DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 32


__ADS_3

"Cepat keluar dari sini, tinggalkan aku. Tak ada yang kaukerjakan di sini."


"Tetapi tuan...."


"Keluar!" bentaknya kasar. "Aku ingin bicara dengan istri dan putraku." Kata istri dan putra, kedua kata itu, diucapkan Indra dengan nada mengejek.


Perawat itu pun segera meninggalkan kamar. Sol sepatunya yang terbuat dari karet berderit pedahan saat melangkah di lantai yang berlapis vinyl. Laras mendekati ranjang Indra dan memegang tangannya. "Kami langsung ke sini begitu dokter menelepon."


Mata Indra yang hitam, bak peluru, menatap Laras bagai moncong senapan yang ditodongkan. Air muka Indra kusut sekali.


Bayang‐bayang kehidupan yang hancur terpancar dari mukanya, bukan secara fisik


tetapi kehancuran mental yang


menggerogotinya selama betahun‐tahun dari dalam, yang baru sekarang muncul ke permukaan. "Kuharap aku tidak membuat


kalian terpaksa harus meninggalkan sesuatu yang lebih penting," kata Indra sinis dan menarik tangannya dari genggaman Laras.


Laras tidak mau terpancing. Dengan tenang ia menanggapi, "Tentu saja tidak, Indra. Kau tahu aku datang ke sini untukmu."


Indra tersenyum sinis. "Agar kau segera tahu aku sudah mati? Supaya kau langsung tahu, kau sudah bebas dariku?"


Tubuh Laras tersentak seperti orang yang ditinju keras di kepala. "Mengapa kau berkata seperti itu? Apa kaupikir aku ingin kau meninggal? Bukankah aku sejak dulu mendorongmu segera memeriksakan diri ke dokter? Tak ada alasan kau meragukan


pengabdianku padamu."


"Itu karena kau tidak punya kesempatan saja." Tatapan Indra bergeser ke Andre, yang berdiri di ujung ranjang, mukanya tanpa ekspresi.


"A....apa maksudmu mengatakan begitu?" Laras tergagap, membuat mata Indra kembali tertuju


padanya. "Maksudku, karena pria yang begitu kau dambakan kini tinggal satu atap denganmu. Kau bisa tergoda untuk tidak setia pada suamimu, yang kau katakan untuknya kau abdikan hidupmu."


Laras merasa napasnya mau berhenti. Tanpa mampu berkata‐kata ia menatap suaminya. Seringai licik mengembang di bibirnya.


Matanya berapi‐api seperti nyala api neraka.


"Maksudmu, Andre?" tanya Laras, menegaskan.


"Andre." Indra mengulangi, menirukan Laras. "Andre, Andre. Tentu saja dia! Sudah pasti yang kumaksud Andre."


Laras membasahi bibir. "Tetapi Andre dan aku... kami tidak punya... kami tidak pernah...."


"Jangan bohong padaku." Indra duduk dan membentak Laras. Ia seperti orang yang berwajah buruk, terikat selang‐selang plastik di ranjang. "Jangan coba berpura‐pura di hadapanku, Nona Cilik. Aku tahu semua cerita tentang dirimu dan Andre."


Laras menjauhkan diri dari Indra, bahunya condong ke depan, tangannya dilipat di perut. Matanya mencari‐cari Andre. Andre bergeming. Ia tetap berdiri kaku di ujung ranjang ayahnya yang sekarat. Matanya menyorotkan kebencian yang dalam. Dialah yang memecah keheningan yang menakutkan di ruangan itu.


"Kau tahu soal Laras pada malam kau memberitahuku tentang Ery yang hamil, bukan?"


Indra ambruk di bantal, Napasnya terdengar seperti bunyi lembaran kertas yang dilipat‐lipat. Secara fisik, jelas tenaganya bagaikan tersedot habis untuk mengungkapkan pesan kemenangannya. Namun air mukanya berbinar memancarkan kepuasan ketika ia menatap putranya dengan sorot mata penuh kebencian.


