DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 9


__ADS_3

Kemeja Andre tidak dikancing, terbuka. Dadanya kelihatan bergerak naik-turun


tiap kali ia menarik napas. Laras masih ingat


penampilan Andre ketika ia pertama kali melihatnya, air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut


Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya ter‐tutup garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang kejantanannya.


Dengan gugup Laras cepat‐cepat membuang pandangan dari tubuh Andre. "Mengapa kau ingin membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antara kaudan ayahmu."


Andre merasa kata‐kata Laras lucu dan ia tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan minumannya. Kemudian ia bangkit dari kursi malas dan berjalan menghampiri Laras. Sinar lampu kamar yang satu‐satunya itu memantulkan bayangan hitam tubuh Andre. Ia menakutkan, berbahaya, dan memikat. Laras berusaha tidak menunjukkan perasaan takutnya terhadap Andre.


Bukan takut membayangkan apa yang akan dilakukan Andre terhadap dirinya, tetapi takut terhadap respons yang muncul dari dalam dirinya bila Andre benar‐benar melakukan sesuatu.


"Aku butuh mobil besok pagi. Aku menemui‐mu untuk meminjam mobil.


"Oh, boleh," sahut Laras sambil menarik napas lega."Kuambilkan kuncinya." laras bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Andre ketika


bangkit. Namun ketika ia melewati Andre, sesaat pahanya menyentu paha Andre dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Laras cepat‐


cepat bergerak menjauh menuju lemari tempat ia menyimpan tas.


Dengan jari‐jari gemetar, Laras mencari‐cari kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung diletakkannya di telapak tangan Andre. "mau ke mana kau pagi-pagi?"


"Aku ingin menemui dokternya sebelum bertemu.Ayah. Aku akan kembali menjelang siang untuk mengantarmu dan Diana ke rumah


sakit, bila kau bersedia."


"Ya, boleh saja. Tetapi pagi‐pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu." "Urusan di pabrik kapas?" "Ya, aku harus memeriksa pembukuannya."


"Ya, kudengar soal itu dari Danu. Katanya, kau banyak membantu pekerjaan Ayah sebelum


menikah dengannya." Andre maju selangkah lebih dekat. Napasnyabyang hangat dan berbau minuman anggur mahal menerpa wajah Laras.


"Danu berlebihan." Laras berusaha memiring- kan tubuh, tetapi dengan sengaja Andre juga memiringkan tubuh. Yang terjadi, taktik yang semula dilakukan untuk menghindari Andre malah membuat tubuh mereka lebih rapat.


"Aku tidak yakin. Aku berani bertaruh kau sangat diperlukan Ayah dalam banyak hal, bukan?"


Mata Laras berkilat marah ketika melirik Rink. "Mengapa kau menyindirku terus‐menerus, Andre?"


"Karena aku selalu tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasannya. Laras, yang begitu muda, begitu

__ADS_1


manis, begitu sederhana, begitu... polos." Kata‐kata itu meluncur deras dari bibir Andre seperti air yang mengucur dari keran yang terbuka.


Laras mengangkat tangan, tetapi Andre menangkap tangan itu dan memelintirnya ke belakangnya, menarik tubuh Laras mendekat ke tubuhnya. Dada Laras menempel di dada Andrr yang bidang. Ibu jari kaki Laras bersinggungan dengan ujung sepatu bot Andre. Wajah Andre hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia


berbicara, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.


"Pernah kubiarkan kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali peebuatanmu."


"Apa yang akan kaulakukan? Balas menamparku?"


Andrr tersenyum mengejek. "Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak


kausukai." Andre merapatkan tubuh Laras ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Laras seketika mengerti maksud ucapan Andre. Andre menundukkan kepalanya lebih dekat "Atau kau menyukainya, Laras? Hmm?" Gesper ikat pinggang Andre menyentuh pakaian tidur Laras, menggores perutnya.


"Di mata setiap orang kau memang Nyonya Indra Gunawan. Tetapi bagiku kau tetap Larasati Putri. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja di musim panas... sambil perlahan‐lahan membuatku gila."


