
Hari masih pagi ketika ia terbangun. Laras ingin tidur lebih lama, tidak ingin bangun, tak ingin menghadapi rangkaian krisis berupa penyakit yang diderita Indra dan bertemu Andre yang kini kembali tinggal di kota kecil ini.
Ia mendengar suara pintu depan di lantai bawah dibuka dan ditutup kembali dengan perlahan sekali. Disibakkannya penutup
ranjangnya, lalu berjalan menyusuri lorong yang menuju teras rumah di lantai dua. Sinar matahari belum lagi menerangi pucuk
pepohonan, namun cahayanya yang berwarna jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Sebuah bintang dan bulan separo tampak jelas di langit yang bersih. Kabut mulai naik,
meninggalkan permukaan rumput yang berembun. Lagi‐lagi udara akan dingin hari ini.
Tepat di bawah lantai ia berdiri, Laras melihat Andre memasuki serambi. Andre tampak terpaku di anak tangga paling bawah dan
melempar pandangan ke sekeliling rumah, yang Laras tahu pasti tempat yang sangat disayangi Andre. Tempat yang sangat berarti buat Andre, sepenting tarikan napasnya. Laras merasa iba, membayangkan Andre, yang memaksakan diri bertahun‐tahun tinggal jauh dari rumah yang sangat disayanginya.
Dengan langkah pelan Andre menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Ia mengenakan celana jins dan mantel bergaya sport, gaya
berpakaian yang terlalu mewah untuk koboi pekerja, tetapi cocok buat Andre. Celana jinsnya belel modis, dikanji dan disetrika licin.
Laras terus mengamati Andre yang merogoh saku depan, mencari‐cari kunci mobil.
Andre membuka pintu mobil lebar‐lebar. Saat itulah tanpa disengaja ia melihat Laras yang memandanginya dari teras rumah di lantai dua. Andrr menopangkan tangan pada atap mobil,
balas menatap Laras.
Laras tetap berdiri terpaku, tidak berbicara, tidak pula memberi salam pada Andre, hanya matanya yang bicara. Mereka saling menatap. Saiing memandang. Beberapa saat lamanya, di pagi hari yang berlangit keemasan, mereka saling menatap. Di keremangan sinar matahari pagi sosok mereka seperti tidak nyata, di luar jangkauan waktu. Dalam keakraban yang hening itu merekamelepaskan semua pertahanan diri. Keduanya hanyut mengikuti
__ADS_1
suara hati mereka.
Tak ada apa pun lagi di dunia ini yang mampu menyelamatkan keduanya.
Sampai akhirnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Andre memasuk mobil dan melaju pergi.
Dengan perasaan
sedih Laras kembali ke kamar dan berganti pakaian.Dipandanginya dirinya di depan cermin, ber‐tanya‐tanya, "Bagaimana bisa terjadi seperti ini?" Satu‐satunya pria yang pernah dicintainya, atau pria yang hampir pernah dicintainya, hanyalah Andre Gunawan. Sesaat mereka
menikmati sesuatu yang sangat istimewa dan langka. Paling tidak, begitulah buat Laras.
Dibiarkannya dirinua berkhayal mendapatkan
sesuatu yang kecil kemungkinannya bisa diraihnya. Ia naif sekali waktu itu, begitu memercayai cerita Andre di musim panas
Namun nasib yang tak bisa ditebak yang menentukan dialah yang menikah dengan ayah Andre.
Ayah Andre. Ketika Indra melamarnya untuk menjadi istri, lamaran itu bak jalan untuk mewujudkan mimpi‐mimpinya. Untuk mendapatkan kehormatan, uang. Orang‐orang yang selama ini merendahkannya,menghinanya selama hidupnya, harus menghormatinya.
Andre sudah pergi, takkan pernah muncul kembali. Mengapa tak pernah terlintas dalam benak‐nya ada kemungkinan Andre akan
kembali? Bagaimana perasaannya bila Andre benar‐benar kembali? Benarkah selama ini ia bersikap jujur terhadap dirinya? Apakah ia
menikah dengan Indra karena ingin membahagiakan Indra, membantu mengurus bisnisnya, menjadi teman Diana, bukan karena ingin membuat Andre cemburu dan sedih sebab laki‐laki itu meninggalkan dirinya seenaknya? Tidakkah ini hanya pembalasan
__ADS_1
untuk perasaan sakit hati yang harus ditanggung‐nya ketika Andre meninggalkannya?
Tidakkah diam‐diam ia berharap Andre, mendengar kabar pernikahannya, teringat peristiwa di musim panas dua belas tahun yang lalu, menyulut murka dalam hati Andre?
Laras tersenyum getir saat melihat pantulan dirinya di cermdn. "Ia hanya geli, Laras. Ia cuma geli dan jijik."
Bi Ani sudah ada di dapur ketika Laras turun beberapa saat kemudian untuk minum kopi. "Selamat pagi."
"Pagi sekali kau bangun," komentar Bi Ani dari balik punggungnya.
"Aku harus membayar gaji karyawan, ingin kuselesaikan secepatnya supaya bisa beristirahat." Laras menyeruput kopi. "Kau juga bangun lebih pagi daripada biasanya."
"Aku ingin menyiapkan sarapan istimewa untuk Andre"
"Ia sudah pergi, Bi."
Bi Ani berbalik dan menatap laras, seakan memintanya menegaskan kembali apa yang didengarnya. "Sudah pergi?"
"Ya, kira‐kira sejam yang lalu."
Bi Ani menggelengkan kepala, sambil berdecak. "Tidak teratur makannya dia itu. Aku sibuk membuat sarapan, ia malah keluar
lebih cepat, bahkan sebelum aku sempat menghidangkannya.
Laras meletakkan tangannya di pundak Bi Ani, menghiburnya.
__ADS_1
"Mengapa tidak diberikan kepada Diana? Minta Diana memanggil Beni ke sini untuk menikmatinya bersamanya. Aku yakin mereka akan senang."
"Baiklah," sahutnya, sambil menggerutu. "Tetapi suasana tetap lain kalau tanpa Andre. Tidak ada yang sama lagi di rumah ini sejak Andre menikah dengan perempuan itu dan meninggalkan kota ini."