Indra tertawa. "Aku tahu. Semuanya," kata‐nya sinis. "Kau harusnya sadar, tak mungkin kau pergi menyelinap ke hutan setiap hari tanpa membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku akan mengagumi kecerdikanmu, bila kau bersikap lebih cerdik."


"Jadi kau pernah membuntutiku dan melihat kami bersama," tanya Andre dengan suara tetap tenang dan rendah.

__ADS_1


"Hah, tentu saja tidak!" jawab Indra, senang. "Aku tak mau merepotkan diriku ikut campur urusanmu. Aku hanya penasaran, kenakalan apa yang kaulakukan. Cukup kusuruh begundal‐begundal mengikutimu. Mereka memberikan laporan yang sangat menarik.


Kau menemui gadis miskin di tepi sungai setiap hari."


Laras terisak memilukan hati. Namun Indra sama sekali tidak memedulikannya. Yang jadi sasarannya adalah putranya, seperti biasanya.


Selama ini Laras hanya diperalatnya.


"Gadis yang kautemui setiap hari secara sembunyi‐sembunyi hanya gadis di bawah umur, kata anak buahku, tetapi tubuhnya


sangat menggoda." Indra membasahi bibirnya.


Laras memejamkan mata, dan berusaha meredam perasaan muak. Tubuh Andre sedikut gemetar karena berusaha mengendalikan


kemarahan yang menyergapnya.


"Kami tertawa geli ketika tahu perempuan pujaanmu ternyata putri seorang pemabuk." Indra mengedipkan mata pada Andre. "Tetapi aku kagum akan seleramu pada perempuan, anakku. Ia perempuan ingusan, tetapi waktu itu


kau berani menanggung risikonya, bukan?"


"Mari kita luruskan permasalahannya," sela Andre. "Kau tahu yang dikandung Ery bukan anakku, bukan?"


"Kurasa, bayi itu mungkin saja anakmu atau anak laki‐laki lain, dan kau tidak bisa membuktikan sebaliknya. Setiap orang di kota


tahu Ery bisa diajak tidur siapa saja."


"Bukan anakmu?" Andre menoleh, melihat Laras menatapnya. Suaranya terdengar parau, menyiratkan ketidak percayaan dan... perasaan


lain. Gembira? Matanya berkaca‐kaca.


"Tetapi kau pernah tidur dengan Ery, bukan?" Laras bertanya dari ranjang.


Mata Adre tetap tertuju pada Laras ketika menjawab pertanyaan Laras, "Ya. Tetapi itu terjadi jauh sebelum ia hamil. Aku tidak pernah kencan dengan perempuan lain selama musim


panas itu setelah mengenal laras. Alyssa bukan anakku."


Andre kembali menghadap ke ranjang ayahnya. "Dan kau tahu soal itu. Waktu itu kukatakan padamu bayi itu bukan anakku, karena hampir


setahun aku tidak tidur dengan Ery. Tetapi kau memaksaku menikahinya juga. Mengapa?"


"Senang aku mengetahui kau lupa bahwa kau sendiri yang memilih menikahinya."


"Karena kau mengancamku akan memasukan Diana ke panti asuhan bila aku menolak menikahi Ery!" teriak Andre, mengeluarkan kemarahan menggelegak yang sejak tadi diredamnya.


"Ya ampun!" Laras menutup muka dengan tangan. Akankah mimpi buruk ini tidak pernah berakhir? Indra memaksa Andre menikahi gadis yang mengandung anak laki‐laki lain?


Bagaimana ia bisa melakukan hal itu?


"Mengapa kau memaksaku menikahi Ery, Mengapa kau tidak menyangkal pernyataan ayah Ery bahwa aku bukanlah ayah bayi itu dan mengusirnya dari rumah? Aku yakin kau bukan


orang yang takut menanggung akibat skandal ini. Kau bukan orang yang peduli norma masyarakat. Dan aku tahu si tua Jerry itu tidak mengancammu. Mengapa kau memaksaku menikahinya?" Suara Andre meninggi, pertanyaannya itu terasa seperti tetap menggema di dalam ruangan setelah keluar dari mulutnya.