Laras menatap Andre. Sorot matanya menantang. Penuh amarah, seperti awan badai yang berembus dari Teluk yang membawa


hujan, angin, dan petir. Rambut Laras yang tadi dipuji Andre tergerai dari wajahnya ke punggung. "Jadi kau masih ingat, Andre.


Aku bertanya‐tanya dalam hati apakah kau masih punya kenangan akan hal itu."


Sesaat mata Andre membelalak, kemudian menyipit. Ia menatap wajah Laras dengan panas, lama berhenti di bibirnya, kemudian


memancarkan pergolakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Andre.


"Ya," jawab Andre kasar. "Ya, brengsek! Aku masih mengingatnya.


Laras dibebaskan begitu mendadak sehingga ia terhuyung danbersandar di meja riasnya. Ketika keseimbangan tubuhnya kembali, Andre melangkah keluar dari kamar dengan sikap murka.


Sialan! Ia berharap ia tidak ingat semua kenangan manis itu.Di kamarnya, Andre membuka kemeja, mengisi gelas dengan


minuman keras dari botol yang dicurinya di lemari minuman keras ayahnya, lalu merebahkan diri di kursi malas yang selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya minuman itu, tetapi karena minuman itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel.


Ia membungkuk, membuka sepatu bot, lalu melemparkannya ke permadani sehingga menimbulkan suara gedebuk perlahan.


Sambil bersandar, kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke masa lalu, ke suatu musim


panas ketika ia berusaha kabur dari pabrik kapas, pengawasan ayahnya, dan panas matahari yang menyengat. Ia pergi ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin. Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai celana jins, ia melihat


perempuan itu....

__ADS_1


"Astaga!" teriak Andre. Jari‐jarinya meraba‐raba hendak menutup ritsleting celana jins. "Sudah berapa lama kau di situ?" Andre ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Andre hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh.


Andre tidak mengira gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata,


"Aku... aku baru saja sampai di sini."


"Hmmm, baguslah, karena aku tadi berenang telanjang bulat. Bila kau datang lebih cepat, kita berdua bisa malu." Senyum Andre lebar dan penuh percaya diri, penuh keangkuhan.


Meski si gadis yang memakai kaus kaki pendek dan sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas tersenyum


dengan malu‐malu. "Kuharap aku tidak mengganggumu," katanya dengan kesopanan yang, dalam situasi seperti ini, membuat Andre


geli.


"Tidak, aku sudah selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang.


"Ya, udaranya memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh ketimbang di jalan raya."


Sejak awal Andre sudah tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan licin, tetapi sudah ketinggalan zaman. Blusnya juga terbuat dari bahan


katun berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan wewangian pengharum, yang sepertinya dipakai semua gadis masa


itu.


Di balik blus gadis tersebut, Andre melihat garis‐garis branya yang putih, yang pastilah sangat tidak nyaman. Gadis‐gadis umumnya


memakai model yang disebut push‐up bra, bra yang bertujuan buah dadanya, Andre yakin, membuat teman kencan mereka tergila‐gila.


Ia mengalihkan pandangannya dari Dada si gadis, merasa malu pada dirinya sendiri karena membuat analisis seperti yang dilakukannya terhadap gadis‐gadis yang dikenalnya. Ia hanya gadis kecil. Lima belas? Enam belas? Paling‐paling. Ia tampaknya takut sekali padanya.


Tetapi ya ampun, gadis itu cantik sekali. Kulitnya bersih; matanya kelabu bagai kabut yang melayang rendah di rawa‐rawa, tubuhnya


indah, molek, menunjukkan lekuk feminin. Rambutnya mengilap, seperti kayu mahoni yang di pernis. Tiap kali angin meniup


pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambutnya seperti kilatan cahaya di rambut yang lebat itu.


"Kau mau ke mana?"


"Ke kota. Aku kerja di toserba."


Andre tidak pernah mengenal gadis yang harus bekerja pada musim panas. Umumnya mereka menghabiskan musim panas dengan berjemur di dekat kolam renang, milik pribadi atau milik

__ADS_1


umum, sampai bertemu seseorang yang mereka kenal dan merencanakan pesta untuk malam harinya.


__ADS_2