
Andre menatap Beni dengan marah. "Kalau begiru, berarti tak ada masalah, bukan? Tetapi untuk lebih meyakinkan, jangan sampai aku salah paham apa yang kaulakukan, jauhilah Diana." Setelah mengatakan itu Andre berbalik dan masuk ke rumah.
Setelah menghampiti dan minta maaf pada Beni, Laras buru‐buru mengejar Andre. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, ditariknya tangan Andre berbalik menghadap ke arahnya. "Kau keterlaluan! Apakah melampiaskan kemarahanmu pada Beni
memberikan kepuasan padamu? Kau merasa lebih enak sekarang?"
"Tidak juga." Andre membalik situasi, kini ia yang menjadi penyerang.
Dicengkeramnya kedua lengan Laras, didorongya masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Ditekannya
Laras ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali dengan wajah Laras, napasnya memburu. Ia bertanya, "Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Laras?"
Ci uman Andre makin lama makin liar. Bi birnya berputar‐putar di bi*** Laras, memaksa Laras membuka mulut dan membiarkan li***nya menjelajah bagian dalam mulutnya.
Kakinya dimajukan, menghimpit tubuh Laras. Satu tangannya yang bebas mere mas dada
Laras. Andre melakukannya tanpa kelembutan sedikit pun. Yang sengaja dilakukan Andre untuk merendahkan Laras.
Laras meronta‐ronta. Tangannya yang bebas mendorong dada Andee yang kokoh dan memukul‐mukuli bahunya. Ia berusaha
menghindarkan bi***nya dari ci uman Andre, tetapi sia‐sia. Teriakan Laras dibungkam bi*** Andre.
Ini bukan Andre. Laras yakin, Andre takkan pernah menyakitinya seperti ini. Andre bertingkah seperti orang kesetanan karena
perasaan marah yang dipendam selama bertahun‐tahun. Musuh besarnya sudah mati, yang menyebabkan ia tak tahu lagi siapa yang harus disalahkan. Frustrasi yang menyergap perasaannya mendorong ia melampiaskan kemarahannya pada Laras, yang tanpa disadarinya diperalat untuk mewujudkan rencana Indra.
Mengerti dengan perasaannya, cara paling baik untuk membela dirinya adalah dengan tidak melawan Andre sama sekali. Ia pasrah dalam
pelukan Andre. Setelah beberapa saat berlalu, akal sehat Andre kembali.
Ia menyadari Laras tidak lagi meronta‐ronta melawannya. Bi***nya dengan lembut menci um bi**" Laras. Tangannya tidak lagi menyentuh dada laras, melainkan mengelusnya
dengan lembut, dan ia menarik tangannya dengan perasaan sesal.
Kelembutan seperti inilah yang harus dilawan Laras. Kekasaran yang dialaminya beberapa saat lalu bukanlah berasal dari pria yang ia kenal dan cintai, melainkan dari laki‐laki yang hidupnya hancur berkeping‐keping oleh kelicikan dan kegetiran hidup. Kini sentuhan Andre adalah sentuhan yang amat dikenalnya, yang mengingat‐kannya akan kenangan manis di musim panas itu, sentuhan yang telah menawan hatinya.
"Andre." Panggilan itu lebih mirip desah lembut, menyiratkan, kerinduan dan keputusasaan.
"Apakah aku menyakitimu?"
"Tidak."
"Aku tidak bermaksud begitu"
"Aku tahu."
Andre mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan tangannya, dari siku sampai ke ujung jari, ke dinding di belakang Laras.
Dahinya disandarkan pada dinding di atas kepala Laras. Embusan napas Andre menyentuh rambut Laras. "Mengapa keinginanku tidur denganmu melebihi keinginanku bernapas? Mengapa aku tidak bisa melupakanmu? Setelah semua yang terjadi saat ini, mengapa aku masih saja ingin memilikimu?"
Andre merapatkan tubuh ke tubuh Laras. Posisi tubuh seperti itu jelas membuat mereka bergairah, membuat jantung mereka
__ADS_1
berdebar‐debar. "Seharusnya kita bisa berbaring di ranjang dengan posisi seperti ini kan, Laras?"
"Oh, Tuhan." Laras menenggelamkan hidungnya ke leher Andre. "Jangan bicara seperti itu, Andre."
"Itu yang kaubayangkan. Itu yang aku bayangkan."
"Jangan membayangkannya."
"Aku selalu membayangkannya."
Tubuh mereka saling memancarkan panas. Dada Laras rapat menekan dada Andre yang bidang. Perut mereka saling menggesek
diiringi tarikan napas berat. Andre memperbaiki posisi tubuhnya sehingga Laras bisa merasakan dorongan hasratnya yang menggebu. Kejan tanan Andre menutup daerah inti Laras. Paha mereka saling menekan.
Dengan masih berpakaian, masih berdiri, tanpa bergerak, mereka bercumbu. Mereka bercinta.
Andre membenamkann wajahnya ke rambut
Laras, menggesekan hidungnya di antara helai‐helai rambut Laras.
Berulang‐ulang Adre menggumamkan nama Laras. Emosi mereka yang menggelora membuat tubuh mereka gemetar. Kemudian
mereka diam tak bergerak.
Menit‐menit berlalu dan mereka masih saja tidak bergerak atau bicara. Mereka hanya berdiri dalam diam, menikmati kedekatan
tubuh satu sama lain, menyesali apa yang tak pernah terjadi, meratapi mimpi yang takkan pernah terwujud.
mata penuh kemarahan dan tuntutan.
