mereka. Kalau bukan menggosipkan kita, siapa lagi yang akan jadi sasaran mereka? Begitu berita kematian Indra menyurut, mereka akan mencari‐cari bahan gosip mereka."
"Aku tahu itu. Logikaku mengatakan begitu. Hanya saja aku tak tahan menerima sindiran mereka yang sangat menghina. Aku tak
suka diriku dijadikan objek gosip mereka."
Mata mereka kembali saling pandang sesaat, penuh kemesraan, sebelum dialihkan. Apa
yang digosipkan orang sebetulnya tidak sepenuhnya khayalan belaka.
"Tidak masuk akal bila salah satu di antara kita ke luar dari rumah sebelum semua urusan hukum selesai," kata Andre, memberi alasan.
"Bukankah hal itu justru akan memicu orang untuk makin menggosipkan kita?"
"Kurasa begitu. Setiap orang ingin tahu siapa yang akan keluar dari rumah ini. Mereka bilang kau tidak suka padaku."
"Sebagai istri ayahku, maksudmu." Lars merasa lidahnya tergigit ketika mengiakannya. "Ya."
"Mengapa mereka mengira aku tidak senang padamu?"
Ketika mata mereka kembali bertemu pandang kali ini, tak ada halangan menghadang lagi. "Nanti juga berlalu," bisik Andre sambil
merapatkan tubuh ke Laras. "Aku tidak akan pernah suka kau menjadi istrinya."
"Jangan, Ndre." Laras ingin menjauhkan diri, tetapi jalannya terhalang pohon.
"Mengapa kau meresahkan gosip itu, Laras?" tanya Andre, lembut, dan makin merapatkan tubuhnya. "Suara hatimu masih ada, kan? Kau tahu pasti, tak ada yang tidak beres di rumah ini."
"Tentu saja." Andre terus merapatkan tubuh. "Tak ada pelanggaran norma yang terjadi di antara kita, bukan?"
"Ya."
"Bohong." Kata terakhir itu tercetus dari mulut Andre dengan penuh kemarahan. Ibu jari Andre menelusuri tenggorokan Laras, lalu jari‐jari lainnya yang kokoh melingkari lehernya.
Dengan satu ibu jarinya, Andre mengangkat kepala Laras."Katakan, tak ada daya tarik di antara kita."
Sambil merintih pelan, Laras memalingkan mukanya ke samping. Namun Andre tak
membiarkannya membuang muka. "Ayo katakan padaku, bahwa tiap kali kau menatapku, aku hanyalah anak tirimu. Bilang padaku kau tidak ingat apa yang pernah terjadi di antara kita. Coba katakan kau tidak ingat lagi apa yang terjadi waktu turun hujan hari itu. Katakan padaku kau tidak ingin aku menci ummu lagi.Bilang kau tidak pernah ingin merasakan sentuhanku lagi. Mampukah kau mengatakan semua itu padaku, Laras?"
Satu‐satunya jawaban yang diberikan Laras hanya isakan. "Itulah hal yang ada dalam benakku," kata Andre marah.
Bi bir Andremenutup bi bir Laras. Laras memukul‐mukul Andre dengan perasaan galau, tapi akhirnya tangannya berhenti di pundak
Andre dan tak lagi menolak Andre. Andre makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Laras. Seperti potongan puzzle yang didesain untuk disusun satu persatu membentuk satu gambar, begitulah bentuk tubuh Andre dan Laras..cocok sekali.
Bi bir Andre menci umi bi bir Laras, menuntut bi bir perempuan itu mematuhi apa yang
diperintahkannya. Lidah Andre menjilati garis bi bir Laras.
"Balas ciumanku, Laras. Kau ingin menci umku. Kau ingin menci umku juga."
__ADS_1
Laras memenuhi permintaan itu. Sambil mendesah pasrah, Laras melingkarkan tangannya pada leher Andre. Bi birnya terbujuk lidah Andre. Lidah itu pun akhirnya memasuki mulut Laras tanpa perlawanan, disambut dengan hangat dan mesra. Andre
menyentuh bi bir Laras, berhenti sesaat, membuat letupan hasrat yang hendak diredam Laras tak kuasa lagi dilawannya.
Tanpa ampun lagi Andre membangkitkan hasrat Laras terhadap dirinya. Ci umannya yang bertubi‐tubi. Inti pusat Andre yang ada di antara kedua pa ha Laras memancarkan gelombang
kerinduan dalam dirinya yang tak mampu diredam Laras lebih lama lagi. Ia ingin Andre mengisi kekosongan yang menyakitkan
dirinya itu.
Hanya Andr yang mampu mengisi kekosongan itu dan memberikan kepuasan seutuhnya.
Andre membuka kancing gaun Laras, menyelipkan tangannya ke baliknya. dada Laras terbungkus kamisol berenda. Seluruh indra Andre menggelora saat tangannya menyentuh dada Larasbyang penuh lagi hangat. Dibelainya bagian itu perlahan tetapi seperti punya kekuatan menghipnotis dan merangsangnya.
