DALAM DERAI AIR MATA

DALAM DERAI AIR MATA
Bab 6


__ADS_3

Tangannya yang bebas menyentuh tengkuk Laras dan mendorong wajah wanita itu ke wajahnya. "Ingat, kita sekarang keluarga,"


bisiknya dengan nada mengejek. Kemudian bibirnya men*** bibir Laras, kasar dan penuh kemarahan.


Di***nya bibir Laras dengan liar, seakan hendak menghukumnya karena malam-malam


ketika ia memikirkan Laras, Laras-nya yang


polos, yang berbagi tempat tidur, ***nya, dengan ayahnya.


Laras menyarangkan tinju ke dada pria itu. Terdengar suara mengerang keras. Lututnya


lemas. Ia berusaha memberontak. Ia


memberontak lebih keras. Karena ia ingin memeluk laki‐laki itu, mendekapnya erat,


merasakan kembali getaran yang pernah


dirasakannya ketika berada dalam pelukannya.


Tetapi ini bukanlah pelukan, ini penghinaan. Ia bergulat sekuat tenaga untuk membebaskan


bibirnya. Ketika ia berhasil melepaskan diri,


Andre memasukkan tangan ke saku celana


jinsnya dan tersenyum mengejek penuh kemenangan, melihat ekspesi marah dan bibir


merah Laras. "Salam, Mom," dengusnya.


Laras merasa napasnya sesak. Dadanya turun naik menahan amarah dan perasaan terhina.


"Kasar sekali bicaramu. Bagaimana kau bisa


sekejam itu?"


"Bagaimana kau bisa menikah dengan laki‐laki tua bajingan yang kebetulan ayahku itu?"


"Ia bukan bajingan. Ia sangat baik padaku."


Tawa Andre pendek. "Oh, jadi ia sangat baik padamu. Karena mutiara di telingamu itu?


Berkat berlian yang gemerlap di jarimu?


Kau sekarang orang terhormat di dunia ya, Laras si gadis sungai? Kini kau penghuni


rumah mewah. Tidakkah kau ingat, kau pernah


mengatakan padaku kau bersedia melakukan apa pun agar bisa menghuni rumah ini?" Andre


agak memiringkan badan ke arah Latas ketika mengucapkan kata‐kata itu sambil mendengus.


"Biar kutebak apa yang kaulakukan pada ayahku sampai ia mau menikahimu."


Larasnmenampar muka Andre dengan keras. Itu dilakukan Laras tanpa beepikir panjang


Sedetik yang lalu Andre melontarkan penghinaannya, detik berikutnya Laras mendaratkan telapak tanganya di pipi Andre.


Membuat telapak tangannya terasa panas. Ia berharap demikian Andre merasakan yang sama.


Andre melangkah mundur sambil tersenyum sinis. Senyum yang membuat amarah Laras


lebih menggelegak daripada ucapannya yang

__ADS_1


menyakitkan. "Apa pun yang kulakukan pada ayah‐mu, jauh lebih baik daripada apa yang kau


lakukan padaku selama dua belas tahun ini.


Ayahmu menderita, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu."


Tawa Andre kembali terdengar. "Menyesali? Indah sekali, Laras. Menyesali." Andre


menekuk salah satu lututnya, sehingga berat


badannya bertumpu pada kaki yang satu lagi dengan sikap angkuh.


"Mengapa aku sulit membayangkan ayahku menyesali sesuatu? Apalagi kepergianku."


"Aku yakin ia ingin kau tinggal di sini."


"Ia bahagia kalau tidak berurusan denganku, begitu juga sebaliknya," Jawab Andre kasar.


"Jangan bermanis‐manis lagi. Kalau kau pikir


Indra sayang padaku, kau cuma berkhayal."


"Aku tidak tahu apa penyebab pertengkaran kalian dulu. Yang jelas sekarang ia sakit parah,


Andre. Ia sekarat. Janganlah mempersulit situasi yang sudah sulit."


"Siapa yang punya gagasan menghubungi aku, kau atau Danu?,"


"Indra."


