DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 46


__ADS_3

"Ben." laki-laki itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Andrs, yang berhenti di ambang pintu dan berkata kepada pria itu, "Terima kasih."


"Terima kasih kembali," jawab Beni. Mereka berpandanganbeberapa saat, kemudian saling melempar senyum lebar.Mata Diana memancarkan sorot penuh kasih kepada dua


laki‐laki itu. Bi Ani berusaha menahan air mata yang hampir menitikdi pipinya. Laras menggenggam tangan Andre.


Di lantai dua, di dalam kamarnya, Laras melepaskan bajunya. Dibiarkannya pakaiannya tergeletak di lantai kamar mandi. Ia ingin


membuang baju‐baju itu. Bau asap yang melekat di baju itu tidakbisa hilang meskipun dicuci. Ia hanya berharap bau asap tidak


melekat di rambutnya.Bau asap di rambut Laras bisa dihilangkan dengan shampoo. Laras berdiri di bawah keran pancuran, membiarkan air hangat menghilangkan kotoran dan jelaga. Ketika akhirnya mematikan keran, Laars merasa tubuhnya segar kembali. Kakinya menginjak


tumpukan pakaiannya, tak berani mengangkatnya. Ia menggelung rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai memakai mantel mandi ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk.


"Masuk.".Laras mengira yang datang Bi Anj atau Diana. Bahwa yang muncul adalah Andre sungguh di luar dugaannya. Namun pria itulah yang kini melangkah masuk ke kamarnya, membawa baki berisi secangkir kopi dan segelas jus jeruk.


"Bi Ani bilang sebaiknya kau minum ini dulu sebelum turun ke ruang makan."


Pikiran Andre tak tertuju pada apa yang dikatakannya. Kata‐kata itu meluncur keluar dengan sendirinya dari mulutnya karena seluruh konsentrasinya tertuju pada.perempuan yang rambutnya digelung


dengan handuk basah dan mengenakan mantel, menonjolkan lekuk tubuhnya. Kulitnya begitu halus. Bau sabun beraroma bunga


mawar tertangkap penciumannya. Matanya besar dan berbinar‐binar ketika menatap Andre.


Suara Laras agak tercekat ketika bicara. "Terima kasih. Kopinya wangi sekali."


Laras juga rupanya terkesima. Rambut Andre basah. Ia mengenakan celana jins belel model ketat yang pinggangnya rendah, menonjolkan kejan tanannya. Dadanya yang bidang tertutup


bulu hitam, ikal dan agak basah. Matanya berbinar‐binar ketika menatap Laras.


Andre meletakkan baki di meja, tetapi tampak enggan meninggalkan kamar Laras. Kemudian sulit mengatakan siapa yang bergerak lebih dulu. Apakah ia merentangkan tangan, seperti

__ADS_1


hendak memeluk Laras? Atau Laras yang melangkah mendekati Andre lebih dulu? Mereka tidak ingat. Yang mereka tahu, tiba‐tiba saja Laras sudah berada dalam pelukan Andre dan Andre mendekapnya erat‐erat.


Air mata bercucuran dari mata Laras ketika memeluk Andre. Semua ketakutan, kecemasan beberapa jam lalu, tersalur lewat matanya. Andre menarik handuk pembungkus rambut yang menutupi kepala Laras dan melemparkannya ke lantai. Tangannya menyibakkan rarnbut Laras yang basah dan ia


membenamkannya wajah Larae ke dadanya yang hangat. Andre menunduk. "Ada masalah yang belum kita selesaikan, masalah antara kau


dan aku, Laras."


Laras mengangkat wajahnya yang bercucuran air mata, menatap Andre. Sambil tersenyum ia berkata, "Ya, kita harus menyelesaikannya."


"Urusan itu sudah kedaluarsa," kata Andre tenang, membiarkan ibu jarinya menyeka air mata dari pipi Laras."Sudah melewati batas waktu." Andre menjulurkan tangan ke belakang, menutup pintu.


Suara pintu ditutup adalah satu‐satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Tak ada lampu yang dinyalakan. Sinar matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur, satu‐satunya cahaya alam, menyelinap menembus tirai tipis kamar. Wangi bunga magnolia yang tumbuh di luar menerobos masuk.


Laras memeluk Andre, bukan lagi pelukan gadis remaja, tetapi perempuan dewasa yang membutuhkan Andre, dan ingin memberikan seluruh dirinya kepada pria itu. Andre merasa sekujur tubuhnya panas. Sangat panas. Tubuhnya juga memancarkan gelombang rasa seperti yang dirasakan Laras ketika pertama kali mengenal Andre. Gelombang yang


berdaya isap, membuat Laras tertarik untuk mendekat. Seperti yang dirasakannya saat ini.


dirinya, sebagaimana menguasai Andre, Laras mendekap Andee erat‐erat, melingkarkan tangannya di pinggang Andre yang ramping. Bulu dada Andre yang lebat menggelitik hidung Laras. Di dada yang bidang itu, Laras tersenyum.