Andre mengucapkan sumpah serapah seiring ungkapan kenikmatan yang terdengar bak lagu cinta di telinga Laras Ia menangkap desah putus asa Andre seperti yang dirasakan jiwanya, menanggung rindu, terbelenggu siksa memendam hasrat yang tak mungkin dipenuhi. Andre mengelus renda dan satin yang menutupi dadanya, mencari dan menyentuh puncaknya dengan ujung jari. Sentuhan itu memberikan kenikmatan yang amat sangat pada Laras. Bagian yang peka itu memberi respons, menegang. Andre menenggelamkan kepalanya di antara dadanya itu dan menyentuh
salah satu puncaknya dengan bibir.
Laras merasakan gelenyar ci uman itu sampai ke perutnya, bahkan mencapai bagian tubuhnya yang jauh di bawahnya lagi. Setiap simpul saraf tubuhnya bangkit, sekaligus merintih pedih.
Laras yakin, bila tidak segera menghentikan semua itu, ia akan Laras melepaskan pelukannya pada Andre. "Jangan, Ndre, jangan," cegah Laras. Ia menutupi dadanya dengan kedua tangan, berusaha meredam gelombang gairah yang menggebu."Aku tidak bisa. Kita tidak boleh melakukannya."
Andre merasakan dadanya sesak dan panas tiap kali menarik napas. Rambutnya kusut masai karena remasan jari‐jari Laras. Matanya menatap penuh gairah di kerjap‐kerjapkan untuk menyadarkan dirinya. "Mengapa? Karena ayahku?"
Laras menggeleng, membuat rambutnya tergerai. "Bukan, bukan," sahut Laras sedih sambil membetulkan gaunnya.
"Karena penduduk kota ini. Karena aku tidak ingin menjadi orangyang seperti mereka duga. Aku tidak mau melakukan apa yang mereka bayangkan, perbuatan rendah tak bermoral; pertama‐tama merayu Indra, kini anaknya."
"Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan."
"Aku peduli!" Laras menyadari ia menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya. "Seperti yang kaukatakan tadi, kita akan tetap seperti saat kita dilahirkan. Kau berdarah biru dan orang kaya. Apa pun yang kau lakukan, tetap akan dianggap pantas. Mereka tidak akan berani mengkritikmu. Tetapi aku, aku yang
datang dari golongan rendah, begitulah diriku senantiasa di mata mereka. Aku harus peduli pada apa yang mereka pikirkan."
Menit‐menit berlalu, mereka saling memandang. Andre lebih dulu memalingkan muka sambil melontarkan makian. "Tidak bisa aku tinggal serumah denganmu tanpa terdorong perasaan ingin bercinta denganmu."
"Aku tahu."
"Nah, aku sudah mengungkapkannya. Itukah yang ingin kau dengar?" teriak Andre.
"Bukan, Ndre. Aku tidak perlu mendengar pengakuanmu itu, aku sudah tahu." Ketika Andre berbalik dan memandangnya, Laras berkata lembut, "Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Apa kau pikir tidak demikian yang kurasakan?"
Bisa saja ini hanya dorongan hasrat sesaat, tetapi Laras melihat mata Andre berkaca‐kaca. Bibirnya bergerak‐gerak, tetapi tak sepatah kata pun meluncur keluar dari bibirnya. Kedua tangannya sebentar dikepalkan dan dilepaskan di sisi tubuhnya. Badannya berdiri tegak menahan emosi. Kelihatannya ia hampir tak mampu menahannya lebih lama lagi.
Lars menyeka air mata di pipinya. "Kau mengerti mengapa aku tidak bisa bersamamu, Ndre? Apa yang mereka katakan benar.
Aku sangat menginginkanmu. Namun, seperti kau tidak bisa melupakannya, begitu juga mereka. Aku ini istri ayahmu."
Andre berbalik, membelakangi Laras beberapa menit lamanya. Ketika ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Laras, air
mukanya sudah berubah, kelihatan keras. "Apa yang akan kaulakukan setelah pembacaan surat wasiat?"
Laras tidak menyembunyikan air matanya lagi. "Satu‐satunya hal yang dapat kulakukan, apa yang kutahu harus kulakukan. Aku harus meninggalkan rumah ini."
Andre mengangguk seketika, kemudian berbalik dan berjalan ke arah hutan. Laras duduk di bangku ayunan sambil menutup
muka. Ia menangis tersedu‐sedu.
Tak satu pun dari mereka melihat bayangan yang melinras di antara pepohonan, yang menjauh dari tempat itu.
***
"Beni?" Tak ada cahaya lampu di dalam kamar Beni, tetapi pesawat televisi hitam‐putih memantulkan riak‐riak cahayanya di dinding.
"Diana." ujar Beni, terkejut.
"Aku tidak yakin kau ada di sini. Kau sudah tidur?"
__ADS_1