DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 26


__ADS_3

"Kau tahu di mana bisa mencariku," kata Andre sambil berjalankeluar pintu.


Laras bekerja di kantor menyelesaikan surat‐surat, sementara Andre dibantu karyawan mencari perkakas yang dibutuhkan. Sejam


kemudian Laras berdiri di belakangnya, ketika ia tengah membongkar bagian dalam mesin besar. "Ndre, aku akan pergi ke rumah sakit sebentar. Kalau aku belum kembali tapi pekerjaanmusudah selesai, kau bisa minta tolong salah seorang karyawan mengantarmu pulang."


Andre tersenyum getir. "Tak usah repot. Aku masih agak lama di sini." Laras nyengir. Andre melihat tangan Laras setengah terangkat hendak menyentuh lengannya. Namun ia tak jadi melakukannya, malah cepat‐cepat mengucapkan selamat tinggal dan pergi.


Rumah sakit terasa sejuk dan tenang setelah dari pemintalan kapas yang berisik dan hiruk‐pikuk. Indra masih terbaring di ranjang, tatapannya lekat pada layar televisi, walaupun ia mematikan suaranya. Tubuhnya dipasangi selang untuk makanan dan untuk mengeluarkan ko toran. Layar monitor berkedip,


mengeluarkan suara pelan dan merekam kerja organ tubuhnya yang penting. Kondisinya tampak sangat mengenaskan.


Laras tersenyum ceria dan dengan berani mendekatinya. "Hai, Indra." Laras mencium pipi Indra yang pucat pasi. "Bagaimana keadaanmu."


"Ucapan itu terlalu kasar buat perempuan peka seperti kau," jawab Indra. Diamatinya pakaian Laras dan bertanya, "Kau pulang dari pabrik?"


"Ya. Sepagian ini, sebenarnya, kalau tidak, aku pasti datang lebih awal ke sini. Ada masalah dengan salah satu mesin pemintal."


"Masalah apa?"


"Aku belum tahu pasti. Masalah di bagian mesinnya. Andre sedang memeriksanya."


"Apa maksudmu, Andre sedang memeriksanya?"


Laras memerhatikan rangkaian bunga yang diantar ke rumah sakit sewaktu ia belum tiba dan membaca kartu nama pengantarnya, agar ia tahu kepada siapa ia akan mengucapkan


terima kasih. Namun ia berbalik seketika mendengar kata‐kata Indra. Tak pernah Laras melihat air muka Indra sedemikian marah. Atau penyakit yang dideritanya membuat wajahnya


kelihatan penuh kebencian?


"Jawab pertanyaanku, bre ngsek!" bentak Indra keras, di luar dugaan Laras. "Apa yang dilakukan Andre di pabrik pemintalan kapas itu?"


Laras yang merasa sangat terkejut tidak segera dapat mengucapkan kata‐kata dari mulut nya. "Aku... aku memintanya memeriksa mesin pintal yang rusak. Ia insinyur. Ia bisa..."

__ADS_1


"Tanpa izinku kau minta putraku ikut campur urusan di pemintalan?" Indra berusaha duduk "Ia sudah melepaskan haknya atas pabrik pemintalan ketika ia pergi dari rumah dua belas


tahun yang lalu. Aku tidak ingin ia ada di pabrik, mendekatinya sekalipun. Kau mengerti?"


Keringat bercucuran di dahinya. Matanya membelalak karena marah.


Laras takut melihat kemarahan Indra dan memikirkan nyawanya. "Indra, tenanglah. Yang kulakukan hanya meminta Andre memeriksa mesin yang rusak. Ia bukan ikut campur dalam bisnis di sana."


"Aku kenal anak itu. Ia akan mencari‐cari kesalahan di sana, menasihatimu tentang bagaimana mengatur keuanganku." Indra


menunjuk Laras dengan jari telunjuknya, dan berbicara dengan suara tinggi, "Kau dengar, dan dengarkan baik‐baik. Kau tidak boleh memakai satu sen pun uang pemintalan itu tanpa seizinku."


Laras serasa ingin menepis jari telunjuk yang diarahkan kepadanya itu, yang menuduhkan sesuatu tidak pada tempatnya.


"Tidak akan pernah, Indra" jawab Laras jujur.


"Andre juga tidak pernah ada."


"Dan salah siapa itu?"Pertanyaan Laras yang tidak sadar menyeruakan hal itu di ruangan yang steril dan berbalik menyerangnya. Beberapa menit lamanya Laras merasa tidak dapat bernapas, hanya mampu melirik tubuh suaminya yang tak berdaya, yang sudah lemah, yang menyiratkan bahaya, seperti binatang jinak yang terluka dan kini berusaha menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatinya.


