DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 39


__ADS_3

"Ia tetap tinggal di sini," sergah Laras yang membelakangi Beni dan dengan tegas menghadapi Andre. "Ia tetap di sini sampai


aku memecatnya. Indra yang memintaku mempekerjakannya di sini. Akulah satu‐satunya orang yang boleh memecatnya. Paling tidak, sampai saat pembacaan surat wasiat itu dan kau mengambil hartamu, Rumah ini. Sementara ini, sebagai janda Indra, aku yang mengambil keputusan mengenai segala sesuatu yang


menyangkut apa pun di sini."


"Perse tan denganmu," jawab Andre. "Ini soal Diana, bukan benda. Ia memang putri tirimu, tetapi ia adikku."


"Aku tahu. Semua ini berkaitan dengan Diana." Dada Lars turun‐naik karena letupan emosi. Ketika menatap Andre dengan sikap menantang, ia justru merasa makin mencintai Andre dan ingin menghapus luka di wajahnya. Tetapi ia tidak mau menyerah oleh perasaan itu.


"Beni sama sekali tidak memperalat Diana. Ia mencintainya, Ndee. Diana juga mencintainya."


"Diana tidak tahu apa yang dilakukannya."


"Tidak, ia tahu. Ia mencintai Beni. Apakah kau tak punya perasaan lagi? Emosimu tumpul? Membuatmu tidak mampu melihat hal yang demikian jelas? Kalau kau menyuruh Beni pergi,


bayangkan apa pendapat Diana tentang dirimu. Kau orang yang dipujanya. Ia mengagumi setiap langkah yang kaulakukan.


Segalanya akan hancur bila kau mematahkan hatinya dengan bertindak seperti itu. Tolong, jangan laku‐kan hal itu, kumohon."


"Ini demi kebaikannya."


"Bagaimana kau tahu apa yang terbaik untuk dirinya?"


"Aku tahu."


"Seperti Indra yang tahu apa yang terbaik untukmu? Apakah kau akan memisahkan mereka seperti Indra memisahkan kita?"


Andre seperti orang yang baru saja kena pukul, bahkan lebih mematikan daripada hantaman pisau Beni. Matanya nanar menatap Laras, tetapi Laras bergeming. Akhirnya Andre mengalihkan pandangan pada Beni, yang tanpa sadar mengelus pahanya yang terluka.


Andre memandanginya tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun sebelum meninggalkan kandang. Laras merasa seluruh jiwa raganya seperti terbang, ia merasa


tubuhnya lemas. Beberapa saat lamanya ia berdiri di tempat, memandangi jerami yang berserakan di lantai dengan mata berkaca‐kaca. Ia berhasil menyudutkan Andre dan pria itu pasti sangat membenci tindakannya itu. Sambil menarik napas panjang, ia mengangkat kepala dan berbalik menghadap Beni.


Wajahnya bengkak‐bengkak. "Kau tidak apa‐apa?" Beni mengangguk, sambil menyeka bibirnya yang sudah tak keruan bentuknya dengan sapu tangan.


"Aku lebih parah." Beni mencoba tersenyum tetapi kemudian meringis kesakitan.

__ADS_1


"Biar kuminta Bi Ani mengobati lukamu."


Beni kembali mengangguk dan Laras berbalik. Ketika tiba di ambang pintu kandang, Beni berkata, "Nyonya." Laras menatapnya. Dengan


langkah terpincang‐pincang Diana menghampiri Laras. "Terima kasih. Apa pun akibatnya, saya sangat menghargai pembelaan Anda untuk saya."


Laras tersenyum getir dan langsung menuju rumah. Dengan galau ia masuk lewat pintu belakang. Dilihatnya Andre duduk memangku Diana. Diana membenamkan wajah ke leher


Andre dan menangis tersedu‐sedu. "Kau marah padaku. Aku tahu kau marah."


"Tidak," hibur Andre lembut sambil mengelus punggungnya. "Aku tidak marah. Aku hanya tidak mau hal buruk menimpa dirimu, Diana, hanya itu."


"Yang dilakukan Beni padaku bukan hal buruk. Aku mencintainya, Ndre."


Mata Andrs bertemu mata Laras dari balik kepala Diana. "Aku tidak yakin kau mengerti apa arti mencintai pria, Diana. Atau apa makna laki‐laki itu mencintaimu."


"Aku tahu! Aku mencintai Beni dan Beni mencintaiku. Ia takkan menyakiti aku."


Andre tidak mau mengakui kekeliruannya. "Kita akan bicara soal ini nanti. Maafkan aku, aku kehilangan kesabaran."


