
Andre merendahkan tubuhnya, seperti hendak memberi perlindungan pada Laras. Ia mendekap laras erat‐erat, tangannya memegang kedua sisi kepala Laras. Ia mengecup lembut seluruh wajah Laras dan menenangkannya. "Kau tidak tahu apa yang terjadi atas dirimu, Laras?" Letupan emosi di
hatinya membuat suaranya terdengar parau.
Laras mencari‐cari mata Andre, memerhatikan bibir Andre, menyentuhnya, seperti orang yang mengagumi keindahan yang dimiliki Andre dan apa yang baru saja diperkenalkan pria itu padanya. "Tetapi kau tidak... maksudku... kau tidak... berada dalam tubuhku."
Sambil mendesah lirih, Andrek menekankan dahinya ke dahi Laras. "Tidak, aku tidak melakukannya. Tetapi aku ingin sekali.
Aku ingin berada jauh di dalam tubuhmu, memenuhi dirimu dengan diriku, memberimu segala yang kupunya." Andre mencium Laras, seakan tengah bercinta, mencium bibir Laras dengan lembut.
Tetapi ciuman itu malah makin mengingatkannya pada apa yang tak boleh dilakukannya, lalu ia melepaskannya.
Laras menangis tersedu‐sedu. Air matanya bercampur air hujan. Andre menyeka air mata dari pipi Laras dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis." Andre bangkit dan menarik Laras berdiri juga, mendekapnya erat‐erat. Laras yang masih saja menangis.
"Mengapa kau menangis, Laras?" Oh, Tuhan, andai ia sampai melanggar janjinya dan melukai Laras, ia takkan pernah memaafkan dirinya.
Apakah Laras tidak menghargainya lagi sekarang, takut dengannya? "Kata‐kan, kenapa kau menangis?"
"Kau takkan datang menemuiku lagi. Setelah peristiwa hari ini. Setelah apa yang kulakukan, kau akan menganggapku perempuan murahan."
Kelegaan menyelimuti hati Andre. "Oh, sayangku," bisik Andre sambil memeluk tubuh Laras lebih erat ke tubuhnya. "Aku mencintaimu."
__ADS_1
Perlahan‐lahan Laras mengangkat kepala dan menatap Andre. "Kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu," kata Andre, karena ia tahu itulah perasaannya yang sesungguhnya terhadap Laras. Andai ia tidak mencintainya,
mereka masih akan berbaring di rerumputan dan ia akan memuaskan hasratnya. "Aku mencintaimu. Betapa pun sulit, aku akan datang ke sini lagi besok." Andre memeluk Latas erat‐erat, menciuminya sampai Laras sesak napas.
Kemudian, sambil mendekap Laras seakan ia sudah menjadi miliknya, Andre berbisik
di telinga Laras, "Kita hampir melewati batas, Laras." Andre agak menjauhkan dirinya dari Laras, mencari‐cari mata laras.
"Kau mengerti apa yang kumaksud, bukan?"
"Tentu saja!" jawab Laras sambil terisak pelan.
"Aku tahu, apa pun yang terjadi di antara kita takkan ada masa depan. Bukan tidak ada masa depan. Aku akan mencari jalan keluar. Malam ini."
"Aku akan mencari cara bagaimana supaya kita bisa berkencan dengan pantas, berada di antara orang banyak, tidak lagi bertemu
sembunyi‐sembunyi begini.
Laras memeluk lengan atas Ndre. "Jangan, Andre, jangan lakukan hal itu. Biarkan seperti sekarang ini, selama kita bisa.
"Aku bisa mati kalau begini terus."
__ADS_1
"Mengapa?"
"Bila berduaan saja seperti ini, sulit bagiku untuk menghentikan apa yang sudah kumulai."Laras terdiam dan membisu beberapa saat, hanya memandangi tenggorokan Andre sementara jarinya menelusuri kerah kemeja Andre.
Laras membasahi bibir. "Andre, aku tidak keberatan bila kau... Aku bersedia bila kau ingin me..."
Dengan jari telunjuk Andre menaikkan dagu Laras, "Tidak." Suara Andre pelan tapi tegas. "Aku tidak suka main sembunyi‐sembunyi seperti ini. Aku tidak suka memperumit
masalah, mengambil risiko menyakitimu, dengan bercinta denganmu." Ia menundukkan wajah hendak menci*** Laras yang tak jauh darinya.
Andre memejamkan mata rapat‐rapat,
mengembuskan napas, dan mengertakkan gigi. Ketika membuka mata kembali, Andre berkata," Aku ingin sekali. Oh Tuhan. Aku ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang kukatakan padamu, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hatimu."
"Ya, dan aku percaya padamu."
"Kalau begitu serahkan segalanya padaku. Tak ada yang perlu kaukhawatirkan. Aku akan membereskan segalanya, sehingga kita tidak perlu bertemu sembunyi‐sembunyi seperti ini lagi."
"Kau yakin, Ndre?" Perasaan cemas itu masih terpancar di wajah Laras. Andre tahu Laras mengkhawatirkan dirinya, bukan diri Laras, dirinya sendiri.
"Aku yakin. Besok aku akan membawa berita baik. Besok, sayangku. Di sini. Di tempat kita berada ini." Tangan Andre mendekap wajah Laras. "Oh, Tuhan, Laras, ci*** aku lagi." Andre
menci*** Laras tapi hanya ci***an kecil.
__ADS_1
Ia tidak yakin dirinya bisa memenuhi janjinya. Ia ingin menikahi Laras, dan tak peduli apa pun risikonya.
"Besok, besok," kata Andre berulang-ulang sambil mundur, merentangkan tangannya, sampai akhirnya ujung jari mereka berpisah. Andee lari menembus hutan di bawah rintik hujan ke tempat ia memarkir mobilnya, ingin cepat‐cepat tiba di rumah....