"Uang," jawab Indra, pendek. "Ayahnya punya banyak uang. Aku lagi butuh uang. Sesederhana itu masalahnya. Aku menjualmu,

__ADS_1


anakku."


Andre terpaku. Kendati sudah tahu kebreng sekan ayahnya, sama sekali tak terlintas dalam benaknya bahwa uang menjadi penyebab


pemaksaan itu. "Tetapi kau tidak mencegahku bercerai setelah Alyssa lahir," kata Andre.


"Itu tidak termasuk dalam kesepakatan. Jerry hanya menginginkan suami untuk putrinya yang malang dan ayah untuk cucunya. Ia ingin nama keluarga terhormat menempel dibelakang nama cucunya, tercetak di akte kelahirannya."


"Terhormat," lanjut Indra sambil menatap langit‐langit. "Kita suka yang berbau kehormatan, bukan?"


"Selain itu," lanjut Indra, "itu cara yang lebih bagus untuk menyelamatkanmu dari kesalahan besar."


"Kesalahan apa?"


"Memilih gadis miskin, itulah maksudku." Indra


mengarahkan pandangannya ke arah Laras.


"Jangan libatkan dia dalam masalah ini," kata Andre mengancam.


"Soal ini tak ada sangkut pautnya dengan Laras."


Indra tertawa geli, mengejek. "Semuanya terkait dengan Laras. Aku tidak mau kau menghamili perempuan seperti Laras, bukan? Segalanya bisa jadi sangat kacau balau."


"Bukan itu masalahnya." Andee mengucapkan kata‐kata itu sambil mengertakkan gigi.


"Dari apa yang dilaporkan informanku, hubungan kalian makin intim. Mereka bilang kau sulit mengendalikan keinginanmu untuk


tidak menyentuhnya." Indra menyipitkan mata memandang putranya. Bibirnya mencemooh.


"Dasar anak bo doh. Tahu kau betapa sulit bagiku untuk menahan rasa geli ketika kau bilang sudah menemukan gadis yang ingin kau nikahi?"


Laras terkejut, matanya tertuju pada Andre. Andre meliriknya sekilas, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk menanggapi tatapan mata keabu‐abuan Laras yang penuh tanda tanya itu.


Indra melanjutkan kata‐katanya tanpa perasaan. "Ery memang gadis binal. Ia membiarkan lelaki mana saja menikmatinya. Tetapi paling tidak, ia datang dari keluarga


terhormat." Mata Indra dialihkan pada Laras. "Paling tidak, ia bukan putri pemabuk."


"Lalu, mengapa kau menikahi aku?" tanya Laras, memecah kebisuannya akhirnya. Indra harus mempertanggung jawabkan semua sakit hati yang dideritanya. Selama ini ia pikir Andre menghamili Ery dan terap menemui dirinya.


Siasat Indra berhasil dilaksanakan dengan baik. Ia berhasil meraih apa yang diinginkan


dengan sengaja menghancurkan kehidupan mereka berdua, dirinya dan Andre. Laras merasa takkan kehilangan apa pun bila melawan Indra sekarang.


"Aku menikahimu karena ingin membuat investasi yang menguntungkan," jawab Indra singkat.


"Apa maksudmu?" Perasaan Laras yang sakit, membuatnya tidak ingin tahu lebih jauh kelanjutannya. Namun ia harus tahu.


Rahasianya harus tersingkap malam ini. Ia tidak yakin akan mampu bertahan bila harus menghadapi hal seperti ini lagi lain kali. Lebih


baik ia tahu segalanya sekaligus. "Investasi apa?"


"Terkutuklah aku," kata Andre perlahan, ketika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"Kau bisa menebaknya, kan?" tanya Indra sambil tawa terkekeh.


"Tolong jelaskan padaku, salah satu dari kalian, apa duduk persoalannya?" teriak Laras.


__ADS_2