Namun Dianan tidak mau ditenangkan dengan cara itu. Ia mengangkat kepala dan mencengkeram kemeja Andre. "Kau tidak


Andre tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap mata Diana yang tajam dan akhirnya berkata, "Aku berjanji, aku


tidak akan berkelahi dengan Beni lagi."


Perlahan Diaba melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Andre dan dengan manis mencium pipi Andre. "Aku akan


membantu Bi Ani mengobati luka‐lukanya." Bagi Diana, persoalan sudah selesai. Ia meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga.


"Aku tidak jadi pergi hari ini," kata Andre dengan nada tertahan ketika tinggal mereka berdua di ruangan itu.


Hati Laras melonjak kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan dagu. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau tidak ada, aku akan memengaruhi adik


perempuanmu dan menghancurkan reputasi keluargamu?"


Andre menatap Laras dalam‐dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."

__ADS_1


Mata Laras berkaca‐kaca. Andre tahu persis bagaimana menyakiti Laras. "Bagimu, aku hanya barang mainan, bukan, ndre? Kau cium aku, bila kau merasa ingin menciumku, tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota keluargamu."


"Aku tidak jadi pergi."


Hanya itu yang dikatakan Andre sebelum melangkah ke luar ruangan.


"Selamat pagi, Nyonya"


"Nyonya, hari ini cuaca cerah ya?" Laras membalas salam yang ditujukan kepadanya ketika memasuki pabrik pemintalan. Musim panen sudah di depan mata. Para pekerja mulai


lembur memintal kapas yang mulai berdatangan. Jam kerja yang panjang, jam‐jam kerja yang melelahkan, debu, panas, dan berisik.


Namun tetap terpancar kesan bangga di wajah para pekerja di pabrik pemintalan kapas itu; air muka yang sudah bertahun‐tahun lamanya tak pernah terlihat di wajah mereka. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu dari mana datangnya perasaan seperti itu. Andre.


Semua peralatan, setelah diperbaiki baru‐baru ini, bisa kembali dioperasikan dengan hasil memuaskan. Para petani kapas yang pada musim‐musim panen yang lalu menjual hasil panennya ke pemintalan lain, kini kembali membawanya ke pemintalan kapas keluarga Gunawan. Bukan rahasia lagi, setiap orang tahu mengapa terjadi hal itu, juga. Andre.


Keberadaannya di pemintalan kapas yang hanya beberapa minggu itu membawa perubaban drastis. Umumnya para pekerja


menyambut ke datangan Andre. Yang bersedia bekerja keras mendapat kenaikan upah. Yang biasanya datang terlambat atau melalaikan tugas dipecat. Laras melihat yang dipecat adalah para pekerja yang suka melalaikan tugas.


Mereka adalah orang‐orang yang dipekerjakan Indra untuk tugas khusus, pekerjaan, yang


menurut perkiraan Laras, lebih baik tidak diketahuinya. Dulu ia pernah meminta Indra memberhentikan mereka. Dari peristiwa itu ia sadar, lebih baik baginya jika tidak mencampuri urusan pribadi Indra.


"Ia suka bikin masalah," kata Laras. Indra waktu itu hanya tersenyum manis. "Ia melakukan...


tugas‐tugas... bagiku, Laras. Kalau mereka membuat onar dengan salah satu karyawan pabrik, tolonglah, tak usab kauhiraukan."


"Tetapi ia pekerja pabrik juga."


"Memang seharusnya begitulah kesannya." Melihat ekspresi Laras yang tidak menerima, Indra hanya menambahkan secara diplomatis. "Aku akan bicara dengannya, bila ia menimbulkan banyak masalah bagimu."


Sekarang barulah Laras tahu mereka itulah yang diperintahkan Indra memata‐mati Andre musim panas itu. Andre, dengan persetujuan Laras tidak mau menunda waktu semenit pun untuk menendang orang‐orang yang tak berguna dan menaikkan gaji karyawan yang bisa dipercaya lagi setia.


Mereka menghormati Andre. Mereka bekerja keras bukan karena takut pada Andre, seperti waktu mereka bekerja pada ayah Andre,mereka


bersedia bekerja keras karena menyukai Andre. Andre punya kemampuan memotivasi mereka. Ia memberi kritik‐kritik yang membangun pada mereka. Ia memberikan pujian bila mereka

__ADS_1


pantas dipuji. Ia ikut bekerja keras bersama mereka. Tak heran, batin Laras, Andre menjadi pebisnis yang sukses.


Sepuluh hari telah berlalu sejak peristiwa perkelahian di kandang kuda antara Beni dan Andre. Andre lebih banyak menghabiskan waktu di pemintalan. Laras senang Andre di sana. Keberadaannya menambah kepercayaan diri Laras. Laras tahu beberapa pekerja itu dipecat karena mengkritik Laras.


__ADS_2