Mata Laras tertuju pada tangannya. Ujung jarinya terasa kaku, AC rumah sakit hanyalah sebagian penyebabnya. Telapak tangannya


basah karena keringat. "Tidak. Kami tidak bicara soal itu," kata Laras jujur.


"Hmm, supaya kau tidak mendapat informasi yang salah, sebaiknya kuluruskan. Aku tidak menyuruh Andre meninggalkan rumah selama dua belas tahun. Tetapi ia tahu aku marah sekali padanya, tetapi bukan karena ia menghamili gadis itu." Indra tertawa terkekeh. "Aku sudah mengira ia bisa melakukan kenakalan seperti itu. Bagaimanapun ia anak laki‐laki. Mereka akan meni durinya bila dapat kesempatan, bukan?"


Laras membuang muka. Kata‐kata Indra bak tombak yang dihunjamkan ke tubuhnya. "Kurasa memang demikian."


Tawa Indra makin keras. "Percayalah padaku. Laki‐laki akan melakukan apa pun, mengatakan apa saja, asal bisa menyusup ke balik rok perempuan. Apalagi kalau gadis itu menyukainya."


Laras memejamkan mata, ingin menghapus air matanya, ingin menghapus kata‐kata Indra, ingin menghapus perasaan malu yang


menyergap dirinya.

__ADS_1


"Tentu mereka tidak suka tertangkap basah seperti yang dialami Andee. Ketika Jerry Subrat datang menemuiku dan mengatakan Andre


menghamili anak gadisnya, Ery, aku langsung mengatakan padanya Andre akan menikahi putrinya. Itu tindakan terhormat yang harus dilakukan, bukan?"


"Ya." Sakit rasanya harus mengucapkan kata itu.


"Hmmm, tetapi anak si alan itu berkata bukan ia yang menghamilinya. Benar‐benar memalukan. Bukan karena Andre tertangkap basah ketika memlakukannya, tetapi ia tidak mau mengakui kecerobohannya. Kemudian Andre mengatakan padaku, bila aku memaksanya menikahi gadis itu, ia akan pergi dari rumah dan takkan pernah kembali." Indra menarik napas panjang, seakan ingatan akan peristiwa tersebut menyakiti hatinya.


"Aku harus melakukan apa yang menjadi kewajibanku, bukan demikian, Laras? Aku harus memaksanya menikahi gadis itu. Ia yang memutuskan pergi dari rumah setelah itu, bukan aku. Makanya, tak perlu mengasihani


Andre, apa pun yang dikatakannya padamu. Ia yang berbuat, ia yang harus menanggung akibat perbuatannya seumur hidupnya."


Indra terdiam, beberapa saat Laras hanya melempar pandangannya ke luar jendela. Bila ia berbalik, Indra akan menangkap keputusasaan yang melanda perasaannya saat itu, Imdra pasti akan tahu.


Setelah berhasil mengendalikan perasaan, barulah Laras kembali ke pinggir ranjang.


Imdra memejamkan mata ketika Laras menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya.


Laras mengira Indra sudah tidur. Perlahan‐lahan ia beranjak meninggalkan kamar, tetapi secepat kilat Indra mencengkeram pergelangan tangannya kuat‐kuat. Laras terkejut dan merasa sesak napas.


"Kau tetap berperilaku sebagai istriku, kan, Laras?" Sorot mata Indra yang berapi‐api membuat Laras takut sekali, juga pertanyaannya. "Tentu saja. Apa maksudmu?"


"Maksudku, kau akan menyesal bila melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya sebagai istri yang tengah berduka, sangat sedih menyaksikan suaminya dalam keadaan sekarat." Jari‐jari Indra mencengkeram pergelangan tangan Laras yang rapuh sampai membuat Laras merasa tulang pergelangannya mau remuk. Dari mana Indra punya kekuatan seperti itu?


"Jangan bicara soal kematian, Indra."


"Mengapa tidak? Itu kenyataannya. Tetapi kau harus ingat ini."Kembali Indra berusaha duduk. Air ludah terkumpul di ujung bibirnya yang biru ketika ia mendengus pada Larae "Sampai aku


mati pun, kau tetap istriku. Dan sebaiknya kau berperilaku seperti itu."


"Aku berjanji," kata Laras, yang mengucapkan janji dengan panik, dan berusaha melepaskan tangannya. "Maksudku, aku akan bersikap seperti itu."


"Aku bukan pemeluk agama yang patuh, tetapi ada satu hal yang aku yakini. Berniat melanggar hukum Tuhan sama berdosanya dengan melakukannya. Kau belajar tentang hukum itu waktu di Sekolah, kan?"

__ADS_1


"Ya," jawab Laras, hampir menangis, putus asa, takut pada Indra, dan tidak tahu apa sebabnya ia merasa seperti itu."Pernah terpikir ingin melanggar hukum Tuhan?"


"Tidak."


__ADS_2