DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 18


__ADS_3

Kau cantik sekali," kata Andre dengan suara parau.


"Terima kasih."


"Berapa usiamu?"


"Lima belas."


"Lima belas." Andre bergiman pelan dan memalingkan wajah dan Laras. Namun, seakan tak mampu mengendalikan dorongan hatinya, kembali ia memandangi Laras. "Aku memikirkanmu sepanjang hari sejak bertemu denganmu di hutan itu." Tangannya mengelus pipi Laras sekarang, dan ibu jarinya mengelus bibir bawahnya.


"Begitukah?"


"Mmm," guman Andre. "Sepanjang petang hanya kau yang ada dalam benakku."


"Aku juga memikirkanmu." Pernyataan Laras kelihatan menyenangkan hati Andre.


Ia tersenyum sambil memiringkan tubuh. "Apa yang kaupikirkan?" Pipi Laras memerah, ia


merasa lega kegelapan menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena disergap


perasaan malu. Untuk menghindari tatapan Andre, Laras mengarahkan pandangannya ke leher Andrre, ke bagian yang tak tertutup kemeja. "Banyak hal," jawab Laras dengan suara parau, sambil mengangkat bahu, seakan yang dipikirkannya bukan hal penting.


"Banyak hal?" Andre tersenyum. Namun itu hanya sekadar senyum sekilas, yang tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah Laras.


"Apakah kau memikirkan...." Andre tampak mencari kata‐kata yang tepat.


"Bermesraan?" adalah kata yang muncul dalam benak Laras. Itu yang dipikirkan anak ingusan ketika kencan, bukan? Bukankah itu yang dibisikkan di kelompok gadis sebayanya, yang tidak pernah mengajaknya bergabung?


Namun ternyata bukan itu yang hendak diucapkan Andre. Ia berkata, "Apakah kau memikirkan kita... bersama? Mungkin saling

__ADS_1


menyentuh?"


"Menyentuh?" ulang Laras dengan napas sesak.


"Berciuman?" Bibir Laras membuka, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia tidak mendengar suara apa‐apa, kecuali debar


jantungnya sendiri.


"Kau pernah dicium?"


"Beberapa kali," jawab Laras, berbohong. "Kau masih terlalu kecil," gumam Andre, sambil menutup mata sejenak sebelum akhirnya membukanya kembali.


"Apakah kau takut bila aku menciummu? Apakah aku boleh menciummu?"


"Aku tidak takut padamu, Andre."


"Aku... kurasa aku ingin kau... menciumku."


"Laras..." bisik Andre sambil bergerak mendekat. Laras merasakan napas Andee


menerpa wajahnya dulu dan ia memejamkan mata. Kemudian bibir Andre menyentuh bibirnya lembut, tak bergerak, ragu‐ragu. Ketika


Laras tidak menarik bibirnya, Andre memiringkan kepala, lalu menekan lebih keras.


Berkali‐kali bibir Andre bertemu bibir Laras,


mengecup sekilas‐sekilas, ciuman‐ciuman kecil, yang malah membuat Lras terbakar keinginan menggebu yang muncul dari dalam


dirinya. Bahkan kalau ia menyebutnya sebagai "bermesraan" pun, istilah itu tidak tepat.

__ADS_1


Karena siapa pun bisa melakukan hal itu, tetapi perasaan seperti ini bukanlah perasaan yang bisa dialami setiap orang. Andre memegangi wajah Laras dengan kedua tangannya dan


menyentuhkan bibirnya yang kali ini membuka di bibir Laras.


Laras merasakan lidah Andre yang basah setarikan napas jauhnya dari bibirnya,kemudian lidah itu mendarat di bibirnya, menjilatinya


dengan lembut.


Andre mendesah lembut sebelum akhirnya lebih menekankan lidahnya ke bibirnya. Mata laras membelalak karena terkejut. Badannya kaku. Namun, kenikmatan yang dirasakannya karena apa yang dilakukan Andre mengalahkan penolakan dirinya, bibirnya pun membuka.


Lidah Andre menyelinap masuk di antara bibirnya. Lidah itu menyentuh ujung lidahnya, mengelus, menjilat, lalu masuk makin jauh ke dalam mulutnya.


Ketika tangan Andre mendekap tubuhnya erat‐erat, Laras mencengkeram kemeja bagian depan Andre. Laras merasakan perasaannya tak karuan, ia merasa tubuhnya limbung karena hal yang belum ia kenal terangsang. Dorongan hen‐dak merapatkan tubuhnya ke tubuh Andre begitu menggebu sampai hampir tak dapat


dikendalikannya. Ia menikmati tetapi sekaligus takut pada hasrat yang dibangkitkan Andre dalam dirinya.


Andre mundur dengan penuh sesal, mencium bibir Laras yang basah dengan lembut, kemudian menjauhkan diri. Dengan berat


hati ia berusaha menjaga jarak di antara mereka.


Tangannya ditarik dari punggung Laras, kembali diletakkan di kedua pipi Laras.


Mata Laras masih terpejam. Saat membuka matanya yang berat, Laras merasa sekujur tubuhnya seperti disergap perasaan lemas.


"Kau tidak apa‐apa?"


Kini, di lorong rumah sakit yang dingin ini, Laras menjawab pertanyaan Andre seperti dua belas tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam yang sejuk itu setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya. "Ya, Ndre, aku tidak apa‐apa."


Andre juga tampaknya terperangkap dalam kenangan itu. Dipandanginya Laras beberapa saat, sebelum akhirnya buru‐buru berbalik dan berkata, "Sebaiknya kita segera berangkat."

__ADS_1


__ADS_2