Karas mengangkat kepalanya, dan balik menatap Andre. "Bagaimana kau bisa hidup bersamanya, Laras?" tanya Andre.
Andre menjauhkan diri dari dinding dan
menyibakkan rambut. Ia tidak mengulang pertanyaannya, tetapi ekspresi mukanya yang tegang menuntut Laras menjawab
pertanyaannya.
"Ia suamiku." Pernyataan sederhana yang diucapkan Laras itu
cukup menjawab semua pertanyaan Andre. Tetapi ternyata pernyataan itu malah menyulut kemarahan Andre.
"Mengapa kau menikah dengannya? Mengapa, oh Tuhan? Setelah apa yang terjadi di antara kita, bagaimana bisa kau menikah dengan ayahku?"
"Kau tidak adil, Andre!" tukas Laras, yang tersulut kemarahan juga. "Kau yang meninggalkan aku, bukan sebaliknya."
"Kau tahu apa sebabnya aku menikah dengan Ery."
"Tidak tahu, sebelum kejadian dua hari yang lalu, aku tidak tahu."
Andre meletakkan tangan di paha dan menatap Laras marah. "Jadi, kau menganggap aku main‐main dengan perempuan lain, sementara aku menantang semua, bahkan akal sehatku, demi memilikimu?"
__ADS_1
Kekasaran sikap Andre mendorong Laras untuk menantang balik. "Bagaimana seharusnya aku bersikap? Kau meninggalkan aku tanpa pesan satu kata pun. Aku dengar kau menikah dengan
Ery karena ia hamil. Apa lagi yang harus kupikirkan?"
Andre mengumpat dan membalikkan badan karena tidak ingin mendengar alasan yang diucapkqn Laras. "Aku tidak bisa menemuimu untuk menyampaikan kenyataan itu. Kau tidak akan percaya padaku, sebagaimana yang lainnya."
"Aku mungkin bisa."
"Kau bisa?" tanya Andre sambil membelalakkan mata ke arah Laras. Mata Laras menentang tuduhan Andre. "Tidak, tidak mungkin kau percaya," ujar Andre pada Laras. "Kau akan beranggapan seperti yang lain, bahwa akulah ayah si bayi itu."
Andre berjalan ke sofa dan mengempaskan tubuhnya di situ. Kakinya diselonjorkan. Ia menggosok‐gosok mata dengan ibu jari dan jari tengahnya. "Selain itu, aku takut kau terlibat terlalu jauh, bila aku mencoba menemuimu lagi. Aku tahu, orang di kota ini suka bergosip dan aku diawasi seperti penjahat. Segala yang kulakukan akan dilaporkan. Aku tidak mau mengambil risiko melibatkanmu dalam kesulitan."
Laras berjalan keliling ruangan, mengumpulan kartu‐kartu di karangan bunga yang di kirimkan sebelum pemakaman. "Jadi siapa ayah bayi itu, Ndre?"
Dengan acuh tak acuh Andre menyebutkan nama seorang pria. Laras berbalik karena terkejut. "Bukankah dia pria yang menikah dengan Ery setelah kau bercerai?"
Andre tertawa. "Ery ingin segera kembali kepada kekasihnya. Tetapi sebelum perceraian, ia menguras uangku. Itulah hukuman yang harus kuterima karena tidakmenginginkannya."
"Kau pernah menginginkannya," ujar Laras dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, teringat yang dikatakan Andre pada malam mereka berada di kamar Indra di rumah sakit.
Andre mendongak. "Kau menuduhku begitu? Astaga, waktu itu aku masih muda, Laras." Andre kelihatan tersinggung. "Sekadar
mengumbar nafsu...Ya, aku kencan dengannya beberapa kali. Setiap laki‐laki di kota pernah kencan dengannya. Tetapi aku masih ingat
untuk memakai alat pengaman, agar ia tidak hamil. Teman‐teman mainku yakin aku tak pernah ingin menikahinya."
Laras menunduk, mengamati ibu jarinya. "Benarkah kau tidak...."
"Laras" Kepala Laars terangkat medengar panggilan Andre yang lembut. "Kau ingin tahu apakah aku kencan ketika bersamamu?" Mata Laras nanar menatap Andre. "Tidak," jawab
Andre. "Aku tidak bersama perempuan lain sepanjang musim panas itu."
"Apakah kau benar‐benar mengatakan kepada Ind... ayahmu... kau ingin menikah dengan aku?"
"Ya. Aku mengatakan padanya aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."
Mereka saling pandang beberapa saat, sebelum Laras mengangkat kepala dan berbalik. "Bayi‐nya, Alyssa?"
Andre tersenyum, sebelum berkata dengan air muka sedih, "Ia gadis baik."
Suara Andre yang lembut membuat Laras kembali menghadap ke arahnya.
"Kau menyayanginya?" tanya Laras.
Tanpa malu‐malu Andre mengangkat wajahnya. "Ya," jawabnya, sambil tertawa kecil. "Gila, kan? Tetapi setelah ia lahir, aku ingin membesarkannya."
Hati Laras tersentuh mendengar perkataan Andre. Ia duduk di sebelah Andre di sofa. "Bukannya aku ingin ikut campur urusanmu, Andre. Tetapi bila kau bersedia menceritakannya padaku, aku akan
mendengarkan."
Andre memandang wajah Laras. "Kau selalu bersedia mendengarkan. Coba ceritakan, apakah Kau duduk di dekat kaki ayah dan mendengarkan baik‐baik ketika ia mencurahkan isi hatinya padamu?"
__ADS_1