DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 40


__ADS_3

Meskipun tidak diungkapkan secara gamblang, keduanya berusaha berdamai. Saat itu pagi hari di pemintalan, waktu Laras sibuk mengurus surat‐surat bisnis, Andre masuk ke ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu. "Laras, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu,


bila kau tidak sibuk."


Laras tersenyum manis dan merentangkan tangan ke arah kertas‐kertas yang berserakan di mejanya. "Oh, tidak. Aku tidak sibuk."


Andre tersenyum ganjil. "Ini penting, kalau tidak, aku tidak akan mengganggumu."


Sambil berdiri, Laras bertanya, penasaran, "Siapa?" Kejutan.


Dengan jari‐jari menempel di punggung Laras, Andre mengajak wanita itu melewati ruang pemintalan yang bising, ke luar, menuju mobil yang memuat lima ratus bal kapas, siap diantar ke gudang. Seorang pria bertubuh tambun dengan setelan warna putih dan topi anyaman seperti dalam film-film di tepi pantai, tampak mengambik kapas dari dalam bal sambil mengisap cerutu yang menyebarkan bau menyengat dan tidak menyenangkan,


mengingatkan Caroline pada Indra. Tetapi tak terlihat kepribadian mendominasi seperti Indra pada orang itu, yang kini mengangkat kepala dan tersenyum ramah ketika melihat Laras yang bersama Andre berjalan menghampirinya.


"Tuan David Smith, kenalkan, Nyonya Laras Gunawan"


"Tuan Smith." Laras menjulurkan tangan. Tangan Laras yang kecil tenggelam dalam genggaman tangan David yang menyalami Laras dengan tulus. Andai kenal kakeknya, ingin Laras membayangkan rupa kakeknya seperti Tuan Smith ini.


"Senang bisa berkenalan dengan Anda, Nyonya. Sangat senang sekali. Anda punya... uh... ehm... anak tiri Anda, Andre, ini,mengatakan pada saya, berkat pengelolaan Anda yang saksama,


pabrik kapas keluarga Gunawan berkembang pesat."


Pipi Laras langsung memerah ketika ia melirik Andre, kemudian kembali menghadap tamunya. "Andre sangat banyak membantu saya, saya rasa. Tetapi saya sangat bangga dengan produk kapas yang kami hasilkan sekarang."


"Tuan Smith calon pembeli kapas kita dari Delta Textile di kota." Laras menghadap ke arah Andre, karena itu hanya Andre yang melihat alis Laras yang terangkat dan mulutnya yang ternganga kecil karena terkejut.


Mata Andre berbinar nakal. Susah payah ia


menekan dorongan hatinya untuk tertawa.


"Saya... saya mengerti," gagap Laras lalu kembali menghadap ke arah calon pembeli kapasnya. Setiap petani kapas di daerah


Selatan atau penjual kapas kenal baik perusahaan Delta Textile. Mereka memproduksi tekstil kualitas terbaik di dunia.


"Kami akan dengan senang hati memberikan contoh kapas kami kepada Anda, Tuan Smith," kata Laras setenang mungkin. Ia merasa


adrenalinnya mengalir cepat ke seluruh tubuhnya. Bila ia dan Andre berhasil menjual kapas mereka ke perusahaan Delta Textile, itu


berarti lompatan bisnis besar buat mereka.

__ADS_1


"Terima kasih atas sambutanmu, Andre, aku sudah mengambil contohnya." Ia mengambil segumpal kapas dari bal dan merentangkannya sehingga ia dapat mengira‐ngira panjang rata‐


rata serat kapasnya. "Ini kapas berkualitas prima," katanya kagum. "Panjangnya cukup. Kurasa kau bisa menjualnya kepada kami


sebagian."


Baik Laras maupun Andre berusaha menekan lonjakan kegembiraan hati mereka. "Kami sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan pembeli lain," kata Andre, pura‐pura menolak.


"Aku menghormati keputusanmu, Ndre," kata pembeli itu. "Berapa banyak bal kapas yang bisa kau jual kepadaku?"


Sementara Laras berdiri di sampingnya, dengan perasaaan resah berganti‐ganti posisi berdirinya, Andre tawar‐menawar dengan si calon pembeli. Akhirnya mereka sepakat atas sejumlah kapas yang akan dikirim dan harga per balnya. Harga paling mahal yang pernah. diperoleh pemintalan pabrik Gunawan.


"Tentu saja, kami akan mengantar kapas Anda dengan pesawat," kata Andre tanpa pikir panjang ketika mengantar Tuan Smith menuju


kamar kerja Laras untuk menandatangani kontrak.


"Dengan pesawat?" tanya David menatap Andre tidak percaya. Tetapi bukan hanya David yang terkejut, Laras juga.