"Danu bilang begitu. Tetapi aku tidak percaya."


"Tetapi begitulah adanya."


"Indra ingin melihat putranya sebelum meninggal!" teriak Laras. "Itu alasan yang cukup kuat!"


"Tidak untuk Indra. Ia manusia licik, manipulatif, bajingan. Andai ia ingin aku di sisinya menjelang ajalnya, percayalah, ia pasti punya


alasan."


"Tidak pantas kaubicara seperti itu tentang ayahmu padaku."


Ayahmu suamiku."


"Itu masalahmu."


"Laras? Siapa...Oh, Tuhan. Andre!" Bi Ani menghambur keluar melewati pintu kasa lalu


memeluk Andre erat‐erat. Andre membalas


pelukannya. Laras berkaca‐kaca ketika melihat kegetiran dan kesinisan di wajah Andre


berganti dengan senyum riang. Matanya yang


keemasan memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik


senyumnya yang lebar.


"Bi Ani! Oh, aku sangat merindukanmu."


"Seharusnya kau lebih sering mengirim surat padaku," gerutu Bi Ani sambil menegakkan


tubuh dan pura‐pura marah.

__ADS_1


"Maafkan aku," jawab Andre singkat, sementara matanya tetap menyiratkan kebandelan seperti


dulu, saat Bi Ani menangkap basah ia mencuri


kue dari stoples. Dan ia selalu berhasil meloloskan diri. Seperti yang di lakukannya


sekarang lni.


"Jadi kau sudah bertemu Laras," kata Bi Ani, sambil menatap keduanya dengan mata yang


berbinar‐binar.


"Oh, ya. Aku sudah bertemu Laras. Kami sedang mengobrol."


Perempuan tua itu tidak melihat lirikan mata yang sekilas dilemparkan Andre kepada Laras.


"Makanmu pasti tidak benar, aku yakin. Kerja keras mencari uang, muncul di berbagai surat kabar terus, tetapi badanmu tetap saja seperti


orang kurang makan. Ayo masuk. Aku sudah


menghangatkan makan malammu."


"Dan Brownies. Baunya tercium dari sini," goda Andre, sambil mendorong rubuh Bi Ani ke pintu.


"Aku membuatnya bukan khusus untukmu saja."


"Jangan begitu, Bi Ani Kita kan sudah kenal lama."


"Kebetulan juga kami masak ayam untuk makan malam."


Pada minggu‐minggu pertama kepindahannya sebagai nyonya rumah baru, Laras merasa dirinya seperti tamu tak di undang. Tetapi bulan‐bulan berlalu. Diana bisa menerimanya


sebagai sahabat. Haney pun mulai menyukai dirinya.


Tetapi saat ini, melihat Andre di rumah ini, mendengar derap sepatu di lantau dan suaranya


yang menggema di ruangan yang


berlangit‐langit tinggi, kembali Laras merasakan dirinya seperti orang asing.


Andre‐lah pemilik rumah ini. Bukan dirinya.


Ketika mengikuti mereka sampai ke dapur, Laras melihat Bi Ani menyuruh Andre duduk


di meja bundar dari kayu ek yang penuh


bermacam‐macam hidangan. Andre mengamati ruangan itu.


"Tak ada yang berubah," kata Andre hangat.


"Dapurnya kucat lagi beberapa tahun yang lalu," ujar Bi Ani.


"Tetapi kuberitahu ayahmu aku tak akan mengganti warna catnya. Aku ingin


segalanya tetap sama seperti ketika kau masih tinggal di sini."


Andre menelan, dan menggeser‐geser makanan di piringnya dengan garpu. "Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Bi Ani


Hanya sampai ayahku... kembali pulih seperti semula."


Tangan Bi Ani yang sibuk bekerja langsung berhenti. Ia menatap Andre seperti menatap


anak laki‐laki momongannya. "Aku tak ingin kau pergi dari rumah ini lagi Andre. Ini rumahmu."

__ADS_1


__ADS_2