Andre balas memeluk Laras. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Laras yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bo kong Laras yang penuh. Dipegangnya bo kong itu dengan lembut, dielusnya, kemudian diremasnya dengan penuh hasrat. Kejan tanan Andre bereaksi. Keduanya merasakan hal itu. Desah napas mereka memburu, menggema.


"Laras, Laras," desah Andre sambil menci umi rambut Laras yang basah, lalu menjauhkan tubuh wanita itu agar bisa menunduk dan menci um bibir Laras yang membuka. Bibir


mereka saling memagut. Lidah mereka saling menji lat. Laras membiarkan Andre mendominasinya, membiarkan lidah Andre


menyelinap masuk ke mulutnya. Itu menunjukkan kepemilikan Andre, yang tak disesalinya. Lidah pria itu dengan penuh cinta


menjelajah, menjilat, berputar‐putar di dalam mulut Laras.


Seluruh tubuh Laras tergetar. Getaran yang merayap masuk ke dalam tubuhnya dengan halus. Kemudian mencapai puncaknya ketika Nadre memasukan lidah makin jauh ke dalam

__ADS_1


mulutnya, berputar‐putar makin cepat, sampai akhirnya ia merasakan tubuhnya seperti melayang‐layang.


Sekujur tubuh Laras bergetar. Rambut Andre tersangkut di antara jemarinya, ketika ia membelai bagian belakang kepala laki‐laki tersebut. Harum sabun mandi Andre parfumnya, aroma tubuhnya yang khas,


memenuhi penciuman Laras, memabukkannya. Ketika menggigit‐gigit kecil bibir Andre, ia


mengecap rasa mint pasta gigi yang dipakai Adre.


Erangan lembut dan kata‐kata mesra yang dibisikkan Andre membuat napas Laras


makin memburu dan percaya diri. Laras tahu, meskipun tidak sampai bercinta dengan Andre saat itu, ia merasakan dirinya seperti sudah menyatu dengannya. Senantiasa menyatu, dan akan selalu menyatu. Takdir telah menggariskan demikian. Sejak pertama kali mengenal Andre dua belas tahun lalu, jalan hidupnya sudah ditentukan.


Sambil mengangkat kepala, Andre meletakkan tangannya di pundak Laras, menjauhkan diri dari Laras beberapa inci. Mata Laras yang sayu tampak berbinar‐binar saat menatap mata Andre yang juga sayu memabukkan. Perlahan‐lahan Andre membuka ritsleting celana jinsnya dan menurunkannya. Dengan pandangan yang tetap lekat pada tubuh Laras, ia melemparkan celananya ke samping. Andre berdiri dengana tubuh polos di hadapan Laras.


Mata Laras beralih ke tubuh ndre. Andai ia pria, pasti ia akaniri hati melihat bentuk tubuh Andre. Tubuh yang tegap, ramping, lagi


lentur. Bentuk dadanya bidang. Bulu ikal yang tumbuh lebat didadanya mengusik Laras untuk mempermainkannya. Bulu‐bulu halus yang tumbuh di sekujur tubuhnya membentuk garis hitam seperti pita pemisah di bagian perutnya, membentuk lingkaran di seputar pusar, dan lenyap di kerimbunan yang tumbuh di sekeliling


inti tubuh andre.


Inti tubuh Andre yang kini mengeras. Air kehidupan bagai mengaliri jantung Laras ketika ia mengamatinya. Sejenak ia memejamkan mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya. Ia merasa seperti mau pingsan. Desakan yang menggebu menyerang dirinya


seperti mencekiknya. Itulah gelora has rat yang murni, dipicu perasaan cinta, sebagian alasan mengapa ia sangat mencintai Andre.


"Kau tidak apa‐apa?" Laras membuka mata, melihat Andre tersenyum padanya.


Laras tertawa malu‐malu, bak gadis remaja "Ya, ya, Ndre, aku tidak apa‐apa. Hanya saja kau begitu tampan, dan aku begitu menginginkanmu."


Andre mengecup bibir Laras dengan kelembutan yang tulus. "Terima kasih untuk pujianmu. Kita lihat apa lagi yang bisa kita


lakukan."

__ADS_1


Andre mencari‐cari tali pengikat mantel Laras, menggamitnya dengan jari‐jarinya. Ia menarik tali itu dan membuka ikatannya. Dengan gerakan perlahan tetapi lembut, diselipkannya tangannya ke balik kerah mantel mandi yang lebar itu lalu diturunkannya.


__ADS_2