
"Baiklah, Benu," Diana menyetujui dengan suara lirih. "Aku akan menemuimu begitu kembali."
Beni mengangguk, sekali lagi berterima kasih pada Bi Ani dan cepat‐cepat berlalu. Ia tidak menatap Andre ketika meninggalkanruangan.
Caroline buru‐buru bangkit. "Aku akan bersiap‐siap, Adre. Diana, mau dandan dulu sebelum pergi?"
"Ya, kurasa." Mereka turun ke lantai bawah kembali beberapa menit kemudian. Andre sudah menunggu mereka di teras. Bi Ani berdiri di sampingnya, memegang vas berisi bunga‐bunga mawar yang baru dipotong. "Bi Ani akan menyusul dengan mobilnya, karena ia ingin membawa bunga mawar untuk Ayah. Dan ia ingin pulang dari rumah sakit lebih dulu. Diana, kau ikut mobil Bi Ani saja, pegangi vas bunganya supaya airnya tidak tumpah."
"Biar aku saja yang memeganginya." Laras buru‐buru menawarkan diri. Tatapan mata Andre yang tajam padanyamengisyaratkan sikap tidak setuju.
"Aku ingin bicara denganmu selama perjalanan." Tanpa bisa dibantah, Andre mengantar Laras dengan mobilnya,
sementara Bi Ani melaju dengan mobil satunya, yang sebenarnya milik Indra tetapi dipercayakan kepadanya.
"Apakah kau bertemu dokternya tadi pagi?" tanya Laras, memecah keheningan.
"Ya. Ia menceritakan apa yang disampaikannya padamu dan Danu"
"Apakah... apakah dokter memberitahukan kapan..."
"Bisa terjadi kapan saja."Mereka melaju di jalan tol, menuju pusat kota, sebelum Andre menyinggung hal lain. "Siapa Beni?"
__ADS_1
"Beni." Laras terdiam. Ia yakin tahu apa yang bakal terjadi dan tidak ingin hal itu terjadi.
Andre mencibir kesal. "Bisa member penjelasan lebih mendetail lagi?"
"Ia mantan tentara."
"Karena itukah jalannya pincang? Ia cedera karena kecelakan mobil ?"Ia kehilangan kaki kirinya dari lutut ke bawah." Laras mengatakan hal itu sambil memalingkan wajah ke arah Andre.
Andre terus mengarahkan pandangan ke jalan, namun Laras melihat tangan Andre mencengkeram kemudi dan otot‐otot tangannya menonjol. Air mukanya tegang, menyiratkan keras kepalanya, tak tergoyahkan.
Dan keangkuhan. Laras tahu Andre tidak menyukai Beni. Mengetahui Beni cacat seumur hidup akan membuatnya sulit melakukannya.
"Ketika melamar pekerjaan, ia bersikap getir dan agak kasar. Tetapi aku yakin itu cuma cara yang digunakannya untuk mempertahankan diri
"Aku tidak suka kedekatannya dengan Diana"
"Mengapa?"
"Kau masih perlu bertanya?" tanya Andre, sambil memalingkan kepala. "Tidak sehat dan berbahaya, itu sebabnya. Diana tidak punya urusan untuk berkeliaran di dekat laki‐laki lajang sepanjang waktu."
"Aku tidak melihat salahnya. Diana juga lajang."
__ADS_1
"Dan masih lugu soal se ks. Sangat lugu. Aku tidak yakin Diana paham perbedaan antara laki‐laki dan perempuan, dan mengapa ada perbedaan. Ia pasti tahu."
"Baiklah, kalau begitu makin kuat alasan buat Diana untuk tidak perlu sering bersama Diana. Karena aku yakin Beni mengertiperbedaan itu."
"Kurasa Beni baik terhadap Diana. Ia sangat baik hati dan penyabar. Ia memang pernah terluka, bukan hanya secara fisik. Beni tahu bagaimafia rasanya menjadi orang yang terbuang dan merasa ditolak seperti yang dirasakan Diana selama ini."
"Bagaimana bila ia memanfaatkan rasa suka Diana? Secara seksual...."
"la tidak akan melakukan hal seperti itu."
Andre mendengus. "Pasti begitu. Ia kan laki‐laki dan Diana perempuan cantik, sementara banyak kesempatan bagi mereka untuk hal itu."
"Sepertinya kau tahu banyak." Kata‐kata tajam itu meluncur keluar dari bibir Laras tanpa
bisa ditahannya. Andre mengerem mobil di halaman parkir rumah sakit dengan mendadak, lalu berbalik menghadap ke arah Laras.
Air mukanya menunjukkan kemurkaan, seperti juga Laras. Laras sudah memulai, jadi sekarang tak ada gunanya bertindak setengah‐setengah.
"Kau jelas sangat paham soal memanfaatkan gadis lugu,membohonginya, membuatjanji‐janji yang tidak akan pernah kautepati."
"Maksudmu soal janji di musim panas itu?"
__ADS_1
"Ya! Aku heran, bisa‐bisanya kau menjalin hubungan denganku tapi menghamili Ery. Kau pasti kehabisan tenaga. Atau kau anggap aku hanya sebagai pemanasan sebelum menikmati hal yang lebih menyenangkan?"