"Kami berikan servis istimewa kepada pembeli pilihan kami," jawab Andre sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Ketika David berbalik hendak melangkah masuk ke ruang kantor, Andre mengedipkan mata pada laras yang masih terkejut dan tidak bisa berkata‐kata.


Setelah David meninggalkan tempat itu, Laras


memandang Andre dengan jengkel. "Dengan pesawat?" tanyanya, dengan nada tinggi. "Mengapa tidak dikirim dengan kereta api?"


Ia mengeluarkan sebotol minuman dari laci lemari paling bawah. "Ada gelas minuman? Ah, perse tan dengan gelas." Andre membuka tutup botol, mendongakkan kepala dan langsung menenggak minuman dari botol. Wajahnya meringis ketika carian yang membakar itu mengalir turun ke tenggorokannya.


"Aku punya pesawat barang yang sudah ku perbaiki sendiri. Kita kan ingin menanamkan citra baik pada perusahaan Delta Textile,bukan? Apa kaupikir mereka akan mengacuhkan perusahaan yang bisa mengantarkan kapas mereka dengan pesawat terbang?"


"Tetapi biaya bahan bakarnya saja sudah berapa... Andre, biayanya sangat mahal."


"Tidak, bila aku yang mengangkut dan menerbangkan pesawat itu," jawab Andre, sambil melempar senyum lebar pada Laras.


"Yang harus dibayar cuma biaya bahan bakar dan beberapa jam terbangku. Tetapi bila kontrak kerja sama dengan Delta Textile


berkesinambungan, itu investasi besar, menurutku. Bagi kita."


Andre mengangkat botol sebagai tanda hormat pada Laras sebelum kembali menenggak


minumannya, kemudian menyodorkannya ke hadapan Laras. "Ini." Terhanyut kegembiraan untuk merayakannya, Laras menatap botol minuman, dan tergoda ingin meminumnya juga.

__ADS_1


"Tapi aku tidak biasa," katanya, berbohong dan malu‐malu, dan melempar pandang ke arah pintu.


"Tentu saja kau bisa minum."


"Bagaimana bila ada yang datang dan melihat kita minum‐minum di sini?"


"Mereka akan mengerti. Kita baru saja menandatangani kontrak kerja besar. Di samping itu, aku sudah memberitahu mereka, siapa pun tidak boleh masuk ke ruang kerja ini tanpa mengetuk pintu lebih dulu."


"Kau selalu masuk tanpa mengetuk."


Andre kelihatan jengkel. "Kau mau minum atau tidak?"


Dengan berani Laras memegang leher botol dan meniru gerakan Andre, kepalanya di tengadahkan dan ia membiarkan minuman itu meluncur turun ke tenggorokannya. Laras terbatuk‐batuk dan tersengal-sengak, air matanya menetes dan ia merasakan perutnya terbakar.


Andre mengambil botol minuman dari tangan Laras ketika melihat laras terbungkuk‐bungkuk karena batuk. Ia menepukkan telapak tangannya pada punggung Laras dan tertawa terbahak‐bahak.


"Lebih enak?" Perlahan Laras menegakkan tubuh, menyeka air matanya dengan punggung tangan.


"Kurasa ya," jawab Laras dengan suara parau, lalu keduanya tertawa terbahak‐bahak.


"Oh Tuhan, Laras. Tadi aku khawatir sekali," kata Andre penuh semangat. "Aku takut ia bilang tidak atau meninggalkan kita tanpa membuat kesepakatan pasti."


"Mengapa kau tidak memberitahu aku lebih dulu ia akan ke sini?"


"Aku tidak ingin membuatmu berharap."


"Aku senang kau tidak memberitahuku. Aku suka kejutan." Oh ya?"


"Ya." Laras melempar senyum pada Andre, senyumnya makin lebar ketika menyadari kembali apa yang tengah mereka rayakan.


"Ya, ya, ya." Semua itu tidak direncanakan. Sama sekali tidak direncanakan. Andre memeluk pinggang Laras, mengangkat tubuh perempuan itu beberapa sentimeter dari lantai lalu memutar‐mutarnya. Keduanya tertawa‐tawa.


Andre menengadah ketika memandang Laras.


Laras tersenyum dengan posisi tubuh yang masih terangkat dan meletakkan tangannya di bahu Andre.


"Kita berhasil! Kita berhasil membuat kontrak kerja sama paling mahal dalam sejarah perusahaan pemintalan kita. Kau sadar apa arti


kesepakatan ini, Laras? Pembeli‐pembeli baru akan berdatangan ke sini. Petani kapas akan berdatangan ke tempat kita," kata Andre,

__ADS_1


menjawab pertanyaan Laras.


"Bukan tahun ini, tetapi tahun depan. Kita bisa mengembangkan perusahaan ini." Andre memeluk Laras, memutarnya seperti orang yang sedang berdansa.


__ADS_2